Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Perasaan Lila


__ADS_3

"Mas bisa kita ketemu entar siang di resto steak dekat kantormu." Itu isi whatshap Rania untuk Satya.


"Oke." Balasan Satya mengiyakan.


Tapi sebelum berangkat ke kantor pagi itu, ia lebih dulu memberitahu Ruby bahwa akan bertemu Rania saat makan siang.


"Iya enggak apa-apa mas, salam yah sama mba Rania." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Ruby. Ia tidak pernah melarang Satya bertemu dengan mantan istrinya karena ia selalu tahu diri bahwa ialah yang datang belakangan. Meskipun begitu Satya selalu tahu batasan antara ia dan Rania saat ini.


"Bagaimana kabarmu, Nia?" tanya Satya sambil menjabat tangan Rania. Tidak adalagi diantara mereka yang namanya cium pipi kanan dan pipi kiri. Mereka yang dulu pernah berbagi ranjang berdua, mereka yang dulu pernah memakai kamar mandi yang sama, sekarang terlihat begitu berjarak karena waktu saat ini sedang berpihak pada masing-masing hati yang sudah memiliki mereka. Ini adalah pertemuan pertama keduanya setelah terbit akta cerai.


"Alhamdulillah baik mas," jawab Rania. Terlihat sedikit kecanggungan dari nada suaranya.


"Ruby sama Gyan gimana, mas?" tanyanya kemudian setelah ia merasa lebih rileks.


"Ruby nitip salam sama kamu dan Gyan sekarang sudah mulai belajar berdiri," balas Satya.


"Kamu pasti senang banget yah mas sekarang udah ada teman main dirumah kalau pulang kantor," ucap Rania.


"Kebahagiaan setiap orang itu beda-beda Nia, saat kamu mengira aku bahagia dengan Gyan, aku juga melihat kebahagiaanmu bersama Rama dan Andin." Jawaban Satya membuat Rania tersenyum tipis.


"Kamu benar mas, kita tidak pernah tahu kemana hati kita akan berlabuh hingga mendapat tempat singgah yang membuat bahagia. Aku berharap Rama dan Andin bukan hanya tempat aku singgah tapi juga aku ingin menetap disana selamanya," ucap Rania penuh perasaan.


"Aamiin." Balas Satya.

__ADS_1


"Oya kebanyakan cerita aku jadi lupa maksud ingin bertemu dengan kamu mas."


"Dua minggu lagi kalau tidak ada halangan aku akan menikah dengan Rama tapi sebelum itu aku mau minta tolong sama kamu mas, untuk memberitahu media tentang perceraian kita. Bagas mungkin bisa menekan semua pemberitaan yang berhubungan dengan keluarga Biantara, tapi sekarang aku bukan lagi bagian dari keluarga itu. Aku hanya tidak ingin publik terkejut dan beranggapan aku berselingkuh dengan Rama saat media melihat pernikahan kami nanti." Rania menghela nafas dalam-dalam setelah mengungkapkan maksudnya mengajak Satya untuk bertemu.


"Saat ini juga aku sama Rama selalu was-was kalau sedang jalan dikeramaian karena publik tahunya aku masih menantu keluarga Biantara," lanjut Rania.


"Setelah Bagas kembali aku akan menyuruhnya mengatur waktu untuk mengundang media datang ke rumah utama. Aku juga perlu mempersiapkan mental Ruby," balas Satya.


"Baiklah mas."


"Maaf kalau pertanyaanku ini menyinggungmu mas, tapi apa kamu tidak melalukan resepsi pernikahan dengan Ruby?" tanya Rania dengan hati-hati takut menyinggung perasaan Satya.


"Aku baru akan mendaftarkan pernikahanku dan yang lebih penting aku ingin menghadiri resepsi pernikahanmu lebih dulu," jawab Satya menarik kedua ujung bibirnya.


Suku Pedalaman W


Sementara itu Bagas yang baru sampai tengah malam tadi ditempat Lila, masih terlihat meringkuk disudut rumah kepala suku pedalaman W. Ia belum sempat berbicara dengan Lila karena saat ia datang semalam Lila sudah tidur dengan istri kepala suku tersebut sehingga ia takut membangunkannya.


"Mas Bagas, bangun mas, sudah pagi." Lila menggoyang-goyangkan tubuh Bagas. Mereka berdua memang terlihat sangat akrab saat tidak dilihat oleh orang-orang terdekatnya. Ia terkejut saat tadi diberitahu tentang kedatangan Bagas oleh pemandu yang membawa Bagas kepedalaman tersebut.


