
"By, apa tidak ada penginapan di kecamatan? Aku harus menerima email dari Bagas tiap hari tapi disini tidak ada jaringan," ucap Satya pada Ruby setelah mereka makan siang.
"Tidak ada mas, adanya cuma dikota, tapi sepertinya rumah sepupu ibu ada yang kosong karena pemiliknya sedang keluar kota," balas Ruby.
"Kalau mas mau aku bisa minta tolong ibu untuk menghubungi sepupunya," lanjut Ruby.
"Kalau tidak akan merepotkan, boleh." Ucap Satya.
"Kamu mau nginap dikecamatan nak?" tanya bu Rumana yang baru muncul dari dapur.
"Iya bu, lagi ada kerjaan kantor yang mesti diselesaikan secepatnya," jawab Satya.
"Kalau kamu memang lagi sibuk nak, kamu pulang aja dulu ke kota M, bawa anak dan istrimu, kalian bisa lagi kemari kalau sudah senggang," ucap bu Rumana. Satya menoleh sekilas kearah Ruby, Ruby terlihat menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku masih mau disini kog bu, aku juga akan menyuruh asistenku datang untuk mengurus pembangunan tower disini," ucap Satya, ia mengerti Ruby belum mau pulang.
"Tower?" tanya bu Rumana mengerutkan keningnya.
"Iya bu, Tower, supaya nanti ibu tidak susah lagi ke kecamatan untuk menelfon Ruby kalau kami sudah balik ke kota M," ucap Satya. Ruby yang mendengarnya hanya diam saja, ia pun belum yakin apa iya masih akan balik ke kota M.
"Tapi bangun tower kan butuh uang banyak nak," ucap bu Rumana.
"Uang tidak jadi masalah bu," jawab Satya tersenyum tipis, sedangkan bu Rumana hanya diam saja, ia bertanya-tanya dalam hatinya sebenarnya sekaya apa menantunya ini.
"Apa rumah sepupu ibu bisa ditempati?" Satya mengagetkan bu Rumana dari lamunannya.
"Oh iya iya tunggu, ibu telfon bibimu dulu," jawabnya kemudian berlalu kedalam kamar mengambil ponselnya. Ponsel bu Rumana memang terlihat jadul, tidak bisa dipakai internet tapi dia bisa digunakan untuk menelfon karena Simcardnya menggunakan Simcard yang bisa dijangkau sampai pedesaan, meskipun suaranya tidak begitu jelas karena towernya yang berada jauh dari rumah.
Bu Rumana keluar kamar terlihat sedang berbicara dengan seseorang ditelfon.
"Iya iya, udah dulu yah, makasih Rin." kata bu Rumana lalu menutup telfonnya.
"Bibimu nitip salam nak, kalian bisa kerumahnya hari ini," ucap bu Rumana pada Satya.
"Sampaikan salamku kembali bu, terima kasih atas bantuannya," jawab Satya yang dibalas anggukan bu Rumana sambil tersenyum.
Ruby pun masuk ke dalam kamar mempersiapkan pakaian yang akan mereka bawa serta perlengkapan baby Gyan.
"Kakak mau ke kecamatan?" tanya Aydan pada Satya.
"Iya, kamu mau ikut?" Aydan langsung mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia senang pergi kesana karena jaringan bagus jadi ia bisa main game online sepuasnya.
__ADS_1
" Loh sekolah kamu kan dua hari lagi," sahut bu Rumana.
"Gak apa-apa bu, kalau Aydan mau ikut," Satya yang menjawab melihat wajah Aydan yang langsung bersungut mendengar perkataan ibunya.
"Jadiin aja dia baby sitter disana kak, suka banget ikut-ikut kalau liat ada orang mau pergi," ucap Amri terlihat kesal. Aydan menjulur lidah kearahnya lalu masuk kedalam kamar mengambil pakaian yang akan dibawanya juga.
Setelah semuanya siap, mereka pun keluar rumah, Satya akan menyetir sendiri kali ini, ia sudah menyuruh para pengawalnya pulang dan akan kembali saat Satya hendak balik ke kota M.
Mereka berpamitan pada bu Rumana sebelum masuk kedalam mobil.
"Jangan bikin kakakmu susah disana, ingat buat jagain Gyandra," pesan bu Rumana pada Aydan yang dibalas anggukan kecil oleh Aydan.
Mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah sederhana bu Rumana. Rumah yang bangunannya tidak terlalu besar tapi tanahnya luas sehingga memiliki halaman depan yang bisa muat beberapa mobil dan kebun dibelakang rumahnya.
"Mobil kakak ipar bagus yah, nyaman banget diatas sini," sahut Aydan yang duduk dibelakang bersama box baby Gyan.
"Kalau kamu mau, aku bisa menyimpannya disini, biar ibu tidak kepanasan lagi kalau ke kecamatan," ucap Satya sambil menyetir.
