Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Bertanya Pada Hati


__ADS_3

YUNANI


Dokter Almira bergidik mendengar cerita dokter Nata. Ia membayangkan jika ia yang berada disana, pasti tidak akan sekuat dokter tampan itu.


"Kamu berhutang budi pada gadis itu, Nat." kata dokter Almira.


Ia mengakui ketampanan dokter Nata bisa memikat siapa saja yang ditemuinya, termasuk dirinya yang diam-diam sudah terpikat dengan senyum dokter muda itu. (Selain Ruby tentunya karena ia sudah bersuami).


"Iya, aku tahu. Mudah-mudahan gadis itu tidak kenapa-kenapa."


"Iya, semoga saja."


Ruangan itu hening beberapa detik, sampai dokter Almira bersuara dan mengubah topik pembicaraan mereka.


"Dokter penggantimu yang datang sehari setelah kamu menghilang, sudah dikembalikan ke Jerman karena mengalami peningkatan suhu tubuh yang membuat kesadarannya menurun." ujarnya.


"Dokter pengganti?" tanya dokter Nata merasa heran.


Ia belum tahu sama sekali tentang kedatangan dokter Adit ke Yunani.


"Iya, Rumah Sakit tempatmu bekerja mengirim satu dokter spesialis untuk menggantikanmu disini sekaligus membantu pencarian dirimu, dibawah pemantauan dokter Sophy."


"Kamu serius?"


"Apa aku terlihat main-main?"


"Bukan seperti itu maksudku, aku hanya tidak habis fikir ternyata menghilangnya aku sudah merepotkan banyak orang."


"Baguslah kamu menyadarinya, kedepannya kamu akan lebih bisa mendengar perkataan oranglain."


Meskipun sebenarnya dokter Almira sangat bersyukur dokter Nata sudah kembali tapi ia juga masih sedikit kesal karena dokter Nata yang tidak mendengar peringatannya sebelumnya, hingga bisa terjadi hal mengerikan itu.


"Iya, maafkan aku. Aku salah." ucap dokter Nata memelas dihadapan dokter Almira.


Dokter cantik dengan bibir merah itu terlihat menghela nafas dalam-dalam dan membuang muka dari tatapan dokter Nata.


"Oya, kalau aku boleh tahu, siapa dokter penggantiku kemarin?" tanyanya lagi melihat dokter Almira hanya diam saja.


"Dokter Adit."


"Aditya?"


"Iya."


"Bukannya ia baru saja menikah?"

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak sempat curhat-curhatan sama dia karena terlalu sibuk." balas dokter Almira terdengar sinis.


Dokter Almira kemudian teringat kejadian saat dokter Adit menciumnya dalam keadaan tidak sadar karena mengira ia adalah dokter Anna. Ia buru-buru menepis ingatan itu yang membuatnya fikirannya terganggu sampai saat ini. Dokter Nata bisa melihat raut wajah dokter Almira yang tiba-tiba berubah tidak enak.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya dokter Nata dengan hati-hati.


"I...iya, aku nggak apa-apa kog. Kamu masih mau lanjutin sarapannya?" balas dokter Almira mengalihkan.


"Nggak, aku udah kenyang."


"Ooo ya sudah, aku bawa keluar lagi yah."


Dokter Almira baru saja akan berdiri dari tempat duduknya saat suara dokter Nata lebih dulu menahannya.


"Tunggu."


"Ada apa? Apa kamu masih perlu bantuanku?"


"Iya, apa kamu tidak bisa tinggal lebih lama disini menemaniku?"


Lagi-lagi dokter cantik itu menghela nafas dalam-dalam. Bukan ia tidak mau menemani dokter Nata karena memang ia yang diberi tanggung jawab untuk menangani dokter muda itu tapi ia takut berlama-lama didekatnya, membuat ia semakin sulit untuk mencegah perasaannya yang sudah mulai mengharap lebih dari dokter berwajah tampan tersebut.


"Aku harus keluar sebentar untuk memeriksa keadaan penduduk disini yang masih butuh bantuan medis. Aku akan kembali setelah itu." jawabnya berbohong.


"Baiklah. Kamu hati-hati."


"Aku keluar yah, kamu istirahat saja dulu." ucapnya sedikit canggung kemudian berbalik dan melangkah pelan menuju pintu keluar.


Tapi baru tiga langkah, ia kemudian berbalik kearah dokter Nata karena teringat sesuatu.


"Oya, aku dengar dari kepala tim dokter tadi, kamu akan dikembalikan ke Jerman secepatnya. Bisa jadi tengah malam nanti, karena luka-lukamu butuh perawatan yang lebih intensif disana."


Setelah berkata begitu, dokter Almira kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar perawatan berukuran kecil itu tanpa menunggu jawaban dokter Nata yang masih terlihat bengong mendengar ucapannya.


Ada rasa sedih disudut hatinya, yang ia sendiri tidak bisa jabarkan seperti apa rasa itu. Yang pasti perasaan itu mampu menjatuhkan mutiara-mutiara bening dari sudut matanya membasahi pipi putihnya. Entah kenapa ia sangat tidak rela berpisah dari dokter muda yang baru dikenalnya dalam hitungan hari itu.


