
KOTA M
"Bagas, persiapkan dirimu untuk berangkat ke Jerman malam ini!" ucap Satya saat memanggil Bagas datang ke ruangannya.
"Apa ada masalah tuan muda?" tanya Bagas santai.
Ia sudah bisa menebak ini pasti berkaitan lagi dengan Nyonya mudanya.
"Aku ingin kamu menggantikan peranku disana menjaga Ruby dan putraku."
"What? Apa maksud tuan muda aku harus me..."
Bagas belum menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah pulpen mendarat di keningnya.
"Au..." jeritnya seraya menatap heran kearah Satya.
"Bisa tidak kalau fikiranmu jangan selalu dibawa negatif mulu. Aku memintamu menjaga Ruby dan mengantarnya kemanapun ia akan pergi karena aku merasa khawatir jika ia kemana-mana sendiri."
"Maaf, tuan muda."
Bagas sudah salah sangka pada Satya bahwa ia akan disuru menggantikan perannya menjadi suami Ruby. Ia tertawa dalam hati mengutuki dirinya sendiri. Satya kemudian kembali berucap,
"Keluar dari sini, kamu langsung saja pulang untuk melakukan persiapan keberangkatanmu."
"Tapi tuan muda, besok adalah sidang pertama kasus hukum yang menjerat anda."
"Pengacara kita sudah mengatur strategi untuk melumpuhkan lawan karena mereka menemukan beberapa kejanggalan pada laporan yang diajukan. Sultan juga ada dibelakang kita."
"Baiklah kalau begitu. Aku pamit pulang, tuan muda."
Satya menganggukkan kepalanya, tapi sebelum Bagas keluar dari ruangan itu, ia kembali memanggilnya.
"Bagas, jaga baik-baik istri dan putraku disana!"
Suara Satya terdengar sangat lemah seolah tak bertenaga. Untuk pertama kalinya Bagas melihat tuan mudanya begitu mengkhawatirkan seseorang.
"Baik tuan muda, anda tidak perlu khawatir." Ucapnya kemudian berlalu keluar dari ruangan itu.
***
JERMAN
"Assalamualaikum."
Ucap seorang wanita paruh baya yang lagi-lagi terlihat cantik dengan dress berwarna pastel yang dikenakannya pagi itu ketika membuka pintu kamar perawatan dokter Adit dan dokter Nata.
"Waalaikumsalam."
Ketiga dokter tersebut yang memang sudah bangun sejak tadi saat sarapan datang, menjawab hampir bersamaan. Dokter Anna yang sedang menyuapi dokter Adit terlihat menyimpan piring yang dipegangnya dan membungkukkan badan kearah wanita itu. Sementara wanita paruh baya itu hanya tersenyum kecil menanggapinya, ia terus saja berjalan mendekati tempat tidur dokter Nata. Wanita itu adalah tante Arayu, ibu dokter Nata. Entah kenapa ia merasa kurang senang melihat dokter Anna sedang menyuapi dokter Adit. Ia bahkan berharap saat ini dokter Anna akan mengurus putranya, dan bukannya dokter Adit.
"Mama?" ucap dokter Nata sedikit terkejut sekaligus bahagia karena masih bisa melihat wajah wanita yang sangat disayanginya itu.
__ADS_1
"Putra kesayangan mama, akhirnya kamu kembali sayang."
Tante Arayu langsung menghambur dan memeluk erat tubuh dokter tampan itu.
"Mama, apa kabar?" tanyanya seraya merenggangkan pelukan mamanya yang hampir saja membuatnya tidak bisa bernafas.
"Harusnya mama yang bertanya bagaimana kabarmu, dasar anak nakal."
Tante Arayu melepas perlahan pelukanya dan memeriksa semua bagian tubuh dokter Nata yang terluka. Ia merasa sangat sedih melihat kondisi putra kesayangannya saat ini. Ia lalu duduk diatas tempat tidur disamping dokter Nata.
"Kamu kenapa nggak bilang sama mama kalau kamu akan berangkat ke Yunani? Tau gitu mama pasti tidak akan mengizinkanmu."
"Karena itu, Nata nggak ngasi tahu mama." jawab dokter Nata seraya tersenyum.
"Dasar anak nakal." balas Tante Arayu sambil mencubit perut dokter Nata.
"Au sakit, Ma."
"Mama meridukanmu, sayang. Kamu sudah lama nggak pulang."
Permata bening jatuh dibawah mata wanita yang masih terlihat cantik meski sudah berumur itu. Dokter Nata adalah putra satu-satunya keluarga Arghany. Sejak dokter Nata memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Jerman sampai ia bekerja pada salah satu Rumah Sakit terbaik disana, mereka sudah jarang sekali menghabiskan waktu bersama bahkan nyaris tidak pernah.
"Nata juga merindukan mama." balasnya seraya menghapus permata bening diwajah ibunya.
Ia kemudian kembali merangkul ibu yang pernah berjuang untuk melahirkannya hingga bisa seperti sekarang.
Dokter Anna dan dokter Adit yang melihat pemandangan itu ikut terharu. Ia sejak tadi sudah menghentikan aktifitas sarapannya dan menonton drama antara ibu dan anak yang berada tepat disampingnya.
Sadar ia diperhatikan oleh kedua pasang mata suami istri itu, dokter Nata melihat kearah mereka dan menyunggingkan senyumnya.
Sementara tante Arayu sama sekali tidak berpaling.
