Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Penyesalan Bagas


__ADS_3

Kantor Biantara Grup


Didalam ruang wakil direktur terlihat seorang pria yang ketampanannya berada sedikit dibawah dari Satya sedang meremas wajahnya kasar. Ia sedang bingung karena sang direktur menyuruhnya mengembalikan Lila dalam waktu 24 jam sementara Lila sekarang berada dipedalaman timur negaranya. Ia mengirim Lila kesana karena tidak berhasil menjaga Ruby dan baby Gyan. Ditempat Bagas mengirim Lila, jangankan jangkauan internet, listrik pun hanya menyala sampai pukul 10 malam.


Bagas memang menghukum Lila sangat keterlaluan karena dia menyuruhnya beradaptasi dengan kehidupan masyarakat suku pedalaman. Untuk sampai kesana harus melewati jalanan panjang dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.


Sekarang ia sedang berfikir keras bagaimana cara menghubungi Lila disana. Lila hanya akan menghubunginya seminggu sekali seperti perintah Bagas. Dan Lila akan pergi ke kota tiap hari minggu hanya untuk melakukan panggilan video pada Bagas dan mengiriminya foto-foto bersama warga pedalaman.


"Tidak mungkin aku menjemputnya kesana, tapi kalau menunggu dia menghubungiku itu masih butuh waktu 72 jam," ucap Bagas seolah berbicara pada dirinya sendiri.


"Lilaaaaa, kenapa kamu selalu saja menyusahkan aku." Ia memaki Lila kemudian berdiri dari duduknya.


"Eliana, kamu handle dulu semua urusan kantor, aku ada urusan keluarga sangat penting, nenekku sedang sakit dan ia menyuruhku pulang saat ini juga," ucap Bagas pada eliana saat ia melewati mejanya.


"Apa kamu sudah memberitahu tuan muda?" tanya Eliana balik.


"Aku akan menghubunginya nanti diperjalanan," balas Bagas kemudian berlalu dari hadapan Eliana.


Ia melajukan mobilnya menuju bandara. Ia akan berangkat menjemput Lila saat ini juga. Pejalanan ke kotanya butuh waktu 4 jam karena transit disatu kota. Dilanjutkan dengan 6 jam perjalanan menuju pedalaman jadi total semuanya 10 jam perjalanan. Ia juga tidak yakin bisa sampai dalam waktu 24 jam kembali ke kota M atau tidak.


Didalam mobil ia beberapa laki memukul setirnya. Menyesali sikapnya yang keterlaluan akhirnya berbalik memakannya juga.


"Kenapa juga aku harus mengirim wanita itu kesana," maki Bagas.


Tidak sampai satu jam ia akhirnya sampai di bandara dengan laju mobil diatas laju biasanya. Untungnya pesawat yang akan berangkat ke kota bagian timur berangkat satu jam lagi. Bagas menghela nafas lega karena ia masih mendapatinya. Mobilnya ia simpan diparkiran VIP Bandara.


Sebelum masuk kedalam pesawat, ia terlebih dulu mengirim pesan whatshap ke nomor whatshap Satya, ia tidak menghubunginya lewat telfon karena ia tidak tahu harus beralasan apa padanya. Untuk urusan selanjutnya, biar nanti saja dibicarakan lagi yang jelas ia sudah membawa Lila kembali, begitu fikirnya.


Rumah Utama Keluarga Biantara


Satya yang sudah membuka pesan whatshap Bagas, langsung mengerutkan keningnya.


"Nenek Bagas sakit? Kenapa dia tidak langsung nelfon," ucapnya lalu melakukan panggilan ke nomor Bagas tapi nomor Bagas sudah berada diluar jangkauan.


Satya sekali lagi menghubunginya tapi karena masih diluar jangkauan, Satya pun menghubungi Eliana.

__ADS_1


"Halo eliana, dimana Bagas?"


"Tuan Bagas sedang keluar tuan muda, tadi dia menitip pesan untuk menghandle urusan kantor sementara, katanya neneknya sedang sakit," jawab Eliana.


"Ooooo, begitu." Satya merasa curiga ada sesuatu yang tidak beres pada Bagas. Tidak biasanya dia seperti itu.


"Oya apa jadwalku hari ini, Eliana." Tanya Satya lagi.


"Aku sudah kirim email ke email tuan muda."


"Aku belum sempat buka email pagi ini," jawab Satya.


"Tuan muda ada meeting siang ini dengan investor dari Jepang dilanjutkan dengan makan siang sedangkan tuan Bagas harusnya sore ini memaparkan proposal kita pada petinggi perusahaan," ucap Eliana dengan satu hembusan nafas.


