
"Apa kamu yakin itu Anna, Dit?" Tanya dokter Nata seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter Aditya.
"Apa perlu aku kerumahnya sekarang dan melakukan panggilan video sama kamu Nat? Kamu tidak percayaan banget." Jawab dokter Aditya sedikit kesal.
"Kamu tidak pernah bilang kalau kamu ternyata berasal dari kota S."
"Papaku orang sini Nat, ia bersahabat baik dengan papa Anna sejak dulu. Tapi sejak kami pindah mereka tidak pernah lagi bertemu, hanya saling berhubungan lewat telfon. Papa dan om Bayu sama-sama mengatakan bahwa anaknya belum memiliki pasangan sampai sekarang, akhirnya mereka sepakat untuk menjodohkan kami."
Dokter Nata terdengar menarik nafas berat.
"Apa kamu mencintai Anna?" Tanyanya kemudian.
"Apa kalau aku tidak mencintainya, kamu ragu aku bisa membahagiakannya? Cinta bisa datang perlahan Nat, kami sama-sama single jadi aku rasa tidak akan sulit," jawab dokter Aditya.
"Apa kamu sudah menanyakan sama Anna sudah siap atau tidak?" Tanya dokter Nata lagi.
"Anna hanya memintaku untuk memapahnya saat nanti ia tidak bisa melanjutkan langkahnya. Apa jawaban itu menurutmu belum cukup untuk meyakinkan keputusanku?" Dokter Nata seolah ditampar dengan jawaban dokter Aditya.
"Nanti kita bicara lagi, aku harus visite sekarang," balas dokter Nata dengan nada suara yang terdengar tidak enak. Ia tidak ingin membahas lebih lama lagi tentang dokter Anna dan dokter Aditya.
"Hey... what happened with you Nat? Are you okey? Tanya dokter Aditya.
tut...tut...tut...
"Kenapa langsung dimatikan? Tidak biasanya dia begitu, yah sudahlah. Nanti aku telfon lagi." Kata dokter Aditya seolah pada dirinya sendiri sambil memajukan bibir bawahnya dan menaikkan kedua bahunya.
***
JERMAN
Nata yang sudah berbohong pada dokter Aditya bahwa ia akan melakukan visite sekarang, ternyata hanya memandangi terus ponselnya dikursi kerjanya. Ia ingin menghubungi dokter Anna tapi hatinya terasa ragu. Tidak biasanya perasaannya seperti saat ini kalau ia hanya ingin menelfon dokter Anna. Akhirnya setelah berhasil mengumpulkan semua keberaniannya, ia menggeser juga tombol hijau pada ponselnya setelah mendapat nama dokter Anna dipanggilan keluar.
"Halo Nat, tumben nelfon, apa ada masalah?" Suara lembut dokter Anna terdengar jelas ditelinga dokter Nata.
"Bagaimana kabarmu Na?" Tanyanya tidak menjawab pertanyaan dokter Anna.
"Aku baik Nat."
"Oya Nat ada yang mau aku beritahu ke kamu."
__ADS_1
"Na, ada yang mau aku tanyakan sama kamu."
Keduanya berkata bersamaan membuat sambungan telfon seketika hening sebelum dokter Nata akhirnya yang berbicara lebih dulu.
"Apa yang dijodohkan sama kamu itu Aditya, sahabat aku di Jerman?" Tanya dokter Nata dengan hati-hati.
"Itu juga yang ingin aku katakan sama kamu Nat, kalau ternyata yang dipilihkan papa untuk menjadi calon imamku, itu ternyata Aditya. Pria yang sebelumnya sudah aku kenal lewat sahabat terbaikku." Dokter Anna berusaha tidak membuat dokter Nata mempertanyakan suaranya yang bergetar karena menahan gemuruh dadanya dan air mata yang sudah berkumpul dipelupuknya.
"Apa kamu mencintainya, Na?" Nada suara dokter Nata sepertinya mengandung banyak pertanyaan.
"Hahaha, kami baru saja akan memulai sebuah hubungan Nat, seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya." Begitu pintar dokter Anna berakting tertawa padahal setelah itu ia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya yang sudah tumpah.
"Kamu yakin akan memulai hubungan tanpa cinta? Tanya dokter Nata lagi.
"Kenapa tidak? Aku lebih baik memulai sebuah hubungan tanpa cinta daripada selamanya mencintai sesuatu yang sudah menjadi milik oranglain hingga tidak bisa melihat cinta didepan mata." Nada suara dokter Anna mulai meninggi.
"Apa maksud kamu Na?" Tanya dokter Nata heran.
"Aku sedang ada urusan Nat, aku tidak bisa lama-lama bicara ditelfon sama kamu." Dokter Anna sudah tidak mampu lagi mengendalikan perasaannya, ia lebih memilih mengakhiri panggilan telfon dokter Nata.
