
"Apa ibu suka sama semua hadiahnya?" tanya Satya.
"Suka sekali nak, tapi ini terlalu kebanyakan," jawab bu Rumana.
"Tidak masalah bu, kalau ibu merasa kebanyakan, bisa dibagi-bagi sama keluarga," ucap Satya.
"Ternyata Bagas pintar juga memilih hadiah," ucap Satya dalam hati melihat antusiasme tetangga-tetangga mertuanya.
"Kalau bu Rumana mau bagi sama aku, aku tidak akan menolak kog," sahut bu Ira tetangga depan rumahnya.
"Aku juga loh bu mau," sahut tetangga yang lainnya.
"Iya, iya, entar ibu ngasih kalian gamis, satu orang dapat satu," ucap bu Rumana membuat semua ibu-ibu menggemaskan itu melebarkan senyumnya.
"Yang lain semua dapat oleh-oleh, lah saya mana kak?" tanya Aydan terlihat manyun pada Satya, ia seolah sudah lama kenal sama Satya.
"Alah Dan, Dan, kamu sok dekat aja sama papa Gyan, minta oleh-oleh segala," sahut bu Yanti tetangga samping rumahnya. Aydan semakin bersungut.
"Entar kakak kasi oleh-oleh khusus buat kamu," ucap Satya menengahi perdebatan itu.
"Makasih kak," Aydan sekarang sudah melebarkan senyumnya. Sementara Ruby hanya mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Oya nak, kamu ganti baju aja dulu terus istirahat, ibu mau masak dulu baru kita makan malam bersama," ucap bu Rumana pada Satya.
"Ruby antar suamimu ke kamar nak," lanjutnya lagi.
"Ke kamar aku bu?" tanya Ruby.
"Iya, masa ke kamar Aydan, dia kan suamimu, bukan suami Aydan," ucap bu Rumana yang disambut gelak tawa semuanya.
"Baik bu," Ruby tersipu malu dengan ucapan ibunya.
Ia pun mengajak Satya yang masih menggendong baby Gyan masuk kedalam kamarnya. Kamarnya tidak begitu besar, hanya terdapat sebuah tempat tidur, nakas, dan lemari pakaian yang menyatu dengan meja rias. Kalau dibandingkan dengan kamar Satya dirumah utama, mungkin itu hanya sebesar kamar mandinya.
"Maaf mas, kamarnya sempit," ucap Ruby setelah mereka berada didalam kamar.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kog, aku bisa menyesuaikan," jawab Satya sambil menaruh baby Gyan yang sudah tertidur dalam pangkuannya ditempat tidur.
Tok...tok...tok
"Ini koper kakak ipar," Aydan muncul didepan kamar saat Ruby membuka pintu.
"Makasih Dan," jawab Ruby lalu menutup kembali pintunya.
"Apa mas bawa pakaian selain pakain kantor?" tanya Ruby, ia tahu Satya di kota M lebih banyak mengenakan setelan jas dalam kesehariannya. Ia baru akan memakai pakaian santai saat akan tidur.
"Iya, kamu tenang saja, sudah aku bilang aku bisa menyesuaikan," jawab Satya mengulas senyum pada Ruby. Ruby pun membawa koper Satya dan menyimpannya disudut lemari. Satya yang memperhatikannya kemudian berkata.
"Kalau lemarimu tidak cukup untuk menyimpan pakaianku, kita bisa menyuruh kedua pengawal didepan untuk kekota membeli lemari sekarang juga," ucap Satya menyindir Ruby.
"Bukan begitu mas, aku fikir kalau mas tidak akan lama disini mungkin lebih baik jangan dikasi keluar aja dari koper," jawab Ruby beralasan.
"Apa kamu tidak suka aku lama-lama disini?" tanya Satya lagi.
"Maksudku bukan begitu mas," Ruby merasa serba salah.
"Kalau kamu tidak keberatan, aku mengizinkanmu memilihkan aku pakaian yang akan aku pakai sehabis mandi," Ruby terkejut dengan keberadaan Satya yang tiba-tiba ada didekatnya.
"Eh i...iya mas, nanti aku pilihkan," jawab Ruby terbata-bata.
Saat Ruby masih mengatur pakaiannya, Satya sudah masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri. Ruby sudah menyediakan handuk untuknya.
Setelah membereskan pakaian Satya, Ruby kemudian mendekati baby Gyan yang masih tertidur nyenyak.
