
RUMAH UTAMA
Sejak menghilangnya Ruby dua bulan lalu,Satya lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah utama,semua pekerjaan kantor dikerjakannya dirumah,dan semua meeting dihandle oleh Bagas,Bagas sudah tidak punya waktu untuk dirinya sendiri.Ibu Rita dan Grandma bolak balik kesingapura untuk pemulihan papa Satya.Grandma sempat dirawat juga dirumah sakit saat mengetahui Ruby menghilang.Bagaimana dengan Rania?,Rania sekarang mau tidak mau menemani Satya dirumah utama,meskipun kadang ia dicuekin oleh Satya.Satya benar-benar kembali sangat dingin,ia akan bicara untuk hal-hal penting saja,tidak adalagi Satya yang dulu sangat memperhatikannya,tidak adalagi Satya yang selalu bersikap manis setiap saat,tidak adalagi kehangatan dalam rumah tangganya dengan Satya,tapi ia tidak mau menyerah,ia tetep kekeuh mempertahankan semuanya,ia mulai bersikap baik pada Satya,ia sudah jarang keluar bareng Aya,ia lebih banyak dirumah belajar memasak sama pelayan-pelayan dirumah utama,Grandma dan ibu Rita yang melihat kesungguhan Rania mengurus Satya pun membiarkannya tinggal dirumah utama karena mereka juga jarang berada dikota M.
"Mas,kita makan dulu yuk,aku udah nyiapin makanannya dimeja",ajak Rania pada Satya yang sedang fokus mengetik dilaptopnya,ia sama sekali tidak memperdulikan ajakan Rania,Rania hanya menarik nafas berat lalu berjalan kearah sofa diruangan kerja Satya,ia duduk disana sambil menunggu Satya selesai,tapi satu jam,dua jam,bahkan sudah lebih tiga jam Satya belum juga berdiri dari kursinya,Rania akhirnya tertidur di sofa itu.
Melihat Rania yang sudah tertidur,barulah Satya beranjak dari tempatnya duduk,ia berjalan mendekati Rania,dilihatnya wanita itu baik-baik,wanita yang sudah menemaninya selama hampir empat tahun,wanita itu juga yang membuatnya berlaku tega pada wanita lain yang sedang mengandung keturunannya.
"Nia,aku tidak tau siapa yang salah disini,tapi kamu yang sudah melarangku menemui Ruby waktu itu,dan kamu lihat sekarang,aku tidak tau entah dimana dia sekarang,apa dia baik-baik saja bersama anakku atau ia malah berada dalam kesulitan,aku tidak bisa berbahagia disini,sementara aku tidak tau keadaan Ruby sekarang",kata Satya membuang nafas kasar,kemudian ia berlalu keluar untuk mengambil air minum.
Rania yang belum terlelap baik,mendengar semua kata-kata Satya tapi ia pura-pura tidak membuka mata,bulir-bulir bening lolos begitu saja dari matanya saat Satya sudah berlalu keluar,
"Maafkan aku mas,tapi kamu harusnya tau tidak ada satu orangpun wanita yang bisa menerima diduakan oleh suaminya,aku tau disini posisi kamu dan wanita itu tidak bersalah tapi entah kenapa begitu berat menerima kenyataan bahwa aku sudah dimadu,dan sebentar lagi maduku akan melahirkan keturunan yang sudah lama keluarga Biantara nantikan,aku takut mas,aku takut suatu saat kamu akan ninggalin aku karena kamu sudah punya kesenangan baru pada wanita itu,maafkan aku mas",Rania berkata sangat pelan hingga hanya ia sendiri yang bisa mendengar kata-katanya.
