
"Selamat tuan muda Biantara, kalau perkiraan saya tidak meleset anda akan memiliki anak kedua." Ucap dokter Lukas menyalami tangan Satya.
"Benarkah dok?"
Satya terlihat berbinar-binar, ia seolah tidak percaya dengan pendengarannya. Berbeda dengan Satya yang sepertinya terkejut mendengar ucapan dokter Lukas, Ruby malah terlihat santai karena ia sudah menduganya dari awal. Ini bukan kehamilan pertamanya hingga ia tidak akan tahu tanda-tanda kehamilannya.
"Iya tuan muda tapi untuk lebih memastikan, sebaiknya anda langsung memeriksakan nyonya muda pada dokter kandungan." Dokter Lukas menambahkan.
"Baiklah dok."
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan muda."
"Iya, terima kasih dok."
Setelah mengantar dokter Lukas keluar, Satya pun kembali kedalam kamar menemui Ruby.
"Sayang, Gyan akan segera punya adik. Aku senang sekali mendengarnya." Ucap Satya masih dengan raut wajah berbinar-binar.
"Makasih sudah memberi kebahagiaan berlipat-lipat untukku sayang," lanjutnya lagi seraya meraih kening Ruby dan mengecupnya.
Ruby mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum.
"Apa adiknya sekarang sudah bisa menemanimu ke salon atau masih teman papanya bermain catur?" Tanya Satya seraya mengelus perut Ruby yang masih kelihatan rata.
"Apapun itu, yang penting ia sehat dan tidak kurang suatu apa pun, aku sudah sangat bahagia sayang." Balas Ruby.
"Iya kamu benar, aku juga tidak mempermasalahkan jenis kelaminnya, apa pun itu bagiku sama saja." Jelas Satya.
"Aku cuma kasihan sama kamu sayang, kamu belum punya teman ke salon."
"Kan ada Lila, mas."
"Lila tidak akan selamanya menemanimu sayang, ia suatu saat akan punya kehidupannya sendiri."
Ucapan Satya seketika membuat Ruby diam. Ia membenarkan ucapan suaminya, Lila memang tidak akan berada terus didekatnya. Ada waktu ia juga akan pergi saat menemukan orang yang tepat untuk bersama-sama melanjutkan hidup kedepannya.
"Tapi kamu masih punya aku, sayang. Aku akan menemanimu kemanapun yang kamu mau."
__ADS_1
Melihat Ruby terdiam, Satya kembali berucap untuk menyenangkan hati istrinya yang sekarang sedang mengandung.
"Makasih sayang," balas Ruby seraya tersenyum kearah Satya.
Saat Satya hendak kembali mengecup kening Ruby, tiba-tiba ponselnya yang masih berada diatas meja sofa berdering.
"Aku angkat telfon dulu yah."
"Iya mas."
Satya lalu berjalan ke dekat sofa. Ia kembali berbalik kearah Ruby saat melihat nama pemanggil pada layar ponselnya. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia kembali melangkah melewati Ruby kearah balkon kamarnya. Hanya terulas senyum dibibir Ruby saat Satya menoleh kearahnya. Ia sama sekali tidak curiga kenapa Satya harus menjauh darinya saat menerima telfon.
"Katakan Sul, ada perkembangan apa?" Tanyanya pada si penelfon saat ia sudah berada disudut balkon.
Tangan kirinya masuk kedalam saku celana sementara tangan kanannya memegang ponsel di dekat telinga.
"Ada dua kabar yang aku bawa Sat. Kabar pertama kamu sudah resmi jadi tersangka, entah bukti apa yang mereka miliki sampai bisa menyeretmu ke meja hijau tapi kamu tenang saja karena kabar keduanya kamu bisa mengajukan permohonan tahanan kota dan akan aku pastikan itu disetujui."
"Terima kasih Sul, tim pengacara keluarga Biantara akan segera menangani masalah ini." Balas Satya.
"Iya Sat, aku akan terus membantumu karena aku yakin kamu tidak salah disini."
"Terima kasih atas keyakinanmu Sul. Sejauh aku menjalankan peursahaan, aku sangat membenci permainan kotor karena itu sama saja membasuh lumpur ke wajah sendiri."
"Betul itu, Sat."
"Kabari aku perkembangan selanjutnya, Sul."
"Pasti, aku akan selalu menghubungimu sekecil apapun perkembangannya."
Sambungan telfon pun terputus setelahnya. Satya tidak langsung kembali kedalam kamar. Ia menatap langit dengan warnanya yang biru menelisik kedalaman hati, memberi ketenangan disana.
"Aku tidak pernah takut dengan lawan manapun bahkan jika ia sudah menodongkan senjata didepan wajahku tapi yang aku takutkan sekarang adalah kehamilan Ruby. Masalah ini bisa saja mempengaruhi kehamilannya jika ia tahu. Aku harus segera mencari cara agar ia jangan sampai tahu. Tapi bagaimana caranya? Sementara pasti berita ini sudah sampai di media."
