Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Rendra Pergi untuk Selama-Lamanya


__ADS_3

Sore itu butiran-butiran salju masih enggan beranjak dari kota Berlyn Jerman, cuaca yang dingin merasuk sampai ketulang-tulang, tapi itu tidak bisa mendinginkan hati Satya dan Sultan saat ini karena kondisi Rendra semakin memburuk,mereka berdua mendesak tim dokter yang menangani Rendra agar bisa melakukan lebih dari yang mereka lakukan sekarang.


"Do the best for healing my boys, please" ucap Sultan pada dokter yang kini sedang berada didepannya.


"Yes sir, I will pay whatever it is" Satya ikut menambahkan.


"I'm sorry Mr. Satya, I'm sorry Mr. Sultan, we have been trying with all one's might but the patient has not shown any progress, if arrive tonigth his condition are still like now, we from the team of doctors admitted to resigning" ucap ketua tim dokter.


Tim dokter pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Satya dan Sultan yang sama-sama frustasinya.


"Apa yang harus kita lakukan Sat" tanya Sultan meremas kasar wajahnya.


"Aku juga bingung Sul" balas Satya yang juga meremas wajahnya.


Mereka berpacu dengan fikiran masing-masing, Satya duduk disofa sementara Sultan duduk disamping Rendra, tidak berselang lama muncul dokter Nata dari balik pintu.


"Satya, Sultan, aku membawa amanah dari ketua tim dokter dengan sangat berat hati alat-alat yang dipasang ditubuh Rendra harus dilepas, aku mohon kalian bisa tabah menghadapi ini" dokter Nata bicara sangat pelan dengan raut wajah yang menyedihkan.


"Gak, gak bisa, aku akan bayar berapapun asal alat-alat itu tidak dilepas" nada suara Sultan mulai meninggi.


"Iya Nat, tolong lakukan sesuatu, aku tau kamu dokter yang sangat berkompeten" ucap Satya.


"Satya tolong kamu ikhlas menerima semua ini, sejak tadi kerja organ tubuh Rendra sudah tidak nampak pada monitor" kata dokter Nata berusaha meyakinkan Satya.


"Rendra jangan tinggalin ayah, kamu gak mau kan bikin bunda sedih" Sultan menggoyang-goyangkan tubuh Rendra, bulir bening jatuh dari pelupuk matanya, ada penyesalan yang teramat dalam disana karena ia pernah mengabaikan Rendra. Ia menarik nafas sangat dalam, lalu menoleh kearah Satya.


"Apa yang harus kita katakan pada Ruby, Sat?" tanya Sultan.


"Aku juga gak tau Sul, aku bingung" Satya masih menunduk disofa, mencoba menyembunyikan matanya yang sudah memerah, meskipun Rendra bukan anak kandungnya tapi ia sudah sangat menyayangi anak itu. Ia lalu berjalan kearah tempat tidur Rendra,

__ADS_1


"Ren, ini papa, kalau kamu pergi siapa lagi yang akan ngajakin papa main mobil-mobilan, apa kamu tidak kangen makan ayam goreng buatan bunda?" tanya Satya, dokter Nata datang menghampirinya dan menepuk-nepuk bahunya.


"Ini sudah kehendak Tuhan,Sat" ucap dokter Nata.


"Kita akan sama-sama memberitahu Ruby" lanjutnya lagi.


Saat mereka masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Rendra sudah tidak ada, tim dokter kembali masuk keruangan itu.


"I'm really sorry" kata ketua tim dokter sebelum melepas alat-alat yang dipasang ditubuh Rendra, Satya dan Sultan saling diam, keduanya hanya menarik nafas dalam-dalam melihat kearah tim dokter yang sudah mulai melepas alat-alat itu.


Sultan terlihat meninju tembok saat wajah Rendra mulai ditutup dengan kain putih, dokter Nata mengusap-usap lengan Sultan berusaha menenangkannya meski sebenarnya ia juga merasakan sakit tapi sebagai seorang dokter ia harus terlihat tegar untuk memberi kekuatan pada keluarga pasiennya, sedangkan Satya berdiri mematung disamping Rendra kemudian terduduk lesu dan menunduk.


