
YUNANI
"Boleh aku ikut duduk disini, dok?" tanya suster Dina saat berada disamping dokter Almira.
Dokter cantik pemilik bibir merah tersebut, sore itu sedang duduk melamun sendiri ditempat ia pernah menghabiskan waktu bersama dokter Nata. Suara suster Dina sedikit mengagetkannya.
"Eh sus, silahkan." jawabnya seraya tersenyum.
"Makasih, dok."
Dokter Almira kembali menatap kedepan dan tidak begitu menghiraukan kehadiran suster Dina.
"Bagaimana yah kabar dokter tampan itu sekarang?"
Suara suster Dina memecah keheningan yang baru saja tercipta diantara keduanya tapi dokter Almira lagi-lagi hanya menghela nafas berat dan tidak menanggapi ucapan suster Dina.
"Apa dokter Sophy tidak pernah lagi menghubungi anda, dok?" tanya suster Dina lagi.
Ia sangat tahu bagaimana kehidupan pribadi dokter cantik disampingnya ini karena keduanya sudah lama menjadi rekan kerja. Dan ia bisa melihat beberapa hari ini sikap dokter Almira yang lebih banyak murung dan menyendiri sejak kepulangan dokter Nata.
"Sudah tidak ada hal yang perlu aku bicarakan lagi dengan dokter Sophy." jawabnya tanpa melihat kearah suster Dina.
"Apa dokter tidak mau tahu perkembangan kesehatan dokter Nata?" tanya suster Dina dengan hati-hati.
"Sebelumnya aku dan dokter itu adalah dua orang yang tidak saling mengenal, jadi tidak ada alasan bagi aku untuk tahu kabarnya."
"Apa dokter yakin dengan yang baru saja dokter ucapkan?"
Dokter Almira tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia lebih dulu menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.
"Kamu tahu, din. Sepulang kita dari sini papaku sudah akan menjodohkanku dengan pria pilihannya. Dan aku sudah janji akan menuruti semua keinginannya."
Pembicaraan yang tadinya terdengar formal antara seorang dokter dan asisten perawatnya, kini berubah lebih dekat selayaknya dua orang wanita yang bersahabat. Umur keduanya memang tidak berselisih jauh, suster Dina hanya setahun lebih tua dari dokter Almira.
"Itu kalau kamu pulang belum membawa calon suami. Tapi kalau saat kembali nanti kamu mengenalkan pria pilihanmu sendiri untuk menemanimu menghabiskan hari tua, perjodohan itu akan dibatalkan, iya kan?"
"Tapi kamu lihat sendiri kan, sampai detik ini belum ada tanda-tanda aku akan menemukan pria itu."
"Kamu sudah menemukannya. Dan aku yakin, ia yang sudah dipersiapkan menjadi jodohmu. Kalian terlihat sangat serasi."
"Kamu bicara apa sih, Din. Pria mana yang kamu maksud itu? Kamu tidak pernah kan melihat aku dekat dengan pria manapun setelah kejadian itu."
"Dokter tampan itu. Dokter Nata."
"Dokter Nata?"
Kali ini dokter Almira terlihat lebih terkejut mendengar ucapan suster Dina.
__ADS_1
"Iya, dokter Nata. Apa ada yang salah? Aku lihat dari riwayat hidupnya dia juga masih single. Dia sepertinya termasuk pria baik yang tidak suka mempermainkan perasaan wanita."
"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang seseorang, kita kenal dia saja baru beberapa hari. Dan kamu bicara apa sih, kita disini cuma sebatas rekan kerja, tidak lebih dari itu."
"Penilaianku tidak pernah salah selama ini. Aku lihat dia menyukaimu, dan kamu pun juga begitu kan?"
"Sudahlah, din. Jangan mengada-ngada terlalu jauh." ucap dokter Almira seraya berdiri dari tempatnya.
"Aku masuk duluan yah. Apa kamu masih mau disini menunggu pria baik calon jodohmu?" lanjutnya sambil terkekeh melihat raut wajah suster Dina yang seketika berubah.
"Iya, status kita satu sama. Sama-sama masih jomblo." balas suster berkulit putih bersih tersebut sambil ikut terkekeh.
***
JERMAN
"Bagaimana keadaan lenganmu ? Apa kamu merasakan sudah ada sedikit perubahan?" tanya dokter Sophy.
"Iya, tan. Cuma belum bisa diangkat keatas."
"Jelas belum bisa, Nat. Terapi saja baru satu kali."
Dokter Nata tersenyum mendengar ucapan dokter Sophy. Dokter bersuara lembut itu diminta oleh tante Arayu untuk menemani dokter Nata saat istirahat siang karena ia harus pulang dulu kerumah untuk mengambil pakaian ganti. Sementara dokter Adit sudah dipulangkan pagi tadi karena kondisinya sudah membaik. Tinggallah dokter Nata sendiri didalam ruangan yang luas tersebut.
"Oya tan, apa dokter Almira tidak pernah menghubungi tante lagi?"
"Maksud kamu, dokter yang sama-sama bertugas denganmu di Yunani?"
