Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Surat Perceraian


__ADS_3

Setelah mengantar papa Lingga ke bandara untuk penerbangan ke Jerman dengan jet pribadi milik keluarga Biantara. Satya dan Ruby pun kembali ke kota M menggunakan pesawat komersial dengan mengambil kelas bisnis.


Meskipun didalam kamar mereka berdua sudah tidak memiliki jarak, tapi diluar kamar Ruby masih merasa canggung untuk bermesraan dengan Satya. Satya cukup mengerti mungkin karena ia belum terbiasa saja, apalagi belum banyak yang tau tentangnya sebagai istri tuan muda Biantara saat ini.


Berbicara tentang status Ruby sekarang, Satya tiba-tiba teringat bahwa hari ini adalah sidang putusan perceraiannya dengan Rania. Ia tadi sudah menghubungi Bagas untuk menyelesaikan semua masalah yang mungkin akan ditimbulkan dari isu perceraiannya.


***


Pengadilan Agama Kota M


Bagas terlihat keluar dari ruangan majelis hakim bersama dengan tim pengacara Satya dan Rania sambil memegang selembar kertas yang dibungkus oleh map berwarna biru ditangannya. Untung saja ia lebih dulu menekan media agar tidak memberitakan perceraian tuan mudanya pada masyarakat umum. Biarlah mereka tahu sendiri dari Satya saat nanti mengadakan konferensi pers.


Surat perceraian itu sebenarnya baru bisa terbit empat belas hari setelah sidang putusan saat pihak tergugat dan penggugat sama-sama tidak hadir dalam sidang. Tapi peraturan itu lagi-lagi tidak berlaku untuk tuan muda Biantara karena faktanya surat cerainya langsung keluar bersamaan dengan sidang putusannya.


Tidak ada perceraian yang membahagiakan bahkan saat Rania mendapat harta gono gini sebuah rumah mewah yang ditempatinya sekarang, sebuah anak perusahaan di daerah, saham sepuluh persen, dan uang tabungan sebesar lima milyard serta dua buah mobil sport dan minibus.


Tapi itulah jalan hidup yang sudah digariskan Tuhan untuknya. Ia sudah berlapang dada saat ini. Pun saat pengacaranya menelfonnya mengabarkan bahwa surat cerainya sudah terbit, ia hanya menghela nafas dalam-dalam kemudian menyunggingkan senyum tipis.


"Kalau kamu butuh bertemu dengan Satya, pergilah. Aku tidak keberatan sama sekali," ucap Rama yang saat itu sedang jalan-jalan di pusat perbelanjaan bersama Rania.


"Makasih pengertiannya Ram," balas Rania.


Sama seperti Rama, Ruby pun menyuruh Satya untuk menemui Rania saat mereka berada didalam mobil yang dibawa oleh pak Tanto menuju ke rumah utama saat pesawat sudah mendarat di bandara kota M.


"Mas, kalau kamu ingin menemui mba Rania sekarang, pergilah."


"Apa kamu yakin?" tanya Satya.


"Iya, aku yakin mas. Pergilah," balas Ruby sambil tersenyum.


"Baiklah, aku akan mengantarmu lebih dulu kerumah utama kemudian langsung menemui Rania." Ucapan Satya dibalas anggukan oleh Ruby. Satya kemudian mengirim pesan Watshap pada Rania meminta bertemu ditempat biasa dan tidak berselang lama mendapat balasan persetujuan oleh Rania.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu Nia?" tanya Satya saat mereka sudah berada di dalam ruangan VIP sebuah restoran mewah tempat mereka bertemu terakhir kali sebelum Rania melayangkan gugatan perceraian.


"Alhamdulillah seperti yang mas lihat sekarang, aku sudah lebih tegar," jawabnya dengan senyum tipis yang mengembang diwajah cantiknya.


"Surat perceraian kita sudah ada ditangan Bagas, kita sekarang sudah benar-benar berpisah Nia," ucap Satya dengan raut wajah yang menunjukkan kesedihan. Semua kenangannya dengan Rania kembali menari-nari dikepalanya.


"Iya mas, ternyata jodoh kita sangat pendek, aku pernah mengira akan melewati hari tua bersamamu ternyata dipersimpangan jalan kita harus memilih belokan yang berbeda," balas Rania dengan mata berkaca-kaca. Semua keromantisan yang pernah tercipta antara ia dan Satya seolah mengabsen satu per satu dikepalanya.


"Sekarang kita sudah punya kehidupan masing-masing mas, aku hanya berharap silaturrahmi ini tidak terputus meskipun kita tidak tinggal diatap yang sama lagi. Bumi ini masih bumi yang sama tempat kaki kita berpijak," lanjut Rania. Air mata yang sejak tadi membendung disudut matanya, sekarang tumpah juga membanjiri pipi putihnya.