Berbagai pertanyaan itu mengganggu fikiran Satya sampai akhirnya ia tersenyum saat mendapatkan cara yang paling tepat untuk membuat Ruby terisolasi dari masalah yang sedang dihadapinya.
"Yah, aku harus mengirim Ruby ke Jerman, menggantikan Grandma disana menjaga papa. Ibu juga bisa melihat perkembangan kehamilan Ruby disana." Gumamnya kemudian berbalik dan kembali menemui Ruby untuk segera mengatakan niatnya tersebut.
__ADS_1
***
JERMAN
Dokter Anna yang baru bisa tidur setelah subuh, terlihat masih enggan membuka mata saat diluar matahari sudah mulai meninggi. Tapi merasakan perutnya sudah minta diisi, ia pun perlahan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia seolah terlupa dengan balasan pesan dari dokter Adit.
Setelah keluar dari kamar mandi, ia melangkahkan kaki menuju balkon kamarnya, menyapa angin siang Jerman yang sudah mulai menyengat tubuh. Pandangannya mengitari seluruh area perumahan elit tersebut. Tapi tiba-tiba berhenti pada sebuah mobil yang saat ini berada tepat didepan rumah dokter Nata.
Dokter Anna tidak memalingkan wajahnya dari mobil itu. Tidak lama kemudian turun seorang wanita paruh baya yang terlihat masih memakai masker. Ia nampak memberikan beberapa lembar uang pada pria yang mengendarai mobil tersebut yang baru saja menurunkan koper miliknya.
Wanita paruh baya itu mulai menarik kopernya masuk kedalam rumah saat mobil yang membawanya sudah berbalik hendak meninggalkan kompleks perumahan. Dokter Anna masih berada ditempatnya berdiri dan bisa melihat dengan jelas wanita itu menekan tombol-tombol pada gagang pintu rumah dokter Nata. Sepertinya ia sangat dekat dengan sahabatnya itu karena ia bisa dengan mudah membuka pintu rumahnya.
Barulah setelah wanita itu sudah masuk kedalam rumah dan tidak nampak lagi didepan mata dokter Anna, ia pun kembali kedalam kamar dengan berjuta pertanyaan dikepalanya.
"Siapa wanita itu? Apa tante Arayu? Apa ia sudah tahu tentang Nata? Bukankah ia saat ini sedang menemani om Arghany di USA?"
Tapi tidak ada satupun dari pertanyaan-pertanyaan itu yang ia temukan jawabannya.
"Sudahlah, untuk apa aku memikirkan itu semua. Lalu kenapa kalau tante Arayu datang? Toh aku sekarang sudah memiliki kehidupanku sendiri."
Dokter Anna sudah seperti orang tidak waras, bertanya lalu menjawabnya sendiri.
Krucuk...krucuk...krucuk
"Perut ini dari tadi tidak bisa juga diajak kompromi, tunggulah sebentar lagi." Ujarnya kemudian berjalan menuju dapur.
Ia membuat roti sandwich untuk sarapannya siang itu, tapi baru saja beberapa gigitan, ia seketika teringat dengan pesan yang dikirimnya untuk suaminya. Tidak menunggu lama, ia langsung meletakkan kembali sandwichnya diatas piring. Ia berlari kecil melewati beberapa anak tangga untuk sampai ke kamarnya yang berada dilantai dua. Dengan nafas ngos-ngosan diraihnya ponsel diatas nakas, masih dalam keadaan berdiri ia membuka aplikasi whatsapp dan benar saja disana sudah ada pesan dari dokter Aditya.
Tanpa memperbaiki posisi duduknya, ia membuka pesan itu dengan tangan sedikit bergetar.
An, aku sudah sampai di Yunani. Kamu tidak usah memikirkan banyak hal yang bisa mengganggu kesehatanmu. Kamu cukup jaga diri baik-baik selama aku tidak berada didekatmu. Maafkan aku harus meninggalkanmu...
Ada kelegaan dalam hati dokter Anna karena dokter Adit tidak menyinggung sama sekali pesannya yang salah alamat, tapi sekaligus ia merasa sedikit kesal, pesannya yang sudah seperti bacaan koran tersebut hanya dibalas singkat oleh dokter muda yang berstatus suaminya itu.
Meski begitu senyum tipis masih tersungging dibibir indahnya. Setelah membaca pesan tersebut, ia kembali menuruni anak tangga menuju dapur untuk menghabiskan sarapan sekaligus makan siangnya.
❤️ Happy reading kesayangan mommy, jangan lupa jejak like, koment, dan votenya yah🙏🤗
__ADS_1