"Lila, ini semua gara-gara kamu. Kakiku sudah lecet berjalan kaki selama dua jam." Ia baru saja bangun dan masih mengucek-ngucek matanya tapi sudah langsung marah-marah saat melihat Lila muncul dihadapannya.


"Kog aku sih mas, yang mengirim aku kesini siapa? Apa mas kira kakiku tidak lecet? kakiku tiap minggu harus diurut gara-gara berjalan kaki pulang dan pergi ke kota hanya untuk mengirim foto kegiatanku disini." Kali ini Lila lebih berani melawan Bagas. Ia tidak terima Bagas benar-benar sudah menyiksanya. Bagas terlihat diam saja membiarkan Lila mengeluarkan semua isi hatinya karena ia tahu ternyata untuk sampai kesini benar-benar butuh pengorbanan ekstra. Ia saja yang mengaku dirinya laki-laki sejati merasa menyerah apalagi Lila yang hanya seorang wanita lemah.

__ADS_1


"Aku mau berhenti saja bekerja, aku tidak bisa lagi menuruti semua perintahmu. Andai saja aku tidak membutuhkan uang untuk orangtuaku dikampung, aku pasti tidak akan menyetujui hukuman gilamu ini." Lila semakin meninggikan suaranya. Dalam hati ia menolak kata-katanya karena yang sebenanarnya ia sudah jatuh cinta pada laki-laki yang disebutnya gila dihadapannya ini. Ia tidak tahu kapan perasaan itu datang, tapi saat ia harus meninggalkan kota M karena kesalahannya, ia merasa separuh jiwanya sudah tertinggal disana. Olehnya itu dia lebih memilih menghadapi Bagas dan menerima hukuman yang diberikannya.


Perdebatan mereka terhenti saat pemandu yang mengantar Bagas datang memberitahu bahwa kepala suku sudah menunggu untuk sarapan bersama. Mereka berdua pun berjalan mengikuti dibelakang pemandu tersebut. Bagas dan Lila tidak saling bicara sampai didekat kepala suku dan istrinya serta beberapa tamu lain yang sudah duduk melingkari makanan yang akan mereka santap pagi itu. Gerimis diluar sana seakan menemani mereka sarapan pagi. Sangat pas dengan hidangan berkuah hangat yang disajikan oleh pemilik rumah.


"Apa kalian suami istri?" Pertanyaan kepala suku pada Bagas dalam bahasa pedalaman mereka yang diartikan oleh sang pemandu.


"Mereka baru bertunangan dan sebentar lagi akan menikah." Kembali pemandu itu yang menjawab selaku penyambung lidah antara Bagas dan kepala suku.


"Tunangan? Menikah?" Yang benar saja, siapa juga yang mau nikah sama orang gila ini." Kata-kata Lila sangat pelan tapi karena Bagas berada didekatnya ia bisa mendengar apa yang dikatakan Lila. Lagi-lagi mulut dan hatinya tidak sejalan karena saat mulutnya berkata enggan, hatinya justru berteriak kegirangan mendengar ucapan pemandu itu.


"Eh kamu jangan kegeeran dulu yah, siapa juga yang mau nikah sama kamu, baru gitu aja sudah marah-marah," bisik Bagas pada Lila. Lila diam saja menanggapi Bagas. Ia juga tidak yakin apa perasaannya akan dibalas oleh Bagas suatu saat nanti sementara perbedaan antara dirinya dan Bagas sangat jauh. Ia merasa seperti pungguk yang merindukan bulan.


"Kita harus kembali sekarang juga," kata Bagas setelah mereka selesai sarapan. Ia membawa Lila kesamping rumah yang berbentuk kerucut tersebut.


"Apa? Mas Bagas lihat sendiri cuaca diluar sana kan? Kita akan kesusahan dijalan kalau memaksa pergi saat begini," ucap Lila.


"Tapi tuan muda sudah menunggu kita, ia hanya memberiku waktu selama 24 jam," balas Bagas.


"Dan ini bahkan sebentar lagi sudah tiba waktunya. Tidak ada yang kesini dan bisa melakukan perjalanan pergi dan pulang hanya dalam waktu 24 jam kecuali mereka naik jet pribadi." Ucapan Lila membuat Bagas lagi-lagi meremas kasar wajahnya.


🤩 Hi semoga suka yah ceritanya, maaf semua kekurangan dan jangan lupa tetap dukung mommy😘🤗


💚 Jangan terlalu menunjukkan CINTA_mu pada seseorang meski dihatimu memang tidak ada celah untuk oranglain tapi tinggikan gengsimu agar ia semakin penasaran dan tidak berhenti mengejarmu💙❤️

__ADS_1


__ADS_2