
Siang itu Satya terlihat memasuki restoran privat tempat ia dulu dan Rania sering bertemu. Tapi kali ini bukan Rania yang ingin ditemuinya, melainkan Sultan. Setelah berada didalam resto tersebut, ia langsung menuju ruang VIP yang tadi sudah direservasi oleh Eliana. Tidak lama setelah ia berada diruangan itu, Sultan pun datang.
"Sudah lama Sat?" Tanyanya seraya menyalami Satya.
"Baru juga lima menit yang lalu aku sampai." Jawab Satya membalas uluran tangan Sultan.
"Kamu mau pesan apa, Sul?"
"Samain saja sama pesananmu."
Satya kemudian menghubungi waitres lewat alat pemanggil yang langsung tersambung keluar.
"Apa ada berita baru yang kamu bawa?" Tanya Satya memulai pembicaraan.
"Sepertinya orang yang menjebak kamu adalah orang yang sangat tahu seluk beluk kantormu hingga ia bisa memanipulasi data dengan sangat baik tanpa meninggalkan jejak."
"Tidak, ia tidak pintar bermain bersih karena aku menemukan sedikit celah untuk mengetahuinya."
"Apa kamu mencurigai seseorang?"
"Aku masih mencari bukti, tapi kita lihat saja nanti disidang berikutnya. Ia akan berlutut memohon maaf padaku karena aku akan menuntutnya balik hingga ia tidak akan pernah melupakan hari-hari dimana ia akan merasakan panasnya kursi pesakitan."
Sultan tidak berkata apa-apa membalas ucapan Satya, ia hanya membatin bahwa sekarang ia benar-benar yakin dengan tuan muda Biantara yang membuat takut semua orang saat ia sedang marah. Sultan sendiri merinding mendengar perkataaanya.
"Kalai kamu butuh bantuan, kamu bilang aja langsung, Sat."
"Iya, tentu."
"Besok acaranya Rania kan? Apa kamu juga datang?" Tanya Sultan.
"Rania sudah kuanggap seperti adik kandungku sediri, aku pasti akan datang." Jawab Satya.
"Aku senang melihat hubungan kalian yang tidak berubah setelah berpisah," tambah Sultan.
"Bukankah kamu dan Ruby juga begitu?"
Keduanya kemudian tertawa bersama saat Sultan mengiyakan.
"Kita tidak boleh memutus tali siraturahmi sekalipun hubungan rumah tangga kita sudah berakhir. Semua terjadi atas kehendak yang di_Atas." Ucap Sultan.
"Iya, kamu benar." Timpal Satya.
Setelah mereka makan siang dan berbincang sebentar, Sultan pun pamit kembali ke kantornya. Begitu juga Satya yang masih ada kerjaan dikantor, memutuskan untuk kembali kesana.
Sebelum memeriksa beberapa berkas diatas mejanya saat tiba dikantor. Ia terlebih dulu ingin menelfon Ruby. Tapi baru saja ia akan meraih ponselnya, ponsel itu sudah lebih dulu berdering.
"Halo sayang, aku baru saja akan menelfonmu." Kata Satya setelah ia mengangkat telfonnya.
"Benarkah mas? Berarti kita sehati dong."
Terdengar suara lembut Ruby dari seberang yang membercandai Satya.
"Kamu sudah makan sayang?" Tanya Satya.
"Iya sayang tapi..."
Ruby menghentikan ucapannya, membuat Satya penasaran.
"Tapi apa sayang?"
__ADS_1
"Aku...aku pengen banget makan cilok yang dipinggir jalan sebelum belok ke rumah utama, mas."
"Cilok yang mana?"
"Yang gerobaknya warna biru itu.*
"Aku tidak tahu yang mana."
"Ya sudahlah mas kalau kamu tidak tahu, aku juga tidak mungkin bisa memakannya sebelum balik ke kota M."
"Apa kamu akan membuat anakku ileran jika menginginkan sesuatu dan tidak mendapatkannya?"
"Lalu aku harus gimana mas? Apa aku harus balik ke kota M sekarang?"
"Tidak perlu, Bagas akan mengurus semuanya. Kamu cukup duduk manis disana sambil menunggu kedatangan Bagas."
"Apa perlu aku kirim sekalian dengan penjualnya?"
"Kamu selalu bercandain aku, mas."
"Aku serius sayang, kalau penjualnya ikut, kamu bisa makan sepuasnya. Ia akan dipulangkan setelah kamu bosan makan cilok."
"Tidak usah mas, aku juga bukan mau bikin hajatan sampai penjualnya harus diundang datang."
Ruby terkekeh mendengar keusilan suaminya.
"Terserah kamu saja kalau gitu. Gyan lagi ngapain, sayang?"
"Gyan lagi tidur mas, entar aku VC kalau ia sudah bangun yah."
"Oke."
"Kalau gitu udah dulu yah mas, aku mau nyiapin air mandi Gyan dulu."
"Ummuachhh."
Setelah sambungan telfon terputus, Satya kemudian menghubungi Bagas dan menyuruh datang ke ruangannya.
