Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Surat Dokter Nata


__ADS_3

Setelah mengantar dokter Anna sampai kedepan pintu saat hendak pulang pagi itu, Ruby kembali kekamar, ia teringat dengan surat dokter Nata yang belum dibacanya. Ia pun mengambil surat itu dilemari dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk membaca surat tersebut. Ia membuka lipatannya pelan-pelan dengan hati bergetar, ia masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang ingin disampaikan dokter Nata lewat suratnya. Akhirnya surat itu terpampang nyata dihadapan Ruby, ia melihat tulisan tangan dokter Nata yang begitu rapi baris demi barisnya, lalu ia pun mulai membacanya.


Dear Ruby...


Sebelumnya aku minta maaf jika dalam surat ini ada yang menyinggung perasaanmu, aku hanya ingin mengatakan satu hal sebelum aku kembali ke Jerman...


Entah kenapa aku tidak punya cukup keberanian untuk mengakui langsung perasaanku, aku tau hatiku sudah salah berhenti ditempat yang tidak seharusnya, aku tidak bisa melawan langkahku untuk pergi, tapi kamu tenang saja karena aku masih bisa bertahan ditempatku untuk tidak maju...


Sejak pertama kita bertemu dirumah utama, kamu sudah berhasil membawaku masuk di kedalaman matamu, dari situ aku sudah mulai terganggu akan kehadiranmu meski aku tau ini tidak benar, tapi syukur sampai detik ini aku masih bisa mengendalikan diriku...


Sampai disitu Ruby berhenti, hatinya berdebar tidak karuan.


"Ya Allah ternyata kak Nata selama ini punya perasaan sama aku dan aku tidak pernah menyadari itu," gumam Ruby. Ia menempelkan surat itu didadanya dengan nafas yang tidak beraturan, kemudian ia kembali melanjutkan membacanya.


Kamu tidak perlu merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaanku, aku ikhlas selama ini bisa membantu semua kesulitanmu, aku memberi tahumu sekarang hanya karena tidak ingin ada beban lagi saat meninggalkan kota M, aku tidak tau kapan akan kembali lagi kesini tapi aku harap saat aku kembali kamu sudah bahagia...


Satya orang baik, dia tidak pernah ingin menyakiti hati wanita, kalau keadaan kalian sekarang seperti ini, itu takdir, aku doakan kalian secepatnya menemukan jalan keluar yang terbaik untuk semuanya utamanya untuk bayi kecil kalian...


Terima kasih pernah menjadi warna dalam kehidupanku, terima kasih sudah mengenalkan baby Gyan dalam hari-hariku yang beberapa bulan, jangan pernah berubah bahkan setelah kamu menerima surat ini...


Kita tidak pernah tau dimana cinta akan berlabuh, saat kita berusaha mengusirnya dan ia malah semakin mengejar, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu rasa itu pergi atau diri kita yang menjauh...


Minggu depan aku akan kembali ke Jerman, aku tidak berharap banyak tapi kalau boleh aku menunggumu dan baby Gyan dibandara, saat kita bertemu aku minta satu hal jangan pernah mengungkit lagi isi surat ini, anggap ini hanya masa lalu yang tidak boleh untuk dikenang...


Sahabatmu


Abyaz Dinata Arghany


Tanpa Ruby sadari permata-permata bening dari sudut matanya lolos begitu saja mengenai pipi mulusnya, ia tidak pernah menyangka ternyata dokter Nata yang selama ini ia anggap sebagai kakak menyimpan perasaan tak biasa padanya.


"Maafkan aku kak Nata, aku tidak bisa membalas perasaanmu," ucap Ruby memejamkan matanya membiarkan pipi putihnya semakin basah. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian ia melipat kembali surat dari dokter Nata, ia melangkah kedekat lemari, dicarinya kotak tempat menyimpan berkas-berkas pentingnya lalu dimasukkannya surat itu disana.

__ADS_1


"Aku akan menyimpan surat ini kak, aku akan ingat bahwa aku pernah menjadi wanita beruntung yang mengisi hati pria sebaik kak Nata," lirih Ruby.


Setelah ia bisa kembali menenangkan dirinya, ia keluar menuju kamar Lila mencari keberadaan bayi kesayangannya.


"Baby Gyan belum bangun Lil?," tanya Ruby saat sudah berada dikamar Lila.


"Iya belum non, dia baru saja habis minum susu lagi," jawab Lila.


