Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Menyetir Sendiri


__ADS_3

"Oya nak, gimana kabar Nendra? Udah lama ibu tidak bertemu dengannya.


"Alhamdulillah baik bu, aku beberapa kali menelfon kak Sultan tapi setiap kali aku ingin menjemput Nendra kesini, kak Sultan selalu bilang ia kesepian kalau Nendra pergi padahal kan ada Tiara bersamanya. Entahlah bu apa yang terjadi sama kak Sultan, aku juga tidak mau bertanya terlalu jauh," jawab Ruby.


"Sultan sebenarnya anak yang baik By, ibu kenal sekali dengan orangtuanya. Waktu papamu masih hidup, papanya Sultan sering mengajak papamu keluar mancing dipinggir danau." Pandangan bu Rumana seolah menerawang ke masa lalu, ia kemudian menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan ucapannya.


"Tapi namanya manusia, tidak ada yang pernah luput dari kesalahan, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa pemilik kesempurnaan sejati."


"Iya ibu benar, dari situ aku sudah bisa belajar menghadapi kehidupanku selanjutnya. Andai saja kak Sultan memberiku kesempatan untuk ikut merawat Nendra, aku akan merasa sangat bahagia," ucap Ruby dengan membuang nafas kasar.


"Ya sudahlah nak, ibu yakin Sultan juga akan memberikan yang terbaik untuk anak kalian," balas bu Rumana.


"Iya bu." Bu Rumana merangkul Ruby dan mengecup keningnya. Ruby selalu merasa menemukan kedamaian dalam dekapan ibunya.


"Bu, aku mau angkat telfon dulu yah, dari sahabat Ruby," ucap Ruby saat ponselnya berdering dan ia melihat disana dokter Anna yang memanggil.


"Halo By, kamu sudah balik ke kota M tapi sama sekali tidak ingat padaku," kata suara diseberang terdengar merajuk.


"Maafkan aku kak, tapi dari kampung aku dan mas Satya langsung ke Singapura melihat keadaan papa Lingga," jawab Ruby.


"Iya tidak apa-apa kog, aku ngerti." Ruby bisa merasakan nada suara dokter Anna terdengar berat ditelinganya.


"Oya By, apa kamu ada waktu sekarang? Aku ingin bertemu kamu sebentar sebelum aku balik ke kotaku," ucap dokter Anna.


"Kak Anna mau balik ke kota S? Tapi kenapa kak?". Ruby tau dokter Anna memang berasal dari kota S, tapi ia memiliki rumah di kota M dan ia sudah tinggal disana sejak memasuki bangku perkuliahan.


"Aku ceritain nanti yah By, aku sharelock sekarang," balasnya.


"Baiklah kak."

__ADS_1


Setelah sambungan telfon dokter Anna terputus Ruby kemudian menghubungi Satya untuk meminta izin.


"Mas, kak Anna tadi menelfon, ia ingin bertemu denganku, boleh aku menemuinya sekarang?" izinnya pada Satya.


"Ada apa dengan Anna, kenapa tiba-tiba ingin ketemu sama kamu?" tanya Satya.


"Ini urusan perempuan mas, aku tidak lama kog," balas Ruby.


"Terus kamu mau naik apa?" Satya tau Ruby bisa mengendarai mobil tapi kenapa sepertinya ia merasa takut kalau Ruby menyetir sendiri.


"Aku bawa mobil sendiri aja yah mas, tempatnya juga tidak terlalu jauh," bujuk Ruby.


"Sepertinya Lila sudah harus kembali kalau begini, agar kamu tidak kemana-mana sendiri kalau aku tidak bisa mengantarmu." Satya terdengar menarik nafas dalam-dalam.


"Memangnya Lila kemana sih mas? Tempo hari aku tanya kamu bilang tidak tahu, sekarang kamu sudah mau mendatangkan dia lagi. Ada apa sebenarnya ?" tanya Ruby bingung.


"Pergilah tapi ingat kamu harus kembali tidak lebih dari dua jam." Satya kali ini sudah lebih protektif pada Ruby. Ia sudah tidak mau membebaskan istrinya seperti seorang lajang yang tidak memiliki pasangan.


"Iya, makasih mas," jawabnya lalu mematikan telfon.


Setelah meminta izin pada bu Rumana dan puas menciumi baby Gyan ia kemudian keluar rumah menuju garasi untuk memilih mobil yang akan dipakainya. Pilihannya tertuju pada sebuah mobil sedan BMW seri 3. Sebelum masuk kedalam mobil ia terlebih dulu mengambil kunci pada kepala pelayan yang memang dikasi tugas untuk mengatur segala keperluan di rumah utama.


