
"Oya aku jadi lupa maksud aku menelfonmu. Aku memang tidak dekat sama Rania tapi sebagai mantan istrimu aku ingin kamu mengundangnya keacara pernikahanku nanti. Aku mau kalian semua datang kesini."
"Akan aku sampaikan Na, bagaimana dengan Nata apa ia juga akan datang?"
"Aku tidak tau Sat, ia kemarin menelfonku cuma untuk menanyakan perasaanku sama Adit. Aku belum menelfonnya lagi setelah itu tapi Adit pasti menghubunginya.
"Apa yang menurutmu baik saja, Na."
Satya bisa mendengar dokter Anna yang menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.
"Iya makasih Sat, kalau begitu sudah dulu yah. Salam buat Ruby."
Sambungan telfon dokter Anna pun terputus setelah Satya membalas ucapannya. Lama dokter Anna berfikir apa ia harus mengundang sendiri dokter Nata atau tidak. Biar bagaimanapun dokter Nata adalah sahabat yang paling dekat dengannya. Dan keputusannya adalah tidak menghubunginya lagi. Meski hatinya sangat ingin tapi ia berusaha kuat melawannya karena ia tidak mau semakin larut dengan perasaan yang akan kembali menyiksanya.
"Ya Tuhan kalau memang ia bukan jodohku tolong biarkan ia pergi jauh dari hatiku. Aku ingin memulai kehidupan yang baru tanpa bayang-bayangnya lagi," lirih dokter Anna.
Ia memejamkan mata sambil menundukkan kepalanya pada lantai kamar yang selalu jadi saksi kegalauan hatinya. Air matanya tidak dapat dibendung lagi.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar bunyi pintu kamarnya diketuk.
"Anna, boleh mama masuk?" Terdengar suara mamanya dari luar.
Anna perlahan berdiri dan membuka pintu untuk mamanya. Ia sekarang tidak bisa lagi menyembunyikan mata sembabnya.
"Kamu kenapa nak?" Tanya mama Ambar setelah menutup kembali pintu kamar dokter Anna.
"Mama..." Dokter Anna memeluk mama Ambar sambil terus menangis.
"Ada apa sayang? Cerita sama mama kamu kenapa?"
"Ma, apa salah kalau Anna mencintai orang yang hanya menganggapku sebatas sahabat?"
"Ada maksudmu nak?"
Dokter Anna tidak menjawab pertanyaan mamanya, ia terus saja menangis.
"Apa kamu menyukai Nata sahabatmu?" Tanya mama Ambar dengan bibir bergetar.
Ia memang kenal baik dengan dokter Nata karena dulu dokter Nata sering main kerumah dokter Anna waktu mereka masih kuliah. Dan mama Ambar tahu betul hanya dokter Nata sahabat baik anaknya.
"Apa aku salah ma?" Tanya dokter Anna lagi sambil terisak.
"Tidak ada yang salah dalam mencintai nak, yang salah itu kalau kita mencintai orang yang tidak tepat. Kalau kamu mencintai Nata, kenapa kamu menerima perjodohanmu dengan Adit?" Tanya mama Ambar sambil terus mengusap-usap kepala belakang dokter Anna.
"Nata mencintai oranglain, Ma."
"Apa Nata tahu bagaimana perasaanmu kepadaanya?"
"Tidak Ma. Aku tidak mau memberitahunya. Aku selalu menungggunya mengungkapkan lebih dulu tapi ternyata saat aku masih setia menunggu, aku tahu ia mencintai wanita lain."
Mama Ambar terdengar menarik nafas berat. Ia tidak habis fikir nasib percintaan anak satu-satunya itu setragis ini padahal dokter Anna cantik, pintar dan dari keluarga terpandang. Rasanya tidak ada yang akan menolaknya dengan semua kelebihan yang dimilikinya.
"Kalau begitu mantapkan hatimu pada orang yang sudah dipilih papa untukmu. Papamu pasti akan memilihkan calon yang baik untukmu Nak."
__ADS_1
Dokter Anna lagi-lagi diam, ia mempererat pelukan pada mamanya.
***
BANDARA KOTA M
"Bundaaa."
Seorang anak berusia kira-kira enam tahun berlari kecil mendekati Ruby yang sudah sejak tadi menunggu kedatangannya dibandara.
"Nendra, bunda kangen banget sama kamu sayang," ucap Ruby sambil memeluk Nendra.
Karena larutnya pertemuan antara anak dan ibu tersebut, ia sampai lupa kalau ada Sultan yang datang bersama Nendra.
"Bagaimana kabarmu kak?" Tanyanya pada Sultan setelah menyadari keberadaannya.
"Alhamdulillah baik By," balas Sultan tersenyum kearah Ruby.
"Adik Gyan mana bunda?" Sela Nendra.
"Adik Gyan ada disana sayang, kita kesana yuk." Ajaknya sambil memegang tangan Nendra.
"By, sepertinya aku harus pulang lebih dulu, aku akan sering-sering melihat Nendra kerumah utama sebelum aku benar-benar mendapat tempat yang aman dan nyaman untuk Nendra kalau aku sedang kekantor."
Langkah Ruby tertahan oleh ucapan Sultan.
"Baiklah kak, tidak usah sungkan. Kita sama-sama orangtua Nendra. Dimanapun Nendra bisa nyaman, bagiku tidak masalah kak, mau itu dikamu atau diaku sama saja."
