
Dua minggu kemudian
Sudah hampir dua minggu Ruby berada didesanya, setelah melewati perjalanan melelahkan dengan menggunakan kapal laut dari kota S. Ibunya begitu bahagia menyambut kedatangan Ruby yang sudah lama ia rindukan, ia tidak peduli dengan keadaan Ruby sekarang, asal ia masih bisa melihat Ruby tersenyum saja ia sudah sangat merasa bahagia.
Ruby menceritakan pernikahannya dengan Satya sampai akhirnya ada baby Gyan yang sekarang pulang bersamanya, tapi tentu saja tidak semua kebenarannya ia beritahukan pada ibunya karena ia tidak ingin menambah beban orangtua satu-satunya itu. Ia juga menceritakan tentang kepergian Rendra untuk selama-lamanya, ibunya tidak berhenti menangis mendengar hal tersebut. Ia sudah lama tidak bertemu dengan Rendra tapi sekalinya mendengar kabar, Rendra sudah tidak ada lagi.
Sore itu Ruby sedang duduk santai diteras belakang rumahnya melihat keufuk yang manampakkan senja perlahan hadir, ia sambil mendengarkan lagu dari ponselnya.
🎶🎶 Izinkan kulukis senja...
Mengukir namamu disana...
Mendengar kamu bercerita...
Menangis tertawa...
Liriknya baru sampai disitu, Ruby sudah terbawa perasaan, matanya mulai berkaca-kaca dan tanpa ia sadari akhirnya menetes juga permata bening itu.
"Kak Ruby, kakak kenapa?" tanya Aydan yang tiba-tiba ada didekat Ruby.
"Eh adek, baby Gyan mana?" tanya Ruby balik bertanya pada Aydan sambil mengusap sisa-sisa air matanya, ia tadi meninggalkan baby Gyan bersamanya.
"Ada sama ibu didepan kak," jawab Aydan lalu duduk didekat Ruby. Ruby terlihat menghela nafas berat.
"Kakak lagi sedih yah? apa kakak ingat dengan papanya baby Gyan?" Aydan adalah teman bercerita Ruby sejak dulu, itulah kenapa selama beberapa hari didesanya Ruby sering curhat padanya. Aydan selalu bisa menjaga rahasianya dan Ruby merasa nyaman bicara pada adiknya itu karena ia sering memberinya nasehat-nasehat seperti orang dewasa.
"Aku tidak tau dek, tapi saat ini aku teringat padanya," jawab Ruby dengan pandangan menerawang.
"Apa kakak yakin dengan keputusan yang kakak ambil sekarang, apa tidak mau difikirkan lagi?" Ruby diam saja mendengar ucapan Aydan.
"Mungkin papanya Gyan masih mencari kak Ruby sekarang, kalau kakak mau aku bisa menghubunginya besok," kata Aydan lagi.
"Gak sekarang dek, aku hanya ingin melihat dia bahagia dengan mba Rania," balas Ruby.
"Tapi kak Ruby jangan sedih gitu dong, Aydan juga ikut sedih liatnya," ucap Aydan sambil merangkul Ruby.
"Senyum dong kak," Ruby akhirnya menarik kedua ujung bibirnya.
"Kak, Aydan mau tanya tapi jangan tersinggung yah,"
__ADS_1
"Mau tanya apa Dan?"
"Kenapa kak Ruby mesti pergi sembunyi-sembunyi dari papanya baby Gyan?"
"Kadang ada hal yang tidak bisa dimengerti oleh logika Dan, disaat mulut kakak berkata akan tetap tinggal, hati kakak seolah terus mendesak untuk menjauh dari kehidupan rumah tangga suami istri yang sudah renggang karena kehadiranku," Ruby menarik nafas dalam-dalam.
"Aku tau ini kurang pantas, orang diluar sana mungkin akan menghujatku tapi mereka tidak tahu bagaimana tertekannya perasaanku, Dan. Aku mungkin sudah lama depresi andai tidak ada iman dihatiku dan baby Gyan yang menjadi kekuatanku, begitu banyak hal yang sudah terjadi sama aku," Ruby menundukkan kepalanya, ia terlihat menangis terisak. Aydan merasa sangat kasihan pada kakaknya itu hingga ia memutuskan tidak bertanya lagi. Ia hanya mengusap-usap punggung Ruby sambil merangkulnya.
"Oya Dan, anak-anak disurau masih aktif ngaji?" tanya Ruby menengadahkan kepalanya.
"Ia kak, aku sesekali kesana membantu kak Rahmi mengajar anak-anak," jawab Aydan.
"Aku ingin mengajar mereka belajar bahasa Inggris Dan, daripada aku gak ada kerjaan dirumah."
"Wah anak-anak pasti senang banget kak, entar aku ngasi tau mereka, kakak mau kapan ngajarnya?".
"Besok juga bisa Dan, kalau anak-anak udah siap."
"Baiklah kak," Aydan tersenyum penuh arti kearah kakak kesayangannya.
***
"Boleh aku masuk, mas?" tanya Rania didepan pintu, pintu ruang kerja Satya memang sedikit terbuka.
