
Sementara itu jauh dibagian Timur dari kota M, Bagas dan Lila sudah sampai dibandara dan sebentar lagi akan bertokak kembali ke kota M. Setelah melalui perjalanan panjang dengan mengendarai motor naik turun pegunungan dan jalan terjal yang licin.
Untungnya sepeda motor yang disewa oleh Bagas berjenis motor trail yang memang diperuntukan untuk menjelajah daerah pegunungan yang berbatu-batu.
Keadaan jalanan yang tidak bersahabat membuat Lila harus menempelkan tubuhnya pada tubuh Bagas. Untuk pertama kalinya Lila bisa merasakan dari dekat aroma tubuh Bagas yang terasa sangat maskulin dari parfum yang dipakainya.
Ada desir yang terasa mendidih dialiran darahnya. Ada rasa yang tak bisa ia ungkapkan lewat kata. Ada getaran hebat yang mengguncang jantungnya saat tangannya perlahan diletakkan diperut Bagas. Ia semakin mempererat pelukannya saat melewati penurunan dan tikungan tajam. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya bisa berada sedekat ini dengan Bagas.
Lila teringat pertemuan pertamanya dengan Bagas disebuah restoran untuk kelas menengah. Saat itu ia baru saja pulang melamar pekerjaan disalah satu anak perusahaan Biantara Grup tapi lamarannya ditolak karena ternyata bagian yang sesuai dengan jurusannya sudah terisi lebih dulu oleh oranglain. Lila adalah lulusan jurusan pemasaran disalah satu universitas di kota M.
Entah kenapa Bagas yang duduk di meja bersebelahan dengan Lila tiba-tiba menghampirinya dan menawarkan pekerjaan menjadi asisten istri kedua tuan mudanya dengan gaji yang sangat tinggi. Lila langsung saja menerimanya mendengar nominal yang akan dibayarkan oleh Bagas. Ia sudah merasakan bagaimana susahnya mencari pekerjaan dikota M apalagi untuk dirinya yang tidak memiliki penampilan menarik. Lila sebenarnya cantik, senyumnya sangat manis, ia hanya tidak pernah merawat dirinya.
Selama 6 jam lamanya mereka melakukan perjalanan hingga sampai dibandara menjelang sore.
Tapi karena cuaca yang buruk hingga pesawat yang akan mereka naiki mengalami delay selama 4 jam, mereka akhirnya tiba dikota M saat tengah malam.
"Kita datang kerumah utama besok saja, tuan muda pasti sudah tidur lelap sekarang," kata Bagas saat mereka sudah berada didalam mobil.
"Jadi aku harus nginap dimana? Kalau aku harus kembali kerumah kost apa kata orang-orang disana melihat aku pulang tengah malam diantar sama laki-laki," jawab Lila.
"Kamu malam ini nginap di apartemenku," tambah Bagas. Lila membulatkan mulutnya mendengar ucapan Bagas.
"Kamu tenang saja aku tidak akan macam-macam sama kamu lagian kamu juga bukan tipeku, kamu jauh dari kata menarik." Ucap Bagas melihat ekspresi wajah Lila. Lila hanya diam saja meski sebenarnya dalam hati ia merasa sangat kesal karena Bagas sudah sangat menghinanya.
Tidak ada lagi suara yang terdengar setelahnya sampai mereka tiba diapartemen Bagas.
***
JERMAN
"Apa kamu beneran akan pulang Dit?" tanya dokter Nata pada dokter Aditya saat mereka sedang makan siang bersama di cafe rumah sakit tempat mereka bekerja.
__ADS_1
"Iya Nat, dari sini aku akan langsung ke bandara. Aku tidak bisa lagi menolak keinginan papa sekarang. Mungkin ini yang terbaik, papa tidak mungkin memilihkan yang tidak baik untukku," jawab dokter Aditya.
"Kamu benar, orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya," balas dokter Nata menepuk-nepuk bahu dokter Aditya.
"Aku harap kamu juga secepatnya menyusul, berhenti memikirkan milik oranglain," ucap dokter Aditya dengan wajah serius yang hanya dibalas oleh senyum tipis dokter Nata.
"Aku mungkin tidak bisa merasakan perasaanmu tapi saranku jangan ikuti perasaanmu yang salah itu brow, aku tau kamu laki-laki hebat," tambah dokter Aditya.
"Aku akan berusaha Dit, makasih sarannya," balas dokter Nata.
"Kalau begitu aku pamit yah Nat, liat-liat rumahku selama aku tidak ada."
"Oke sip, salam sama papa mama kamu Dit." Dokter Aditya hanya menaikkan jempolnya kemudian berbalik dan melangkah keluar menuju mobilnya meninggalkan dokter Nata yang masih diam ditempat duduknya.
