
Tidak banyak yang dibicarakan oleh dokter Anna dan dokter Adit selama perjalanan pulang, hanya sesekali mereka saling menyahut kemudian kembali larut pada musik melow yang disetel dokter Adit didalam mobilnya. Dokter muda itu belum memberitahukan istrinya tentang rencana keberangkatannya tengah malam nanti. Ia baru akan menyampaikannya saat tiba dirumah.
Pun ketika mereka mampir sebentar ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan dapur, tidak nampak sama sekali kemesraan yang dipertontonkan keduanya layaknya pasangan baru yang sedang romantis-romantisnya.
Dokter Anna sebenarnya sangat ingin tahu alasan Profesor Ludwig memanggil suaminya tapi ia tidak ingin bertanya sebelum dokter Adit sendiri yang memberitahunya.
Barulah setelah sampai dirumah, saat dokter Anna mulai menyiapkan makan malam di dapur, dokter Adit mendekatinya. Ia duduk pada kursi minibar di dapur tersebut seraya meletakkan kedua tangannnya diatas meja. Sebelum mulai berbicara ia terlebih dulu menarik nafas dalam-dalan dan menghembuskannya perlahan.
"Na, aku mau ngomong sesuatu."
"Iya Dit, katakanlah."
"Prof Ludwig akan mengirimku ke Yunani untuk menggantikan tugas Nata sekaligus membantu proses pencariannya."
Dokter Anna yang tadinya terlihat santai, seketika merasa seluruh tubuhnya bergetar karena rasa terkejut yang menderanya. Ia sampai tidak bisa berkata apa-apa, hanya nafasnya yang terdengar sangat sesak.
"Apa tidak sebaiknya kamu kembali dulu ke kota M?" Tanya dokter Adit melihat dokter Anna diam saja dan tidak bergeming sama sekali dari tempatnya yang membelakangi dokter Adit.
"Aku akan tetap disini menunggumu Dit. Aku sudah biasa hidup sendiri," jawabnya dengan suara yang masih bergetar.
Matanya sekarang sudah mulai berkaca-kaca tapi tentu saja dokter Adit tidak melihatnya karena posisi keduanya yang tidak saling berhadapan.
Andai saja dokter Anna bisa melarang, ia tidak akan membiarkan suaminya pergi jauh saat mereka baru saja hidup bersama tapi ia tahu bagaimana peran Profesor Ludwig dalam kehidupan karir suaminya selama di Jerman.
"Kapan kamu akan berangkat?"
Bulir-bulir bening itu sekarang sudah tidak bisa lagi dikendalikan oleh dokter Anna, ia sudah lolos membasahi pipi mulusnya.
"Tengah malam nanti."
Dokter Adit sebenarnya sangat tidak tega meninggalkan dokter Anna sendirian dirumahnya. Meskipun dokter Anna sendiri yang ingin ikut tapi ia punya tanggung jawab penuh pada wanita itu yang kini berstatus sebagai istrinya.
"Profesor Ludwig pasti akan menjagamu disini tanpa aku minta. Ia punya banyak mata dimana-mana di negara ini. Kamu tidak akan merasa ketakutan," ucap dokter Adit.
"Mudah-mudahan Satya secepatnya mengirim surat pindahmu dari kota M agar kamu bisa masuk bekerja dirumah sakit tempatku. Ada Prof Ludwig yang akan mengaturnya disini," lanjutnya lagi
Dokter Anna tidak menjawab ucapan dokter Adit. Ia hanya menyeka air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia kemudian berbalik dan mulai menata makanan diatas meja. Dokter Adit sekarang bisa melihat mata istrinya yang sedikit sembab seperti baru habis menangis. Tapi ia pun tidak mau banyak bertanya pada dokter Anna meskipun sebuah perasaan hangat mengaliri hatinya.
__ADS_1
"Apa Anna menangis? Apa ia tidak ingin aku pergi? Apa itu berarti ia sudah mulai menerimaku di hatinya?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dikepalanya tapi tak satupun yang ia lontarkan untuk memuaskan rasa penasarannya.
Makan malam dilewati dalam suasana hening, tidak ada lagi suara-suara yang keluar dari mulut keduanya. Yang terdengar hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan suara piring.
Sampai mereka selesai makan dan beranjak menuju kamar. Dokter Adit mulai mengemasi pakaian yang akan dibawanya. Barulah terdengar kembali suara lembut dokter Anna menawarkan bantuan pada suaminya.
"Apa ada yang bisa saya bantu Dit?"
"Nggak perlu Na, kamu istirahat saja. Aku hanya membawa sedikit pakaian jadi nggak terlalu repot kog."
"Baiklah."
Dokter Anna pun naik keatas tempat tidur dan mulai meringkuk dipinggirnya. Tidak berselang lama dokter Adit menyusul meringkuk disampingnya. Ia ingin beristirahat walau hanya beberapa jam sebelum berangkat ke bandara.
