Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
TIBA Di YUNANI


__ADS_3

JERMAN


Dua jam sudah berlalu sejak keberangkatan dokter Adit ke Yunani tapi dokter Anna masih belum juga terpejam. Ia kemudian bangkit dari tempat tidur mengambil ponselnya diatas nakas lalu berjalan kearah sofa. Ia duduk disana berniat akan mengirim pesan pada dokter Adit agar mengabarinya setelah tiba disana. Perjalanan dari Jerman ke Yunani hanya memakan waktu dua jam lebih dua puluh menit.


Tapi alangkah terkejutnya ia saat membuka pesan whatsapp dan melihat pesan yang harusnya ia kirim pada dokter Nata ternyata malah terkirim ke whatsapp dokter Adit. Setelah menikah ia memang belum pernah membuka pesan whatsapp di nomor dokter Adit, selain belum punya banyak waktu untuk main ponsel, ia juga lebih banyak melakukan panggilan jika ada yang mesti dihubungi.


Dokter Anna terkulai lemas ditempatnya, matanya dibulatkan sempurna pada kedua centang biru disana, pertanda dokter Adit sudah membaca pesannya.


"Apa Adit sudah membaca pesanku sebelum berangkat kemari?" Tanyanya dalam hati.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lalukan. Adit maafkan aku, aku tidak bermaksud melukai hatimu." Lirihnya lagi seraya meremas pelan wajahnya.


"Aku harus menghubungi Adit, aku akan menjelaskan semuanya!" Serunya kemudian.


Selang beberapa menit ia mencoba menghubungi dokter Adit tapi nomor ponsel pria itu masih berada diluar jangkauan. Ia lalu berfikir untuk mengiriminya pesan, setelah tiba nanti dokter Adit juga pasti akan membukanya.


Adit...aku benar-benar minta maaf jika ada sikapku yang tidak sengaja sempat melukaimu. Semua punya masa lalu dan tidak ada yang salah dari masa lalu itu, tapi yang terpenting sekarang bagaimana kita sama-sama menghadapi masa depan.


Aku mengenal Nata sudah lama, jauh sebelum kita bertemu. Aku tidak punya teman wanita yang sedekat hubungan aku dengan Nata. Nata sudah seperti bayanganku, mungkin itu yang membuat aku punya perasaan lebih sama dia.


Mungkin dulu aku berharap bisa bersama Nata. Tapi sekarang setelah punya tanggung jawab sebagai seorang istri, aku hanya ingin melaksanakan kewajibanku dengan baik. Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa sebuah KOMITMEN lebih penting dari CINTA?


Aku yakin jika kita berjalan beriringan, maka kita bisa mencapai tujuan bersama.


Maafkan aku Dit🙏🙏🙏


Kabari aku jika kamu sudah tiba disana...


Dokter Anna menarik nafas lega setelah mengirim pesan tersebut, ia berharap dokter Adit tidak beranggapan lain tentang dirinya.


***


RUMAH UTAMA


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Satya mendekati Ruby yang sudah duduk di sofa setelah ketiga kalinya masuk ke kamar mandi.


"Nggak tahu mas, aku dari kemarin kurang enak badan. Hari ini perutku terasa kembung dan rasanya pengen muntah terus," jawab Ruby dengan suara yang terdengar sangat lemas.


"Kamu baring dulu ditempat tidur yah, aku akan menyuruh Bagas menghubungi dokter." Ucap Satya kemudian membopong tubuh Ruby menuju tempat tidur.


"Aku bisa jalan sendiri mas," protesnya.

__ADS_1


"Udah kamu diam saja, kamu bahkan tidak lebih berat dari barbel."


Oek...oek...oek


Ruby tidak menjawab lagi karena baru beberapa langkah, ia kembali memuntahkan isi perutnya dan mengenai jas kantor Satya.


"Maaf mas."


"Tidak apa-apa, aku bisa menggantinya lagi."


"Kalau saja ini bukan Ruby, aku pasti sudah memarahinya habis-habisan, baru kali ini ada orang yang berani memuntahi jasku." Batin Satya.


Ia lalu menaruh Ruby pelan-pelan pada sisi tempat tidur, kemudian ia terlihat mengambil minyak kayu putih pada laci nakas dan memberikannya pada Ruby.


"Pakai ini dulu yah."


"Makasih mas."


Setelah itu Satya terlihat meraih ponselnya dan menelfon Bagas.


"Bagas, jemput dokter Lukas sekarang juga. Aku tunggu dalam dua puluh menit."


Sambungan telfon langsung terputus setelah Satya mendapat jawaban dari Bagas.


"Kamu tidak ngantor mas?" Tanya Ruby melihat pakaian yang dikenakan Satya.


"Bagaimana mungkin aku ke kantor kalau keadaanmu seperti ini. Kamu tenang saja, di kantor aku bosnya, tidak akan ada yang berani memecatku walaupun aku berhari-hari tidak masuk." Balas Satya menyunggingkan senyum seraya memijit-mijit tengkuk Ruby.


