
"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya dokter Adit berbasa-basi pada istrinya saat melihat wanita itu membuka mata.
Ini hari kedua saat pertama kali dokter Adit menjadi suami seutuhnya untuk dokter Anna. Dan mereka kembali mengulanginya semalam. Kalau kemarin pria yang berprofesi sebagai dokter spesialis itu sangat enggan untuk beraktivitas. Beda halnya hari ini, sekarang ia sudah terlihat rapi dengan kemeja yang dikenakannya. Lengan kemejanya digulung sampai siku membuat kesan laki semakin terpancar dari dirinya.
"Apa kamu akan keluar, mas?"
"Iya, sayang. Aku ingin menemui Prof Ludwig karena dia yang akan mengurus semua masalah terkait kepindahanku. Dari sana aku juga bermaksud menemui Nata. Apa kamu ingin ikut bersamaku?"
Dokter Adit sekarang sudah tidak canggung lagi memanggil dokter Anna dengan sebutan sayang.
"Nggak, mas. Aku ingin dirumah saja. Titip salam buat tante Arayu dan Nata."
"Baiklah, sayang. Tapi mungkin aku akan pulang agak sore. Kalau entar kamu merasa bosan, kamu jalan-jalan saja ketempat teman atau ngajak teman keluar nyari angin. Yang penting temannya bukan laki, sayang."
"Aku kan nggak punya temen disini, mas. Dikota M juga cuma Nata yang selalu jalan bareng sama aku."
"Iya juga yah teman dekatnya kan cuma Nata."
"Ruby?" tanya dokter Adit tiba-tiba teringat dengan wanita itu.
Dokter Adit tahu beberapa waktu belakangan istrinya terlihat dekat dengan ibu dari baby Gyan yang dulu sering dijaganya.
"Ruby sudah kembali ke kota M, mas."
"Oya? Bukannya dia baru datang minggu lalu?"
"Entahlah, mas. Katanya Satya sedang dalam masalah."
"Tidak ada masalah yang dianggap besar bagi seorang Satya Biantara. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Mungkin Ruby cuma merindukan suaminya."
"Sepertinya begitu, mas."
"Kalau begitu aku pergi yah, sayang. Aku akan usahakan kembali secepatnya."
Dokter Adit mendekatkan bibirnya pada wajah dokter Anna dan mengecup lembut kening istrinya tersebut.
Inilah Alasan kenapa dokter Adit memutuskan untuk kembali ke kota M karena dokter Anna bukan orang yang gampang bergaul dengan oranglain. Temannya hanya Nata, dan jika mereka kerja ditempat yang sama dengan dokter Nata, bukan tidak mungkin kedekatan itu akan terjalin lagi. Apalagi ibu dari sahabatnya tersebut masih suka menjodoh-jodohkan mereka tanpa memperdulikan perasaan dokter Adit.
***
"Mas, Lila kog belum pulang yah? Tadi aku hubungi ponselnya tapi nggak dijawab." tanya Ruby saat ia sedang menikmati sarapan pagi dengan suaminya.
"Tumben kamu hanya menghubungi Lila. Biasanya juga kamu langsung menghubungi Bagas, sayang." balas Satya menggoda istrinya.
"Nggak gitu juga kali', mas. Aku menghubungi Bagas karena ada perlu sama dia."
Satya tersenyum karena berhasil membuat istrinya cemberut.
"Melihat kamu manyun begitu aku jadi gemes ingin memakanmu lagi."
__ADS_1
Mendengar ucapan Satya, Ruby buru-buru mengambil ancang-ancang untuk melindungi diri. Ia sangat tahu suaminya itu tidak pernah main-main. Melihat itu, Satya malah tertawa.
"Hahaha... Kamu lolos hari ini, sayang. Aku sudah ada janji dengan Sultan sehabis meeting."
"Kalau kamu buruan habisin sarapannya. Entar telat lagi."
"Tidak masalah, aku kan bosnya."
"Justru karena kamu bosnya, mas. Makanya harus ngasi contoh yang baik buat bawahan."
"Iya, iya, sayang."
Satya pun kembali melanjutkan sarapanya. Setelah sarapan, ia berpamitan pada Ruby. Tidak lupa ia mencium kening dan perut istrinya sebelum berangkat. Tentunya tidak ketinggalan pipi gembul putra kesayangannya, baby Gyandra.
Jalanan pagi itu belum terlalu padat kendaraan hingga Satya tidak butuh banyak waktu untuk sampai dikantornya. Sebelum masuk keruangannya, ia terlebih dulu menyapa Eliana, sekretarisnya.
"Selamat pagi, Eliana."
"Selamat pagi, tuan muda."
Eliana sedikit membungkukkan badannya. Ia sangat senang, Bosnya sekarang bukan lagi bosnya yang dulu sangat jutek dan dingin. Satya kini terlihat banyak berubah, ia lebih sering menyapa Eliana saat berpapasan. Membuat wanita yang juga berstatus istri tersebut semakin merasa nyaman bekerja di kantor Biantara Grup.