"Maafkan aku An, tapi aku tidak akan menyentuhmu sebelum hatimu benar-benar menerimaku dengan ikhlas," lirih dokter Adit.
Dokter Anna yang hanya pura-pura terpejam, samar-samar bisa mendengar ucapan dokter Adit. Bulir bening kembali lolos lewat sudut matanya. Ia saat ini sudah berjuang untuk hanya menempatkan dokter Adit di hatinya tapi sebagai perempuan ia merasa malu untuk mengungkapkannya lebih dulu. Biarlah semua mengalir seperti air.
"Kembalilah cepat Dit. Aku yakin saat kamu kembali, hati kita akan sama-sama sudah tertata dengan baik." Gumamnya dengan keyakinan penuh.
"Seseorang pernah berkata padaku untuk selalu meyakinkan hati setiap memulai sesuatu agar keyakinan itu menjadi nyata. Dan sekarang aku akan meyakinkan hatiku bahwa saat kamu kembali kita akan sama-sama saling menerima." Lanjut dokter Anna membatin.
Sampai alarm yang sudah disetel pada ponsel dokter Adit yang diletakkan diatas nakas disamping tempat tidur berbunyi, dokter Anna belum juga bisa terlelap. Sekarang dokter Adit malah sudah terbangun dan hendak bersiap-siap menuju bandara. Melihat dokter Adit sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, dokter Anna pun bangun dari tidur pura-puranya.
"Kamu akan berangkat sekarang Dit?" Tanyanya dengan suara parau.
"Iya Na. Kamu hati-hati yah disini. Aku akan naik taxi online ke bandara. Aku tidak akan membawa mobil, siapa tau nanti kamu butuh memakainya. Asistenku, seorang perawat wanita single akan kesini setiap hari menemanimu saat malam." Ucap dokter Adit.
Dokter Anna mengangguk pelan sambil tersenyum yang dipaksakan.
"Kamu juga hati-hati yah disana. Tetap jaga kesehatan." Balasnya.
"Iya," jawab dokter Adit seraya menyunggingkan senyum.
Keduanya pun berjalan keluar rumah dimana sebuah taxi sudah menunggu disana. Dokter Anna meraih tangan suaminya dan mencium punggungnnya sebelum dokter Adit masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Aku menunggumu disini Dit."
Dokter Adit hanya tersenyum penuh arti seraya menganggukkan kepalanya sambil mengelus rambut dokter Anna.
Taxi itu perlahan bergerak meninggalkan dokter Anna yang masih terpaku ditempatnya. Ia terus disitu sampai taxi yang membawa suaminya hilang diantara deretan rumah-rumah dengan taman yang indah didepannya didalam kompleks perumahan elit tersebut.
***
"Sat, apa kita bisa bicara sebentar?" Terdengar suara diseberang telfon.
Satya yang saat itu baru saja habis meeting, berjalan memasuki ruangannya dan mencari tempat duduk nyaman pada sofa. Sambil menyilangkan kedua kakinya, ia membalas ucapan si penelfon.
"Bicaralah Sul, ada apa?"
Yang menelfonnya ternyata jaksa Sultan, ayah Nendra.
"Sat, ada kabar kurang mengenakkan yang harus aku sampaikan sama kamu."
"Apa itu?"
Helaan nafas Sultan yang sangat berat terdengar jelas pada ponsel Satya. Sebelum akhirnya ia berkata,
"Masalah proyek yang dulu belum selesai di daerah B, sekarang dimunculkan lagi oleh seorang pengusaha yang identitasnya disembunyikan. Aku rasa kamu akan mengalami masalah besar kali ini."
"Apa? Dari ucapanmu sepertinya orang itu sangat berpengaruh," balas Satya masih terdengar tenang.
"Iya Sat. Aku tidak akan khawatir kalau ia orang yang berasal dari negara ini karena aku sangat tahu kekuatanmu disini tapi masalahnya orang ini dikatakan berasal dari luar negeri."
"Lalu apa yang bisa mereka lakukan padaku?"
"Mereka bisa membawamu kedalam jeruji besi dengan bukti yg mereka punya, meskipun itu bukti palsu tapi kita tidak bisa mengelak karena kamu sama sekali tidak punya bukti apapun."
Satya menarik nafas berat, baru kali ini ia merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi padanya. Bukan karena takut merasakan dinginnya berada dibalik bui tapi karena sekarang ada baby Gyan yang akan selalu menjemputnya setiap pulang kantor.
❤️ Happy reading, jangan lupa ninggalin jejak yah, syukur-syukur kalau ada yang mau ngasi vote biar cerita ini semakin populer🙏🤗
💚 Saat sekeping hati tertinggal dibelakang, rawat ia dengan baik. Pupuk rasa CINTA setiap waktu dengan mengingat semua kebaikannya, meskipun hanya sedikit kenangan yang tercipta. Agar ketika pasangan hati itu kembali, mereka sudah layak disandingkan💚
__ADS_1