"Makasih By."
Setelah itu mereka pun berpisah dari sana. Sultan berjalan keluar bandara sementara Ruby berbalik dan berjalan masuk menuju ruang khusus yang selalu ditempati oleh Satya saat sedang menunggu dibandara. Ia akan menemui Lila dan baby Gyan yang sejak tadi menunggu disana.
"Kamu lagi dimana sayang?" Tanya Satya dari seberang telfon.
"Aku masih dibandara sayang, Nendra baru saja datang," balas Ruby.
"Kalau begitu aku tunggu kamu di Resto Steak dekat kantor sayang, kita makan siang bareng."
"Baiklah sayang," jawab Ruby kemudian mematikan ponselnya.
"Halo cayang, Gyan kecayangan bunda. Lihat siapa yang datang."
Seolah mengerti dengan perkataan bundanya, baby Gyan tertawa kearah Nendra memperlihatkan lesung pipi indahnya. Ruby mengambil baby Gyan dari dalam strollernya kemudian ia menunduk dan mendekatkan wajah baby Gyan pada bibir Nendra agar ia bisa menciumnya.
"Sini sayang, kamu kangen kan sama adik Gyan. Nih adik Gyan minta disayang."
ummuah...ummuah...ummuah
Rendra menciumi kedua pipi adiknya yang sangat menggemaskan itu. Ruby sangat bahagia melihat kedua anaknya sehat-sehat.
"Kita pergi sekarang Lil, mas Satya ngajak makan siang di Resto dekat kantor."
"Oke non."
Mereka pun keluar dari bandara dan menaiki mobil yang dibawa oleh Lila.
__ADS_1
"Non, kalau aku nggak ikut masuk ke Resto, apa non bisa atasi baby Gyan sendiri?" Tanya Lila dengan hati-hati saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Nggak masalah Lil, aku bisa kog. Emang kamu mau kemana?"
"Aku ada urusan sebentar non. Kalau non Ruby sudah mau pulang, aku akan langsung kembali."
"Baiklah."
"Tapi non aja yang ngasi tau tuan muda yah. Aku takut nanti nggak dibolehin." Lila tersenyum penuh harap kearah Ruby.
"Iya, kamu tenang aja." Ruby tersenyum balik.
Lila memang sudah menganggap Ruby seperti saudaranya sendiri, ia sudah tidak terlalu sungkan untuk mengatakan sesuatu padanya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, mobil yang membawa mereka pun terlihat memasuki halaman parkir sebuah Resto Elit di pusat kota. Di tempat parkir VIPnya sudah terlihat mobil Satya nangkring disana.
Lila membawa mobilnya pas kedepan pintu masuk Resto.
"Kalau non sudah mau pulang, hubungi aku cepat yah. Aku dekat-dekat sini kog non." Ruby menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Ia kemudian turun dari mobil dan membawa anak-anaknya masuk kedalam.
"Maaf nyonya muda, mari ikut saya. Tuan muda sudah menunggu anda disana." Seorang pria berpakaian hitam putih dan memakai dasi sudah menunggu Ruby dipintu masuk dan membawanya ke ruangan khusus yang sudah dipesan Satya.
krek...krek
Pintu perlahan terbuka memperlihatkan Satya yang sedang duduk menyilangkan kedua kakinya, tapi ia buru-buru berdiri dan mendekati Ruby yang baru muncul dari balik pintu.
"Kamu sudah lama sayang?" Tanya Ruby sambil mencium pipi kanan dan kiri Satya.
"Baru sekitar 10 menit yang lalu." Jawab Satya.
"Lila mana?"
"Dia ada urusan sebentar sayang." Satya hanya memajukan sedikit bibir bawahnya menanggapi ucapan Ruby.
"Hi Nendra apa kabar?" Tanya Satya melihat ada Nendra dibelakang Ruby.
"Baik, om."
Nendra meraih tangan Satya dan menciumnya. Ia memang masih memanggil Satya dengan sebutan om karena hubungan mereka belum terlalu dekat seperti Satya dan Rendra kemarin.
"Mulai sekarang Nendra panggil papa yah sama om," ucap Satya sambil mengacak-acak rambut Nendra.
Nendra melihat kearah Ruby dan mendapati bundanya itu menganggukkan kepala.
"Iya pa," jawabnya pelan.
"Ini juga anak kesayangan papa."
Satya mengambil baby Gyan dari dalam strollernya. Baby Gyan yang sudah bangun, kembali tersenyum lebar kearah papanya. Satya langsung mendaratkan ciuman bertubi-tubi karena dibuat gemas sendiri oleh putra kesayangannya.
"Kita makan sekarang yah, Nendra pasti sudah lapar," ucapnya sambil menyimpan kembali baby Gyan kedalam strollernya.
❤️ Hi readers maaf yah kalau mommy belum bisa up dua bab lagi. Mommy udah masuk kantor sayang. Ini saja mommy bela-belain up sebelum siap-siap ke kantor hanya untuk readers kesayanganku😘🤗
__ADS_1
Jangan lupa yah mampir kesebelah 🌹 CINTA DIBALIK PENOLAKAN💚
💙 Tidak akan ada tawa bahagia kalau tidak ada tangis menyedihkan. Jangan terlalu bersedih jika tangis datang lebih dulu padamu karena tawa bahagia sedang bersiap-siap untuk mengganti tangis itu💙