******
JERMAN
__ADS_1
Baby Gyan sekarang sudah bisa beradaptasi dengan dunia luar,sehingga ia sudah tidak berada didalam kotak inkubator lagi,ia sudah dibawa pulang kerumah dokter Nata,penghuni dirumah itu bergantian menjaga baby Gyan,termasuk dokter Aditya,walaupun kadang ia menggerutu kalau mendapat bagian ganti diapers,tapi ia seketika tersenyum simpul saat melihat wajah lucu baby Gyan,ia tidak bisa merasa kesal pada baby itu.Seperti saat ini,ia kebagian tugas ganti diapers lagi,dokter Anna sudah bersantai setelah memandikan baby Gyan,Lila bertugas mengurus Rendra,sedangkan dokter Nata mendapat giliran menjaga Ruby,
"Dok adit,sepertinya baby Gyan pup deh,ini giliran dokter yang gantiin diapers,aku lagi ngasi makan Rendra",kata Lila pada dokter Aditya.
"Loh,bukannya giliran dokter Anna?",tanya dokter Aditya balik,dokter Anna langsung membulatkan matanya,
"Enak aja,ini giliran dokter adit,aku tadi udah mandiin baby Gyan",balas dokter Anna sambil menselonjorkan kakinya pada sofa,dokter aditya tidak berkata-kata lagi,ia langsung menghampiri baby Gyan dan mengganti diapersnya.Dokter Aditya memang tidak pernah banyak bicara,ia masih sama saat pertama kali bertemu dokter Anna dibandara tapi sepertinya dokter Anna sudah terbiasa dengan sikap dingin dokter Aditya.Lila yang melihat mereka hanya tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara dirumah sakit dokter Nata terlihat duduk didekat Ruby,
"By,bangun dong,anakmu sudah sehat,ia sangat lucu,semua orang menyayanginya,aku berharap ia mirip denganku tapi ternyata wajah Satya melekat erat pada wajah anakmu",kata dokter Nata mencoba melucu tapi tetap saja tidak ada respon dari Ruby.
"Hi Mr. Dinata,how are you today?",sapanya saat berada didekat Nata.
"Fine doc,thank you",balas dokter Nata.
"Nata,sebenarnya siapa wanita ini,kenapa kamu bersikeras merawatnya,ini sudah dua bulan Nat,tante harus ngomong ini sama kamu...",dokter Shopi menghentikan bicaranya,ia menunggu respon dari dokter Nata.
__ADS_1
"Bicaralah Tan",balas dokter Nata singkat.
"Nat,kami dari tim dokter sudah berunding,kalau sampai besok pasien Ruby belum sadar juga maka alat-alat yang dipasang pada tubuhnya sudah akan dilepas",dokter Shopi melihat kesedihan yang teramat dalam pada wajah keponakannya itu,ia tau betapa berharga perempuan ini sampai ia mengabaikan impiannya yang sudah didepan mata.
"Lakukan sesuatu,Tan,aku yakin Ruby pasti sadar",Nata memohon pada bibinya dengan pandangan memelas,kemudian ia beralih pada dokter yang tadi menyapanya,
"Please doc,do something more for Ruby,I believe she can out of com!!!",dokter Nata sangat frustasi mendengar kata-kata bibinya.
"Please Nat,you calm down first",ucap bibinya lagi berusaha menenangkan dokter Nata.
"Be patient Mr. Nata",dokter itu menepuk nepuk bahu dokter Nata.
"Kasi waktu dua hari lagi tan,aku yakin Ruby akan sadar dalam waktu itu",dokter Nata lagi-lagi memohon pada bibinya.
"Baiklah Nat,aku percaya pada keyakinanmu,mudah-mudahan membuahkan hasil",dokter Shopie akhirnya mengiyakan melihat keyakinan dokter Nata yang begitu tinggi.
"Makasih tan",
__ADS_1
"Thank you so much doc,I be imdebted to you",dokter itu hanya tersenyum mendengar kata-kata dokter Nata,mereka kemudian berlalu dari ruangan itu,meninggalkan dokter Nata yang terus memandangi Ruby dengan gurat kesedihan yang terpampang nyata diwajahnya.
😍🤩Segini dulu yah readers kesayangan,author baru pulang nih,mau istirahat dulu,jangan lupa like,vote,dan komentnya yah,cium jauh dari author😘😘