Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Cilok Tiba Di Jerman


__ADS_3

JERMAN


Bagas tiba di bandara Jerman pada pukul tiga sore waktu setempat. Ia langsung menuju ke hotel tempat Ruby menginap dengan membawa sebuah kotak pemanas berukuran besar yang sudah berisi cilok pesanan Ruby.


Semua mata tertuju kearahnya saat ia baru saja keluar dari jet pribadi yang membawanya dari kota M sampai ia masuk kedalam mobil yang sudah disewanya via online sebelum ia sampai di Jerman. Bagaimana tidak, dengan penampilannya yang perlente dan wajahnya yang tampan mengenakan setelan jas berkelas dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya harus menenteng sebuah kotak pemanas di tangan kanannya.


Ini semua untuk calon penerus kedua keluarga Biantara yang masih berada didalam kandungan nyonya mudanya.


Tapi saat ia tiba di basement hotel dan memarkir mobilnya disana, ia seketika punya ide untuk kembali memanfaatkan Lila. Dirogohnya ponsel pada saku celananya dan menekan nomor Lila disana. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu telfonnya tersambung karena hanya beberapa detik kemudian, suara Lila sudah terdengar dari seberang.


"Ada apa mas Bagas menelfonku, aku sekarang sudah berada di Jerman jadi maaf saja kalau aku tidak bisa lagi melakukan tugas yang mas Bagas perintahkan." Ucap Lila tanpa berbasi-basi.


"Kamu tidak usah banyak omong, aku tunggu kamu di basement P1 sekarang."


"Apa?"


Lila yang hendak meminum moccacino coffe yang baru dibuatnya langsung menyemburkannya mendengar Bagas berada di hotel itu sekarang.


"Apa kamu ada di basement hotel ini?"


"Iya, buruan turun. Aku tunggu didepan mobil mercy warna merah dalam waktu lima menit."


Tanpa menunggu jawaban Lila, Bagas langsung mematikan telfonnya.


"Orang ini seperti hantu saja, kadang muncul dan hilang tiba-tiba." Maki Lila yang tentu saja sudah tidak didengar oleh Bagas.


Lila bergidik mengingat Bagas, meskipun begitu ia tetap juga turun ke basement menuruti permintaan Bagas setelah memberitahu Ruby. Ruby sendiri tidak banyak bertanya karena saat itu ia sedang memandikan baby Gyan.


Sesampainya Lila disana, ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut basement. Dan saat melihat seorang pria yang sangat dikenalnya sedang bersandar pada sisi mobil, ia pun mendekatinya dengan wajah yang kurang bersahabat.


"Bagus, kamu datang tepat waktu jadi aku tidak perlu capek-capek menghukummu." Ucap pria itu seraya tersenyum.


Senyum yang bisa mencabik-cabik hati Lila dan memporak-porandakan jiwanya tapi ia tidak pernah ingin berharap lebih dari pria itu apalagi pria itu selalu memperlakukannya buruk.


"Bawa ini naik ke kamar nyonya muda." Perintah Bagas penuh kuasa.


"Apa ini?"


"Apa aku berkewajiban memberitahumu?"


Lila lagi-lagi memberikan pandangan tajam pada Bagas, tapi ia tidak berkata-kata. Ia hanya membatin dalam hati.


"Kenapa juga aku harus bertanya kalau aku sudah sangat tahu, pria menyebalkan ini akan menjawab apa."


Tanpa banyak bertanya lagi, Lila lalu mengambil kotak pemanas tersebut dari tangan Bagas, kemudian ia berjalan menuju lift. Bagas mengikuti dibelakangnya.


"Selamat sore nyonya muda," sapa Bagas setelah berada didepan kamar Ruby.


Lila sendiri langsung masuk kedalam kamar tanpa menunggu lagi Bagas yang berhenti didepan pintu.


"Sore juga, Gas. masuk dulu yuk."


"Tidak perlu nyonya muda. Aku sengaja datang membawa kiriman tuan muda untuk anda. Selamat makan dan semoga calon penerus kedua keluarga Biantara menyukai makanan ini."

__ADS_1


"Terima kasih atas perhatiannya, Gas."


"Tuan muda yang memberikan perhatian untuk anda nyonya, aku hanya sebagai perantara."


"Iya, terserah apa katamu. Aku tetap akan mengucapkan terima kasih."


Bagas hanya membungkukan sedikit badannya menanggapi ucapan Ruby.


"Kalau begitu aku pamit ke kamarku dulu nyonya muda."


"Iya silahkan."


"Oya, apa kamu akan langsung balik ke kota M?"


"Tuan muda tidak mengizinkanku kembali sebelum memastikan nyonya muda sudah tidak ingin makan cilok lagi."


Ruby tertawa renyah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Bagas.


"Baiklah Gas, selamat beristirahat."


Bagas kemudian berlalu dari sana dan berjalan menuju kamar yang sudah dibookingnya tidak jauh dari kamar presidential suite milik Ruby.


"Bagas itu lucu yah Lil," ucap Ruby sambil menikmati cilok yang sudah dipindahkan kedalam piring.


"Lucu dari mananya non. Menyebalkan iya." Jawab Lila ketus.


"Tapi ia setia banget loh sama mas Satya, Lil." Balas Ruby seraya tersenyum.


"Kalau setianya nggak diragukan lagi non, tapi menyebalkannya itu juga bisa di catet jadi rekor."


