Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Apartemen Bagas


__ADS_3

"Kamu sudah mau berangkat ke kantor, mas?" tanya Ruby melihat suaminya sudah rapi dengan setelan jas yang dikenakannya.


Ia memang kembali tertidur sebentar setelah pergulatannya dengan Satya. Entah kenapa ia merasa sangat malas menggerakkan tubuhnya hari ini.


"Iya, sayang. Aku ada janji dengan Sultan."


Ruby bangkit dari tempat tidur dengan hanya melilitkan selimut tipis di tubuhnya. Melihat itu, mata Satya kembali berkelana dan langsung meraih tubuh istrinya.


"Apa kamu tidak bosan menggodaku pagi ini? Sepertinya aku harus membatalkan janjiku dengan Sultan." ucapnya menyeringai tipis.


"Mas, aku pengen ke kamar mandi. Aku udah nggak tahan mau mixi."


"Kalau begitu aku akan menggendongmu kedalam." ucapnya seraya mengeratkan pelukan pada pinggang Ruby.


"Mas, udah dong. Kak Sultan pasti sudah menunggumu sekarang."


Satya masih ingin mendebat Ruby tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ruby untuk melepaskan diri dari suaminya.


Satya kemudian merogoh saku celananya dengan sedikit kesal apalagi saat ia melihat siapa yang sedang menelfonnya.


"Apa kamu sudah tidak sabar dikirim ke kutub selatan kalau mengganggu kegiatan pagiku!" serunya setengah berteriak.


"Maaf tuan muda, aku hanya ingin memberitahu anda kalau aku tidak bisa ke kantor hari ini karena sedang sakit." jawab si penelfon dari seberang dengan suara serak khas orang sakit.


"Hahaha, kamu sedang mengajakku bercanda yah? Seorang Bagas yang punya banyak stok kebugaran, sedang sakit?"


"Tapi aku serius tuan muda. Badanku sangat panas dan semua tulang-tulangku serasa mau rontok."


"Apa? Jadi kamu tidak sedang bercanda?"


"Kerjaanku banyak tuan muda. Aku bahkan tidak punya waktu untuk mengajak anda bercanda."


Nada bicara Bagas terdengar sedikit ketus. Ia kesal Satya malah menertawakannya saat ia benar-benar sedang sakit.


"Baiklah, baiklah..., kamu hubungi dokter pribadi keluarga Biantara sekarang juga dan suruh datang ke apartemenmu untuk memeriksamu."


"Terima kasih tuan muda."


"Iya sama-sama. Kamu istirahat saja."


Mendengar kata Bagas disebut, Ruby yang sejak tadi menguping, bertanya pada suaminya.


"Itu Bagas yah? Bagas kenapa, mas?"


"Apa kamu sudah selesai mixi?"


"Ih kamu apaan sih, mas. Aku kan nanya Bagas kenapa?"

__ADS_1


"Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu begitu perhatian pada Bagas. Apa kamu menyukainya? Aku akan mengurungmu didalam kamar sampai kamu menua kalau itu benar terjadi."


"Kamu bicaranya makin Ngaco' deh, mas."


Satya langsung mengecup bibir istrinya yang sedang dimanyunkan karena kesal mendengar ucapannya.


"Bagas lagi sakit, sayang. Aku harus buru-buru ke kantor untuk menghandle semua kerjaan disana."


Ruby seketika tersenyum mendengarnya, ia jadi punya cara lagi untuk mendekatkan Lila dan Bagas.


"Kasian sekali Bagas, mas. Lalu siapa yang mengurusnya? Dia kan tidak punya siapa-siapa disini selain kita, mas."


Ruby mulai melancarkan aksinya.


"Jadi apa kamu berfikir ingin merawatnya?"


"Nggak, mas. Nggak sama sekali."


"Ihhh..."


Ruby mencubit perut Satya.


"Au..., sakit sayang."


"Kamu sih mas, kalau bicara suka nggak bener."


"Lalu apa maksud kamu, istriku sayang?"


"Kamu atur saja semuanya, sayang. Yang penting kamu senang."


"Makasih, mas."


"Kalau begitu aku ke kantor dulu, sayang. Istrirahat yang banyak karena sepulang dari kantor nanti, aku ingin mengunjungi anakku lagi."


Ruby hanya menanggapi dengan senyum ucapan suaminya. Satya kemudian mengecup kening Ruby yang dibalas Ruby dengan mencium tangan suaminya tersebut.


