Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Sudah Mulai Terbiasa


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian


Hari ini adalah hari keberangkatan papa Lingga ke Jerman. Setelah berada lima hari di Singapura dan ternyata memang belum ada perubahan signifikan dari kondisi papanya, Satya pun memutuskan untuk mengirim papanya ke Jerman.


"Halo Sat, senang sekali kamu mau menghubungi aku lagi." Terdengar suara dokter Nata dari seberang telfon.


"Papa akan dikirim ke Jerman sore ini Nat, aku mohon bantuanmu," balas Satya.


"Aku selalu menganggap papa Lingga seperti papaku sendiri, aku akan sangat bahagia kalau ia bisa sembuh seperti sedia kala," ucap Dokter Nata.


"Makasih Nat."


"Bagaimana kabarmu dan...," Pertanyaan dokter Nata terdengar menggantung saat Satya buru-buru menjawabnya.


"Aku dan Ruby baik-baik saja, tapi kami mungkin belum bisa ikut ke Jerman karena Gyan masih ada di kota M."


"Kamu tenang saja, aku akan mengurus papa Lingga disini," ucap dokter Nata setelah menghela nafas dalam-dalam.


"Baiklah Nat, aku titip papa." Satya lalu memutus sambungan telfon setelah mendapat jawaban dokter Nata.


Saat menelfon dengan Satya tadi, terlihat panggilan Dokter Anna sedang menunggu. Dokter Nata melakukan panggilan balik setelah telfon dari Satya terputus.


"Tadi aku lagi bicara sama Satya, Na."


"Oya? Satya kenapa?" Dokter Anna bertanya balik.


"Papa Lingga akan dikirim ke Jerman untuk mendapatkan pengobatan lebih lengkap," jawab Dokter Nata menjawab kekagetan Dokter Anna.


"Apa hubunganmu dengan Satya sudah lebih baik?" tanya Dokter Anna.


"Aku tidak pernah menganggap hubungan kami bermasalah, Na. Hanya Satya yang seolah ingin menjauhkanku dari Ruby," jawab Dokter Nata.


"Sikap Satya beralasan Nat karena kamu menyukai istrinya." Kata-kata Dokter Anna langsung membumkam mulut Dokter Nata.


"Oya ada apa kamu menelfon, Na?" tanya Dokter Nata mengalihkan.


"Besok aku akan pulang kerumah Nat, keluargaku sudah mengatur pertemuan dengan keluarga pihak laki-laki yang sudah dipilih oleh papa." Nada suara Dokter Anna terdengar sedih.


"Sudahlah Nat, lupakan. Aku hanya ingin kamu tau aja kog." Mata Dokter Anna sudah mulai berkaca-kaca tapi ia masih berusaha tegar, ia tidak mau Nata mengetahui kesedihannya.


Sedangkan Dokter Nata ingin sekali membantu Dokter Anna tapi entah kenapa hatinya tidak bisa mengucap cinta pada Dokter baik itu.


"Oya sudah dulu yah Nat, ada panggilan dari pasien VIPku," kata Dokter Anna berbohong.

__ADS_1


"Maaf ,Na." Hanya itu kata yang keluar dari mulut Dokter Nata kemudian sambungan telfon pun terputus.


"Nat, kenapa kamu tidak bisa sedikit saja menyukaiku, aku tau hanya jawaban ini yang akan kudapat, tapi kenapa saat aku mendengarnya sendiri hatiku terasa diiris-iris. Nataaaaa, aku mencintaimu." Dokter Anna berteriak kecil didalam ruangannya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


***


"Mas, apa tidak lebih baik mas ikut saja ke Jerman lebih dulu, Aku sama Gyan akan menyusul," ucap Ruby saat ia sedang makan siang bersama Satya.


"Tidak perlu By, aku yakin mama bisa mengurusnya sendiri apalagi disana sudah ada Nata." Ucapan Satya sangat berbeda dengan isi hatinya. Yang ia takutkan adalah kalau Ruby kembali dekat dengan Dokter Nata. Ia tidak meragukan kesetiaan Ruby. Ia hanya sangsi Dokter Nata bisa terus mengendalikan perasaannya.


"Baiklah kalau begitu mas, tapi kita pulang belakangan yah setelah papa sudah berangkat ke Jerman," kata Ruby yang dianggukan oleh Satya.


Ponsel Satya berdering saat ia masih mengobrol dengan Ruby.


"Halo Gas, apa ada masalah?" tanya Satya setelah mengangkat telfon yang ternyata dari Bagas.


"Ini mengenai pembangunan Tower didesa Nyonya Muda, para pekerja mengeluh karena disana tidak ada warung makan dan warung kopi."


"Aku selalu bisa mengandalkanmu karena tidak ada tugas sulit sekali pun yang tidak bisa kamu lakukan, dan sekarang apa kamu mengeluh?"


