Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Hari Pernikahan II


__ADS_3

Dokter Aditya yang muncul digandeng kedua orang tuanya langsung dijemput oleh kedua orangtua dokter Anna dan dibawa kedepan meja akad. Ia terlihat sangat tampan dalam balutan pakaian adat berwarna putih yang dikenakannya, wajahnya memancarkan aura calon pengantin yang bersinar tapi ia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya saat melangkah diantara para keluarga dan tamu-tamu undangan yang sudah hadir. Dimeja akad sudah nampak Penghulu, Satya dan walikota B sebagai saksi pernikahannya. Ada juga papa Bayu yang akan menikahkan sendiri putri tunggalnya.


Hanya beberapa menit saat dokter Aditya sudah duduk pada kursi panas pernikahannya, nampak dokter Anna yang digandeng oleh Ruby dan Lila melangkah dengan anggun menuju ke meja akad. Semua mata tertuju pada calon pengantin wanita yang terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya berwarna putih dengan perhiasan di kepalanya. Begitupun kedua wanita cantik pengiringnya sangat mencuri perhatian tamu-tamu disana, terutama Satya yang matanya hanya tertuju pada istrinya.


Manik dokter Anna bertemu dengan manik dokter Aditya saat keduanya saling melempar senyum setelah duduk berdampingan di meja akad, tapi dokter Anna buru-buru menundukkan kepalanya, tidak ingin lebih lama menatap dokter Aditya.


Ruby sendiri duduk melantai didekat mama Ambar. Menyusul Lila disampingnya. Dibelakangnya sudah ada Rania yang sampai sejak tadi di kediaman dokter Anna sebelum calon pengantin pria datang. Disamping Rania ada seorang anak cantik yang mengenakan kebaya senada dengan yang dipakai Rania. Terlihat melempar senyum juga kearah Ruby.


"Sudah lama mba?" Bisik Ruby pada Rania.


"Sudah sekitar setengah jam yang lalu," jawab Rania pelan.


"Maaf mba aku tidak sempat menjemput, tadi dikamar kak Anna membantu persiapannya." Ucap Ruby masih dengan suara seperti berbisik.


"Iya nggak apa-apa. Aku tadi sudah ketemu sama mas Satya."


Ruby mengulas senyum membalas ucapan Rania.


Mereka berdua tidak bisa bercakap lebih lama karena akad akan segera dimulai.


Sementara Rama dan Bagas duduk dibarisan laki-laki yang sudah dipisahkan dengan barisan perempuan. Nendra mengekor terus dibelakang Bagas. Baby Gyan tidak ikut serta kedalam ruangan akad. Ia dijaga oleh asisten rumah tangga mama Ambar.


Tidak menunggu lama setelah kedua calon pengantin berada dimeja akad, acara pun dimulai dan sampailah pada acara inti yang sudah beberapa hari dinanti-nantikan oleh kedua keluarga besar yang sebentar lagi akan menjadi besan.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya ANNA MAHARANI binti BAYU PAMUNGKAS dengan mas kawin emas putih 250 Gram tunai karena ALLAH."


Satu kali ucapan papa Bayu dengan suara lantang dibalas satu kali juga oleh dokter Aditya dalam satu helaan nafas.


"Saya terima nikah dan kawinnya ANNA MAHARANI binti BAYU PAMUNGKAS dengan mas kawin tersebut dibayar tunai karena ALLAH."


Meskipun suara dokter Aditya sedikit bergetar karena gugup tapi akhirnya ia bisa bernafas lega setelah mengucapkannya hanya satu kali dan dianggap sudah SAH oleh pak penghulu dan para saksi yang hadir ditempat itu.


Resmilah sekarang dokter Anna dan dokter Aditya sebagai pasangan suami istri. Dan saatnya dokter Aditya memasang cincin pernikahan dari dokter Nata dijari manis dokter Anna. Entah karena memang dokter Anna punya keterikatan batin dengan dokter Nata, ada perasaan hangat yang mengalir dalam dirinya saat cincin itu sudah bertengger indah dijari manisnya. Perasaan yang berbeda dengan yg dirasakannya saat baru duduk didepan meja akad.


Untungnya ia cepat tersadar dari lamunan dan cepat meraih tangan dokter Aditya lalu diciumnya, dokter Aditya balas mengecup keningnya.


Selesailah seluruh rangkaian acara inti pada hari itu. Yang akan dilanjutkan dengan acara resepsi nanti malam disebuah hotel berbintang di kota B.


Semua tamu dipersilahkan menyantap makan siang yang sudah disediakan oleh pengantin wanita sambil mendengarkan live musik dari sudut rumah.


"Mba Rania mari makan," ajak Ruby.

