
Yunani
Udara pagi di Yunani menyapa seorang dokter Aditya yang bahkan hanya sempat tidur selama dua jam dan ia sudah harus bangun karena didepan sudah menunggu dokter Almira.
"Hi, bagaimana tidurmu semalam?" Sapa dokter cantik itu dengan senyum tersungging dibibirnya.
"Cukup singkat," balas dokter Adit.
"Tapi apa kamu baik-baik saja hari ini?"
"Iya, jadi kita akan kemana sekarang?"
"Ikuti saja kemana kakiku melangkah dan jangan banyak bertanya."
Dokter muda itu kemudian berbalik dan mulai berjalan lurus kedepan, menyusul dokter Adit disampingnya. Setelah ratusan meter ia berbelok kekiri dan sampailah pada sebuah bangunan tua yang sudah tidak terurus. Dari sana mereka bisa melihat pembatas kawat yang memisahkan tempatnya dengan daerah penduduk asli yang tidak bisa dimasuki oleh orang asing.
"Dokter Nata ada disana sekarang, sebelum kita melakukan pendekatan pada mereka, kita harus terlebih dulu mempelajari lokasinya agar kita bisa melarikan diri jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
Dokter Adit melihat dari kejauhan tidak ada aktivitas yang terjadi disana karena terhalang oleh tembok besar dibalik pembatas.
"Penduduknya tidak banyak. Mungkin hanya sekitar dua puluhan tapi banyak yang tidak berani kesana karena saat mereka mengamuk, tidak ada yang terlihat manusia didepannya."
Dokter Adit masih diam saja mendengar penjelasan dokter Almira. Tapi ia sedang berfikir bagaimana caranya bisa tembus kesana tanpa membuat mereka terkejut.
***
Jerman
Seorang wanita cantik yang tadi memasuki rumah dokter Nata terlihat berjalan menghampiri dokter Anna yang sore itu sedang mencari kesibukan dengan menyiram tanaman di depan rumah. Wanita itu sekarang sudah tidak lagi memakai masker hingga terlihat jelas garis-garis kecantikan di wajah putihnya. Ditangannya ia menenteng sebuah plastik, sepertinya ia hendak memberikan sesuatu pada tetangga rumahnya itu.
"Good Afternoon, madam." Sapanya pada dokter Anna yang sedang membelakanginya.
"Good after...Tante Arayu?"
Dokter Anna belum menyelesaikan kalimatnya, saat ia berbalik ia malah membulatkan kedua matanya karena wanita cantik didepannya saat ini sangat dikenalnya. Ia adalah mama dokter Nata yang biasa dipanggilnya dengan sebutan tante Arayu.
"Anna?"
Tidak kalah kagetnya dengan dokter Anna. Wanita itu juga membulatkan kedua matanya.
"Apa yang datang tadi siang itu tante?" Tanyanya.
"Iya sayang, kita sudah lama nggak ketemu yah. Bagaimana kabarmu nak?"
"Iya tante. Alhamdulillah seperti yang tante lihat sekarang, aku baik."
Dokter Anna menyimpan teko siramnya dan melangkah kedekat tante Arayu. Diraihnya tangan wanita itu lalu diciumnya. Tapi wanita paruh baya itu malah menarik tubuh dokter Anna dan membawanya kedalam pelukannya. Dokter Anna memang sangat dekat dengan keluarga dokter Nata saat di kota M tapi sudah setahun lebih ia tidak pernah berkunjung lagi kerumah orangtua dokter Nata sejak Satya menikah dengan Ruby.
"Kabar tante bagaimana?"
Masih dalam pelukan tante Arayu, dokter Anna melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
"Tante sedang tidak baik-baik saja saat ini sayang," jawabnya.
"Kita duduk disana yah tan biar lebih enak ngobrolnya" ajak dokter Anna sambil menunjuk ke teras rumah.
Tante Arayu hanya menganguk pelan sambil mengikuti langkah dokter Anna didepannya.
"Apa yang membuat tante sedang tidak baik-baik saja karena masalah Nata?"
"Kamu kenapa tidak menghubungi tante An? ada apa sebenarnya? dan kenapa kamu juga ada disini berhadapan rumah dengan Nata?"
Dokter Anna jadi bingung harus memulai dari mana menjelaskan semuanya pada mama Nata.
"Aku juga baru tahu dua hari yang lalu tan, tapi karena sedang sibuk mengurus pernikahanku, aku sampai lupa menghubungi tante."
"Apa? Kamu sudah menikah An? Apa kamu sudah tidak menganggap lagi tante dan om Arghany sebagai keluarga sampai kamu tidak mengundang kami?"
Wanita itu menyiratkan kesedihan di wajahnya mendengar pengakuan dokter Anna. Ia memang sejak dulu berharap dokter Anna bisa bersanding di pelaminan dengan dokter Nata tapi putra kesayangannya itu tidak pernah memintanya untuk membicarakan lebih serius hubungan persahabatan mereka pada kedua orangtua dokter Anna bahkan ketika ia dan papa Arghany menyinggung tentang dokter muda didepannya kini.
"Bukan begitu tan, tapi aku menikah di kota B jadi aku tidak ingin merepotkan tante dan om Arghany jauh-jauh datang dari kota M."
