
YUNANI
Dokter Almira yang biasanya terbangun saat alarm subuh berbunyi pada ponselnya, kali ini masih asyik bercengkerama dengan bunga mimpi yang membuai tidurnya. Hawa dingin yang berasal dari pendingin ruangan semakin membuatnya menekuk badan. Bahkan tanpa ia sadari, ia kini sudah menautkan tangannya pada tangan Dokter Nata.
Sementara Dokter Nata yang juga tertidur semalaman setelah lukanya dijahit dan diberi obat, perlahan membuka matanya saat merasakan ada sentuhan hangat pada telapak tangan kanannya.
"Dokter Almira," gumamnya yang sama sekali tidak terdengar oleh dokter cantik yang kini hanya berada beberapa centimeter didepannya.
Dokter Nata mengangkat tangan kirinya hendak memegang kepalanya yang masih terasa agak nyeri tapi ia seketika menjerit kecil saat merasakan tangannya tersebut lebih nyeri setelah dijahit.
"Au."
Untungnya suaranya tidak membuat Dokter Almira terbangun dari tidurnya.
Melihat Dokter Almira tertidur sangat lelap, ia tidak sampai hati membangunkannya. Dibiarkannya saja Dokter muda itu tetap menggenggam tangannya. Ia memandangi wanita tersebut yang belum lama dikenalnya tapi sudah berbuat banyak untuknya. Paras cantik dan tutur lembut yang dimiliki oleh Dokter Almira, membuat hati Dokter Nata bergetar. Setelah Ruby, belum pernah ada wanita yang bisa menggetarkan perasaannya seperti sekarang.
Bisa merasakan dari dekat hembusan nafas Dokter Almira, membuat detak jantungnya tidak beraturan. Tapi ia berusaha mengendalikan dirinya saat wanita itu mengendurkan tautan tangannya dan perlahan membuka matanya.
"Kamu sudah bangun?" Tanyanya mengagetkan Dokter Almira yang baru menyadari sudah menggenggam tangan dokter Nata.
Buru-buru ia melepaskan tangannya dan langsung menunduk karena salah tingkah.
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Dokter Almira.
"Tidak apa-apa kog. Makasih yah sudah menemaniku semalaman." balas Dokter Nata tersenyum.
Senyum yang paling tidak bisa dilihat oleh dokter Almira karena senyum tersebut bisa membawa sebagian hatinya pergi.
"Sudah menjadi tugasku menangani orang-orang yang membutuhkan bantuan medis selama disini."
"Apa kamu juga ikut menjaga setiap orang yang sudah kamu tangani seperti aku semalam?"
Dokter Almira tidak tahu harus menjawab apa karena memang baru kali ini ia menjaga pasiennya. Ia juga tidak tahu kenapa bisa terfikir olehnya untuk menjaga dokter Nata, bahkan ia sampai tertidur disampingnya.
"Aku hanya takut kamu mengalami penurunan kesadaran semalam karena lukamu mengeluarkan banyak darah. Dokter Sophy sudah mempercayakan padaku untuk menanganimu. Aku tidak mau ia jadi meragukan kemampuanku." kilah Dokter Almira.
"Oh, padahal aku sempat berfikiran lain." Dokter Nata tersenyum tipis mendengar penuturan Dokter muda itu.
"Aku sudah merasa agak baikan, hanya lukaku saja yang masih terasa nyeri."
__ADS_1
"Kamu bisa minum obat anti nyeri lagi setelah sarapan nanti, Suster Dina akan mengurus sarapanmu."
"Makasih."
Dokter Almira mengangguk kecil menanggapi ucapan Dokter Nata. Ia kemudian beranjak dari kursi tempat duduknya tapi sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu, ia tiba-tiba teringat untuk menanyakan kenapa bisa akhirnya Dokter Nata lolos dari orang-orang yang menyekapnya.
"Bagaimana caramu bisa meloloskan diri dari sana?"
"Nanti aku ceritakan kalau kamu sudah kembali membawa sarapanku." Dokter Nata lagi-lagi tersenyum jahil kearah Dokter Almira.
"Suster Dina yang akan membawa sarapanmu."
"Kalau begitu suster Dina yang akan mendengarkan ceritaku."
Dokter Almira menghela nafas kasar karena ia tahu Dokter Nata sekarang sedang mencoba bernegosiasi dengannya.
"Baiklah, aku yang akan membawanya kesini."
Karena merasa penasaran dengan cerita Dokter Nata, Dokter Almira akhirnya mengalah. Ia kemudian berlalu dari ruangan itu menuju kamarnya.
