
"Aku harus segera ambil keputusan, aku tidak bisa begini terus, kesedihanku saat ini tidak bisa aku jadikan alasan untuk menyakiti wanita lain, pagi ini aku harus bicara baik-baik pada mas Satya" kata Ruby pada dirinya sendiri sesaat setelah ia sudah melaksanakan shalat malam. Perlahan ia memejamkan matanya, baru saja ia mendapat tidur kira-kira dua jam, alarm waktu subuh dihandphonenya sudah berbunyi, pelan-pelan ia membuka matanya ternyata Satya belum juga bangun, ia kemudian berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Satya baru membuka matanya saat Ruby sudah melakukan sujud terakhir pada shalat subuh.
"Kamu udah bangun, By?, apa tidur kamu nyenyak semalam?" Ruby hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan, ia tidak mau Satya khawatir kalau ia bilang tidak bisa tidur semalaman.
"Mas shalat aja dulu yah, abis shalat ada yang mau aku omongin sama mas" kata Ruby masih dengan suara pelan.
"Baiklah" jawab Satya. Ia pun berlalu ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah melaksanakan shalat subuh, ia berjalan mendekati Ruby yang sudah memperbaiki posisi duduknya dipinggir ranjang.
"Kamu mau ngomong apa By?" tanya Satya saat ia sudah duduk didepan Ruby. Ruby terlihat menarik nafas dalam-dalam baru kemudian ia mulai berbicara.
"Mas mungkin akan kurang suka dengan apa yang akan aku katakan, tapi aku harus mengatakannya, aku tidak bisa menjalani pernikahan seperti ini mas dan aku yakin mba Rania pun tidak akan sanggup begini terus, aku yang datang belakangan, aku yang menjadi pengganggu dalam rumah tangga kalian, jadi akulah yang harusnya pergi lebih cepat" Ruby berhenti sejenak sampai disitu karena Satya tiba-tiba memotong pembicaraannya.
"Apa maksud kamu?" tanya Satya dengan ekspresi datar.
"Aku tau kamu sudah mengerti arah pembicaraanku mas" Ruby menundukkan kepalanya.
"Aku sudah bilang sama kamu beri aku waktu, saat ini bukan waktu yang tepat untuk kita membicarakan hal ini" ucap Satya.
"Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi mas, aku tidak ingin lebih dalam terjebak dalam pernikahan poligami ini, aku harus pergi" nada suara Ruby sedikit meninggi.
"Apa kamu akan tetap pergi meski suami kamu melarang?, aku rasa kamu lebih tau aturan agama" kata Satya lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku mas, tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa tinggal" suara Ruby kembali melemah. Satya terlihat frustasi melihat keteguhan pendirian Ruby.
"Kamu mau kemana?" tanyanya kemudian.
"Aku akan kembali ke kota B, aku juga harus kembali kerja, untuk pekerjaan setingkat ASN tidak ada yang pernah ambil cuti selama cuti yang aku ambil" ucap Ruby.
"Lalu bagaimana dengan baby Gyan?" pertanyaan yang selama ini ditakutkan Ruby akhirnya keluar juga.
"Baby Gyan masih terlalu kecil untuk berpisah dari ibunya, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kak Sultan juga belum tentu mau ngasi Nendra sama aku" dari sudut mata Ruby sudah terlihat ada bulir-bulir bening yang menetes.
"Tapi baby Gyan juga butuh aku By, apa kamu mau baby Gyan mengalami nasib yang sama seperti Rendra yang tidak bersama ayah kandungnya?" Satya memegang pundak Ruby, Ruby semakin terisak-isak, Ia juga sebenarnya tidak mau melihat baby Gyan jauh lagi dari ayah kandungnya seperti Rendra tapi ia tidak tau saat ini harus bagaimana, andai saja ia bisa memutar waktu atau andai ia bisa menghilang sesaat sampai Satya menemukan jalan keluar untuk masalah mereka.
"Apa kamu akan memisahkan aku lagi dengan baby Gyan saat baru saja aku sama-sama dengannya?, apa kamu tidak kasihan melihat ibu dan Grandma yang baru saja merasakan kebahagiaan harus bersedih lagi?, aku akan cari waktu yang tepat untuk ngomong sama Rania" ucap Satya lagi.
"Kita liat saja nanti" Satya lagi-lagi menghela nafas berat.
