
Sesampainya dirumah Ruby langsung mencari Lila ke kamarnya tapi orang yang dicarinya tidak ia temukan disana padahal ia ingin minta tolong untuk menjaga baby Gyan karena ia ingin membersihkan diri sehabis pulang dari luar.
Karena ia tidak menemukan Lila, ia membawa Nendra lebih dulu masuk kedalam kamar yang akan ditempatinya sebelum ia juga kembali ke kamarnya sendiri.
"Sayang, kamu mandi duluan yah, abis itu aku mau minta tolong jagain Gyan dulu karena aku juga mau mandi," ucap Ruby saat ia sudah berada dikamarnya.
"Kasi Lila aja dulu sayang jadi kita bisa mandi bareng," balas Satya mendekati Ruby dan memeluknya dari belakang.
"Lila belum pulang sayang," jawab Ruby.
"Memangnya Lila kemana sayang?"
"Ia tadi bilangnya ada urusan tapi aku telfon nggak diangkat-angkat, coba deh kamu hubungi Bagas dulu sayang."
"Hem, Lila sama Bagas sama saja, selalu mengganggu kemesraan kita. Mereka berdua harus mendapat hukuman nanti."
Satya melepaskan pelukannya dan berjalan kearah sofa mengambil ponselnya diatas meja.
"Cari keberadaan Lila sekarang, aku tunggu kabarmu dalam waktu 15 menit."
Tut...tut...tut
Belum sempat Bagas menjawab, Satya sudah memutuskan sambungan telfon. Setelah menyimpan kembali ponselnya diatas meja, Satya pun berjalan masuk ke kamar mandi.
Sementara itu di kantor Biantara Grup, Bagas terlihat meremas wajahnya karena lagi-lagi ia mendapat masalah akibat ulah Lila. Ia menyesali dirinya yang sudah menyuruh Lila membersihkan apartemennya. Setelah menelfon Lila sebanyak tiga kali panggilan dan tidak ada jawaban juga, ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemennya memastikan keberadaan Lila disana.
Lebih Dari 30 menit ia baru sampai didepan kamar apartemennya. Itu berarti waktu yang dikasi Satya lewat lagi dari yang sudah ditentukan dan mau tidak mau Bagas harus siap menerima konsekuensinya.
Bagas membuka pintu dengan acces card yang dipegangnya. Setelah masuk kedalam apartemen, ia mencari Lila keseluruh ruangan tapi ia tidak juga menemukan wanita itu. Satu-satunya ruangan yang belum diperiksanya adalah kamarnya tapi ia sangat yakin Lila tidak mungkin masuk kesana tanpa seizinnya.
Ia mulai terlihat frustasi dan duduk diruang tamu sambil meremas rambut jatuhnya lalu menghempaskan tangannya keatas. Ia kemudian berdiri melangkah masuk kedalam kamarnya untuk mendinginkan kepalanya dengan mandi air dingin.
Tapi alangkah terkejutnya ia melihat seorang wanita sedang tertidur pulas diatas kasurnya. Ia mendekati wanita itu dan lebih terkejut lagi saat tahu wanita itu ternyata adalah Lila.
"Hey, nagapain kamu disini." Bagas mendorong tubuh Lila hingga jatuh kelantai.
"Au."
Jerit Lila yang seketika terbangun dari tidurnya dan langsung melototkan kedua matanya.
"Kamu apa-apaan sih, seperti tidak ada kerjaan saja selain menzalimiku!" Teriak Lila.
"Harusnya aku yang bertanya. Kamu ngapain masuk ke kamarku?" Tanya Bagas tak kalah berteriak.
"Tuan Bagas yang terhormat dan baik hati, kamu kan tadi yang nyuruh aku membersihkan apartemen, kamu tidak bilang pengecualian jadi aku bersihkan semuanya bahkan sampai kesudut-sudut ruangan. Terakhir sekali kamarmu dan karena saya sudah sangat kecapean akhirnya saya tertidur disana," jawab Lila menjelaskan.
"Tetap saja kamu sudah mengotori kasurku sekarang," ucap Bagas sambil menepuk nepuk kasurnya.
"Enak saja, memangnya aku najis." Balas Lila dengan nada menahan emosi.
