
Keesokan harinya saat Dokter Aditya dan dokter Anna dalam perjalanan menuju Jerman. Satya sekeluarga sudah kembali ke rumah utama. Begitupun Rania dan Rama.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Satya pada Ruby saat mereka sudah berada didalam kamar.
Sejak dalam perjalanan pulang Ruby memang lebih banyak diam, wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Aku nggak apa-apa mas, cuma sedikit kecapean." Jawabnya lemas.
"Apa kita perlu periksa ke dokter ?"
Satya khawatir melihat keadaan Ruby.
"Nggak perlu mas, aku hanya butuh istirahat saja kog." Balas Ruby.
"Kalau begitu aku tidak akan ke kantor hari ini."
"Apa tidak ada pekerjaan penting di kantor? Pergilah mas, aku tidak apa-apa kog."
"Ada Bagas yang akan mengurusnya."
"Sepertinya kamu perlu bantuan baby sitter untuk mengurus Gyan. Aku sudah lama ingin menyuruh Bagas merekrutnya tapi kamu melarangku."
"Nggak perlu mas, kan ada Lila."
"Lila nggak bisa maksimal bantu kamu ngurus baby Gyan karena tugas utamanya jadi asisten kamu, bukan baby sitter."
"Terserah mas saja kalau begitu."
Ruby tidak sanggup berdebat dengan Satya karena badannya terlalu lemah bahkan hanya untuk berbicara.
Satya kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Ia memijit kaki Ruby memberi refleksi ringan untuk melancarkan peredaran darahnya agar bisa tidur lelap hingga nanti kembali segar saat bangun.
"Tidurlah, aku akan disini sampai kamu tertidur."
Ruby hanya mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. Sepuluh menit berselang saat Satya masih menekan telapak kaki Ruby, sudah terdengar dengkuran halus dari wanita itu.
Satya memandangi Ruby yang sudah tertidur dengan wajah tenang seolah tanpa beban. Ia lalu berdiri dan melangkah ke arah meja kerjanya untuk menyelesaikan tugas kantor. Tapi sebelum itu ia menghubungi Bagas lebih dulu.
"Bagas, apa kamu tidak bisa melacak keberadaan Nata di Yunani?" Tanyanya setelah telfon tersambung.
__ADS_1
"Sepertinya susah tuan muda karena kita tidak memiliki jaringan disana."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan disini?"
"Untuk saat ini kita hanya bisa menunggu kabar dari dokter Adit, tuan muda."
"Baiklah."
Satya pun memutus sambungan telfon. Lama ia terpaku ditempatnya dengan pandangan lurus kedepan tanpa mengedipkan mata. Ia ingat bagaimana ia dulu melewati hampir setiap hari bersama dokter Nata hingga akhirnya mereka sempat bersitegang karena Ruby dan harus terpisah saat dokter Nata memutuskan berangkat ke Jerman.
***
Ditempat lain disalah satu perusahaan dibawah perusahaan Biantara Grup, terlihat seorang pria didalam ruangannya meringis seraya memegang dadanya yang terasa sedikit nyeri. Ia adalah Rama yang sudah beberapa hari ini merasakan kesehatannya terganggu, tapi ia belum juga memeriksakan dirinya ke dokter.
Ponselnya tiba-tiba berdering saat ia sedang mengatur nafas untuk melegakan sesak yang melandanya.
"Ada apa Nia?" Tanyanya mengetahui wanita yang menelfonnya adalah Rania.
"Ram, pihak WO meminta bertemu siang ini untuk taste makanan yang akan dihidangkan saat resepsi nanti." Terdengar suara Rania diseberang telfon.
"Apa kamu bisa pergi sendiri dulu Nia, aku sedang banyak kerjaan sekarang." Balas Rama seraya sesekali meringis kecil.
"Ram, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rania penuh selidik.
"Iya Nia, aku tidak apa-apa kog. Aku hanya banyak kerjaan hari ini, nggak apa-apa kan kalau aku nggak ikut?"
Rama sengaja tidak memberitahu Rania karena ia tidak ingin membebani wanita yang ia sayangi itu menjelang hari pernikahan mereka.
"Ya sudah, aku akan pergi sendiri kalau gitu, Ram."
Setelah menutup telfon, Rania tertegun sesaat. Ada perasaan khawatir yang tiba-tiba mendera hatinya. Sebagai seorang perempuan, ia bisa merasakan kalau ada yang tidak beres dari nada suara Rama.
