
Saat matahari sudah semakin tinggi dan sinarnya pada waktu-waktu tersebut dikatakan dapat merusak serat kolagen dan elastin tubuh, disebuah rumah mewah di tengah kota S terlihat sedang sibuk karena akan ada sebuah pertemuan keluarga untuk membicarakan hari pernikahan anak tunggal mereka. Itulah rumah dokter Anna. Mobil keluarga laki-laki yang akan dijodohkan dengannya baru saja memasuki pekarangan rumah yang memiliki taman dengan aneka jenis bunga tersebut.
Dalam mobil itu ikut pula laki-laki yang akan dijodohkan dengan dokter Anna. Ia turun dari mobil bersama kedua orangtua dan adik perempuannya.
"Selamat datang dikediaman kami Ardi," sambut seorang pria paruh baya yang sejak tadi terlihat sudah menunggu kedatangan tamunya. Dialah papa Bayu, papa dokter Anna.
"Terima kasih sambutannya Bayu, lama tidak bertemu kamu ternyata tidak banyak berubah," balas tamu yang tadi disapa papa Bayu.
Mereka berdua saling merangkul seolah melepas rindu yang lama terpendam.
"Apa kabar Lisa? Ambar sudah lama menunggumu didalam," ucap papa Bayu beralih pada wanita yang sejak tadi diam saja disamping pak Ardi. Dia adalah ibu Lisa, istri pak Ardi.
"Seperti yang kamu lihat mas, aku bertambah tua juga," jawabnya mengulas senyum.
"Yang penting jiwa masih muda Lis, bukan begitu Ardi?" Papa Bayu meminta pendapat pak Ardi.
"Betul Bayu, alhamdulillah jiwa kami berdua tidak ikut sama umur." Mereka semua dibuat tertawa oleh ucapan pak Ardi.
"Ehm, apa tidak ada yang mempersilahkan tamu masuk om?" celutuk pria yang berada dibelakang pak Ardi. Ia terlihat tampan dengan setelan jas berwarna gelap. Dialah anak pak Ardi yang akan dijodohkan dengan dokter Anna. Ia melangkah maju kedepan papa Bayu dan menyalami tangannya.
"Anak kamu pintar juga berkelakar Ardi, Anna pasti akan terhibur tiap hari kalau mereka sudah menikah nanti," ucapnya sambil terkekeh memperlihatkan garis-garis keriput yang sudah mulai nampak diwajahnya.
"Kamu bisa aja Bayu." Mereka berdua kembali tertawa.
"Mari, mari kita masuk." Ucap papa Bayu baru mempersilahkan tamunya masuk.
Didalam rumah sudah menunggu mama Ambar, mama dokter Anna. Ia langsung menyalami pak Ardi dan merangkul bu Lisa, calon besannya sekaligus sahabat lama mereka sewaktu sama-sama kuliah dulu.
"Bagaimana kabar mba Lisa," tanya mama Ambar yang setahun lebih muda dari bu Lisa.
"Alhamdulillah baik Mbar," jawab bu Lisa.
"Sudah lama sekali yah mba, kita baru bertemu lagi," ucap mama Ambar.
__ADS_1
"Iya mbar, terakhir waktu anak-anak masih SD yah," jawab ibu Lisa.
Mereka kini sudah duduk diruang tamu sambil menikmati cemilan sebagai makanan pembuka yang disediakan oleh tuan rumah. Dari pihak dokter Anna sendiri hanya ada kedua orangtua, paman dan bibinya.
"Oya mas Bayu, kita enggak usah terlalu formal yah karena kita juga sudah bicara ditelfon kemarin," ucap bu Lisa disela-sela kelakar papa Bayu dan suaminya.
"Iya Lis, terserah kamu saja. Kita juga sudah seperti satu keluarga," balas papa Bayu.
"Kalau begitu aku panggil putri kami dulu yah mba," kata mama Ambar kemudian berdiri menuju kamar dokter Anna.
Tidak berapa lama ia sudah kembali dengan menggandeng seorang wanita yang terlihat sangat cantik dalam balutan gaun berwarna hijau emerald yang terus melempar senyum kesemua orang yang berada diruangan itu. Semua mata tertegun melihat kearah dokter Anna, tidak terkecuali laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Gelas jus yang dipegangnya seolah ikut bergetar karena keterkejutan luar biasa yang dialaminya.
"Anna?"
"Adit?"
Semua orangtua yang berada diruangan itu merasa heran saat anak mereka saling menyebut nama.
"Iya om, kami pernah sama-sama di Jerman waktu Anna mengikuti pasiennya kesana," jawab laki-laki tampan yang datang bersama pak Ardi yang ternyata adalah dokter Aditya, anaknya. Ia mendahului dokter Anna bicara.
