
YUNANI
"Apa yang terjadi dengan dokter Adit?" Tanya dokter Almira yang baru saja datang dari luar.
"Suhu tubuh dokter Adit mencapai 39 derajat celcius, dok." Jawab suster Dina.
"Apa kamu sudah memberinya obat penurun panas?"
"Iya sudah dok. Ia sekarang sudah tidur. Mudah-mudahan saat ia terbangun panasnya sudah turun." Balas suster berambut pendek itu lagi.
"Apa dokter bisa menemani dokter Adit sebentar disini? Aku ingin ke tempat pengungsian, tapi aku akan kembali secepatnya." Ucapnya lagi.
"Pergilah, tapi jangan membuatku menunggu lama." Balas dokter Almira.
"Iya dok."
Lima belas menit sudah berlalu tapi suster Dina belum juga kembali. Dokter Almira ingin menyusulnya keluar tapi saat ia berbalik dan hendak melangkahkan kakinya, tangan dokter Adit malah menarik tangan dokter cantik itu yang membuat langkahnya terhenti.
"Temani aku disini, Anna." Ucap dokter Adit masih dengan mata terpejam.
Seketika aliran darah dokter Almira berdesir, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia berdiri seperti sebuah patung ditempatnya.
"Anna? Apa itu pacarnya atau justru istrinya atau bahkan bukan siapa-siapanya?" Dokter Almira bertanya-tanya dalam hati.
"Untuk apa aku memikirkan itu, toh pria ini juga bukan siapa-siapaku."
Dokter Almira kemudian berusaha melepas genggaman tangan dokter Adit tapi dokter muda itu malah semakin mengeratkan kaitan tangannya dan menariknya hingga membuat dokter Almira terjatuh tepat diatas wajahnya.
Dokter Almira bisa merasakan suhu panas dari wajah dokter Adit dan dari helaan nafas yang keluar lewat mulutnya. Saat ia hendak mengangkat wajahnya, dokter Adit malah semakin merapatkannya. Dokter Almira tidak bisa melawan tangan kekar dokter Adit yang mulai memiringkan kepalanya dan sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya pun terjadi. Dokter muda yang berstatus seorang suami itu justru membenamkan bibirnya pada bibir dokter cantik tersebut.
Situasi itu tidak berlangsung lama karena dokter Almira kemudian dikagetkan oleh suara histeris suster Dina.
"Dokter Almira...Dokter Adit..."
Dokter Adit yang sejak tadi masih terpejam dan dalam keadaan setengah sadar sudah memagut bibir merah dokter yang memiliki senyum indah itu, perlahan membuka matanya.
Seolah mendengar suara petir yang menggelegar di siang hari, dokter Adit tidak kalah kagetnya melihat dokter Almira ada diatasnya. Ia buru-buru melepas tangannya yang membelenggu tubuh dokter Almira.
__ADS_1
"Ma...maafkan aku, dok."
Meskipun dengan suara lemah dan pelan, dokter Almira masih bisa mendengar permintaan maaf dokter Adit. Tapi ia sudah tidak perduli. Tanpa berbalik lagi ke arah dokter Adit, ia kemudian berlalu keluar dari kamar itu.
"Urus dia, ini tidak seperti yang kamu lihat. Demamnya yang terlalu tinggi membuat ia mengigau dan mengira aku wanitanya." Bisik dokter Almira saat melewati suster Dina.
Karena masih syok melihat kejadian tadi, mulut suster Dina seolah terkunci hingga ia hanya mengangguk membalas ucapan dokter Almira.
Ia mengenal dokter cantik itu sudah lama, dan sejauh ini ia belum pernah mendengar ada kabar miring tentangnya di luar sana. Dokter Almira, dokter yang sangat berdedikasi tinggi pada pekerjaannya. Suster Dina bahkan tidak tahu dengan siapa dokternya itu sedang dekat saat ini. Meski banyak pria dari kalangannya yang menginginkan menjadi pasangannya tapi sampai sekarang ia belum berniat melepas masa lajangnya.
Saat suster Dina bisa menguasai kembali dirinya dan keterkejutannya sudah mulai hilang, ia berjalan mendekati dokter Adit sambil menenteng sebuah kotak di tangan kanannya.
"Maafkan saya, tapi ini tidak seperti yang kamu lihat." Ucap dokter Adit.
"Minta maaflah nanti pada dokter Almira, anda sudah berlaku sangat tidak sopan padanya." Balas suster Dina sinis.
"Saya ingin memasang infus pada tangan dokter, dokter sudah mengalami dehidrasi berat hingga suhu tubuhnya meningkat."