"Aaaaaaa, kenapa semua malah jadi seperti ini." Teriak dokter Nata sambil meremas kasar wajahnya.
"Nataaaaa, kenapa begitu sulit menggantimu dihatiku dengan oranglain. Seluruh ruang dalam hati dan jiwaku sudah dipenuhi oleh dirimu."
***
Rumah Utama Keluarga Biantara
"Sayang, entar aku mau kebandara yah jemput Nendra. Kak Sultan katanya akan langsung kehotel sebelum mendapat rumah yang cocok," ucap Ruby setelah mereka baru saja menghabiskan sarapan dimeja makan.
"Baiklah sayang, mulai sekarang Lila sudah kembali menjadi asistenmu. Ia akan mengantarmu setiap kamu ingin keluar rumah," jawab Satya yang dibalas dengan anggukan Ruby sambil mengulas senyum terindahnya.
"Iya sayang."
"Oya apa hari ini kamu pulang malam mas?" Tanya Ruby.
"Kalau kamu mau memasak untukku, aku akan pulang lebih cepat." Satya tersenyum penuh arti kearah Ruby sambil berdiri dari kursinya.
"Tentu saja, kamu mau makan apa sayang?" Ruby ikut berdiri dan mengantar Satya keluar.
__ADS_1
"Aku akan memakan apapun yang kamu masak sayang," balas Satya sambil mengecup kening Ruby.
Saat Satya baru saja akan melangkah turun menuju mobilnya. Mobil Bagas terlihat berhenti pas dibelakang mobilnya. Ia jadi menghentikan langkahnya. Ruby pun berbalik dan urung masuk kedalam.
"Selamat pagi tuan muda dan nyonya muda," sapa Bagas setelah berada didekat Satya dan Ruby.
"Selamat pagi," balas Satya datar sedangkan Ruby hanya tersenyum sambil sedikit membungkukan badannya.
"Kenapa tiga hari ini kamu suka sekali datang pagi-pagi kemari? Apa kamu sudah tidak tertarik sarapan dengan makanan cepat saji terus?"
"Bukan begitu tuan muda, aku hanya ingin menyampaikan kalau surat nikah tuan muda dan nyonya muda sudah terbit, aku akan mengambilnya sebentar saat istirahat siang," balas Bagas.
Raut wajah Ruby seketika berubah lebih cerah. Ia merasa bahagia akhirnya baby Gyan akan diakui juga oleh hukum sebagai anak kandung dari Satya.
"Kamu kan bisa memberitahu aku dikantor, tidak perlu repot-repot kemari. Atau ada sesuatu dirumah ini yang punya daya tarik untukmu?" Satya terus saja bertanya mengintimidasi Bagas.
"Sudahlah sayang, kasian Bagas." Sela Ruby melihat Bagas sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa.
"Sayang, kamu kenapa selalu membela Bagas. Apa kamu tidak takut aku akan cemburu dengan sikapmu yang seperti ini?" Melihat tuan mudanya berpaling kearah Ruby, Bagas cepat-cepat meloloskan diri masuk kedalam rumah utama.
"Tidak usah cemburu sayang karena aku hanya akan mencintaimu hari ini, hari esok atau nanti." Setelah berkata seperti itu Ruby juga buru-buru menghilang dari hadapan Satya meninggalkan Satya yang bengong sendiri diluar melihat tingkah laku istri dan asisten pribadinya tersebut.
Sementara Didalam rumah utama, Bagas yang berpapasan dengan Lila pura-pura tidak melihatnya. Ia sengaja menabrak bahu Lila yang baru muncul dari dalam kamarnya sambil mendorong stroller baby Gyan.
"Auuuuu," jerit Lila tapi Bagas mengacuhkannya dan terus saja melangkah ke dapur.
"Hey, Mas Bagas apa-apaan sih!" Teriaknya pada Bagas.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Dengan santai Bagas berbalik kearah Lila yang sudah menatapnya dengan tatapan penuh permusuhan.
"Apa mas Bagas tidak punya mata kalau jalan?" Tanyanya dengan penuh emosi.
***Bersambung***
💙 Happy reading kesayangan mommy. Jangan Lupa ninggalin jejak yah diakhir cerita. Maaf kalau mommy tidak bisa membalas koment kalian satu persatu tapi percayalah, mommy sayang kalian semua🤗🤗🤗
❤️ Jangan lupa mampir juga dicerita sebelah, ceritanya tuan muda Zafran🌹💙CINTA DIBALIK PENOLAKAN😘😘
💚 Cinta itu pada dasarnya tidak rumit, yang membuatnya menjadi sulit adalah perasaan kita yang berlebihan menafsirkannya. Lalu kenapa kalau rasa tak berbalas, bukankah Cinta itu memang tidak selamanya memiliki😊😊
__ADS_1