
Malam itu sesudah makan malam Ruby dan dokter Anna bersantai dibalkon kamar Ruby, sedangkan Lila menemani baby Gyan diranjang Ruby.
"By, Nata nitip ini buat kamu," kata dokter Anna menyerahkan sepucuk surat yang sejak tadi dipegangnya pada Ruby.
" Apa ini kak?" tanya Ruby mengerutkan keningnya, ia merasa heran kenapa dokter Nata menitipkan surat untuknya.
"Kamu besok aja bacanya kalau aku udah pulang," sahut dokter Anna.
"Baiklah kak, tapi aku mau menyimpannya dulu," balas Ruby sambil berjalan kearah lemari untuk menyimpan surat itu, ia sebenarnya sangat penasaran dengan isi surat tersebut, tumben-tumbenan dokter Nata mengiriminya surat, biasa juga kalau ada apa-apa dia akan langsung menelfon Ruby, tapi karena dokter Anna belum mengizinkan membukanya ia akhirnya menepis saja rasa penasarannya. Setelah menaruh surat tersebut didalam laci lemari pakaiannya, ia kembali ketempat dokter Anna.
"By, aku mau tanya sama kamu, boleh?" tanya dokter Anna.
"Boleh kak, tanya aja," jawab Ruby.
"Tapi kamu jangan tersinggung yah," kata dokter Anna.
"Iya gak kog kak," ucap Ruby.
"Andai saja ada seorang pria yang dengan ikhlas bisa menerimamu dengan baby Gyan, apa yang akan kamu lakukan?" tanya dokter Anna dengan harap-harap cemas, takut kalau Ruby merasa tersinggung, ia merasa lega saat akhirnya Ruby tersenyum tipis.
"Untuk saat ini aku tidak berfikir kesana kak, aku sudah pernah gagal dalam berumah tangga, rumah tanggaku sekarang pun seolah bukan rumah tangga yang sebenarnya, kak Anna tau sendiri bagaimana hubunganku dengan mas Satya dan mba Rania. Aku sebenarnya ingin pisah dari mas Satya kak tapi dia tidak mau menceraikan aku, akhirnya aku putuskan keluar dari rumah utama semata-mata karena tidak ingin terus-terus berada didekatnya, aku ingin pergi jauh kak, tapi aku takut mas Satya akan merebut baby Gyan dari aku kalau dia tau dari awal niatku, makanya aku bilang sama dia kalau aku akan memberinya waktu sebulan untuk mengurus masalah ini, waktu sebulan itu juga cukup untuk aku menyusun rencana kedepannya, sampai disitu Ruby berhenti, ia menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Kamu mau kemana By?" tanya dokter Anna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku belum tau kak, aku pernah berfikir bisa merawat baby Gyan bersama-sama dengan mas Satya dan mba Rania tapi ternyata tidak semudah itu menjalani rumah tangga yang harus berbagi jiwa dan raga, apalagi sejak Rendra meninggalkan aku untuk selama-lamanya dan kak Sultan juga tidak mau memberikan Nendra, aku semakin tidak ingin berpisah dari baby Gyan kak, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang, katakan sama aku kak, salahku dimana?" bulir-bulir bening mulai jatuh dari sudut mata Ruby, dokter Anna menggeser sedikit kursinya dan meraih Ruby dalam pelukannya, ia tidak mampu berkata-kata, ia hanya bisa mengusap-usap punggung Ruby.
"Aku kasihan pada baby Gyan karena harus terlahir dalam keadaan seperti ini tapi aku juga tidak bisa memaksakan egoku untuk memiliki milik orang lain, mungkin memang sudah takdirnya baby Gyan harus menjalani kehidupan hanya denganku saja kak," tangis Ruby semakin pecah, dokter Anna juga sudah tidak bisa mengendalikan air matanya yang sejak tadi mengendap.
"Andai saja kamu mengizinkan Nata masuk kedalam hidupmu dan baby Gyan aku akan ikhlas By," kata dokter Anna dalam hati tapi ia belum berani mengatakan langsung pada Ruby.
"Kak, aku benar-benar tidak ingin punya hubungan lagi dengan mas Satya, aku takut jika mengambil keputusan bersama-sama merawat baby Gyan, malah aku akan larut kedalam kehidupan mas Satya, akhirnya aku benar-benar mengambilnya dari mba Rania, tolong beritahu apa yang harus aku lakukan kak," ucap Ruby.