"Kamu harus pulang kerumah utama sekarang juga. Nyonya muda sudah mencari-carimu," ucap Bagas kemudian menarik tangan Lila keluar dari kamar.
__ADS_1
"Eh kamu apa-apaan sih, aku bisa jalan sendiri kog," balas Lila menghempaskan tangannya.
"Aku pergi," ucap Lila sinis kemudian berlalu dari hadapan Bagas.
"Akhhh aku sebenarnya kenapa sihhhhh, kenapa aku selalu ingin gadis itu menjadi bulan-bulananku."
Bagas berkata pada dirinya sendiri sambil meremas wajahnya. Tapi ia seketika terkesiap saat ingat ia belum menghubungi Satya. Ia pun mengambil ponsel dari saku celananya dan mengusap layar ponselnya mencari nama Satya lalu memanggilnya. Entah apa yang mereka bicarakan tapi Bagas beberapa kali mengerutkan keningnya.
"Baik tuan muda."
Setelah berkata begitu, ia pun memutus sambungan telfon.
"Wanita itu memang selalu merepotkanku," ucapnya kemudian keluar dari kamar apartemen dan kembali menaiki mobilnya lalu melajukannya ke rumah utama menyusul mobil Lila yang belum berada jauh.
***
KOTA B
Senja diufuk sudah mulai menampakkan jingganya saat dua orang pasangan lawan jenis sedang duduk berdua dipinggir danau disudut kota B. Keduanya adalah dokter Anna dan dokter Aditya. Mereka baru saja pulang melakukan fitting baju pengantin yang akan mereka pakai tiga hari lagi.
Semua persiapan sudah hampir rampung dalam waktu singkat karena banyak keluarga yang ikut membantu untuk kelansungan acara nanti.
"Oya Na, apa Nata pernah menghubungimu? Ponselnya tidak bisa kuhubungi sejak semalam. Aku belum memastikan apa iya akan datang atau tidak."
Pertanyaan dokter Aditya membuat dokter Anna menarik nafas dalam-dalam karena ia juga sebenarnya sudah gelisah selama dua hari ini tidak berbicara dengan Nata. Terakhir kali saat mereka berdebat ditelfon, setelahnya meskipun ingin tapi dokter Anna berusaha menahan agar tidak menghubungi dokter Nata.
"Nata mungkin lagi sibuk Dit, kalau ia tidak bisa datang nggak papa kog. Toh pernikahan juga akan tetap terjadi tanpa kehadirannya," balas dokter Anna pelan.
"Tapi Nata sahabat kita Na, aku akan menghubunginya kembali nanti," balas dokter Aditya.
Dokter Anna tidak menanggapi lagi ucapan dokter Aditya. Ia hanya memandang kedepan dengan tatapan kosong. Seolah langit yang masih berwarna biru, dimatanya sudah menjadi gelap karena fikirannya saat ini yang sedang berkelana ke kehidupan masa lalu saat ia dan Nata begitu dekat. Meskipun hubungannya dengan dokter Aditya sudah terlihat semakin akrab dari hari ke hari tapi ia belum bisa mengganti nama dokter Nata dihatinya.
"Kamu kenapa Na?" Tanya dokter Aditya yang memperhatikan sikap dokter Anna sejak tadi.
"Na."
Dokter Aditya mengulangi panggilannya dengan suara agak meninggi saat panggilan pertamanya tidak didengar oleh dokter Anna.
"Eh iya Dit," jawab dokter Anna terkesiap.
"Are you oke?" Tanya dokter Aditya lagi.
"Yes, I'm. Aku cuma kecapean Dit, jadi kurang fokus." Jawabnya berbohong.
"Kalau begitu kita pulang sekarang yah," ajaknya pada dokter Anna. Dokter Anna mengangguk kecil mengiyakan ajakan dokter Aditya.
Keduanya pun berjalan menuju tempat dokter Aditya memarkir mobilnya. Mereka sama-sama terdiam diatas mobil sampai dokter Aditya menepikan mobilnya disebuah minimarket.
"Kamu tunggu sebentar yah, aku mau turun dulu." Dokter Anna hanya mengangguk menanggapi ucapan dokter Aditya.