"Tidak apa-apa, Nat. Santai saja." balas dokter Adit dengan senyum terulas.
Tiba-tiba terlintas sebuah fikiran lain pada wanita paruh baya itu membuat ia menyunggingkan senyum tipis. Ia lalu berpaling dan menatap dokter Anna.
"Na, tante boleh minta tolong nggak?" tanyanya dengan wajah memelas.
"Iya tan, ada apa?"
"Tante kan baru mau bertemu dengan dokter yang menangani Nata. Tante ingin tahu lebih awal, apa Nata bisa pulih dengan cepat."
"Iya tan, silahkan."
"Tapi Nata belum sarapan. Apa boleh tante minta tolong untuk menyuapi Nata? Nata kan sahabat kalian juga."
"Ma! Mama apa-apaan sih. Mama kan bisa ngasi makan aku dulu baru kemudian menemui dokter." sahut Nata yang kaget mendengar permintaan Mamanya.
"Tapi mama mau menemui dokter sekarang. Mama ingin segera tahu bagaimana kondisi tulangmu."
"Tante Sophy kan sudah memberitahu mama lewat telfon."
__ADS_1
"Mama ingin mendengar langsung dari dokternya sendiri. Mama kurang puas kalau cuma dengar dari Sophy."
Saat dokter Nata berdebat dengan mamanya, dokter Anna hanya bisa mematung ditempatnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara dokter Adit yang juga kaget mendengar ucapan tante Arayu mencoba bersikap biasa saja didepan istrinya. Keduanya lalu saling menatap. Dokter Adit yang melihat istrinya kebingungan, menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil menandakan ia mengizinkan dokter Anna menerima permintaan tante Arayu. Tapi dokter Anna yang tahu posisinya sekarang sebagai istri, mengeleng-gelengkan kepalanya meskipun suaminya sudah mengizinkan.
***
"Lil, makan siang baby Gyan sudah siap?"
"Iya sudah, non. Apa non Ruby mau ngasi makan sendiri atau biar aku saja?"
"Aku kasi makan sendiri aja, Lil."
"Baik, non. Aku ambil dulu yah makanannya."
Hanya selang beberapa menit, Lila sudah kembali dari dapur membawa makanan baby Gyan dan memberikannya pada Ruby yang sedang bermain diruang tamu bersama bayi mungilnya yang semakin terlihat lucu dengan badan montoknya.
"Ini, non."
"Makasih, Lil."
Setelah melihat suapan pertama masuk kedalam mulut baby Gyan, Lila kemudian melangkah kembali ke kamarnya. Ia bermaksud untuk istirahat siang itu. Tapi baru saja ia merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk, ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan enggan ia meraihnya dari nakas disamping tempat tidur. Mata yang tadinya sudah hendak terpejam, seketika membulat sempurna melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Ia membiarkan saja ponsel itu terus berbunyi karena ia malas menjawabnya. Hingga pada deringan kedua ia baru menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Kenapa lama sekali baru dijawab? Apa kamu sudah bosan dengan kerjaanmu sekarang?" Teriak suara bariton dari seberang telfon.
Lila sudah tahu pasti, pria itu akan marah-marah. Baginya sudah biasa menghadapi mahkluk kutub satu itu. Ia sedikit menjauhkan ponselnya untuk melindungi gendang telinganya dari kerusakan akibat suara nyaring yang baru saja didengarnya.
"Hey, apa pendengaranmu masih berfungsi dengan baik?" lanjut suara itu lagi.
Karena takut ia benar-benar akan dipecat, ia akhirnya bersuara juga.
"Ada apa tuan Bagas menelfon?"
"Aku hampir saja mengirimmu ke dokter THT karena mengira pendengaranmu bermasalah."
Lila hanya diam saja. Ia tidak menanggapi perkataan Bagas sampai Bagas kembali berucap,
"Dalam waktu lima menit kamu harus berada dilobby hotel. Dihitung mulai dari sekarang. Kalau kamu terlambat, kamu tahu kan apa yang bisa aku lalukan pada kamu."
"Apa?"
Belum sempat Lila melanjutkan ucapannya, sambungan telfon sudah terputus. Ia lagi-lagi menggerutu dan mengutuki Bagas yang selalu bersikap semena-mena padanya.
"Apalagi yang dilakukan pria itu kali ini. Lihat saja nanti, aku akan membalas semua perlakuanmu!"
"Aaaakkkkhhhh..."
Teriak Lila seraya meremas wajahnya dan mengacak-acak rambutnya. Ia membayangkan sedang meninju wajah Bagas dan meremas-remasnya hingga menjadi usang seperti selembar kertas tua.
Masih dengan wajah bersungut, ia akhirnya bangkit dari tempat tidur dan melangkah dengan malas keluar kamar untuk selanjutnya menuju lobby mengikuti perintah Bagas.
Bagas memang baru saja tiba di hotel tempat Nyonya Mudanya menginap bersama Lila. Ia tiba di Jerman siang ini setelah melewati 17 jam diatas pesawat. Ia berangkat semalam dari kota M pada pukul 20.00.
__ADS_1
❤️ Minal Aidin Walfaidzin readers kesayangan mommy🙏😘🤗
❤️Maafkan mommy yang terlalu lama Hiatus dari novel ini. Happy reading yah, mommy sayang kalian. Mudah-mudahan mommy bisa up tiap hari lagi yah🤗🤗🤗