Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Ruby Sakit


__ADS_3

Siang itu langit masih terlihat cerah,bulan ini memang sudah memasuki musim semi di Jerman tapi seperti tahun-tahun sebelumnya cuaca disana tidak bisa diperidiksi karena menjelang magrib tiba-tiba saja turun hujan disertai salju,Ruby yang sedang meringkuk disofa seketika merasakan dingin sampai ketulang-tulangnya,ia tidak membawa persiapan baju hangat karena ia tidak mengira akan turun hujan.Satya yang melihatnya kemudian berdiri dan menyelimuti Ruby dengan jas yang dikenakannya.Ruby bergidik sedikit merasakan ada sentuhan dilengannya tapi kemudian ia kembali meringkuk.


Alarm waktu magrib diponsel Ruby sudah berbunyi tapi ia belum juga bangun,Satya berniat membangunkannya,ia lalu mendekati Ruby,


"By bangun,udah magrib",kata Satya menyentuh pundak Ruby,tapi sepertinya Ruby sangat enggan untuk membuka mata.Satya mendengar suara meringis yang sangat pelan dari mulut Ruby,ia lalu berjongkok didepannya.


"Ya ampun badan kamu panas banget By",kata Satya terlihat kaget saat meraba kening Ruby.Ia kemudian meraih ponselnya diatas meja lalu mencari nama dokter Nata didaftar kontak.Fikirannya langsung tertuju pada dokter Nata karena dokter Nata memang dokter keluarganya saat masih dikota M.


"Halo Nat,kamu dimana sekarang?",tanya Satya setelah sambungan telfon diseberang diangkat oleh dokter Nata.


"Aku masih dirumah sakit Sat,ada apa?",tanya dokter Nata balik.


"Badan Ruby panas banget Nat,dia juga menggigil",balas Satya.


"Oke,aku kesana sekarang,kamu masih dikamar Rendra kan?",


"Iya",jawab Satya,dokter Nata tidak menunggu lama,ia langsung bergegas ke kamar rawat Renda setelah memutus sambungan telfon.


Setelah masuk diruangan itu dokter Nata melihat Ruby masih meringkuk diatas sofa berselimutkan jas yang tadi dikenakan oleh Satya,sedangkan Satya berada sangat dekat dengannya,ia sekarang hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung sampai siku dan rompi diluarnya.Ada perasaan cemburu yang terbersit dihati dokter Nata tapi ia dengan cepat mengusir perasaan itu karena ia tau Satya adalah suami Ruby,ia memang berhak atas Ruby.


"Sejak kapan badannya panas Sat?",tanya dokter sambil memeriksa Ruby.


"Sepertinya baru saja Nat,karena tadi sebelum tidur ia baik-baik saja",jawab Satya.

__ADS_1


"Aku resepkan obat yah,tapi sebaiknya kamu bawa Ruby pulang saja,biar ia istirahat bisa dihotel",kata dokter Nata.


"Iya,aku juga berfikirnya begitu,aku akan telfon Sultan biar bisa cepat-cepat kesini buat gantian jaga Rendra",balas Satya.


Baru saja Satya hendak menelfon Sultan,pintu kamar terdorong pelan dari luar,ternyata Sultan sudah datang lebih dulu.Ia merasa heran melihat ada dokter Nata didalam.


"Apa ada masalah Sat?",tanya Sultan setelah berada di dekat sofa,ia melihat Ruby masih meringkuk disana.


"Badan Ruby panas,jadi aku fikir akan membawanya pulang untuk istirahat dihotel",jawab Satya.


"Oke,no problem,biar aku disini yang jagain Rendra",sahut Sultan.


"Apa perlu aku memanggil suster untuk membawakan kursi roda kemari?",tanya dokter Nata melihat kondisi Ruby yang tidak memungkinkan untuk berjalan turun.


"Oke",jawabnya,sementara Sultan hanya diam saja karena ia sama saja dengan dokter Nata,bukan siapa-siapa Ruby lagi.


Satya pun berdiri dari tempat duduknya,ia kemudian mengangkat tubuh Ruby perlahan,badan atletis Satya sama sekali tidak merasakan beban tubuh Ruby saat menggendongnya,


"Aku duluan yah",ucapnya saat Ruby sudah berada dalam gendongannya,dokter Nata sempat memalingkan wajahnya,tapi kemudian ia kembali memandang kepergian Satya sampai tidak terlihat lagi dibalik pintu,Sultan dapat melihat reaksi dokter Nata saat Satya membawa Ruby,Ia hanya menepuk-nepuk bahu dokter Nata,dokter Nata menarik kedua bibirnya perlahan kemudian ia pun pamit keluar pada Sultan.