"Wah wah wah, ini suatu kebetulan yang luar biasa tapi baguslah kalau kalian ternyata sudah saling mengenal jadi lebih mudah untuk melaksanakan pernikahan ini," sahut papa Bayu sambil terkekeh.
"Iya benar sekali Bayu." Pak Ardi menambahkan sambil tertawa-tawa diikuti oleh semua orang yang berada diruangan itu.
Sementara dokter Anna hanya diam membisu ditempatnya. Ia tidak menyangka bahwa calon suami yang sudah dipilihkan oleh papanya adalah dokter Aditya, sahabat dokter Nata di Jerman.
"Sambil bercerita mari dimakan cemilannya." Mama Ambar menawarkan pada semua tamunya.
"Pa, om, boleh aku bicara sama Adit dibelakang?" Dokter Anna akhirnya bersuara. Dibelakang rumahnya ada sebuah gazebo dipinggir kolam renang, ia akan mengajak dokter Aditya bicara disana.
"Silahkan nak, buat diri kalian semakin akrab karena sebentar lagi kalian akan jadi suami istri." Papa Bayu yang menjawab permintaan Anna.
Dokter Aditya pun berdiri dan berjalan menyusul dokter Anna yang hanya berada selangkah didepannya.
__ADS_1
***
HOTEL BIANTARA GRUP
Setelah mengantar bu Rumana sore itu kebandara, Satya memutuskan untuk membawa Ruby dan Gyan menginap dihotel miliknya. Ia sengaja tidak membawa Lila karena Lila akan di training oleh Bagas sepulang kantor untuk kembali menjadi asisten Ruby.
Satya memilih kamar berjenis paviliun karena memakai kolam renang pribadi didalam. Ia ingin bersantai dengan Ruby diluar kamar yang langsung menghadap kolam renang sambil menikmati benda-benda langit.
"Sayang, apa Gyan tidak kedinginan diluar sini malam-malam?" tanya Satya pada Ruby yang saat itu sedang duduk diluar kamar sambil melihatnya berenang.
"Tidak kog sayang, aku sudah membungkusnya dengan selimut dan kupluk tebal," jawab Ruby.
Satya lalu naik keatas dan mengambil bathrobe dikursi dekat tempat duduk Ruby kemudian memakainya.
"Sayang, minum ini dulu," ucap Ruby menyodorkan sebuah cangkir berisi coklat panas yang sudah dipesannya untuk Satya.
"Makasih sayang," jawab Satya mengambil cangkir dari tangan Ruby.
Ia kemudian duduk disamping Ruby dan melihat kearah baby Gyan yang sudah tertidur lelap didalam stroller miliknya. Tempat bersantai dibelakang paviliun itu mirip seperti sebuah teras rumah dengan dua kursi tunggal dan satu meja. Ruby meletakkan stroller baby Gyan disampingnya, tepat disudut paviliun.
Setelah menyeruput coklat panas yang bisa sedikit menghangatkannya, Satya kemudian menggeser kursinya kedekat kursi Ruby.
"Sayang kamu mau apa?" Tanya Ruby saat Satya sudah mendekatkan wajah pada wajahnya. Tapi Satya tidak menjawab, ia langsung menempelkan bibirnya pada bibir Ruby. Ruby menutup matanya dan mulai membalas permainan Satya.
"Sayang, kita masuk kedalam yah," ucap Ruby saat tangan Satya sudah mulai bergerilya kemana-mana. Satya hanya mengangguk pelan.
Ia lalu berdiri mengambil stroller baby Gyan dan membawanya lebih dulu kedalam kamar. Kemudian ia kembali keluar mengangkat tubuh Ruby dalam gendongannya. Karena ia sudah tidak bisa lagi mengendalikan nafsunya ia masih terus me***** bibir Ruby sampai kedalam kamar dan menaruhnya pelan ditempat tidur.
❤️ Hi readers makasih yah sudah membaca cerita amatir ini, jangan lupa ninggalin jejak LIKE, VOTE, dan KOMENT diakhir cerita🙏🤗
Disetiap part mommy akan usahain ada cerita pemain utama yang muncul meskipun cerita pemain pembantu berada di awal bab. Semoga berkenan yah, maaf kalau banyak kekurangan, kalau ada yang mau ngasih saran, monggo. Mommy dengan senang hati menerima😘😘
❤️ ❤️Tidak perlu memaksa hati yang sudah enggan untuk bicara karena ia hanya akan menghadirkan kemunafikan. Sungguh diam itu jauh lebih baik daripada banyak mulut tapi penuh dengan kepura-puraan😊😊
__ADS_1