"Ada apa tuan muda?" Tanyanya saat ia sudah berada dihadapan Satya.
"Cari tahu tentang penjual cilok yang selalu nangkring di belokan sebelum ke rumah utama. Gerobaknya berwarna biru?"
Bagas terlihat mengerutkan keningnya mendengar perintah tuan mudanya.
"Ada apa dengan penjual cilok itu tuan muda? Anda tidak bermaksud mengelola perusahaan cilok kan?"
"Kamu yang benar saja kalau ngomong. Apa aku punya tampang seperti pengusaha cilok?"
"Tidak sama sekali tuan muda. Lalu untuk apa aku harus mencari tahunya."
"Ruby sepertinya ngidam makan cilok, aku tidak mau calon anakku makan makanan yang tidak sehat jadi sebelum kamu membawakannya ke Jerman, periksa lebih dulu cara pembuatannya."
"Aku akan ke Jerman hanya untuk membawakan nyonya muda cilok?"
"Iya. Apa ada masalah?"
"Tidak ada yang jadi masalah buat anda tuan muda." Balas Bagas cepat.
"Tapi masalah buat aku tuan muda, bagaimana mungkin istri anda yang hamil dan masih harus aku juga yang mengurus ngidamnya." Batin Bagas menangis dalam hati.
__ADS_1
"Bagus. Lakukan hari ini juga. Kerjaan kantor biar aku yang handle."
"Baik tuan muda."
Bagas menghela nafas berat setelah ia berbalik keluar dari ruangan Satya. Satya sudah seperti saudaranya sendiri, ia tidak ingin menolak apa pun perintah Satya. Bukan karena bayarannya yang tinggi tapi hatinya yang tak kuasa membuat Satya kecewa.
***
"Nia, apa kamu bisa menerima semua kekuranganku dengan tulus?" Tanya Rama saat ia sedang menelfon Rania yang sudah tidak diizinkan bertemu dengannya karena besok sudah akan dilangsungkan akad nikah keduanya.
"Aku tidak akan melangkah sejauh ini kalau hatiku tidak yakin bisa menerimamu dengan tulus, Ram."
"Aku juga punya banyak kekurangan, sebuah hubungan akan bertahan lama jika kita tidak saling melihat kekurangan itu melainkan menyatukan keduanya agar bisa menjadi sebuah kelebihan." Lanjut Rania.
Rama menghela nafas berat, didadanya seperti ada sebuah benda berat yang menimpanya.
"Boleh aku bertanya satu hal, Nia?"
"Katakan saja Ram."
"Jika nanti aku pergi lebih dulu, apa kamu mau merawat Andin sendiri? Andin sudah tidak mau pergi sama oranglain termasuk keluargaku, ia lebih senang bersamamu."
"Kamu bicara apa Ram, kamu tidak akan pergi kemana-mana karena besok adalah hari paling penting dalam hidup kita."
Suara Rania seketika terdengar pelan seolah ada sesuatu yang melintas dihatinya.
"Kita tidak pernah tahu berapa lama umur kita dibumi ini, Nia. Aku tidak bilang besok, aku hanya bilang siapa tahu nanti aku yang lebih dulu meninggalkanmu. Apa kamu mau berjanji untuk aku?"
"Andin sudah kuanggap anakku sendiri Ram, aku bahagia sekali jika ia mau hidup bersamaku selamanya."
"Tapi tolong berhenti mengatakan kamu akan pergi karena kita akan merawat Andin bersama-sama."
"Makasih Nia, aku sekarang sudah merasa lega karena sudah mendengar itu dari mulutmu sendiri. Iya, kita akan merawat Andin bersama-sama."
"Iya, Ram."
"Bagaimana persiapan disana?"
"Acara pengajian disini baru saja selesai Ram. Kalau disana?"
"Sama Nia. Aku juga baru saja masuk kedalam kamar. Andin tadi pengen lagi diantar ketempatmu tapi aku bilang kamu sedang tidak bisa diganggu saat ini."
"Anak itu selalu ngajakin aku main, Ram."
"Dan kamu selalu menurutinya, makanya ia senang bersamamu."
"Mau bagaimana lagi mas, aku juga nggak punya teman main lagi."
Rania tertawa renyah mengingat kelakuannya saat bersama Andin. Ia memang sudah lama tidak berhubungan dengan Aya selama Aya sudah bekerja diluar negeri. Dan selama ini hanya Aya satu-satunya sahabat dekatnya.
"Aku sudah tidak sabar tinggal serumah dengan kamu, Nia."
Ucapan Rama menyentak Rania dari lamunan.
"Iya Ram, aku juga. Semoga ini adalah pernikahan yang terakhir untuk kita."
"Aku sudah meyakinkan diriku bahwa ini adalah yang terakhir, dan tidak akan ada pernikahan lagi sesudahnya."
Ucapan Rama terdengar menyiratkan arti yang dalam. Rania yang berada diseberang telfon hanya tersenyum kecil seraya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya Ram."
❤️ Hi readers kesayangan mommy, jangan lupa ninggalin jejak yah diakhir cerita, kalau bisa ngasih vote rekomendasinya juga🤭🤗