"Ada apa sebenarnya dengan Rama, apa ia menyembunyikan sesuatu dariku?" Batin Rania.
Tidak ingin bertanya-tanya terus dalam hati, ia akhirnya memutuskan untuk mendatangi Rama di kantornya sekalian membawakan makan siang.
Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur. Ia bermaksud akan memasak steak ayam untuk Rama. Rania memang sudah mulai membiasakan memasak dirumah sejak rumah tangganya dengan Satya merenggang. Hingga kini kebiasaan itu keterusan dan ia sudah jarang membeli makanan diluar rumah.
***
__ADS_1
JERMAN
Dokter Aditya dan dokter Anna tiba di Jerman menjelang pukul 12.00 siang(Di kota M sudah pukul 06.00 sore). Ia yang tadinya akan berangkat pagi dari kota B, harus berangkat lebih awal saat tengah malam setelah resepsi selesai karena pesawat yang akan berangkat ke Jerman hanya ada diwaktu tersebut.
Dan karena kelelahan yang mendera keduanya. Tidak banyak percakapan yang terjadi selama didalam pesawat, hanya sesekali mereka saling bersuara saat pramugari datang membawa makanan. Setelah itu keduanya kembali larut dalam mimpi masing-masing sampai mereka tiba dikediaman dokter Aditya saat ini.
Dokter Anna melihat sekilas ke rumah yang berada pas didepan rumah suaminya yang sekarang menjadi rumahnya juga. Rumah itu nampak sangat lengang. Meskipun pemiliknya sedang tidak ada ditempat tapi rumah itu terlihat dirawat dengan baik, taman kecil didepannya masih sangat rapi, sama sekali tidak terlihat kotoran disana. Rumah itu pernah jadi saksi kehidupannya selama beberapa bulan bersama dokter Nata dan Ruby. Ia setiap hari membawa baby Gyan berjemur ditaman kecil yang selalu mendamaikan hatinya saat berada disana. Mengingat itu semua dokter Anna merasa trenyuh. Kalau Ruby sekarang sudah mendapatkan kebahagiaannya, ia juga akan meniti kebahagiaan itu dengan dokter Aditya.
"Ayo masuk."
Ucapan dokter Aditya seketika membuyarkan lamunan dokter Anna.
"Iya Dit."
Dokter Anna kemudian mengikuti dokter Aditya masuk kedalam rumah. Ini bukan kali pertama ia masuk kesana karena saat dokter Aditya pindahan dulu, ia pun ikut serta membantu kepindahannya.
"Apa kamu mau satu kamar denganku?"
Tanya dokter Aditya hati-hati seraya menghentikan langkahnya. Karena pesan yang salah alamat tersebut, ia tidak mau terlihat memaksa dokter Anna.
"Apa maksud kamu, Dit?
Dokter Anna terlihat heran dengan pertanyaan dokter Aditya. Tapi dokter Aditya tidak menjawab dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Masuklah, kalau kamu tidak keberatan satu kamar denganku, maka tidak ada alasan juga bagiku untuk satu kamar denganmu."
Meski masih bingung dengan ucapan dokter Aditya, dokter Anna pun akhirnya melangkah perlahan mengikuti dokter Aditya masuk ke kamarnya.
"Apa ada masalah Dit?"
Tanya dokter Anna yang sudah duduk pada sofa dikamar tersebut.
"Tidak ada. Aku hanya berfikir, pernikahan kita ini karena sebuah perjodohan. Mungkin kamu belum siap untuk berbagi tempat tidur denganku. Aku juga tidak akan buru-buru memaksamu."
Dokter Anna menghela nafas dalam-dalam mendengar ucapan dokter Aditya. Memang benar pernikahan mereka sebuah perjodohan tapi ia tidak berniat untuk mempermainkan janji suci yang sudah terucap saat proses ijab kabul.
❤️ Maaf readers mommy lambat up karena lagi kurang enak badan. Happy reading dan jangan lupa ninggalin jejak yah😘🙏
💚 Jangan mengatas namakan CINTA untuk alasan kamu tidak mengabdi dengan sungguh-sungguh pada orang yang sudah halal bagimu karena itu sama saja kamu sedang membuat perang dalam kehidupanmu sendiri😊
__ADS_1