"Padahal aku pasti datang An kalau kamu mengirim undangan."
"Maafin Anna tan."
"Apa Nata sudah tahu dengan pernikahanmu?"
"Iya tan," jawab dokter Anna pelan.
"Anak bodoh. Tante tidak tahu apa yang ada difikiran anak itu, kenapa ia membiarkanmu menikahi pria lain."
Dokter Anna terlihat mengerutkan keningnya.
"Apa kamu sama sekali tidak punya perasaan pada Nata? Tante lihat kalian sangat dekat. Tante fikir kalian berdua yang akan membuat tante menjadi seorang nenek nantinya."
Dokter Anna kembali terhenyak dengan ucapan tante Arayu. Ia tidak tahu harus memberikan jawaban apa pada wanita didepannya ini. Tentu saja ini akan berbeda saat ia belum menikah dengan dokter Aditya. Tapi sekarang semuanya sudah sangat jelas, ia hanya perlu mengatakan bahwa sekarang ia sudah menjadi istri pria lain dan ia punya tanggung jawab besar untuk itu.
"Aku sekarang sudah menikah tan, aku hanya ingin menjadi istri yang baik saat ini."
Kedua manik dokter Anna bertemu dengan manik mama Nata. wanita paruh baya itu terlihat menghela nafas berat kemudian berkata.
"Siapa pria beruntung itu nak?"
"Dia sahabat Nata tan, ia juga bekerja dirumah sakit yang sama dengan Nata dan ia sekarang dikirim ke Yunani untuk Nata juga."
"Adit?" Tanyanya.
Dokter Anna mengangguk pelan. Wanita itu kembali menghela nafas berat.
"Kalau kamu tidak keberatan, tante ingin mengundangmu makan malam bersama sebentar. Kamu hanya sendiri kan disini? Tante juga masih sendiri, om Arghany akan menyusul nanti."
"Baiklah tan, aku akan kesana sehabis magrib."
__ADS_1
"Iya sayang. Oh ya ini tante bawa sedikit kue buat kamu," ucapnya seraya menyodorkan plastik yang dibawanya tadi.
"Makasih tan."
Wanita itu kemudian melangkah kembali ke rumahnya setelah memeluk dokter Anna untuk yang kedua kalinya.
***
Kantor Biantara Grup
Satya yang sore itu masih berada diruangannya terlihat sedang berbicara serius dengan Bagas.
"Apa kamu sudah mengurus keberangkatan Ruby ke Jerman sebentar malam?"
"Iya tuan muda. Apa nyonya muda sudah tahu?"
"Aku akan memberitahunya setelah pulang nanti. Tadi pagi saat aku masuk kedalam kamar setelah menelfon Grandma ia ternyata kembali tidur. Aku belum sempat mengatakannya karena harus buru-buru ke kantor untuk meeting."
"Kalau begitu sebaiknya tuan muda pulang sekarang."
"Iya," jawab Satya singkat seraya berdiri.
"Kamu urus semuanya dengan baik, aku percaya pada kemampuanmu."
"Baik tuan muda."
Bagas sedikit membungkukkan badannya kearah Satya yang sudah bergegas hendak keluar dari ruangannya.
Tidak sampai satu jam ia kini sudah berada didalam kamarnya dirumah utama disambut oleh Ruby yang sedang bermain dengan baby Gyan.
"Hi kesayangan papa, lagi bikin apa?"
Tanyanya seraya berjongkok didepan bayi kecil yang bahkan belum bisa memanggilnya itu, tapi seolah tahu sedang disapa oleh papanya, ia terkekeh memperlihatkan gigi ompongnya. Karena gemasnya, Satya menghujami putra kesayangannya itu dengan ciuman.
"Gyan lagi main pa."
Ruby yang menjawab dengan bahasa khas anak-anak.
"Bagaimana keadaanmu seharian sayang? maaf tidak sempat menghubungimu karena aku sangat sibuk," tanya Satya pada Ruby.
"Aku udah agak baikan mas setelah minum obat dokter Lukas."
"Syukurlah kalau gitu sayang. Oh ya ada yang ingin aku omongin sama kamu."
"Apa mas?"
"Kita bicara disana saja yah," ajak Satya sambil melangkah kearah sofa dengan menggendong baby Gyan.
"Begini sayang, Grandma ingin balik sebentar ke kota M. Dia sebenarnya minta tolong sama aku untuk memberitahumu agar mau menggantikannya sebentar disana menemani ibu tapi aku bilang kamu sedang kurang enak badan." Kata Satya dengan hati-hati, takut Ruby merasa curiga.
"Aku bisa kog sayang, aku sudah merasa lebih baik sekarang. Lagian kan disana ada kak Anna juga, aku bisa konsultasi sama dia kalau aku merasa ada apa-apa." Balas Ruby meyakinkan Satya.
__ADS_1
Ia tidak pernah ingin mengecewakan kedua mertuanya itu, mengingat kebaikannya selama ini padanya yang memperlakukan Ruby seperti anaknya sendiri, tidak ada bedanya dengan mereka memperlakukan Satya.
π Happy reading kesayangan mommy. Seperti biasa jangan lupa tinggalin jejaknya yah setelah membaca cerita iniππ€