"Siapkan bahan meeting secepatnya karena aku ada janji dengan Sultan sehabis meeting."
"Baik, tuan muda."
Hanya berselang lima menit kemudian, pria itu sudah nampak didepan ruangan CEO. Ia langsung masuk setelah mendapat izin dari pemiliknya.
"Bagaimana kabarmu, Sul?"
"Aku baik, Sat."
"Ayo silahkan duduk."
"Makasih."
Setelah bersalaman, kedua pria itu pun duduk pada sofa yang sudah dipersiapkan untuk menerima tamu diruangan Satya.
"Gimana, Sul. Apa ada perkembangan baru?"
"Iya, Sat. Ini sepertinya titik terang untuk melemahkan tuntutan itu."
"Katakan berita bahagia itu, Sul."
"Kamu masih ingat dengan Pak Diki? Ayah dari anak yang sudah menjebakmu hingga bertemu Ruby?"
"Iya, dia salah satu karyawanku dulu."
"Nah ternyata dia yang sudah merencanakan semua ini dengan melibatkan rekan kerja barunya yang berasal dari luar negeri. Awalnya mereka setuju karena di iming-imingi keuntungan dua kali lipat dari kerja samanya tapi ternyata itu hanya bualan Pak Diki. Akhirnya perusahaan tersebut menarik tuntutannya karena merasa dibohongi oleh Diki."
__ADS_1
"Benar-benar kurang ajar pria tua itu. Tapi sudahlah aku tidak ingin lagi memperpanjang masalah dengan siapapun. Sekarang aku hanya ingin hidupku lebih tenang dengan keluarga kecilku."
"Pemikiran yang matang, Sat."
Satya tersenyum menanggapi ucapan Sultan. Ponselnya tiba-tiba berdering, ia melihat nama Rania memanggil pada layar ponsel. Untuk pertama kalinya setelah kematian Rama, Rania menelfonnya.
"Aku angkat telfon dulu, Sul."
"Iya silahkan."
Karena merasa tidak ada hal rahasia yang akan ia bicarakan dengan Rania, Satya tidak bergeser dari tempatnya duduk dihadapan Sultan.
"Halo Nia, gimana kabarmu?"
Sultan seketika mengerutkan keningnya saat tahu yang menelfon itu Rania.
"Aku baik, mas. Kamu dan Ruby gimana kabarnya?"
"Aku dan Ruby juga baik-baik saja."
"Syukurlah kalau gitu, mas."
"Kalau kamu ada waktu, jalan-jalanlah kerumah utama. Aku dan Ruby pasti akan sangat senang menerima kedatanganmu."
"Iya, mas. Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat ini karena aku sekarang sudah berada di bandara. Sampaikan saja salamku pada Ruby, Ibu, Papa, dan Grandma."
"Bandara? Kamu mau kemana? Apa kamu sedang ada masalah? Kenapa suaramu terdengar seperti itu, Nia?"
Rania memang sedang menahan tangisnya yang saat ini ingin pecah. Sementara Sultan yang mendengar Satya menyebut kata Bandara, seketika merasa sangat gelisah. Karena terlalu sibuk akhir-akhir ini, ia sampai tidak punya waktu mengunjungi Rania. Ia hanya mengirim pesan pada wanita itu dan hanya dijawab singkat oleh Rania.
"Aku akan ke Paris, Sat. Aku juga tidak tahu berapa lama akan menetap disana. Mungkin selamanya..."
"Apa? Paris? Kamu harus fikirkan baik-baik dulu keputusanmu ini, Nia."
"Aku sudah memikirkannya dengan baik, mas. Dan keputusan akhirku sudah tidak berubah lagi."
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Nia?"
"Nggak ada, mas. Kita sekarang bukan lagi siapa-siapa. Hanya sekedar teman biasa. Aku memberitahumu hanya agar kamu tidak bertanya-tanya saja suatu saat kemana aku pergi."
Saat Satya masih mencerna semua ucapan Rania. Sultan tiba-tiba berdiri dan buru-buru pamit pada Satya dengan menangkupkan kedua tangannya. Tanpa menunggu jawaban dari Satya, ia bergegas keluar dari ruangan tersebut.
❤️ Happy reading kesayangan mommy🤗
Oya mommy bikin cerita ini bukan yang langsung loncat beberapa bulan kemudian yah, tapi dari hari ke hari. Jadi tolong dibaca baik-baik. Perasaan Ruby divonis hamil belum sampe sebulan loh, jadi gimana mau besar aja kandungannya🙈
💜 Oya cover cerita Dokter Nata sudah jadi loh, kalau mau menemani kisah perjalanan Cinta yang sangat pelik bagi dokter tampan itu, ayo dong kasi Vote Rekomendasinya di novel ini biar mommy semangat buat nulis disini😘
__ADS_1