"By, mulailah buka hatimu untuk oranglain, cinta itu bisa datang perlahan seiring berjalannya waktu, kamu tidak mungkin terus-terus berada dalam lingkaran ketidak pastian dari Satya."
"Itu yang sulit kak, rasanya aku tidak bisa jika harus kembali berhubungan dengan oranglain setelah menjanda dua kali, aku tidak sanggup memulai hubungan yang baru, aku lebih baik hidup sendiri," Ruby melepaskan pelukannya pada dokter Anna.
Menjelang tengah malam Ruby belum bisa memejamkan mata, dipandanginya wajah baby Gyan lekat-lekat, wajah yang bak pinang dibelah dua dengan Satya. Ia kembali teringat dengan Rendra.
"Ren, andai saja kamu masih ada disini saat ini, bunda tidak akan sebingung ini, kamu pasti melihat bunda dari atas sana, tolong bantu bunda mencari jalan keluar tanpa harus berpisah dari adikmu," lagi-lagi Ruby menarij nafas dalam.
Malam semakin merambat, hawa dari pendingin ruangan menembus tulang-tulang Ruby tapi ia tidak bisa mendinginkan hati Ruby yang masih bergemuruh menahan sesaknya, entah kenapa kesedihan seolah betah terus bertengger disana, tapi Ruby selalu meyakinkan dirinya bahwa suatu saat kesedihannya saat ini akan berubah kebahagiaan yang tak terhingga.
Setelah Ruby mengganti diapers baby Gyan, ia pun merebahkan tubuhnya disamping baby Gyan, dibawanya tubuh mungil baby Gyan kedalam dekapannya, ada ketenangan yang ia temukan dalam setiap hembusan nafas bayi itu.
__ADS_1
"Ini tidak akan jadi masalah andai papa kamu mau pisah sama bunda," lirih Ruby mengecup pelan pipi baby Gyan, perlahan ia memejamkan matanya, meringkukkan tubuhnya membuat lengkungan dibawah kaki baby Gyan sampai ia pun akhirnya bisa terlelap juga.
Keesokan harinya dokter Anna keluar lebih awal dari kamar, ia dan Lila sedang sibuk didapur memasak hasil belanjaannya kemarin disupermarket. Ruby baru keluar setelah makanan mereka siap disajikan dimeja makan.
"Kak Anna masak apa, baunya enak banget," tanya Ruby yang sudah terlihat fres sedang menggendong baby Gyan.
"Aku masak chiken steak, By,"
"Kamu kelihatan lebih segar pagi ini, gitu dong jangan sedih-sedih terus," ucap dokter Anna.
"Iya kak, asal kakak sering-sering datang kemari," jawab Ruby.
"Ponakan aunty udah ganteng juga yah, gantenganya sama kayak uncle Nata," dokter Anna berjalan kemeja makan membawa piring ditangannya sambil mencolek pipi gembul baby Gyan.
"Kog kak Nata sih kak, maksudnya apa?" Ruby terlihat mengerutkan keningnya, merasa heran dengan kata-kata dokter Anna, ia teringat surat dari dokter Nata yang belum dibacanya. Lila yang mendengar dokter Anna bicara seperti itu hanya tersenyum tipis, dalam hati ia berfikir andai saja benar Ruby bisa menerima dokter Nata dalam kehidupannya maka ia juga akan merasakan kebahagiaan, tapi apa tuan mudanya akan merelakan?. Lila menarik nafas berat.
"Gak ada maksud apa-apa By, siapa tau aja baby Gyan kangen sama unclenya, dia kan udah lama gak merasakan sentuhan Nata," dokter Anna tersenyum lebar kearah Ruby, sedangkan Ruby hanya diam saja memirkirkan ucapan dokter Anna.
Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan sesekali candaan dari dokter Anna dan Lila.
🤩😍 Ayo readers jangan kendor dukung terus author, oya jangan lupa mampir dicerita baruku CINTA DIBALIK PENOLAKAN, masih diaplikasi ini, kiss jauh😘😘
__ADS_1
*** Kalau ada yang bilang Cinta itu butuh waktu sepertinya itu keliru karena Cinta sebenarnya hadir tidak mengenal waktu, yang butuh waktu itu kenyamanan, kalau sudah merasa nyaman yang tidak Cintapun akan bertahan😊🤗