Tidak butuh waktu lama untuk Satya tiba dihotel meskipun diluar masih hujan.Ia tidak membawa Ruby kekamar yang ditempatinya bersama Lila melainkan ke kemarnya sendiri.Karena perasaan Ruby yang benar-benar tidak enak,ia masih juga enggan berbicara dan membuka mata,ia tidak tau kalau sekarang ia berada dikamar Satya.


Setelah menaruh Ruby diatas tempat tidur,Satya pun menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya,tentu saja setelah ia memastikan Ruby benar-benar terlelap.

__ADS_1


Ruby belum juga bangun saat Satya sudah terlihat segar dengan pakaian santainya yang tidak mengurangi aura ketampanannya,Satya berjalan mendekati Ruby,ia kembali merabah keningnya,


"Syukurlah panasnya sudah turun",kata Satya pelan,ia tidak ingin membangunkan Ruby.


Satya kembali duduk pada sofa dekat jendela kamar,dari sana kita bisa melihat aktivitas dipusat kota Jerman,ia sengaja memesan kamar yang viewnya berada pas ditengah kota.Ia kemudian menelfon Lila,


"Halo Lil,gimana baby Gyan?apa dia rewel?",tanyanya saat Lila menjawab panggilan telfonnya.


"Tidak tuan muda,ia sudah tidur,den Nendra juga habis makan malam tadi langsung tidur",jawab Lila.


"Baiklah Lil,kalau ada apa-apa langsung telfon saja,aku ada dikamar sebelah sama Ruby,badan Ruby panas,aku takut kalau aku membawanya kesitu malah akan mengganggu istirahatnya",ucap Satya lagi.


"Baiklah tuan muda,semoga panas non Ruby cepat turun",balas Lila,ia mengulas senyum tipis setelah Satya memutus sambungan telfon,dalam hatinya merasa senang akhirnya tuan muda dan nyonyanya bisa kembali akur meski ia belum tau pasti akan seperti apa akhir dari rumah tangga mereka,tapi kemudian ia tampak sedih saat mengingat nasib dokter Nata yang selama ini membantu mereka.Lila menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata pada dirinya sendiri,


"Kita tidak pernah tau perjalanan hidup kedepan,skenario ini sudah terjadi,kita tinggal menjalaninya,semoga dokter Nata mendapatkan wanita yang baik juga nantinya".


Dikamar lain Satya sedang memandang Ruby lekat-lekat,meski sedang sakit dan terlihat agak pucat tapi itu tidak mengurangi kecantikan wajah yang dimilikinya,dan bukan hanya wajahnya saja yang cantik tapi juga hatinya,itu yang membuat benih-benih cinta akhirnya tumbuh dihati Satya.


"Ruby,aku tidak tau kapan rasa itu datang,yang aku tau aku tidak memiliki gairah hidup saat kamu tidak ada,seperti ada sesuatu yang hilang dalam kehidupanku,aku pernah merasa sangat mencintai Rania tapi ini rasanya berbeda,kalau aku selalu memberi izin Rania kemanapun yang Rania mau asal ia bahagia,aku malah tidak ingin membiarkanmu jauh dariku walau hanya sedetik",kata Satya sangat pelan seolah ia berbicara pada dirinya sendiri karena Ruby tentu saja tidak mendengarnya.


Satya menarik nafas dalam-dalam lalu ia membubuhkan satu kecupan lembut dikening Ruby.Ia naik pelan-pelan ketempat tidur dan membaringkan tubuhnya disamping Ruby,ia kemudian melingkarkan tangannya diperut Ruby,perlahan matanya mulai tertutup dan akhirnya ia pun terlelap bersama Ruby dalam pelukannya.


❣️❤️Hi readers kesayangan maaf yah mungkin author saat ini hanya akan up SATU BAB saja sambil menunggu dukungan dari pembaca setiaku dengan cara meninggalkan jejak diakhir membaca cerita ini supaya level novel kita bisa naik😘🤗

__ADS_1


😍Cium jauh author😘


__ADS_2