Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Pernikahan Rania I


__ADS_3

Sebelum acara dimulai Satya sudah tiba lebih dulu di tempat Rania dan Rama akan melangsungkan akad nikah. Disana sudah terlihat Sultan duduk diantara para tamu undangan yang hadir. Satya berjalan menghampirinya sebelum ia mengambil tempat duduk di meja akad sebagai saksi yang ditunjuk kedua mempelai pada pernikahannya.


"Sudah lama Sul?" Sapanya setelah berada didekat Sultan.


"Baru beberapa menit yang lalu, Sat."


Satya menarik kedua ujung bibirnya menanggapi jawaban Sultan.


"Aku kesana dulu yah, kita akan berbincang nanti setelah akad nikah Rania," lanjut Satya.


"Baiklah, Sat."


Satya kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya ke meja akad seraya memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya. Ia berjabat tangan dengan penghulu yang sudah datang lebih dulu sebelum menduduki kursi yang sudah disediakan untuknya. Disana sudah ada pula salah satu orang penting di kota itu yang juga ditunjuk sebagai saksi pernikahan bersama Satya.


Rama yang sejak tadi duduk didepan penghulu dengan pakaian adat yang dikenakannya untuk acara akad menyapa Satya dengan ramah tanpa rasa canggung yang terlihat dari raut wajahnya.


"Terima kasih sudah berkenan hadir, Sat." ucapnya tersenyum kearah Satya.


"Kalian berdua adalah sahabatku, sudah sepantasnya aku berada disini sekarang." Satya balik tersenyum kearah Rama.


Tidak berselang lama muncullah Rania dari balik pintu masuk. Ia terlihat sangat cantik dengan kebaya yang melekat ditubuhnya, senada dengan pakaian yang dikenakan oleh Rama. Semua mata berdecak kagum melihat kecantikan Rania. Hanya Satya yang terlihat bersikap biasa saja karena saat ini wanita tercantik dalam hidupnya adalah istrinya, Siti Ruby Alya Pramana.


Senyum dibibir Rania tidak berhenti tersungging melewati para tamu undangan sampai ia berada didekat tempat duduk Rama. Dengan detak jantung yang tidak beraturan, ia mencoba mengatur nafasnya agar ketegangan hatinya tidak terlalu nampak di wajahnya. Perlahan ia mulai duduk pada kursi yang berdampingan dengan kursi mempelai pria.


Rania melirik sekilas kearah Rama kemudian matanya tertuju pada pria yang berada disamping meja akad. Pria yang dulu pernah berbagi tempat tidur dengannya, sekarang akan menjadi saksi pernikahannya dengan pria lain. Ia adalah Satya. Pengusaha yang sudah meraih sukses diusianya yang masih muda. Mereka berdua hanya sebentar berjodoh karena takdir sudah mengharuskan keduanya mengakhiri biduk rumah tangga yang baru seumur jagung terbina.

__ADS_1


Mereka berdua saling berbalas senyum saat mata keduanya bertemu. Tidak adalagi perasaan dihati Rania seperti rasa yang pernah ia miliki untuk mantan suaminya tersebut. Seluruh rasanya sekarang sudah ia berikan untuk Rama, laki-laki yang sudah berhasil meyakinkannya bahwa sebuah kegagalan itu bukan akhir dari segalanya karena sejatinya perjalanan hidup kedepannya masih panjang.


***


JERMAN


Dokter Anna yang sudah dihubungi oleh dokter Sophy setelah menerima kabar dari Yunani tentang dokter Adit yang akan dipulangkan kembali ke Jerman karena kesehatannya yang terganggu, sejak tadi terlihat gelisah di kursi tunggu bandara. Ia sengaja menjemput langsung suaminya kesana karena merasa sangat khawatir dengan keadaan dokter muda tersebut.


Ia langsung menghambur kearah brangkar tempat suaminya berbaring saat melihat beberapa orang perawat mendorongnya keluar dari pintu kedatangan.


"Mas, mas Adit kenapa?" lirihnya sambil terus memegangi tangan dokter Adit yang tidak bergeming sama sekali karena sudah diberi obat tidur oleh dokter sebelum diberangkatkan dari Yunani.


"What is up with him?" tanya dokter Anna pada perawat tersebut.


"He's okey, he just overslept because of the drug. He'll wake up in a view moments," jawabnya.