"Asyik kalau sama non Ruby tapi kalau sama aku, ia sepertinya sengaja selalu mau menyiksaku. Tadi aja dia nyuruh aku turun hanya untuk menjemput kotak cilok itu padahal lift tidak jauh dari tempatnya parkir."


"Hahaha, itu sih namanya kamu yang mau dikerjain juga Lil."


Lila hanya bersungut mendengar ucapan nonanya.


"Biasanya orang menyebalkan itu ngangenin. Hati-hati Lil, nanti kamu jadi bucin sama Bagas." Ucap Ruby masih terkekeh.


"Mending jomblo selamanya aja deh non daripada sama dia."


"Ucapan adalah doa loh, Lil."


Mendengar kata Ruby, Lila buru-buru menarik kembali ucapannya. Ia juga tidak ingin jadi jomblo selamanya.


Ruby dan Lila sudah seperti sahabat, mereka akan bertukar cerita saat ada beban di hati dan bersenda gurau saat senggang.


"Lil, tolong jaga Gyan dulu yah. Aku mau nelfon mas Satya."


"Iya non."


Ruby kemudian mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada nomor Satya.


"Halo sayang, apa ciloknya enak?" Tanya Satya dari seberang telfon.

__ADS_1


Ia sudah dihubungi oleh Bagas yang memberitahukan bahwa kiriman ciloknya sudah sampai dengan selamat.


"Enak banget sayang, aku makan banyak. Sepertinya calon baby kedua ini sangat menyukainya."


"Baguslah sayang, berarti tidak sia-sia Bagas membawanya kesana."


"Iya mas."


"Maafin aku yah, disaat-saat seperti ini aku tidak bisa lagi berada didekatmu. Tapi aku janji, setelah urusanku selesai aku akan menjemputmu kesana."


"Iya sayang, aku nggak apa-apa kog. Alhamdulillah kehamilanku tidak pernah terlalu rewel. Paling cuma rewel karena mau makan sesuatu."


"Kalau itu kamu nggak usah khawatir sayang, ada Bagas yang selalu siap kapan saja dibutuhkan."


"Tapi kasian Bagas, mas."


"Nggak usah dikasi hani, dikasi bonus saja."


"Kamu bisa aja, mas."


Perbincangan kedua pasangan suami istri itu pun terus berlanjut sampai Ruby tidak sadar kalau sudah lebih dari satu jam mereka mengobrol. Setelah memberikan kecupan dari jauh lewat layar ponsel, ia pun memutuskan sambungan telfon.


***


YUNANI


"Suhu tubuh dokter Adit naik lagi, dok." Kata suster Dina pada dokter Almira yang sejak kejadian itu tidak pernah lagi masuk kedalam kamar dokter Adit.


"Sepertinya kita harus memberitahu kepala tim agar dokter Adit sebaiknya dipulangkan saja kembali ke Jerman. Ia bisa mendapatkan perawatan lebih intensif disana. Disini juga ia tidak bisa membantu apa-apa dan tidak ada yang bisa mengurusnya dua puluh empat jam."


"Tapi dok, bagaimana dengan dokter Nata yang belum juga kembali."


"Aku yang akan bertanggung jawab untuk itu. Apa kamu mau membantuku?"


"Saya disini memang untuk membantu anda, dok."


"Terima kasih suster andalan."


Suster Anna tersenyum menanggapi pujian dari dokter Almira. Dokter dan suster itu adalah yang terpilih dari kotanya untuk ikut ke Yunani dengan tim dokter dari negara lain. Bukan tanpa alasan dokter Almira yang terpilih, karena ia termasuk salah satu dokter yang bersedia ditempatkan dimana saja. Sedangkan suster Dina adalah perawat teladan yang sudah biasa ikut dalam bantuan kemanusiaan para tenaga medis.


"Tetap pantau perkembangan kesehatan dokter Adit. Aku akan pergi menemui kepala tim. Mudah-mudahan tengah malam nanti dokter Adit sudah bisa dipulangkan kembali ke Jerman."


"Baik, dok."


Setelah berkata begitu, dokter Almira pun berbalik dan berjalan menuju tempat kepala tim berada. Ia sama sekali tidak berniat untuk masuk kedalam melihat keadaan dokter Aditya.


*** BERSAMBUNG ***


💚 Happy reading kesayangan mommy. banyak banget komen-komen yang mommy liat butuh jawaban tapi mommy tidak bisa balas satu persatu sayang karena walaupun cuma author remahan tapi mommy lagi sibuk di RL🙏🤗


Yang bilang novel ini banyak tokohnya, memang sudah dibikin seperti itu sayang. Anggap saja ini seperti sinetron tukang bubur naik haji. Hihihi.


Ada juga yang bilang perasaan kog tenaga medisnya dari Indonesia semua padahal ini kan pengiriman dari rumah sakit Jerman. Tolong dibaca baik-baik dipart sebelumnya yah say, ada kog dijelaskan😘🤗

__ADS_1


Satu lagi, yang bilang Adit menikah lalu langsung pergi nggak mungkin banget. Bisa loh say, buktinya mommy sendiri ngalamin itu. Hari ini mommy nikah, besok subuhnya pak suami sudah pergi karena tugas🤭🤗


But apapun itu kalian tetap redears kesayangan mommy😘😘😘


__ADS_2