"Nyenyak yah tidurnya digendong papa, Gyan rindu yah sama papa, iyah?" tanya Ruby pada baby Gyan yang tentu saja belum bisa menjawab pertanyaannya.
Baru saja Ruby akan beranjak dari tempat tidur, Satya muncul dengan bertelanjang dada memperlihatkan perut sispacknya. Dada Ruby seolah bergemuruh, jantungnya berdetak lebih kencang, ia buru-buru memalingkan wajahnya kearah baby Gyan.
"Kenapa mesti malu By, kamu tidak berdosa kog, kita kan memang suami istri," ucap Satya mencoba menggoda Ruby. Ruby hanya diam saja sambil terus menepuk-nepuk paha baby Gyan karena sudah salah tingkah.
"Oya itu baju mas Satya," ucap Ruby menunjuk keujung tempat tidur.
__ADS_1
"Apa kamu sudah puas melihat badan atletisku?" Satya tidak berhenti menggoda Ruby. Ada kepuasan tersendiri dalam hatinya saat melihat Ruby salah tingkah.
"Cepetan pake baju mas, kalau mas tidak keberatan aku minta tolong jagain Gyan dulu, aku mau bantu-bantu ibu nyiapin makanan dimeja makan," ucap Ruby mengalihkan.
"Baiklah kalau begitu," balas Satya.
Sore itu Satya mengenakan celana chino warna mocca dan T-sirth lengan pendek warna biru langit. Ia menambahkan gel pada rambutnya membuat aura cerahnya benar-benar terpancar.
"Mas, apa mba Rania tau mas kesini?" tanya Ruby saat Satya sedang memakai jam tangannya.
"Iya dia tahu, dia bahkan nitip salam sama kamu," jawab Satya santai.
"Apa? maksud mas?" tanya Ruby mengerutkan keningnya.
"Iya, dia sudah punya kehidupannya sendiri dengan teman lamanya dulu, dan kami memutuskan untuk berpisah baik-baik," jawab Satya yang sekarang sudah berada didepan Ruby. Ruby bisa merasakan bau parfum Satya yang sangat maskulin dan bau mulutnya yang fresh.
"Aku...aku tidak tau mau ngomong apa mas," ucap Ruby terbata-bata.
"Aku tidak ingin melihat mas berpisah sama mba Rania karena aku," lanjut Ruby.
"Kami sudah memutuskan ini bersama By, dan ini yang terbaik, kami hanya akan menyiksa diri sendiri kalau terus melanjutkannya," jawab Satya, ia perlahan memeluk Ruby yang sudah mulai berkaca-kaca. Tubuh Ruby berdesir seketika saat dada Satya menyentuh dadanya.
Satya memiringkan kepala Ruby pelan-palan, kemudian ia mulai ******* bibir Ruby, semakin lama ia semakin terbius oleh bibir Ruby yang terasa manis. Tapi kemudian mereka dikagetkan oleh suara ketukan pintu. Ruby mendapatkan kembali kesadarannya dan mendorong tubuh Satya cepat. Satya terlihat meremas wajahnya.
"Kak Ruby, ibu memanggil kakak," suara Aydan terdengar dari luar.
"Iya, sebentar lagi aku kesana," jawab Ruby gugup.
"Maaf By, aku keterusan," ucap Satya. Ruby tidak menjawab ucapan Satya, tapi ia langsung berdiri dari tempatnya.
"Aku mau ke belakang dulu mas," ucap Ruby menunduk kemudian berlalu keluar. Ia tidak berani menatap kearah Satya karena merasa sangat malu. Satya hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis melihat tingkah Ruby.
"Ruby, mungkin pertemuan kita terjadi secara tidak sengaja tapi aku ingin membina hubungan yang lebih baik sama kamu, cukup kegagalanku kemarin menjadi pelajaran yang sangat berarti untuk kedepannya, aku janji akan secepatnya meresmikan pernikahan kita setelah ada akta cerai dari pengadilan," kata Satya pada dirinya sendiri sepeninggal Ruby keluar.
😍 Maaf readers kesayangan mommy baru bisa up karena tadi ada kegiatan dikantor, up nya juga cuma bisa segini dulu yah, selamat mambaca😘🤗
__ADS_1
*** Jangan bertahan ditempat kamu tidak diinginkan karena itu hanya akan membuat rasamu tidak penuh, bergeserlah sedikit, mungkin ditempat lain kamu akan lebih berarti❤️❣️