"Aku akan memberimu waktu sebulan untuk mengurus masalahmu dengan mba Rania mas, selama itu tolong jangan pernah temui aku, aku janji akan menjaga baby Gyan dengan baik, kamu juga bisa melakukan panggilan video kapan pun kamu mau, anggap saja kamu sedang berada diluar negeri" Ruby menghembuskan nafas berat. Satya terlihat diam saja, ia meremas wajahnya kasar, tapi kemudian ia berucap.
"Baiklah, aku janji akan menjemputmu dengan baby Gyan sebulan lagi untuk tinggal bersama" air mata Ruby seolah tidak punya rem, ia terus saja melaju, untuk yang kesekian kalinya ia harus tinggal sendiri merawat anaknya.
"Kapan kamu akan kembali ke apartemen?" tanya Satya.
__ADS_1
"Pagi ini juga mas" jawab Ruby lantang.
"Apa harus secepat itu?, apa kamu tidak mau memberi kesempatan pada ibu, papa, dan Grandma untuk lebih lama bersama baby Gyan?" tanya Satya lagi.
"Lebih cepat lebih baik mas, aku takut lama-lama bersama kamu akhirnya aku tidak akan perduli lagi sama perasaan mba Rania" balas Ruby.
"Apa kamu sudah mulai mencintaiku?" tanya Satya menelisik kedalaman mata Ruby.
"Apa masih perlu cinta dipertanyakan pada keadaan yang seperti ini?, apa tidak terlalu naif bagi aku mengaku cinta pada mas?" Ruby lagi-lagi menarik nafas berat. Satya tidak bicara apa-apa lagi, ia langsung meraih leher Ruby dan memiringkannya, dikulumnya bibir merah Ruby dengan lembut, Ruby seolah terbius dengan ciuman Satya sampai akhirnya ia tersadar dan mendorong tubuh Satya, wajahnya sudah memerah menahan malu karena ia juga menikmati permainan itu.
"Maaf mas, aku mau siap-siap dulu, diluar langit sudah terang, Satya membuang nafas kasar, aksinya lagi-lagi dihentikan oleh Ruby padahal ia baru saja akan memulainya. Sepertinya ia harus main sendiri lagi kali ini, karena sama Rania pun ia sudah jarang melakukannya. Ruby pun beranjak dari sana berjalan ke kamar mandi, sementara Satya masih diam terpaku ditempatnya. Ia kini harus berfikir berat bagaimana caranya bicara para Rania.
Selesai mandi, Ruby keluar dengan wajah yang terlihat sudah lumayan segar meskipun dibawah matanya masih terdapat gundukan, ia berjalan gontai kearah nakas berniat sedikit menyamarkan mata pandanya. Satya yang saat ini sedang duduk disofa terus memandang Ruby yang tersenyum tipis kearahnya.
" Apa kamu benar-benar akan pergi pagi ini?" tanya Satya lagi masih ingin memastikan keputusan Ruby.
"Iya mas, ini yang terbaik untuk kita semua, aku bukan wanita yang memiliki hati sempurna, aku hanya wanita biasa yang penuh dengan rasa cemburu, dan aku cukup sadar meskipun kehadiranku bukan karena kesengajaan tapi itu bisa menyakiti hati wanita lain, aku sudah biasa berada dalam keadaan hati yang seperti ini, tapi mba Rania mungkin tidak pernah menduga sebelumnya akan menemui kondisi sulit ini" baru saja Ruby menyamarkan gundukan dibawah matanya, bulir-bulir bening itu perlahan kembali menetes membasahi pipi putihnya.
Satya berjalan mendekat kearah Ruby, didekapnya kepala Ruby dari belakang mencoba memberi ketenangan pada hati Ruby yang tak kunjung menemukan bahagia.
🤩😍Hi readers kesayangan hari ini author datang lebih cepat yah karena seharian nanti kegiatan author banyak dikantor, tolong jangan lupa ninggalin jejak yah, ayo dong jangan kendor tetap dukung author amatir ini😘🤗
__ADS_1
❣️❤️Wanita baik-baik tidak akan larut pada hati yang salah dengan mengatas namakan cinta walaupun cinta sering tidak melihat dimana ia tumbuh, tapi hati itu masih bisa mencari pilihan untuk tidak saling menyakiti🤗🤗