"Tidak tuan muda, tidak sama sekali, aku hanya ingin meminta nomor telfon tetangga ibu mertua anda, siapa tau ia bisa ikut berpartisipasi karena ini juga untuk kepantingan mereka," jawab Bagas.


"Biar aku yang menghubunginya saat sampai dihotel."


"Baiklah tuan muda."


"Baiklah," jawab Ruby.


Resto yang mereka tempati makan tidak berada jauh dari hotel sehingga hanya butuh waktu beberapa menit mereka sudah sampai dikamar hotel.


Baru saja Ruby akan mengganti pakaiannya, Satya sudah memeluknya dari belakang.


"Apa kita bisa melakukannya sekali saja?" Belum sempat Ruby menjawab, Satya sudah lebih dulu membalikkan badannya dan membungkam mulut Ruby dengan bibirnya.


Ruby sekarang tidak bisa apa-apa lagi karena badannya sudah dikunci oleh Satya. Satya kemudian membawa Ruby ketempat tidur, ia sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya. Penyatuan diantara mereka pun kembali terjadi.


"Makasih sayang." Satya mengecup kening Ruby setelah mereka selesai melakukan penyatuan.


"Akhir-akhir ini staminamu sepertinya tambah kuat mas," ucap Ruby membuat Satya terkekeh.


"Kamu tau sendiri By, aku sudah lama tidak melakukannya," jawab Satya.


"Apa kamu tidak sanggup?" Satya bertanya balik dengan senyum yang kembali memancing.

__ADS_1


"Bukan seperti itu mas, aku hanya..." Satya langsung membumkam lagi mulut Ruby saat ia masih ingin melanjutkan ucapannya.


"Kalau kamu masih bicara, kita akan melakukannya lagi." Sepertinya cara Satya manjur karena Ruby langsung terdiam.


"Oya By, apa kamu bisa menghubungi tetangga ibu dikampung? Para pekerja Tower mengeluh karena disana tidak ada warung."


"Emang Towernya sudah dikerja mas?"


"Iya sehari setelah kita sampai disini, Bagas sudah mengirim orang-orangnya kesana lengkap dengan alat-alatnya," balas Satya.


"Ya sudah aku akan menelfon bu Ira sekarang." Ruby lalu meraih ponselnya diatas nakas.


"Assalamua'laikum."


"Waa'laikumsalam." Terdengar jawaban dari seberang.


"Ini Ruby bu, jaringannya bagus yah langsung nyambung."


"Eh nak Ruby, ibu sekarang lagi dikecamatan sama bu Yanti. Kami lagi berbelanja kepasar," jawabnya.


"Ini bu Ruby mau minta tolong..." Karena Ruby bicaranya lama sekali, Satya akhirnya mengambil alih ponsel dari tangannya.


"Halo bu, ini Satya."


"Oalah, mimpi apa ibu semalam ditelfon sama orang Ganteng dan Banyak Duit seperti nak Satya," jawab bu Ira mulai menggombal Satya.


"Apa ibu mau duit?" Ruby langsung mencubit paha Satya mendengarnya ngomong seperti itu.


"Siapa yang tidak mau duit nak Satya, kita itu bisa hidup karena duit."


"Kalau begitu aku mau minta tolong sama ibu, dikampung sudah ada pegawaiku yang mengerjakan Tower. Apa ibu bersedia menyumbangkan makanan dan kopi setiap hari untuk mereka? Ibu bisa kirim nomor rekening sekarang, aku akan mengirimkan ibu sedikit duit pembeli kopi. Apa Lima puluh juta cukup?"


"Lima puluh juta? itu duit semua nak?" tanya bu Ira membulatkan kedua matanya.


"Iya duit semua bu, emang ibu fikir apa?" Satya sengaja menjahili bu Ira. Tangan Ruby tidak berhenti mencubitnya.


"Baiklah nak, aku akan kirim sekarang nomor rekeningnya, salam sama bu Rumana yah." Telfon pun langsung terputus membuat Satya hanya bisa menganga.


"Kamu tuh keterlaluan bercandanya mas." Satya hanya tersenyum mendengar omelan Ruby.


"Aku suka sama orang mata duitan sayang," balas Satya yang hendak mencium bibir Ruby lagi tapi langsung dihalangi oleh tangan Ruby.


🤩 Jangan lupa tinggalin jejak yah, terimah kasih bagi yang sudah membaca, maaf jika masih banyak kekurangan😘🙏

__ADS_1


Jangan lupa mampir di cerita keduaku CINTA DIBALIK PENOLAKAN💙💙


*** Sebuah kesalahan itu pasti akan berbekas dihati tapi jangan jadikan ia sebagai patokan untuk menjalani hidup lebih baik kedepannya karena kadang dari sebuah kesalahan kita bisa mendapatkan kebahagiaan❤️❤️


__ADS_2