***
"Baiklah, kalau semua sudah lengkap, kita mulai saja ijab qabulnya." kata Pak Penghulu saat kedua mempelai duduk berdampingan dihadapannya.
Rania dan Rama hanya mengangguk kecil mengiyakan ucapan Penghulu tersebut. Setelah menerima perwalian untuk menikahkan Rania, ia pun memulai lafadz ijab sambil mengeratkan jabat tangannya dengan Rama.
Rama yang terlihat sangat bersemangat, sepertinya sudah tidak sabar lagi mengucapkan lafadz qabul. Rasa sakit yang semalam mendera dadanya, seolah sirna saat ini dan diganti dengan rasa bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan hanya dengan kata-kata karena sebentar lagi ia akan bersatu dengan Rania dalam ikatan suci pernikahan.
"Saya terima ni....."
"Akh...akh..."
Belum selesai Rama mengucapkan balasan untuk menjadikan Rania halal baginya, dadanya tiba-tiba sesak seperti ada benda berat yang sudah menimpanya. Semua orang diruangan itu seketika terkejut melihat Rama sudah terjatuh dipangkuan Rania, tak terkecuali Rania dan Andin yang duduk dibelakang kedua mempelai.
"Rama, Ram, kamu kenapa?"
Rania yang sejak tadi terus sumringah karena bahagia, saat ini wajahnya seolah berhenti dialiri darah karena panik yang sudah menderanya.
Andin langsung menghampiri kedua orang yang sangat ia sayangi itu. Ia langsung memeluk papa kesayangannya, satu-satunya orangtua yang ia miliki saat ini.
__ADS_1
"Pa, papa kenapa?" Teriaknya sambil berderai air mata.
Rama sudah tidak bisa lagi menjawab pertanyaan Rania dan Andin, ia terus memegangi dadanya dengan wajah meringis. Sekuat tenaga ia terlihat berusaha mengatakan sesuatu pada Rania.
"Ni...nia...ja...ja...ga An...An...di...n."
Setelah berkata begitu kepalanya langsung terkulai dari pangkuan Rania.
"Ramaaaaaaaaaaaa..."
"Papaaaaaaaaaaaaa..."
Rania dan andin bersamaan histeris melihat Rama menutup mata.
Satya yang gelagapan karena kaget baru saja hendak menghubungi dokter pribadinya agar mengirimkan ambulance, seketika memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya dan buru-buru menghampiri Rania dan Rama.
Begitu juga Sultan yang tidak kalah kagetnya, menyusul dibelakang Satya. Ia langsung meraba nadi pada pergelangan tangan Rama kemudian menggelengkan kepalanya kearah Satya. Satya hanya bisa meremas wajahnya kasar mengetahui apa yang sudah terjadi pada Rama. Ia menghela nafas berat sebelum akhirnya ia bermaksud menenangkan Rania tapi sudah didahului oleh Sultan.
"Tenang Nia, tenang." ucap Sultan sambil mengusap pundak Rania.
Rania tidak menjawab, ia semakin mempererat pelukannya pada tubuh Rama yang sudah tak bergeming.
Sementara Satya beralih pada Andin yang juga masih histeris memeluk papanya. Ia berniat meraih Andin dalam gendongannya tapi tangannya langsung ditepis oleh Andin.
"Tenang sayang, Andin sama om dulu yah." ucapnya.
"Tidak mau, Andin mau sama papa."
"Papa bangun, buka mata papa, liat Andin disini." Isaknya sambil mengguncang-guncang tubuh Rama.
Melihat Andin seperti itu, Rania semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Penglihatannya seolah kabur dan kepalanya serasa berputar. Ia hampir saja terjatuh kebelakang kalau saja tidak ada Sultan yang dengan sigap langsung menopang kepalanya.
"Bagaimana ini Sat, Rania pingsan." ucap Sultan kearah Satya.
"Bawa saja ia ke kamar dulu, aku akan mengurus Andin dan yang lainnya akan mengurus Rama." balas Satya.
"Baiklah, Sat."
Sultan kemudian mengangkat tubuh Rania dan membawanya kedalam gendongannya, bersamaan dengan dipindahkannya tubuh Rama dalam pelukan Rania oleh orang-orang yang berada ditempat itu.
__ADS_1
❤️Halo readers kesayanganku, mulai hari ini mommy akan up tiap hari lagi yah, jadi mulai stay dan kasi dukungan buat cerita ini. Maaf yah kalau hari ini cuma segini dulu karena mommy lagi dinas pagi, banyak pasien UGD menunggu juga😘🤗