"jangan larang aku untuk berhenti menangis mas, ini bukan air mata kesedihan. Ini hanya sebuah salam perpisahan dari aku karena setelah ini rumah yang tadinya milik kita berdua sekarang sudah menjadi milikku sendiri." Rania mencoba menghibur hatinya dengan mengajak bercanda pada Satya.


"Nia, apa kamu bahagia dengan pria yang sekarang bersamamu?" tanya Satya.


"Iya mas, Rama bisa membuatku tersenyum setiap hari. Bukankah itu disebut sebuah kebahagiaan?" Ucap Rania yang sekarang kembali tersenyum mendengar nama Rama disebut.


"Aku ikut bahagia mendengarnya," balas Satya.


"Dia sepertinya juga sudah mulai membuka hati untuk aku setelah tau hubunganmu dengan Rama."


Sampaikan salamku padanya mas, kapan-kapan kita atur waktu untuk double date." Ucapan Rania membuat Satya membulatkan kedua matanya.


"Are you sure?" tanya Satya.


"Yes, I'm." Jawaban Rania membuat Satya mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh arti.


"Oya mas, aku tidak bisa lama karena mau mengantar Andin mencari sesuatu di toko buku," ucap Rania kemudian berdiri.


Satya ikut berdiri. Sebelum Rania keluar dari ruangan itu, ia terlebih dulu mencium pipi kanan dan pipi Satya. Tidak lagi hati keduanya bergetar saat kulit mereka saling bersentuhan. Tidak lagi dada mereka bergemuruh saat tidak terlihat jarak dimana mereka berdiri.


Satya kembali duduk ditempatnya saat Rania sudah hilang dibalik pintu. Ia kembali merenungi perpisahan yang dulu tidak pernah sama sekali ada difikirannya.

__ADS_1


"Secepat itukah waktu berlalu, perasaan baru kemarin kita menikah, tau-tau sekarang kita sudah berpisah. Betul-betul tidak ada yang tahu akan seperti apa perjalanan hidup kita kedepannya," gumam Satya.


***


Rumah Utama Keluarga Biantara


"Halo cayang, anak bunda yang ganteng, kangen yah sama bunda." Ruby yang baru sampai dirumah utama langsung menemui baby Gyan yang lagi ayik bermain dengan Aydan setelah terlebih dulu menyapa ibunya bersama para pelayan yang sedang memasak didapur.


"Kakak sudah pulang?" tanya Aydan sambil mencium tangan Ruby.


"Ini kakak sudah ada disini," balas Ruby sambil meraih baby Gyan kedalam pelukannya.


"Nak Satya mana, nak?" tanya bu Rumana yang ternyata menyusul Ruby ke kamar melihat ia yang datang sendiri.


"Mas Satya sedang ada urusan bu, jadi ia tidak langsung pulang."


"cayang, unchhhhh, bunda kangen banget cama Gyan." Ruby tidak berhenti menciumi anaknya, seolah tau perasaan bundanya, baby Gyan juga tidak berhenti cekikikan saat perutnya disundul-sundul oleh kepala Ruby.


"Apa ibu sama Aydan betah disini?" tanya Ruby.


"Rumah sebesar ini, ibu tidak tahu mau ngapain nak apalagi banyak pelayan yang mengerjakan semuanya. Ibu tidak biasa dilayani. Sepertinya ibu mau pulang kampung saja dulu ngurus kebun dan ternak-ternak ibu," balas bu Rumana.


"Ibu pulang aja sendiri, Aydan masih mau disini. Disini bisa main game online sepuasnya, tidak perlu takut kuota habis. Mau makan apa juga tinggal bilang sama pelayan." Bu Rumana menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Aydan.


"Tinggallah lebih lama lagi bu, aku juga merasa tenang kalau ibu dekat sama aku," ucap Ruby.


"Kita liat aja nanti yah nak," balas bu Rumana sambil menarik nafas dalam-dalam.


🤩 Hi readers jangan lupa dukungannya yah biar mommy tambah semangat. Ada yang mau cerita dokter Anna dan dokter Nata dirilis sendiri gak? Hayooo siapa?šŸ¤—


Ayo dong Ramaikan juga cerita mommy disebelah CINTA DIBALIK PENOLAKANšŸ’™

__ADS_1


*** Semua kesedihan dan kebahagiaan sudah ditakar menurut porsinya masing-masing, tidak ada yang akan berkurang atau berlebihan karena Tuhan sebaik-baik yang paling adilā¤ļøā¤ļø


__ADS_2