Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Malam Yang Panjang


__ADS_3

"Halo Sat, kamu lagi ngapain nak?" Bu Rita menelfon Satya sore itu saat ia sedang mengerjakan tugas kantor yang di emailkan Bagas tadi siang.


"Aku lagi kerja bu," jawabnya.


"Ruby mana?" tanya bu Rita lagi.


"Ruby lagi mandi bu."


"Kamu jangan mikirin kerja terus disini Sat, bawa istrimu jalan-jalan. Kalian butuh waktu berdua untuk lebih mendekatkan diri. Jangan terlalu fikirkan papamu, ada Ibu dan Grandma yang mengurusnya," ucap bu Rita.


Satya mencerna baik-baik kata-kata ibunya dan ia membenarkannya. Ia memang butuh waktu intens berdua dengan Ruby, mengingat hubungannya yang selama ini sangat kaku.


"Baiklah bu, aku akan mengajaknya keluar malam ini."


"Nah gitu dong, good luck sayang." Ibu Rita lalu memutus sambungan telfonnya setelah mendapat jawaban dari Satya.


Setelah Satya mengirim balasan email Bagas, ia mereservasi sendiri sebuah restoran romantis yang terkenal di Singapura lewat aplikasi online. Tidak lama kemudian Ruby keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai yang melekat ditubuhnya, ia belum mengenakan hijab karena ia baru saja habis keramas. Ia hanya mengenakan handuk dikepalanya untuk membungkus rambut basahnya, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Membuat darah Satya berdesir hebat.


"Shittt, sialan kenapa aku jadi kayak gini," umpatnya dalam hati.


"By bersiaplah, kita akan makan malam diluar," ucap Satya setelah ia menarik nafas dalam-dalam.


"Baiklah, tapi aku mau nelfon Gyan dulu mas," jawab Ruby. Satya mengangguk sambil melempar senyum.


Setelah melakukan panggilan video dengan baby Gyan, Ruby mengeringkan rambutnya dengan meremas-remasnya menggunakan handuk, sesekali ia menghentakkannya. Satya yang sejak tadi memperhatikan Ruby, serasa ingin menerkamnya saat itu juga. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan naluri kelakiannya.


"By, apa kamu masih belum siap melakukan tugasmu sebagai seorang istri?" Ruby sangat terkejut Satya tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ia bisa merasakan suara nafas Satya yang terdengar memburu.


"Kita kan mau makan malam mas, sebentar lagi sudah magrib, apa mas akan membatalkan makan malam kita?" Meskipun jantung Ruby berdetak sangat kencang tapi ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya pada Satya.


"Apa jawaban kamu berarti sudah siap hanya saja sekarang bukan waktu yang tepat?" tanya Satya. Ruby perlahan menganggukan kepalanya dengan menutup kedua matanya karena merasa malu harus mengakuinya.


"Makasih By, akhirnya kamu mau menerimaku sepenuhnya." Satya semakin mempererat pelukannya.


"Udah mau magrib mas, kita siap-siap shalat dulu yah," ucap Ruby.

__ADS_1


"Iya." Satya akhirnya melepas pelukannya.


Setelah melaksanakan shalat magrib, mobil yang dibawa Satya pun terlihat membelah jalanana Singapura yang dipenuhi kerlap kerlip lampu malam. Tujuan mereka malam itu adalah sebuah flyer yang memiliki tempat makan malam ekslusif.


"Apa kamu suka tempatnya?" tanya Satya setelah mereka berada dalam sebuah kabin rumah makan tersebut.


"Iya mas, suka sekali. Tempatnya bagus."


"Aku sengaja memilih ini agar makan malam kita lebih romantis," ucap Satya tersenyum.


"Makasih mas," balas Ruby.


Berada didalam kabin tersebut seperti sedang berjalan diudara, ditemani dengan penerangan yang remang-remang menambah suasanya semakin mendukung untuk berduaan dengan pasangan.


"Aku tidak bisa menjanjikan banyak untuk kamu karena aku pernah gagal berumah tangga tapi aku janji kali ini akan lebih berhati-hati, aku hanya ingin membahagiakanmu dan anak kita," ucap Satya menggenggam tangan Ruby. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Dibukanya kotak tersebut dan memperlihatkan sebuah cincin berlian yang berkilau. Satya perlahan memakaikan cincin tersebut dijari manis tangan kiri Ruby.


