Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Konferensi pers II


__ADS_3

"Butuh waktu lama untuk aku dan Rania berada dalam posisi yang sulit tapi akhinya kami bertemu disatu titik untuk menyelesaikan hubungan ini dengan baik-baik. Walaupun kami sudah berpisah, komunikasi kami masih sangat baik."


"Pada kesempatan ini pula, saya akan memperkenalkan wanita yang sekarang berada disamping saya. Dia adalah istri saya nyonya muda Biantara. Dan bayi yang sedang dipangkuannya saat ini adalah penerus keluarga Biantara, putra saya, Gyandra Maheswara Biantara." Ruby hanya tersenyum kearah semua kamera yang sedang menyorotnya saat ia diperkenalkan oleh Satya.


"Maaf karena saya disini tidak menerima pertanyaan dari teman-teman media. Karena saya sudah memberikan pernyataan, jadi saya fikir sudah tidak ada masalah. Kalian semua sudah tahu bagaimana kehidupanku sekarang."


"Satu lagi, saya baru akan melaksanakan resepsi pernikahan saat papa Lingga kembali dari Jerman. Saya rasa sudah cukup. Dan pada kesempatan ini, saya ingin menjamu kalian semua dengan makan siang direstoran hotel ini. Selamat menikmati makan siangnya dan maaf jika ada yang kurang puas dengan pertemuan kita hari ini." Satya mengakhiri ucapannya tanpa ada satu media pun yang memberikan pertanyaan.


Ia dan Ruby berjalan keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke paviliun. Untungnya baby Gyan cukup bersahabat selama konferensi pers berlangsung.


"Bagaimana kabar mba Rania yah mas?" tanya Ruby setelah mereka berada didalam kamar.


"Seminggu lebih lagi ia akan menikah dengan Rama, mudah-mudahan ia menemukan kebahagiaan bersama Rama," jawab Satya.


"Iya mas, aamiin."


"Aku nervous banget tadi mas, mungkin sudah banyak orang diluar sana yang menghujatku," ucap Ruby dengan mata berkaca-kaca. Satya mendekati dan memeluknya.


"Kamu tenang saja sayang, kamu sekarang adalah istri Satya Biantara, tidak ada yang akan berani mengganggumu bahkan untuk menyapamu saja mereka akan segan," ucap Satya sambil mengusap-usap rambut Ruby.


"Jika diluar sana orang-orang masih membicarakan kita berarti kaki kita masih berpijak diatas bumi. Jangan perdulikan mereka, tata diri kita masing-masing untuk terus memperbaiki semua kesalahan yang pernah terjadi," lanjut Satya.


Ruby kini tidak bisa lagi menahan air matanya yang sejak tadi berkumpul disudut ingin melumpah keluar.


"Mas..." Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutnya mewakili perasaan hatinya saat ini.


eak...eak...eak...


Ruby langsung melepas pelukan Satya dan mengusap sisa-sisa air mata dipipinya.


"Cayang, anak bunda kenapa?" Ruby mengambil baby Gyan dari strollernya.


"Yah, ternyata udah basah, pantesan nangis."


Satya berdiri disamping tempat tidur sambil memperhatikan Ruby yang sedang mengganti pampers baby Gyan. Bersamaan dengan itu ponsel Ruby yang disimpan diatas meja berdering.


"Mas, boleh tolong ambil Gyan dulu, aku mau ngangkat telfon sebentar." Satya yang masih rapi dengan setelan jas kantor yang dikenakannya langsung mengambil baby Gyan kedalam gendongannya.


"Assalamualaikum kak" Sapa Ruby pada sipenelfon yang ternyata adalah Sultan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam By"


"Ada apa kak? Nendra mana?" Tanya Ruby.


"Nendra dirumah By, aku sekarang lagi dikantor," balas Sultan.


"Aku baru saja melihat konferensi pers yang digelar live oleh Satya, By. Selamat yah kamu sekarang sudah diperkenalkan ke publik sebagai istri satu-satunya dan ibu dari pewaris tunggal Biantara Grup," lanjut Sultan.


"Makasih kak."


"Oya By aku dipindah tugaskan ke kota M terhitung mulai kemarin."


"Benarkah mas? apa Nendra dan Mba Tiara akan ikut kemari?"


"Itulah kenapa aku menelfonmu By. Aku dan Tiara sudah resmi bercerai tapi maaf aku belum bisa menceritakan alasannya sama kamu. Aku nanti hanya akan tinggal berdua dengan Nendra dikota M. Aku fikir daripada aku menyewa orang untuk menemani Nendra saat aku ke kantor mungkin lebih baik sama kamu dulu untuk sementara." Ruby terkejut mendengar ucapan Sultan yang mengatakan ia sudah bercerai dengan Tiara. Ia tertegun sesaat, baru kemudian membalas ucapan tersebut.