***


Sehabis mandi dan merapikan wajahnya di cermin, Ruby kemudian turun ke lantai bawah menemui Lila. Sesampainya disana, ia mendapati wanita berparas manis itu sedang bermain bersama putranya.


"Lil, mas Satya menyuruhmu ke apartemen Bagas membawakan bubur untuknya." ucap Ruby memulai aksinya tanpa basa basi.


Ia sengaja mengatas namakan suaminya agar Lila tidak terlalu curiga dengan rencananya. Lila seketika tersentak mendengar ucapan Ruby.


"Ke apartemen mas Bagas? Membawakan bubur? Ada apa dengan pria menyebalkan itu?" batin Lila.


"Lil, apa kamu mendengarku?"

__ADS_1


"I-iya non, emang mas Bagas kenapa?"


"Bagas lagi sakit Lil, kasian dia nggak punya siapa-siapa disini. Makanya mas Satya memintamu kesana."


"Lalu bagaimana dengan Gyan, non?"


"Kamu tenang saja, Lil. Aku bisa mengatasinya kog."


Dengan sangat berat hati akhirnya Lila mengiyakan perintah nona mudanya.


***


Mobil yang dikendarai Lila melaju pelan membelah jalanan kota M. Ia sengaja melambatkan jalannya karena tidak ingin cepat sampai di tujuan.


Tapi setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, ia akhirnya sampai juga di depan sebuah apartemen mewah dan terkenal di kota itu. Dengan malas, ia melangkah memasuki lift.


Dan sekarang ia sudah berdiri didepan kamar bertulis angka 901. Ia membunyikan bel dengan tangan bergetar.


Tidak lama kemudian pintu sedikit terbuka. Dan muncullah wajah yang sangat dikenalnya dan juga sangat dibencinya. Bukannya mempersilahkan dirinya masuk, pria itu malah mengomelinya. Menyebalkan sekali, bukan?


"Kamu ngapain kesini?" kata pria itu dengan nada tidak bersahabat.


"Tuh kan, sakit aja dia masih bersikap begitu. Huft, kenapa sih non Ruby harus menyuruhku kesini." batin Lila.


"Hey, kamu tidak tuli kan?" bentaknya pada Lila.


Tapi Lila tidak perduli.Ia malah mendorong pintu dan masuk kedalam, membuat tubuh Bagas terdorong ke belakang.


"Eh, kenapa kamu masuk? Kamu sangat tidak sopan. Tuan rumah belum mempersilahkanmu masuk tapi kamu langsung nyelonong aja."


"Bodoh amat. Aku juga tidak akan kemari kalau bukan non Ruby yang menyuruhku." balas Lila melawan.


Ia kemudian langsung menuju kearah dapur untuk memindahkan bubur yang dibawanya kedalam piring.


"Kamu mau ngapain sih disini? Masuk keapartemen orang tanpa izin terus sekarang langsung ke dapur tanpa memperdulikan tuan rumahnya. Apa kamu kira ini rumahmu?"


"Kamu bisa bicara baik-baik sedikit, nggak? Tuan Bagas yang terhormat aku datang kesini membawakanmu bubur atas perintah non Ruby karena katanya kamu lagi s-a-k-i-t." balas Lila menegaskan kata Sakit.


"Tapi melihat kamu marah-marah terus, aku jadi sangsi dengan ucapan non Ruby."


Bagas langsung terdiam mendengar ucapan Lila.


"Ini buburnya, makanlah."


Saat Bagas ingin meraih piring dari tangan Lila, kepalanya tiba-tiba pusing. Ia sudah terjatuh kalau saja Lila tidak cepat menyangganya. Lila langsung kaget melihat pria itu, ia tidak menyangka seorang Bagas yang selalu terlihat gagah mempertontonkan tubuh atletisnya dengan penuh keangkuhan, sekarang terkulai tak berdaya dihadapannya.


Lila memapah tubuh Bagas dan membawanya ke sofa. Ia membaringkannya terlebih dulu, sebelum menelfon dokter pribadi keluarga Biantara.

__ADS_1


๐Ÿงก Yang udah penasaran sama unboxing dokter Adit dan dokter Anna, sabar yah. Ini masih siang loh. Nunggu malam dulu๐Ÿคญ๐Ÿ’‹


๐Ÿ’œ Jangan bersikap angkuh dengan apa yang ada pada dirimu karena pemilik semesta punya beribu cara untuk menundukkanmu ๐Ÿ’œ


__ADS_2