Dokter Nata menarik nafas sangat berat, Rendra pernah berbagi ranjang dengannya saat ia dan bundanya tinggal dirumah dokter Nata, Rendra pernah satu meja makan saat sarapan dan makan malam, kadang-kadang juga ia menemani Rendra bermain mobil-mobilan, dadanya ikut sesak merasakan kehilangan seorang anak dan seorang teman yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.


Ruangan itu terasa tak berpenghuni saat semua tim dokter keluar dari sana meninggalkan ketiga laki-laki yang pernah dan saat ini masih menjadi bagian dari Ruby. Mereka larut dalam kesedihan masing-masing, sampai akhirnya terdengar suara dokter Nata memecah keheningan,


"Aku akan menjemputnya sendiri, aku takut Ruby tidak akan bisa mengendalikan dirinya dan tidak ada orang disana yang bisa menenangkannya" Satya lebih dulu menjawab, Sultan terlihat menganggukkan kepalanya pelan.


"Baiklah Sat, kamu lebih baik pergi sekarang" ucap dokter Nata.


"Iya, aku juga akan menghubungi anak buahku supaya mempersiapkan keberangkatan kita malam ini juga kembali kekota M, lebih cepat lebih baik, bagaimana menurutmu Sul?" Satya beralih kearah Sultan.


"Iya, kamu benar Sat" jawab Sultan singkat.


"Kalau begitu aku pergi dulu, urus semua berkas kepulangannya disini Nat, aku mau saat kembali kita sudah siap untuk berangkat" kata Satya yang dianggukkan oleh dokter Nata. Ia pun berlalu keluar dari ruangan itu.


Tidak berselang lama,ia pun sampai dihotel,ia berjalan gontai dengan wajah yang terlihat lusuh menuju ke kamar Ruby.


Tok...tok...tok

__ADS_1


Terlihat Ruby sendiri yang mebuka pintu kamarnya.


"Mas,kamu udah pulang?" tanyanya saat melihat Satya berdiri didepannya, ia merasa heran melihat kondisi Satya yang berbeda dari biasanya.


"Iya By, aku masuk yah" balasnya.


"Eh iya mas, ayo masuk" Ruby berjalan didepan Satya.


"By, kehilangan itu sangat menyakitkan, tapi kita harus yakin bahwa Tuhan sedang menyiapkan hikmah dibalik sebuah kehilangan, tidak ada yang bisa melawan kehendak_Nya, Ia sudah mengatur sedemikian rupa jalan hidup kita, kita harus tabah menghadapi kenyataan sepahit apa pun itu" ucap Satya setelah ia duduk disofa berhadapan dengan Ruby.


"Iya, yang mas katakan itu benar, tapi kenapa mas tiba-tiba berkata seperti itu" Ruby terlihat heran menatap Satya, Satya menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk pada inti pembicaraannya.


"Rendra By, Rendra..." Satya seolah tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Rendra kenapa mas?" ruby mulai terlihat panik, Satya mendekati Ruby dan meraihnya kedalam pelukannya.


"Rendra...Rendra udah gak ada By, kamu harus tabah yah" akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulut Satya.


"Apa mas? gak mungkin, mas pasti bohong kan? mas cuma bercanda sama aku kan?" air mata Ruby sudah mengalir deras membasahi jas yang dikenakan Satya.


"Aku serius By, aku gak lagi bercanda" ucap Satya pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Dokter sudah melepas semua alat-alat pada tubuh Rendra, sekarang Nata dan Sultan sedang mengurus berkas kepulangan kita ke kota M" lanjut Satya, sekarang air mata Ruby semakin deras turun, ia berteriak histeris.


"Gak mas, Rendra gak mungkin ninggalin aku" Ruby menghempaskan pelukan Satya, ia ingin lari keluar tapi belum sampai didepan pintu badannya sudah ambruk, ia pingsan. Satya mengangkat tubuh Ruby dan membawanya ketempat tidur.


🤩😍Saat kehilangan itu terasa menyakitkan, pahatlah dalam hati bahwa ini adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita bahwa Rindu itu nyata tapi Sabar lebih indah untuk menahan kerinduan😘🤗


***Jangan lupa LIKE, VOTE, dan KOMENTnya yah readers kesayangan😘

__ADS_1


__ADS_2