"Baiklah aku akan kekantor sekarang juga, untuk kerjaan Bagas akan digantikan oleh kamu, siapkan secepatnya filenya," balas Satya.


"Baik tuan muda," jawab Eliana lalu memutuskan sambungan telfon.


Ruby yang sejak tadi berada disamping Satya akhirnya menghela nafas lega karena sebentar lagi ia akan terbebas dari kurungan Satya.


"Tidak mas, aku hanya ingin senyum aja sama kamu," jawab Ruby kembali melebarkan senyumnya.


"Kamu jangan senang dulu sayang karena sebentar malam aku akan kembali jadi persiapkan saja dirimu," ucap Satya membalas senyuman Ruby dengan senyum jahil sambil berdiri memakai jas kantornya.


"Terserah kamu saja mas, tapi siang ini aku mau menemani baby Gyan," ucap Ruby pasrah.


"Oya mas ada apa dengan Bagas?" tanyanya sambil memasangkan dasi pada kerah kemeja Satya.


"Katanya dia pergi menjenguk neneknya yang sedang sakit, tapi aku tidak yakin, sepertinya kali ini ia menyembunyikan sesuatu sama aku. Lihat saja nanti aku akan memberi perhitungan saat ia kembali." Ucap Satya.


"Jangan terlalu keras sama Bagas mas, dia sudah sangat membantu kamu."


"Kenapa kamu malah membela Bagas? Apa kamu naksir sama dia?" Pertanyaan Satya membuat Ruby mencubit perutnya.


"Kamu apaan sih mas, sembarang aja kalau ngomong," balas Ruby cemberut.

__ADS_1


"Auuu, sakit By." Satya pura-pura meringis memegang perutnya tapi Ruby tidak perduli.


"Lagian siapa juga yang mau keras sama Bagas, aku cuma bercanda sayang. Bagas itu seperti cerminan diriku, sebagian diriku ada sama Bagas. Bagas sudah ikut sama keluarga Biantara sejak papa masih menjabat direktur diperusahaan." Kata Satya sambil memeluk Ruby dari belakang.


"Iya sayang, kamu berangkat sekarang yah. Kasian Eliana sendiri," kata Ruby yang kembali memasang senyum manis pada Satya.


"Baiklah, sampai ketemu nanti malam sayang." Setelah mengecup kening Ruby, Satya pun berlalu keluar kamar.


Tidak lama setelah Satya menghilang dibalik lift, Ruby juga keluar dari kamar menuju kamar Gyan dilantai bawah dengan menggunakan lift yang tadi dipakai Satya.


"Assalamua'laikum anak bunda, maaf yah cayang bunda baru datang, tadi bunda bantuin papa," ucap Ruby setelah berada dikamar Gyan. Didalam kamar itu hanya terlihat Aydan menemani Gyan.


"Bantuin apa kak? kenapa enggak panggil Aydan aja," tanya Aydan membuat Ruby salah tingkah, tidak tahu harus ngomong apa.


"Udah kog Dan, oya ibu kemana?" Ruby bertanya balik mengalihkan pertanyaan Aydan.


"Ibu ketaman belakang tadi, katanya ada tanah kosong mau ditanami tanaman obat-obatan, ia sudah minta izin mas Satya tempo hari," balas Aydan.


"Ooooo."


"Oya kak, kerjaan kakak gimana sekarang? kak Ruby sudah hampir dua tahun ambil cuti."


"Iya aku juga sedang memikirkannya sekarang, aku akan membicarakan ini sama mas Satya saat ia sedang tidak sibuk," jawab Ruby.


"Pampers Gyan udah penuh dek, kenapa enggak diganti dari tadi." Ruby mengomel saat bajunya kena tetesan air kencing Gyan yang ternyata sudah merembes keluar.


"Ibu bilang enggak usah diapa-apain babynya, tunggu dia kembali saja," jawab Aydan dengan entengnya.


"Lain kali kamu browsing tuh di om goegle cara ganti pampers biar kalau diapers Gyan udah kelihatan penuh, kamu langsung aja ganti. Enggak perlu nunggui ibu."


🤩 Hi jangan lupa dukungannya yah readers. Untuk penulis receh kayak mommy ini, jejak kalian sangat berarti😘🤗


🤩 Maaf kalau cerita malam pertamanya kurang greget karena itu saja sudah mengalami proses riview berjam-jam🤭😃


*** Jangan putus asa bagi yang belum mendapatkan Cinta karena Cinta yang Sejati itu seringkali datangnya terlambat tapi saat ia sudah datang, seperti direkatkan pada suatu tempat, ia akan susah untuk beranjak💚💚

__ADS_1


__ADS_2