"Oya Lil entar sore aku mau ziarah kemakam Rendra,"


"Aku antar yah non, aku bisa tunggu dimobil sama baby Gyan," ucap Lila yang diiyakan oleh Ruby.


Karena hari baru akan beranjak siang, Ruby masih punya kesempatan untuk beristirahat, mungkin karena sangat lelah dan semalam kurang tidur, ia langsung terlelap saat kepalanya menyentuh bantal.


***


Ditempat lain siang itu, tepatnya disebuah mall dikota M, Rania terlihat sedang asyik bermain dengan seorang anak perempuan cantik yang rambutnya dikuncir dan memakai rok setinggi lutut, anak itu adalah Andin, putri kesayangan Rama.


"Ante, abis ini kita makan ayam goreng dulu yah, Andin udah laper," rengeknya pada Rania dengan suara manja khas anak-anak.


"Maafin Andin yah Nia, dia sekarang tambah banyak nuntut sama kamu," ucap Rama merasa tidak enak pada Rania.


"Gak papa kog Ram, aku seneng dengan sikap Andin yang seperti itu karena aku merasa berarti buat dia," Rania masih mengulas senyum manisnya, membuat hati Rama berdetak tidak beraturan.


"Apa Satya tau kamu sering pergi sama aku dan Andin?" tanya Rama penuh keingin tahuan. Rania menggeleng perlahan.


"Dia tidak tau Ram, tapi aku rasa dia juga tidak akan keberatan kalau tau," kata Rania pelan.


"Maksud kamu?, yang aku tau Satya tidak suka wanitanya jalan dengan laki-laki manapun termasuk sahabatnya sendiri apalagi dengan duda beranak satu," Rama semakin ingin tahu.


"Mas Satya...mas Satya sudah menikah lagi, dan sekarang aku sedang berfikir untuk mengajukan perceraian dengannya," kata Rania menghela nafas berat.

__ADS_1


"Apa???, kamu gak lagi bercanda kan Nia?" Rama seolah tidak percaya dengan pendengarannya.


"Apa untungnya aku bercanda Ram, aku serius, mungkin minggu ini pengacaraku akan mengurus semuanya," ucap Rania lagi.


"Kita bicara disana yah," ajak Rama sambil menunjuk sebuah kursi yang tidak jauh dari tempat bermain Andin.


"Papa sama ante kesana dulu yah sayang, Andin main sendiri dulu," kata Rama pada Andin kemudian berjalan menuju kursi yang ditunjuk tadi, menyusul Rania dibelakangnya.


"Gimana ceritanya Satya bisa menikah lagi Nia?" tanya Rama setelah mereka mendapat tempat duduk yang lebih nyaman. Rania pun mulai menceritakan inti dari kejadian yang menimpa rumah tangganya, meskipun Rania tidak menceritakan secara detail pada Rama tapi Rama sudah bisa mengerti maksud pembicaraan Rania.


"Apa kamu sudah benar-benar mantap mau menggugat Satya?" tanya Rama lagi.


"Iya Ram, aku sudah memikirkan ini baik-baik, lagian hubunganku sama mas Satya sudah tidak sehat setahun belakangan," jawab Rania.


"Kamu yang sabar yah Nia, kamu harus yakin ini yang terbaik, setelah hujan pasti ada pelangi," ucap Rama, ia perlahan menggenggam tangan Rania, Rania tidak menarik tangannya dari gengaman Rama, tangan hangat Rama seolah ikut memberi kehangatan diseluruh tubuhnya.


"Makasih Ram, aku sekarang tidak sedih lagi kog, apalagi ada Andin yang bisa jadi teman aku," ucap Rania kembali tersenyum.


"Kalau papanya Andin bisa jadi teman juga gak?, atau kalau gak lebih dari teman juga gak papa," Rama tersenyum penuh arti kearah Rania.


"Kamu bisa aja Ram," Rania membalas senyum Rama.


"Aku gak lagi bercanda Nia," wajah Rama benar-benar terlihat serius dan Rania hanya bisa bengong melihatnya.


😍🤩Hi readers maafin author yah kalau masih banyak typo dan kesalahan dalam menulis novel ini, author masih sangat baru bergabung disini, kalau ada yang mau ngasi saran monggo🤗


Jangan lupa


LIKE


VOTE

__ADS_1


KOMENT😘😘


❤️Andai perasaan itu punya aturan dalam undang-undang, mungkin sudah banyak para pencinta diluar sana yang akan merasakan dinginnya ruang pesakitan karena tidak menempatkan hati ditempat semestinya😊


__ADS_2