Dokter Anna memperhatikan dokter Aditya melangkah masuk kedalam minimarket. Tidak ada cela pada wajah pria itu. Wajahnya yang tampan dan kulitnya yang bersih, mungkin hanya wanita bodoh seperti dirinya yang tidak bisa menyukai pria sebaik dokter Aditya.
__ADS_1
"Nih, makanlah. Katanya coklat bisa sedikit mengurangi stres. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu fikirkan tapi aku lihat kamu sedang banyak beban," ucap dokter Aditya setelah kembali kedalam mobil.
Ia memberikan sebuah plastik pada dokter Anna yang berisi beberapa batang coklat.
"Makasih Dit."
Dokter Aditya hanya tersenyum menanggapi.
"Kamu tidak perlu menjelaskan pada oranglain apa yang sedang kamu fikirkan. Tapi kalau boleh aku ngasi saran, jangan berfikir terlalu dalam, nanti kamu tidak akan bisa kembali kedunia nyata," ucap dokter Aditya dengan pandangan lurus kedepan sambil menyetir mobilnya.
Dokter Anna lagi-lagi menghela nafas dalam-dalam yang dihembuskan begitu pelan, ia tidak ingin dokter Aditya semakin bisa membaca fikirannya.
"Tidak kog Dit, aku hanya sedikit nervous menghadapi hari H."
"Mudah-mudahan ucapanmu benar Na, karena pernikahan kita sisa menghitung hari."
"Apa Satya dan Ruby akan datang?" Tanya dokter Aditya.
"Iya, mereka akan tiba disini sehari sebelum hari H. Kata Ruby asisten Satya sudah booking hotel kemarin," jawab dokter Anna.
"Aku akan coba menghubungi dokter Sophy sebentar untuk menanyakan Nata. Kalau Satya saja datang, bagaimana ia yang sahabatku tidak berniat menghadiri pernikahanku. anak itu mengherankan." Kata dokter Aditya yang tidak ditanggapi dokter Anna.
"Aku bingung cara berfikir Nata, bagaimana ia bisa mencintai wanita yang sudah bersuami. Dan suami wanita itu sahabatnya sendiri. Aku baru percaya sekarang ternyata Cinta sering kali salah menempatkan dirinya," lanjutnya lagi.
"Apa Nata memang tidak pernah dekat dengan wanita lain selama kamu bersahabat dengannya?" Tanya dokter Aditya.
"Atau apa kalian tidak pernah memiliki saling ketertarikan selama ini ? Maaf Na tapi yang aku tahu hanya kamu satu-satunya sahabat dekat Nata waktu kuliah," tanyanya lagi dengan sangat hati-hati.
Tapi dokter Anna tidak menjawab satu pun dari pertanyaan dokter Aditya karena pandangannya kembali lurus kedepan tapi fokusnya berkelana jauh kemana-mana. Telinganya mendengar tapi hatinya dan fikirannya tidak meresapi.
"Na."
Barulah saat dokter Aditya menoleh menyebut namanya, ia terkesiap.
"Kamu bilang apa tadi Dit?"
"Nggak, nggak ada apa-apa. Kita sebentar lagi nyampe dirumah," balas dokter Aditya tanpa menoleh lagi.
Ia sekarang fokus menjalankan mobilnya. Tidak ada lagi suara yang terdengar sampai mereka memasuki halaman rumah dokter Anna.
"Aku langsung aja dulu yah Na, masih ada urusan."
"Oke Dit, hati-hati yah."
Keduanya saling mengulas senyum yang tidak bisa diartikan oleh siapapun hingga dokter Aditya kembali melajukan mobilnya diatas aspal jalanan kota B.
*** BERSAMBUNG ***
๐ Hi readers jangan lupa tetap ninggalin jejak yah biar mommy masih semangat lanjutin cerita ini. Maaf kalau banyak kekurangan. Salam kecup jauh dari mommy๐๐
โค๏ธ Ketika kamu merasa rendah saat ada orang yang menilaimu tidak sesuai dengan harapanmu, ingat SATU HAL bahwa tidak semua orang dibumi ini menyukai hal yang sama. Boleh jadi kamu terlihat seperti sebuah jeruk dimata seekor kucing tapi terlihat menyerupai seekor Kijang dimata seekor Singa๐๐
__ADS_1