__ADS_1


"Iya," jawab Rania lalu berdiri dan melangkah ke meja makan bersama Andin.


"Andin mau makan apa sayang?" Tanya Rania.


"Terserah mama aja deh."


Ruby yang melihat keakraban antara Rania dan Andin merasa terharu. Ia mendoakan dalam hati kebahagiaan untuk wanita itu.


Nendra yang sejak tadi ikut dengan Bagas, sekarang datang kedekat Ruby.


"Nendra? om Bagas mana sayang?" Tanya Ruby saat Nendra menarik sedikit ujung bajunya dari belakang.


"Sama papa disana." Ia menunjuk Bagas dan Satya yang sudah duduk dimeja makan bersama walikota, papa Bayu dan papa Ardi serta Rama.


"Nendra juga datang kemari? Tanya Rania ramah.


"Iya tante, ikut sama bunda." Jawab Nendra sambil mencium tangan Rania.


Setelah mengambil makanan, mereka pun duduk berdekatan ditempat yang tadi.


"Ayah Sultan dimana sayang?" Tanya Rania pada Nendra.


"Sultan ada di kota M, By?"


"Iya mba, kak Sultan sudah pindah tugas ke kota M. Ia sekarang lagi sibuk nyari-nyari rumah untuk tempat tinggal nanti bersama Nendra," jawab Ruby.


"Oh yah?"


Rania terlihat kaget mendengarnya. Ia berniat akan menghubungi Sultan setelah kembali nanti ke kota M. Bagaimanapun Sultan adalah sahabatnya.


"Iya mba."


"Dia siapa ma?" Tanya Andin berbisik ditelinga Rania.


"Dia siapa sayang?" Rania tidak mengerti siapa yang ditanyakan Andin.


"Anak kecil disamping mama," jawab Andin pelan.


"Oh, ini Nendra sayang, anaknya tante Ruby yang itu."


Rania menunjuk Ruby, sedangkan Andin hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Andin dan Nendra memang terlihat seumuran karena usianya yang hanya selisih satu tahun lebih muda dari Nendra.

__ADS_1


"Lil, kalau udah makan, tolong liat baby Gyan bentar yah. Aku mau nemenin mba Rania dulu."


Perintah Ruby pada Lila yang langsung diiyakan olehnya.


Dokter Anna sendiri dan dokter Aditya duduk dikursi yang telah disediakan untuk kedua mempelai. Nampak kecanggungan diantara keduanya tidak seperti pasangan pengantin lainnya yang terlihat sumringah sehabis melafadzkan akad nikah. Tidak ada yang saling bercakap sampai dokter Aditya berinisiatif lebih dulu memulai pembicaraan.


"An, apa Nata pernah menghubungimu?"


Dokter Anna hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaannya.


"Dia sekarang berada di Yunani. Ia ikut relawan disana untuk membantu para penduduk yang terkena imbas pasca peperangan."


"Apa?"


Dokter Anna terlihat sangat shock mendengar berita itu dari dokter Aditya.


"Kamu jangan bercanda, Dit." Balasnya tidak percaya.


"Aku serius Na, aku sudah menghubungi dokter Sophy dan dapat langsung kabar dari dia."


Dokter Anna membulatkan mulutnya tidak tau harus berkata apa, pandangannya seketika kabur dan,


Brugggg...


Tubuhnya langsung jatuh kelantai, ia pingsan.


"An, Anna..."


Dokter Aditya langsung berdiri dan memangku dokter Anna sambil memukul-mukul pipinya.


Semua orang yang berada disana sontak terkejut melihat kejadian itu, semua keluarga langsung berlarian kearah tempat duduk kedua mempelai termasuk Satya dan Ruby.


"Dit, lebih baik bawa saja Anna ke kamar sambil kita menunggu ia siuman. Kita tidak usah menghubungi dokter karena suaminya sendiri adalah seorang dokter profesional," sahut Satya.


Dokter Adityapun langsung membopong dokter Anna menuju kamarnya diikuti oleh keluarga inti mereka. Mama Ambar sendiri ikuy shock melihat dokter Anna yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba pingsan.


*** BERSAMBUNG ***


❤️ Hi readers kesayangan tetap setia yah sama novelnya tuan Satya karena masih ada kejutan-kejutan lainnya yang menanti. Jangan lupa jejaknya diakhir cerita. Salam kecup dari mommy😘🤗


💚 Cinta seringkali membuat kita sulit mengendalikan diri, karena perasaan yang terlalu dalam sampai kita kadang hilang kesadaran. Jangan berlebihan dan jangan mau kalah oleh perasaan yang tidak pantas karena pada akhirnya harus selalu ada yang dikorbankan💚😊

__ADS_1


__ADS_2