"Aku bahkan akan merasa sangat senang kak kalau Nendra bisa tinggal sama aku selamanya, dan aku yakin mas Satya juga tidak akan keberatan." Satya langsung menoleh kearah Ruby yang menyebut namanya dan Nendra tapi Ruby hanya menganggukan kepalanya pelan sambil mengedipkan mata.


"Kamu sudah punya baby Gyan By, aku sekarang tidak punya siapa-siapa lagi selain Nendra. Aku mungkin tidak akan menikah lagi. Aku hanya akan menghabiskan sisa hidupku untuk membesarkan Nendra. Kalau ini hukuman untukku, aku ihklas menerima semuanya." Suara Sultan terdengar bergetar.


"Jangan berkata begitu kak, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, termasuk aku. Kesempurnaan bukan milik kita." Ruby ingin menguatkan hati Sultan tapi Sultan tidak tahu kalau hatinya sendiri dikuatkan oleh Satya.


"Apa Satya ada disitu By?"


"Boleh aku bicara sebentar?"


"Tunggu mas."


Ruby berjalan kearah Satya dan memberikan ponselnya.


"Kak Sultan ingin bicara." ucapnya seolah berbisik. Satya mengambil ponsel dari tangan Ruby dan memberikan baby Gyan padanya.


"Bagaimana kabarmu Sul?"


"Aku baik, kamu sendiri gimana Sat?"


"Aku juga masih bernafas sampai hari ini," balas Satya berkelakar.


"Kamu bisa aja Sat," ucap Sultan terdengar mengeluarkan tawa kecil.

__ADS_1


"Ada apa Sul?"


"Aku mau nitip Nendra untuk sementara sama kamu dan Ruby, aku harap kamu tidak keberatan."


"Kamu sudah dengar jawaban Ruby tadi kan? Jawabankupun seperti itu, kami akan sangat senang kalau Nendra ada ditengah-tengah kami."


"Makasih Sat."


"Jangan sungkan, kita sudah satu keluarga." Kata-kata itu entah sudah berapa kali diucapkan Satya pada Sultan.


"Kalau begitu sampai ketemu besok dikota M," ucap Sultan.


"Oke," balas Satya lalu memutus sambungan telfon.


***


Rumah Dokter Aditya di Kota S


Dokter Aditya sekarang sudah disibukkan oleh persiapan pernikahannya dengan dokter Anna yang hanya tersisa seminggu lagi. Ia hanya bisa mengambil cuti dua minggu dari rumah sakit tempat ia dan dokter Nata sama-sama bekerja.


Sudah lewat dari 24 Jam sejak kepulangannya dari rumah dokter Anna membicarakan hari pernikahan mereka yang harus terlaksana minggu depan, tapi baru sekarang ia teringat untuk memberitahu kejutan ini pada dokter Nata. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Nata.


"Halo Nat, apa kamu lagi sibuk?" Tanyanya saat telfon tersambung.


"Kalaupun aku bilang sedang sibuk, kamu akan tetap menelfon kan?" Balas dokter Nata yang sudah tahu kebiasaan dokter Aditya.


"Tapi apa yang akan aku sampaikan sama kamu ini pasti membuatmu terkejut dan tidak menyangka sama sekali," sahut dokter Adytia.


"Katakan sekarang ada apa? aku baru mau melakukan visite, Dit."


"Kamu tau ternyata wanita yang mau dijodohkan sama aku itu adalah Anna, dokter kandungan sahabatmu." Benar dugaan dokter Aditya, dokter Nata sangat terkejut mendengarnya sampai-sampai ia menjatuhkan gelas yang berisi air putih yang baru saja diteguknya. Dokter Aditya bisa mendengar bunyi pecahan kaca dari gelas tersebut.


"Apa? Anna? Anna Maharani?"


"Iya Anna, Anna Maharani, sahabatmu."


***Bersambung***


💙 Happy reading kesayangan mommy, jangan lupa tinggalin jejak yah supaya mommy tau ternyata ada juga pembaca setia novel ini🤗🤗🤗

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga dicerita sebelah sayang, 🌹 CINTA DIBALIK PENOLAKAN, ceritanya tuan muda Zafran dan non Tari😘


💙 Saat sebuah kesalahan terjadi diluar kesengajaan, tidak usah sibuk mengurusi pendapat oranglain tapi sibuklah berbenah untuk menjadi pribadi yang lebih baik karena Bumi ini memang tempat mengukir cerita. Padi yang sudah terserang hama masih bisa diselamatkan dengan bantuan pestisida🤭🤭


__ADS_2