Dengan bibir bergetar menahan tangis, ia kembali menghela nafas berat. Sepertinya ada benda asing yang menghalang di paru-parunya, membuat ia merasakan sesak. Ia kemudian duduk pada sudut ranjang kecil di kamarnya sambil terus memikirkan pria yang ia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan pria itu terhadapnya.


Tapi ternyata sama dengan yang dirasakan dokter Almira, dokter Nata pun merasa ada sesuatu yang mengganjal perasaannya saat tahu ia akan kembali ke Jerman, itu berarti ia tidak akan bisa lagi melihat senyum indah dari bibir merah dokter Almira yang selalu mengganggu fikirannya.


"Apa aku sudah tertarik pada wanita itu?" batin dokter Nata.


Ia mencoba mencari keyakinan didasar hatinya. Ia tidak ingin lagi ada oranglain yang mendahuluinya karena terlalu lama ragu dengan perasaannya sendiri. Andai saja tangannya bisa dengan leluasa digerakkan, ingin rasanya ia meremas wajahnya saat ia tidak juga menemukan keyakinan untuk mengatakan perasaannya.


"Aaaakkkkhhhh."

__ADS_1


Dokter Nata hanya bisa berteriak kecil mengutuki kebodohan dirinya sendiri.


***


JERMAN


"Syukurlah Na, suhu tubuh Adit sudah menurun drastis. Aku curiga ia hanya butuh kamu yang merawatnya. Buktinya baru semalam disini, ia sudah baik-baik saja." ucap dokter Sophy tersenyum tipis saat melakukan visite pada dokter Adit pagi itu.


"Dokter bisa aja," balas dokter Anna tersipu malu.


"Tapi bener gitu kan, Dit?" dokter Sophy beralih pada dokter Adit masih dengan senyum yang terlihat bercanda.


"Terserah dokter saja bagaimana anggapannya. Kalau yang wanitanya tidak mau mengakuinya, baiklah biar aku saja yang mengakuinya."


Dokter Anna semakin merasa malu pada dokter Sophy dengan jawaban suaminya tersebut. Kedua dokter itu sudah berhasil membuat wajah dokter Anna merah bak kepiting rebus. Keduanya pun sama-sama tertawa melihat dokter Anna yang sudah salah tingkah.


"Eh, tapi ngomong-ngomong apa kalian sudah tahu kalau Nata sudah ditemukan?" tanya dokter Sophy mengalihkan.


"Benarkah, dok?"


Saat dokter Adit bertanya balik pada dokter Sophy, dokter Anna terlihat tenang dan diam saja. Meskipun dalam hatinya sangat bersyukur dan bersorak mendengar berita itu tapi ia tidak ingin menyinggung perasaan suaminya dengan menampakkan kebahagiaan karena dokter Nata sudah ditemukan. Ia tahu suaminya selalu bisa mengendalikan perasaan didepannya, dan justru karena itu ia malah ingin lebih menghargainya.


"Iya, dokter Almira baru saja menelfonku sebelum kemari. Katanya keadaan Nata sangat memprihatinkan. Jadi aku berfikir akan mengurus kepulangannya tengah malam nanti. Ia butuh dirawat lebih intensif disini."


Mendengar nama dokter Almira disebut, dokter Anna seketika menegakkan kepalanya. Begitupun dokter Adit, ia langsung teringat pada dokter muda itu yang selalu bersama dengannya selama mencari dokter Nata di Yunani. Tapi saat mata dokter Anna menatapnya, ia buru-buru bertanya pada dokter Sophy.


"Bagaimana Nata bisa ditemukan, dok?"


"Aku belum berbicara banyak pada dokter Almira karena ia harus mengurus Nata. Aku bermaksud menghubunginya lagi setelah ini."


Semuanya terdiam. Sampai dokter Sophy keluar dari ruangan itu, barulah suara dokter Anna terdengar.


"Aku mau kebawah dulu yah. Aku sepertinya lupa beli sesuatu."


"Aku sangat bahagia Nata akan segera kembali. Kita akan berkumpul lagi disini. Apa kamu masih punya perasaan padanya?"


Dokter Adit bukannya menjawab ucapan istrinya, malah bertanya balik.


"Mas, aku tidak ingin membahas ini lagi. Tolong, lupakan semua yang sudah terjadi. Aku, kamu, dan Nata sudah punya hidup masing-masing."


*******Bersambung*******


❤️Happy reading kesayangan mommy. Selamat menanti waktu berbuka puasa bagi yang menjalankan😘🤗


Yang bertanya kapan up nya Cinta Dibalik Penolakan, sabar yah sayang. Mommy selalu ingin memberikan yang terbaik buat kalian tapi apalah daya waktu mommy banyak tersita di kerjaan RL🙏

__ADS_1


❤️ Masa lalu itu meskipun indah tapi bukan untuk diulang. Cukup dikenang dan anggap ia seperti kertas usang yang sudah tidak layak untuk digunakan agar kertas yang masih kosong saat ini bisa terisi dengan ukiran kebahagiaan dalam meniti masa depan🤗


__ADS_2