"Tidak perlu, saya baik-baik saja." Tolak dokter Adit.
"Ini perintah dari kepala tim. Bagaimana dokter bisa mencari teman dokter secepatnya kalau keadaan dokter sendiri seperti ini."
"Istirahatlah, dok. Aku akan menemui dokter Almira dulu." Ucap suster Dina setelah memasang infus pada tangan kiri dokter Adit.
Tidak berselang lama setelah suster Dina keluar dari kamar, ponsel dokter Adit berdering, ia melihat kelayar ponsel yang berada disampingnya dan tampak nama dokter Anna disana yang memanggil.
Ia tidak langsung mengangkatnya karena ia tidak ingin memberitahu dokter Anna bahwa ia sedang sakit, ia juga merasa sangat bersalah pada istrinya itu dengan apa yang sudah ia lakukan pada dokter Almira.
"Maafkan aku An, aku tidak sengaja melakukannya." Lirihnya seraya memejamkan mata.
Setelah dua kali berdering dan ia belum juga mengangkatnya, ponselnya pun tidak lagi berdering untuk yang ketiga kalinya.
***
JERMAN
Dokter Anna yang menelfon dokter Adit karena ingin meminta izin keluar sebentar menemani tante Arayu berbelanja, tapi yang ditelfonnya tidak mengangkat setelah dua kali dipanggil akhirnya memutuskan akan menghubunginya kembali setelah pulang nanti karena tante Arayu sudah menunggu di depan rumah.
__ADS_1
"Bagaimana sayang, kamu sudah siap?" Tanya tante Arayu setelah dokter Anna kembali dari dalam rumah.
"Iya tan, kita pergi sekarang."
"Biar aku aja yang nyetir yah. Kamu kan belum biasa nyetir disini," kata tante Arayu yang diiyakan oleh dokter Anna.
Dokter muda itu paling tidak bisa menolak ajakan tante Arayu karena ia sejak dulu sudah sangat baik padanya bahkan saat ia masih baru mengenalnya.
Tente Arayu menyetir mobil dokter Nata, ia sudah biasa membawanya saat berkunjung ke Jerman dan putranya itu tidak bisa mengantarnya ke mana-mana.
"Kita mau ke mana dulu, tan?" Tanya dokter Anna setelah keduanya berada didalam mobil.
"Kita langsung pergi belanja kebutuhan dapur dulu sayang," jawabnya.
Tante Arayu sepertinya sudah tahu banyak tentang jalanan kota Jerman karena ia mengemudi dengan sangat santai. Mobil yang mereka kendarai mengarah ke pusat perbelanjaan ditengah kota yang beberapa kali didatanginya bersama Ruby.
Sebenarnya kalau bukan karena kebutuhan dapur yang sudah tidak ada dirumah dokter Nata, tante Arayu belum ingin kemana-mana karena fikirannya masih tertuju pada putra kesayangannya yang belum ditemukan.
"Apa tante sudah mengunjungi om Lingga selama disini?" Tanya dokter Anna lagi.
"Belum sayang, tante belum ada waktu melihatnya. Tante cuma sempat kirim pesan pada Rita, kalau tante akan kesana saat senggang." Jawab tante Arayu.
"Kalau kamu mau, kita bisa kesana setelah belanja." Lanjutnya lagi.
"Boleh tan, aku juga belum ada kesibukan saat ini."
"Baiklah sayang."
"Oya apa kamu sudah akan menetap disini? Lalu bagaimana dengan kerjaan kamu di kota M?"
"Kalau Adit masih disini, aku juga akan tetap disini tan. Dan sepertinya aku akan ikut pindah kerja disini. Satya sudah bersedia mengurus kepindahanku dari rumah sakit kota M."
"Bagus itu sayang, sebagai istri yang baik memang sudah sepantasnya ikut dimanapun suami berada. Mudah-mudahan Nata juga menemukan orang yang seperti kamu nantinya." Balas tante Arayu penuh harap.
Dokter Anna hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan tante Arayu. Lagi-lagi dokter Nata mengusik hatinya yang sedang berjuang menghapus jejak nama dokter tampan itu disana.
Bagaimana ia bisa secepatnya menghilangkan nama itu kalau disekitarnya selalu berhubungan dengan dokter yang tidak peka itu.
__ADS_1
❤️ Hi readers kesayangan mommy, maaf yah mommy baru bisa up. Mommy lagi dikantor sekarang tapi karena tidak ingin bikin kalian semua kecewa, mommy bela-belain up loh, jadi ayo donk bagi vote rekomandasinya buat novel ini🤭🙏🤗