"Aku tidak punya urusan lagi dengannya karena dokter yang berada dibawah pengawasanku sudah dipulangkan kembali."
"Oh."
"Kenapa? Apa ada sesuatu dengan dokter itu?"
"Nggak ada apa-apa kog, tan."
"Kamu yakin tidak ada apa-apa? Apa kamu tidak ingin tahu berapa nomor ponselnya, hem?
"Kenapa selama ini aku nggak kefikiran yah untuk meminta nomor ponselnya sama tante Sophy." batin dokter Nata.
"Hei, Nat. Apa kamu dengar tante? tambah tante Sophy saat melihat dokter Nata bengong dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Boleh minta tolong ambil ponselku, tan?" tanya dokter Nata melihat kearah ponsel yang berada diatas meja kecil disampingnya.
"Nih."
"Berapa nomor ponselnya, tan?"
__ADS_1
"Siapa? Dokter Almira maksud kamu?"
Dokter Nata lagi-lagi mengangguk. Dokter Sophy tersenyum melihat wajah keponakannya. Ia bisa melihat kalau dokter muda itu saat ini sedang memikirkan wanita yang beberapa waktu lalu bersamanya di Yunani tapi ia tidak ingin bertanya lebih jauh, dokter Nata kelihatannya belum ingin membahasnya sekarang. Ia kemudian memberikan nomor ponsel dokter Almira pada dokter Nata yang langsung menyimpan pada kontak di ponselnya.
***
"Lil, boleh minta tolong bawain bubur ayam ini ke rumah sakit? papa katanya mau makan ini jadi ibu minta aku membuatkannya."
"Iya, non. Aku siap-siap dulu."
"Oke. Kalau gitu aku telfon Bagas dulu yah."
"Mau ngapain nelfon dia, non?"
"Buat nganterin kamu kerumah sakit."
"Nggak perlu, non. Aku bisa naik taxi kog."
"Lil, Bagas disini dikirim sama mas Satya untuk nganterin kita kemana-mana. Mas Satya pasti marah kalau kita tetap naik taxi."
"Ya udah deh, non. Terserah non Ruby saja."
Hanya berselang beberapa menit Lila sudah berganti pakaian dan siap kerumah sakit. Setelah berpamitan pada Ruby, ia pun keluar kamar dengan menenteng kotak makanan ditangannya. Ia mengetuk pintu kamar Bagas tapi tidak ada jawaban dari dalam. Saat akan mengetuk kembali pintu kamar itu, ponselnya berdering. Ia merogoh ponsel dari dalam tas dan langsung menjawabnya saat melihat nama si penelfon pada layar ponsel.
"Aku menunggumu dibawah, SEKARANG."
ucap suara dari seberang telfon.
Belum sempat Lila menjawabnya, panggilan itu lagi-lagi sudah terputus. Lila hanya bisa menghela nafas kasar, ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Bagas. Ia kemudian bergegas turun sebelum sang beruang kutub berlaku lebih kejam padanya. Pria itu tidak pernah menggunakan perasaan saat berhadapan dengannya.
Tiba didepan hotel, ia sudah melihat mobil Bagas terparkir disana. Dengan enggan ia meraih handle pintu mobil dan membukanya. Ia bisa merasakan bau parfum maskulin mendominasi dari dalam, membuat siapa pun yang berada didekatnya ingin memeluknya. Selain Lila tentunya.
"Andai saja beruang kutub ini bisa bersikap lebih baik, pasti akan menyejukkan berada disampingnya." batin Lila.
Sementara pria yang difikirkan Lila saat ini, tanpa menoleh sedikitpun kearahnya langsung melajukan mobil menuju rumah sakit. Tidak ada lagi suara yang terdengar setelahnya selain suara musik yang disetel Bagas sejak tadi.
Suasana seperti ini yang Lila tidak suka jika harus diantar oleh Bagas. Sekilas ia melirik pria disampingnya itu. Lila mengutuki dirinya sendiri karena hatinya terus memuji ketampanan pria kutub tersebut, sementara fikirannya tidak bisa menerima kebenaran itu.
"Sekali lagi kamu melirik kemari, aku kasi turun kamu dari mobil." ucap Bagas masih dengan tatapan lurus kedepan.
"Ya ampun, dia pakai mata apa sih. Padahal kan dia terus melihat kedepan dan perasaan aku hanya sepintas saja melihat kearahnya." lagi-lagi Lila membatin.
"Kamu boleh mengagumi ketampananku tapi kamu jangan berharap lebih karena kamu bukan tipe aku."
"Ha? Apa? Bener-bener nih orang tingkat kepedeannya setinggi langit. Siapa juga yang mau naksir sama dia. Amit-amit jabang bayi. Mending aku jomblo seumur hidup."
Karena tidak ingin berdebat dengan Bagas, Lila terus saja membatin, menjawab semua ucapan Bagas dalam hati yang tentu saja Bagas tidak tahu.
__ADS_1
❤️ Happy reading kesayangan mommy😘🤗
❤️ JARAK itu bukan alasan untuk kita memutuskan suatu HUBUNGAN karena dengan jarak kita bisa tahu seberapa dalam hati ini MERINDU😊