"Apa nyonya sudah memberitahu tuan muda?" tanya pak Karyo selaku kepala pelayan. Ia sudah lama bertugas dirumah utama bersama istrinya yang diberi tanggung jawab untuk mengatur semua kebutuhan dapur.


"Iya sudah, bapak tenang saja." Jawaban Ruby melegakan pak Karyo.


"Hati-hati dijalan nyonya muda," pesannya sambil membungkukkan sedikit badannya.


"Siap pak Karyo." Perlahan tapi pasti Ruby sudah mulai mendapati kembali dirinya yang penuh keceriaan. Ia yang dulu disenangi teman-temannya karena sikap lincah dan bersahajanya. Sikap yang berbeda tiga ratus enam puluh derajat saat ia pertama kali bertemu dengan Satya, kala ia baru saja merasakan sakit yang teramat dalam dari perjalanan hidupnya. Diusia yang masih muda ia harus merelakan rumah tangganya hancur dan merawat sendiri anaknya. Ia yang menjauh dari keluarganya karena tidak ingin membebani ibunya dengan masalah yang dihadapinya, sekarang kembali saling merangkul dalam sebuah keadaan yang lebih bahagia.

__ADS_1


Mobil yang dikendarai Ruby bergerak perlahan ditengah padatnya jalanan kota M. Untuk pertama kalinya Ruby merasa dadanya tidak memiliki benda asing yang membuat nafasnya terasa berat ditarik


Mobilnya memasuki sebuah cafe dengan tatanan klasik pada pintu masuknya. Setelah berada didalam cafe tersebut ia mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan dan terlihat dokter Anna melambai tangan di meja yang terletak disudut cafe.


"Bagaimana kabarmu By?" tanyanya sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri Ruby saat sampai didekatnya.


"Alhamdulilkah baik kak, kakak sendiri gimana?" tanya balik Ruby.


"Seperti yang kamu lihat By," jawab dokter Anna datar. Ruby bisa melihat tubuh dokter Anna yang sedikit lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


"Kak Anna kenapa? Apa ada masalah yang sangat menyita fikiran kakak?" tanya Ruby dengan wajah sendu seolah sudah tau bagaimana perasaan dokter Anna saat ini.


"Sebenarnya ini bukan masalah besar andai saja aku tidak mencintai orang yang tidak pernah sedikitpun melihatku." Mata dokter Anna kini kembali berkaca-kaca.


Ruby meraih tangan dokter berhati lembut itu kemudian menggenggamnya erat-erat.


"Laki-laki itu pasti akan menyesal suatu saat sudah menyia-nyiakan wanita sebaik kak Anna," ucap Ruby ikut berkaca-kaca melihat kesedihan dokter Anna.


"Andai aku tau siapa laki-laki itu kak, aku sendiri yang akan menemuinya. Aku akan memberitahunya betapa tidak bisanya ia membuka mata dan hatinya untuk melihat permata berkilau didepan matanya," lanjut Ruby.


"Dia tidak salah, By. Sampai detik ini ia belum tahu bahwa ada wanita bodoh yang menyimpan rasa untuknya." Air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya tumpah juga. Ruby berpindah kursi kesamping dokter Anna dan mulai merangkulnya. Untungnya dokter Anna sengaja memilih waktu setelah makan siang jadi tidak adalagi pengunjung dicafe itu selain mereka berdua dan satu meja disudut lain yang berada jauh dari mejanya.


"Besok aku akan pulang ke kotaku, aku tidak tau kapan akan balik lagi kesini karena papaku sudah mengatur perjodohanku dengan laki-laki yang katanya bertugas dikota lain." Ruby semakin mempererat rangkulannya.


"Sabar kak, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kehidupan kakak kedepannya."


🤩 Hi, kalau ada yang mau ngasi masukan monggo sayang, tapi jangan lupa yah dukungannya jangan kendor, dan kalau ada yang mau ngasi tips, mommy gak nolak kog, hihihi🤗🤗


*** Bahagia dan Sedih datang silih berganti, Suka dan Duka selalu bertamu menjadi Warna dalam kehidupan. Jangan pernah saling menyalahkan untuk setiap yang terjadi karena inilah cara Tuhan menguji dirimu💙❤️

__ADS_1


__ADS_2