"Kakak selalu aja bercandain Aydan," Aydan terlihat memajukan bibir bawahnya.
"Aku serius Aydan, aku tidak pernah bercanda dengan omonganku, Amri kan sudah kuliah, dia sudah bisa bawa mobil," balas Satya.
"Tapi ini mobil mahal kak, kalau dibandingin dengan mobil kak Ruby dulu, bisa dapet banyak kali yah," sahut Aydan. Satya mengegeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar kata-kata Aydan. Ruby sejak tadi hanya menyimak saja pembicaraan suami dan adiknya itu. Dalam hati ia berkata.
"Tidak apa-apa Aydan, aku juga tidak mungkin membawanya balik ke kota M padahal baru kemarin aku membelinya di kota B sebelum kesini," ucap Satya.
"Anggap saja ini hadiah buat kamu dan Amri," lanjut Satya lagi.
"Makasih banyak-banyak kak, kakak baik sekali" jawab Aydan tersenyum lebar.
"Oya Dan, apa dikecamatan ada tempat bagus yang bisa dikunjungi?" tanya Satya.
"Palingan juga cuma warung mie kocok mang Dadang," jawab Aydan terkekeh.
"Kalau mau piknik, didesa aja kak, di ujung desa ada air terjun bagus banget," ucap Aydan.
"Yah udah, besok kalau kerjaanku udah beres kita balik kedesa," balas Satya.
"Kamu mau kan nemenin aku kesana?" tanya Satya pada Ruby yang sejak tadi diam saja sambil sesekali tersenyum mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Iya mas," jawab Ruby pelan. Baby Gyan yang berada dalam pangkuannya tertidur sangat lelap seolah merasa diayun-ayun oleh mobil karena jalanan yang berombak.
__ADS_1
Tidak berapa lama mereka pun sampai dirumah bibi Rini. Sebuah rumah sederhana tapi terlihat asri dengan taman bunga didepannya yang nampak terawat. Sebelumnya Aydan mengambil kunci rumah terlebih dulu disamping rumah bu Rini yang juga termasuk keluarganya.
Setelah masuk kedalam rumah, Satya duduk diruang tamu langsung membuka laptopnya dan menelfon Bagas.
"Halo Gas, apa kamu sudah mengirim email untuk penyelesaian proyek baru perusahaan?" tanya Satya setelah telfon tersambung ke nomor Bagas.
"Iya tuan muda, sepuluh persen lagi sudah selesai," jawab Bagas.
"Apa ada masalah tuan muda?" tanya Bagas.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengambil cuti habis ini, aku sepertinya lelah," ucap Bagas.
"Apa tuan muda akan pergi berbulan madu dengan Nyonya Muda Kedua?" tanya Bagas ingin mengisengi tuan mudanya.
"Apa kamu sudah bosan berada di kota M?" Satya balik bertanya.
"Tidak tuan, aku hanya bercanda," jawab Bagas cepat, ia langsung mengerti arah pembicaraan Satya.
"Oya Gas, satu lagi, aku ingin kamu secepatnya mengatur pembangunan Tower didesa Ruby," ucap Satya sebelum mengakhiri telfonnya.
"Tower? Apa tuan muda yakin?" tanya Bagas.
"Iya, apa aku terdengar seperti bercanda?" tanya Satya balik.
"Baik tuan muda, saya akan mengurus semuanya," Bagas tidak ingin memperpanjang berdebat dengan Satya karena ujung-ujungnya ia selalu diancam akan dikirim ke Kutub Selatan. Sambungan telfon pun terputus setelah itu.
"Apa mas mau makan dulu?" tanya Ruby yang sudah berada didekat Satya.
"Sepertinya makan mie kocok yang dibilang Aydan tadi enak," jawab Satya.
"Apa mas yakin mau makan mie kocok?" tanya Ruby balik karena setahunya Satya selama ini tidak pernah makan di warung.
"Iya, kenapa tidak," Satya membalas Ruby dengan mengulas senyumnya.
"Baiklah kalau mas maunya begitu, tapi baby Gyan tidak usah ikut yah, dia disini aja sama Aydan, entar aku bungkus buat Aydan," ucap Ruby.
"Oke," balas Satya.
Mereka pun pergi berdua ke warung mie kocok mang Dadang, anggap saja mereka lagi ngedate ala anak SMA jaman dulu.
😍 Hi readers jangan lupa tetap dukung mommy yah dengan jejak LIKE, VOTE, dan KOMENT diakhir cerita, maaf kalau masih banyak kekurangan😘🤗
__ADS_1
*** Tidak perlu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan jika hati terasa sakit oleh sikap dan perkataan seseorang, Yakinkan dirimu bahwa kesakitan itu akan menabur sebuah Hikmah yang Indah❤️💙