Dokter berparas manis itu memilih duduk dibelakang disamping suaminya. Ia tidak berhenti memandangi wajah tampan didepannya yang kini terlihat sangat lesuh. Ia merasakan kesedihan yang sangat dalam hingga tidak bisa berkata-kata. Hanya raut wajahnya yang menyiratkan kegalauan dan hembusan nafasnya yang mengatakan bahwa hatinya sedang penuh dengan beban.


Dipereratnya gengaman tangannya pada tangan dokter Adit, ia seolah berbicara dengan isyarat agar suaminya itu secepatnya membuka mata dan menyapanya dengan keceriaan seperti hari-hari sebelumnya.


Dokter Adit yang tidak pernah mempermasalahkan sesuatu yang bisa membuat hubungan mereka merenggang. Bahkan saat ia tahu bagaimana perasaan dokter Anna pada dokter Nata, ia hanya memilih diam dan bersikap biasa saja. Sebenarnya bukan karena ia tidak cemburu tapi karena ia lebih yakin dengan hatinya ketimbang menuruti fikiranya.


Karena terlalu larut dengan perasaannya selama dalam perjalanan, tanpa ia sadari mobil ambulance yang membawanya sudah berhenti tepat didepan pintu masuk rumah sakit tempat dokter Adit bekerja. Untuk sementara dokter Adit yang selama ini bertugas merawat pasien disana, sekarang gilirannya yang akan dirawat sampai ia kembali pulih.


Dokter Anna keluar lebih dulu dari dalam mobil, ia melihat dokter Sophy sudah berdiri didepan pintu masuk rumah sakit seraya memasukkan tangannya kedalam jas putih yang dikenakannya. Ia kemudian menghampiri dokter Anna dan merangkulnya.

__ADS_1


"Sabar An, Adit hanya kelelahan hingga suhu tubuhnya terus naik." ucapnya pada dokter Anna.


"Iya dok," balas dokter Anna singkat sambil melepas pelukannya karena melihat dokter Adit sudah didorong masuk kedalam rumah sakit.


Ia kemudian mengikutinya dari belakang, disusul oleh dokter Sophy.


Dokter Adit langsung dibawa kedalam ruang perawatan, dokter Sophy sendiri yang bertanggung jawab atas dirinya. Ia akan menindaki dokter Adit disana.


"Sudah berapa lama dia sakit, dok?" Tanya dokter Anna saat menemani dokter Sophy memberi tindakan pada suaminya.


"Dokter Almira menelfonku sejak kemarin malam tapi aku sengaja tidak memberi tahumu karena aku mengira ia akan membaik setelah diberi obat dan dimasukkan cairan lewat selang infus," jawab dokter Sophy.


Dokter Anna terdengar menghela nafas berat mendengar ucapan dokter paruh baya tersebut yang sekaligus tante dari dokter Nata.


"Kamu tidak usah khawatir, Adit akan baik-baik saja." Dokter Sophy megusap pundak dokter Anna yang terus berdiri disamping tempat tidur suaminya.


"Kalau begitu aku tinggal keluar dulu yah, An."


Dokter Anna hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan dokter Sophy. Bibirnya terasa keluh bahkan hanya untuk memberi jawaban singkat.


Sepeninggal dokter Sophy, dokter Anna perlahan menduduki kursi yang terletak disamping tempat tidur perawatan. Ia meraih pelan-pelan tangan kanan suaminya. Dengan suara sendu ia berbisik.


"Mas Adit, maafkan aku jika beberapa waktu lalu sempat melukai perasaanmu. Sungguh aku sama sekali tidak berniat seperti itu. Aku janji akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu."


Malam semakin larut, dan tanpa dokter Anna sadari matanya sudah mulai terpejam. Ia perlahan menjatuhkan kepalanya disamping tubuh dokter Adit sambil terus menggenggam tangan suaminya.

__ADS_1


❤️ Readers kesayanganku, mommy benar-benar minta maaf sama kalian karena baru bisa up bab hari ini. Ini pun mungkin belum bisa tiap hari karena mommy lagi sibuk mengurus pesta pernikahan adik ipar sampai awal bulan depan. Tetap favoritkan novel ini yah, mommy janji kalau acara pesta sudah kelar, mommy akan up banyak-banyak🙏😘🤗


__ADS_2