"Apa ini mas?" tanya Ruby merasa takjub melihat kilauan cincin itu.


"Apa kamu suka?" Satya bertanya balik.


"Selama kita menikah aku belum pernah memberimu hadiah, dan ini hanya sebuah hadiah kecil sebagai tanda kita akan memulai kehidupan baru." Satya kini berpindah tempat duduk disamping Ruby.


"Makasih mas, aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa sama kamu karena kita berdua pernah gagal tapi aku akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik buat kamu dan Gyandra," jawab Ruby.


Satya mengecup kening Ruby, kemudian berpindah turun kebawah, ketempat yang membuat Satya selalu menjadi candu. Ruby sekarang mulai membalas setiap ciuman Satya. Mereka larut dalam permainan Bi*** yang panas malam itu.


Satya sudah ingin melakukan lebih dari itu andai saja ia tidak sadar bahwa saat ini mereka sedang berada ditempat umum.


"Kita pulang sekarang yah," ajaknya pada Ruby yang dijawab dengan anggukan oleh Ruby.


Tidak berselang lama mereka sudah berada kembali didalam kamar hotel tempat mereka menginap. Setelah shalat dan mengganti pakaian yang mereka kenakan, Satya dan Ruby sama-sama berbaring ditempat tidur. Satya kembali melanjutkan aksinya yang sempat tertunda tadi. Ruby sudah pasrah apapun yang akan dilakukan oleh Satya padanya.


Satya yang tidak pernah bosan dengan bi*** Ruby, kembali mendaratkan bi***nya disana. Semakin lama Ruby semakin menikmati permainan Satya yang semakin panas. Setelah setahun menikah baru malam ini mereka melakukan penyatuan atas dasar suka sama suka. Mereka sama-sama terkulai lemas setelah penyatuan yang terjadi diantara keduanya.


"Makasih sayang." Satya lagi-lagi mendaratkan kecupan dikening Ruby. Ruby tersenyum penuh arti lalu memeluk Satya.

__ADS_1


Karena mereka terlalu lelah habis bertempur, tidak butuh waktu lama mereka berdua sudab terlelap, kamar hotel yang jadi saksi penyatuan mereka seolah ikut tersenyum bahagia dengan awal hubungan baru yang akan mereka rajut kedepannya.


***


Ditempat lain diwaktu yang sama Rania juga terlihat sedang makan malam bertiga dengan Rama dan Andin.


"Ram, kalau boleh resepsi pernikahannya, kita lakukan nanti saja setelah berselang agak lama dari sidang putusan perceraianku," ucap Rania.


"Terserah dari kamu saja Nia, kamu yang atur semuanya, aku ikut saja."


"Tapi kalau aku kasi saran, kamu tidak perlu terlalu mendengar tanggapan oranglain. Yang manjalani hubungan ini kita, kalau kita sendiri bahagia dan nyama, lalu apa yang harus dipermasalahkan?" balas Rama menanggapi ucapan Rania. Rania tersenyum mendengar perkataan Rama.


"Iya sih Ram, tapi tetap aja aku merasa tidak enak kalau baru saja cerai udah pesta besar-besaran lagi. Bukankah nikahnya lebih penting?" Rania bertanya sambil senyum-senyum.


"Baiklah, kita lakukan yang menurutmu baik saja," balas Rama.


"Makasih Ram."


" Kapan ante sama papa akan manikah?" Pertanyaan Andin membuat Rama dan Rania tertawa.


"Anak kecil selalu aja mau tau urusan orangtua." Rama menarik hidung putri satu-satunya yang terlihat bersungut dengan jawaban papanya.


"Secepatnya sayang." Hanya jawaban Rania yang bisa membuat Andin kemudian tersenyum. Ia kemudian merangkul Rania yang duduk didekatnya.


"Kalau ante udah nikah sama papa, kita bakal tinggal satu rumah kan?" tanya Andin lagi.


"Iya sayang," jawab Rania.


"Terus Andin juga udah bisa panggil mama kan?" Andin masih saja bertanya tapi Rania dengan senang hati menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Andin.


"Iya sayang, sekarang juga boleh panggil mama kalau Andin mau," Rania tersenyum sambil memeluk Andin.


"Benarkah?" Rania mengangguk, membuat Andin semakin mempererat pelukannya.


🤩 Hi readers mudah-mudahan suka yah sama ceritanya, maaf jika tidak sesuai sama ekspektasi kalian🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2