Ia terlihat menghela nafas dalam-dalam kemudian menghempaskannya kasar. Diremasnya wajah tampan yang selalu terlihat sendu itu selama Ruby sudah kembali pada Satya.
"Bagaimana lagi caraku untuk menghilangkan rasa ini, bahkan saat aku sudah menjauh dari mereka, selalu saja ada keadaan yang mendekatkan aku dengan kehidupan Satya membuat aku masih sulit melupakan Ruby," batin dokter Nata.
Dokter Nata kemudian bangkit dari duduknya dan berniat pulang kerumah untuk beristirahat. Ia menelfon teman siftnya untuk menggantikan dirinya sementara.
***
Masih pagi-pagi sekali mobil Bagas sudah terlihat berada digarasi rumah utama. Ia memang berniat sampai disana sebelum Satya turun untuk sarapan pagi. Bagas membangunkan Lila yang disuruhnya tidur disofa sebelum adzan subuh diponselnya berbunyi.
Mereka berdua menunggu diruang keluarga yang akan dilalui Satya sebelum ke meja makan.
"Selamat pagi tuan muda dan nyonya muda," sapanya menghampiri Satya sambil membungkukkan sedikit badannya saat melihatnya keluar dari lift bersama Ruby. Lila yang menguntit terus dibelakang Bagas melakukan hal yang sama.
"Lila?" Ruby langsung menghambur kearah Lila. Satya dan Bagas hanya bengong melihatnya.
"Kamu dari mana saja Lil?" tanyanya sambil merenggangkan pelukannya.
__ADS_1
"Aku...itu non..." Lila tidak tahu harus menjawab apa karena ia belum memikirkan jawaban sebelumnya gara-gara Bagas yang selalu membuatnya kesal.
"Lila baru saja menjalani kursus kilat nyonya muda." Bagas yang menjawab pertanyaan Ruby.
"Oh ya? kursus apaan Lil?" Ruby masih terus memberondol Lila dengan pertanyaan.
"Apa kita hanya akan berdiri disini menanyai Lila?" sela Satya melihat betapa penasaran istrinya pada Lila.
"Eh iya maaf sayang, ayo kita kemeja makan saja. Ayo Lil," ajak Ruby berjalan lebih dulu.
"Sepertinya makin banyak peningkatan tuan muda," bisik Bagas ditelinga Satya.
"Kamu tidak perlu banyak bicara karena nanti kamu harus menerima hukuman, aku menyuruhmu kembali dalam waktu 24 jam tapi ini sudah 48 jam kamu baru muncul." Satya juga berbisik ditelinga Bagas yang berjalan beriringan disampingnya. Bagas langsung terdiam mendengar ucapan Satya.
"Kamu kursus apa Lil?" Ruby masih mengulang pertanyaannya tadi yang belum mendapat jawaban.
"Kursus Bahasa non."
"Kursus Kecantikan nyonya muda."
Jawaban yang dilontarkan Lila bersamaan dengan jawaban berbeda yang diucapkan oleh Bagas membuat Satya dan Ruby saling pandang.
"Dasar manusia menyebalkan, bisa-bisanya ia bilang aku mengambil kursus kecantikan saat ia malah mengirimku kedesa yang sangat jauh dengan jalanan penuh lumpur dimana-mana," batin Lila menatap tajam kearah Bagas.
"Lila tadinya ingin mengambil kursus kecantikan nyonya muda tapi karena ia fikir kursus bahasa lebih penting jadi ia beralih kesitu," ucap Bagas menjawab pelototan mata Lila.
"Kamu sepertinya sudah sangat mengenal bahkan mengatur kehidupan Lila, apa itu tidak terlalu berlebihan untuk seorang atasan dan bawahan?" Tanya Satya penuh selidik.
"Tidak tuan muda, aku hanya menjalankan perintah tuan muda untuk tidak memecat Lila sampai nyonya muda kembali," jawab Bagas.
"Baiklah aku terima jawabanmu, ayo kita sarapan lebih dulu sebelum kamu memberi tahu Lila semua tugasnya selama menjadi asisten pribadi Ruby. Pastikan ia tidak melakukan kesalahan lagi." Setelah Satya berkata begitu, mereka pun menikmati sarapan pagi tanpa ada yang bersuara.
__ADS_1
💚 Hi readers kesayangan happy reading, maaf yah jika banyak kekurangan yang tidak sesuai dengan keinginan kalian🙏 Jangan lupa tetap ngasi dukungan buat mommy dengan ninggalin jejak di akhir cerita😘🤗
💚 Cerita ini dibumbui dengan kisah pasangan lain yah biar tidak menoton di kisah Satya dan Ruby, entar malah jadi bosan. Kalau ada yang minta ganti judul, maaf yah tapi mommy udah mentok di judul yang itu sayang🤗🤗