"Tapi apa tidak ada pekerjaan penting di kantor yang harus kamu selesaikan, mas?"


"Aku bisa mengerjakannya dirumah."


Ruby tidak bertanya lagi mendapati jawaban terakhir Satya.


"Apa kayak gini kamu merasa lebih enakan?" Tanya Satya sambil terus memijit tengkuk Ruby yang sebelumnya sudah dikasi minyak kayu putih.


"Iya mas, rasa mualku sedikit berkurang."


Saat Satya masih memijit Ruby terdengar bunyi bel dari pintu kamarnya. Satya langsung berdiri dan berjalan kearah pintu lalu membukanya. Disana sudah nampak Bagas dan seorang dokter pria paruh baya. Ia adalah dokter Lukas, dokter keluarga Satya saat ini. Satya sengaja memilih dokter yang tidak lagi muda, tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Dan dokter Lukas adalah rekomendasi langsung dari dokter Arghany, papa Nata.


"Silahkan masuk dok," ujar Satya.

__ADS_1


"Terima kasih tuan Biantara."


Dokter itu lebih dulu membungkukan sedikit badannya sebelum melangkah masuk kedalam kamar Satya.


"Kamu tidak usah ikut masuk, kamu bisa kebawah minta sarapan pada bi Ijah karena sesudah ini aku punya tugas khusus buat kamu."


Baru saja Bagas akan melangkah masuk mengikuti dokter Lukas, Satya sudah berbisik ditelinganya. Seperti biasa ucapan tuan mudanya itu selalu menyayat hati tapi Bagas sama sekali tidak diizinkan untuk protes atau Kutub selatan menantinya.


"Baik tuan muda."


***


YUNANI


Dokter Adit sudah sampai sebelum subuh ditempat dokter Nata diantar oleh orang yang sudah ditugaskan khusus menjemputnya. Dalam heningnya malam yang hanya disinari oleh beberapa lampu yang kadang juga padam tiba-tiba, dokter Adit terlihat berjalan memasuki sebuah rumah dari sisa-sisa peperangan yang tertinggal. Disana sudah nampak seorang wanita cantik yang menunggunya didepan pintu.


"Selamat datang dokter muda, kami sudah menunggu anda," sapa wanita itu saat dokter Adit sudah sampai didepannya.


Ialah dokter Almira yang sejak menelfon dokter Sophy dan diberitahukan bahwa akan ada seorang dokter sahabat dokter Nata yang akan dikirim dari rumah sakitnya merasa sedikit lega. Entah kenapa ia merasa sangat khawatir pada dokter Nata karena kebandelan dokter muda itu, ia sekarang sudah disandera karena disangka mata-mata oleh penduduk asli dengan warna kulitnya yang berbeda.


"Terima kasih. Aku dokter Adit, dari rumah sakit Jerman. Satu rumah sakit dengan dokter Nata." Balas dokter Adit seraya mengulurkan tangannya.


"Almira."


Dokter Almira membalas uluran tangan dokter Adit.


"Beristirahatlah sedikit saja. Besok aku akan membawamu berjalan-jalan disekitar tempat dokter Nata menghilang."


"Apa kamu teman Nata?"


"Aku sudah memperingatinya dua kali untuk tidak mendekat ketempat itu tapi entah kenapa ia sepertinya tidak mau mendengarkanku. Beberapa jam setelah ia menghilang, kami mendapat kabar bahwa ia disendera disana.


"Tempat itu dihuni oleh penduduk asli yang hanya diberi kawat pembatas untuk menarik diri dari orang luar. Mereka sebenarnya baik tapi sudah terlanjur tidak percaya pada orang asing apalagi yang berbeda warna kulit. Menurut kabar siapapun orang asing yang berani melewati kawat pembatas itu akan langsung dibantai oleh mereka tapi semoga saja tidak termasuk dokter Nata karena orang yang menjadi mata-mata tersebut hanya mengatakan dokter Nata disandera.


"Semua dokter yang dikirim kesini rata-rata hanya dokter umum, hanya aku dan dokter Nata yang mengambil spesialis, olehnya itu saat dokter Nata menghilang aku langsung menghubungi rumah sakit anda untuk meminta bantuan. Sekaligus kita bisa melakukan pendekatan dengan penduduk asli agar mereka mau memberikan kembali dokter Nata dengan sukarela dalam keadaan seperti semula."


💚 Happy reading kesayangan, jangan lupa ninggalin jejak yah, sykur-syukur kalau ada yang mau hibahkan vote rekomendasinya buat novel ini🤭


Yang udah nanya upnya CINTA DIBALIK PENOLAKAN, tungguin entar yah🙏


Mommy selalu baca semua koment kalian tapi maaf mommy tidak bisa balas satu persatu🙏🤗

__ADS_1


💚 Jika Cinta itu bisa membawamu pada kebaikan, jangan ragu untuk tetap melangkah bersama, walau banyak kerikil tajam didepan karena ia akan menjadi alas kekuatanmu😘


__ADS_2