"Nia..., sejak kapan kamu datang?" tanya Satya kaget.
"Sejak kamu melamun dari tadi," jawab Rania sambil mengulas senyum manisnya.
"Masuklah," Satya membalas senyum Rania. Ia berjalan kearah sofa dan mempersilahkan Rania duduk disana.
Mereka berdua sudah tidak tinggal serumah lagi karena Rania sudah resmi menggugat cerai Satya seminggu yang lalu, mereka memutuskan untuk berpisah secara baik-baik bukan karena kehadiran Ruby tapi karena mereka memang sudah tidak memiliki kecocokan satu sama lain, kalaupun sekarang Ruby sudah pergi, itu tidak mengurungkan niatnya untuk tetap bercerai dari Satya karena sekarang ia sepertinya menemukan kenyamanan pada Rama.
"Apa belum ada kabar dari Ruby, mas?" tanya Rania setelah mereka duduk disofa.
"Belum Nia," jawab Satya pelan seolah tidak bergairah.
"Aku harap secepatnya kamu menemukan dia, mas,"
"Oya mas aku kesini ingin memberitahu kamu sidang kita selanjutnya akan digelar minggu depan, aku berharap cuma tiga kali sidang sudah ada putusan," ucap Rania.
__ADS_1
"Aku serahkan saja semuanya sama kamu, Nia," balas Satya.
"Tapi kamu kelihatannya sudah pengen banget pisah sama aku," ucap Satya menyunggingkan senyum tipis.
"Gak seperti itu mas, aku cuma berharap masalah ini cepat kelar, aku juga sudah mengikhlaskan semuanya," sahut Rania.
"Andai saja mas mengatakan ini lebih dulu pada Ruby, ia pasti tidak akan pergi, aku tau Ruby pergi hanya karena tidak ingin menyakitiku, dia wanita yang baik mas, keadaan yang sudah memaksanya bersikap seperti itu, kalau aku ada diposisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama," kata-kata Rania membuat Satya menarik nafas dalam-dalam.
"Bahkan kekuasaanku saat ini pun belum bisa menemukan dia, aku tidak punya petunjuk apapun dia pergi kemana," ucap Satya.
"Yang sabar aja yah mas, aku yakin kalau Ruby memang ditakdirkan kembali sama kamu, kalian secepatnya akan dipertemukan,"
"Aku merindukan anakku Nia, aku belum lama bersamanya tapi harus berpisah lagi dengannya,"
"Iya mas, aku ngerti perasaan kamu," Rania terlihat prihatin pada Satya.
"Kamu sendiri gimana hubunganmu dengan Rama?, Bagas bilang kalian semakin dekat saja," Satya beralih topik pembicaraan kali ini.
"Kamu masih saja menyuruh Bagas menguntitku kemana-mana," kata Rania terlihat agak kesal, ia tidak menjawab pertanyaan Satya.
"Bukan begitu Nia, aku hanya ingin memastikan kamu dapat yang terbaik setelah lepas dari aku," ucap Satya lagi.
"Aku dan dia baik-baik saja mas, dia...dia...dia berencana akan melamarku kalau sudah ada putusan perceraian kita dari pengadilan," kata Rania terbata-bata sambil menundukkan kepala karena malu.
"Pantas...," ucap Satya menggantung.
"Pantas kenapa mas?"
"Pantas kamu mau buru-buru dapat putusan," Satya tersenyum jahil mencoba menggoda Rania, Rania lagi-lagi tersipu malu. Mereka sekarang sudah seperti kakak dan adik.
"Aku hanya ingin kita sama-sama bahagia mas, aku tau sekarang fikiranmu masih bercabang memikirkan aku, kalau kita sudah berpisah kamu bisa fokus mencari anakmu dan ibunya," jawab Rania, Satya hanya tersenyum tipis menangngapi.
"Mudah-mudahan Rama bisa membahagiakanmu, tidak seperti aku yang sudah menyakitimu," Satya masih merasa bersalah pada Rania.
"Sudahlah mas, aku sudah tidak ingin mengingat yang sakit-sakitnya lagi, kita sekarang akan membuka lembaran baru menuju bahagia masing-masing," ucapan Rania membuat mereka saling mengulas senyum. Rania kemudian pamit pada Satya, meninggalkan Satya yang masih berfikir kemana harus mencari Ruby dan baby Gyan.
🤩Author hanya minta dukungan kalian readers dengan ninggalin jejak diakhir cerita ini, terima kasih bagi yang sudah membaca ceritaku, semoga kalian menyukainya, maaf jika masih banyak kekurangan😘🙏
Jangan lupa mampir diceritaku yang lain yah CINTA DIBALIK PENOLAKAN❣️❤️
__ADS_1
***Tidak ada yang benar-benar tahu isi hati kita selain kita sendiri dan TUHAN, kalau hati kita merasa sudah tidak sanggup untuk menampung beban, jangan memaksanya karena ia hanya akan membawa masalah baru saat ia penuh dan meluap😊🤗