Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Perubahan


__ADS_3

Sang surya yang tadinya angkuh membakar kulit penduduk bumi, perlahan kini sudah kembali ke peraduannya. Membuat orang-orang yang takut akan perubahan warna kulit, baru akan keluar diwaktu-waktu seperti ini. Tak terkecuali seorang wanita yang sudah beberapa waktu terlihat bersedih di kediamannya. Siapa lagi kalau bukan mantan istri Tuan Muda Satya, Rania Paradista.


Sore itu ia kembali mengunjungi makam Rama. Kaca mata hitam bertengger dihidung mancungnya, menyembunyikan matanya yang sembab. Rasanya terlalu sulit baginya menerima semua ini.


"Ram, mungkin setelah hari ini aku tidak bisa lagi mengunjungimu tiap hari. Aku akan keluar negeri. Aku tidak sanggup berada terus di kota ini tanpa kehadiranmu. Aku seolah berjalan sendirian di tengah gurun pasir." Lirihnya menahan tangis yang ingin pecah lagi.


"Tapi kamu tenang saja, Ram. Aku akan membawa Andin ikut serta. Izinkan aku merawatnya hingga kelak ia bisa membuatmu bangga menjadi orang tuanya." Lanjutnya lagi masih dengan tangis yang tertahan.


Sesaat ia berhenti dan menarik nafas dalam-dalam, ia merasakan dadanya begitu sesak hingga ia sulit menghirup oksigen masuk. Mengingat semua yang pernah dilakukan oleh pria itu terhadapnya, Rania kini tidak bisa lagi menahan bulir-bulir bening yang berjatuhan membasahi pipi putihnya.


"Aku tidak yakin bisa membuka hatiku lagi untuk oranglain, Ram. Setelah semuanya sudah dipenuhi oleh kebaikanmu."


Rania ingin menguatkan hatinya bahwa ini semua sudah digariskan dalam perjalanan hidupnya. Tapi kenapa begitu susah ia mengikhlaskan Rama.


"Aku pergi bukan karena menyerah pada takdirku, Ram. Tapi jika berada terus dikota yang penuh dengan kenanganmu, aku akan semakin sulit untuk bangkit. Kebersamaan kita mungkin tidak selama kebersamaanku dengan mas Satya tapi denganmu, aku bahkan tidak mendapat celahmu walau secuil."


Setelah puas mengeluarkan isi hatinya yang ia yakini didengar oleh Rama, Rania pun berdiri. Sebelum meninggalkan tempat tersebut, ia masih sempat berucap,


"Aku pergi, Ram. Kamu akan selalu ada dihatiku dimana pun aku berada."


Ia kemudian berbalik dan melangkah dengan pelan kearah mobilnya terparkir.


***


"Huft... sudah jam segini tapi aku belum juga bisa tidur. Kalau bukan karena tuan muda yang menyuruhku, berapa pun gaji yang ditawarkan aku tidak akan mau nginap disini. Rasanya sangat horor berada satu atap dengan pria menyebalkan itu!" gerutu Lila dengan suara pelan.


Lila memang tidak berada satu kamar dengan Bagas karena ia memilih tidur dikamar tamu, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman hanya berdua dengan pria itu di apartemennya. Setelah membuat Bagas meminum obatnya dan memastikan pria itu sudah tidur, ia pun masuk kedalam kamar yang terletak disebelah kamar Bagas.


Ia ingat kejadian tadi saat menyuruh Bagas minum obat, keduanya kembali berdebat.


Flasback On


"Kamu bisa nggak sih, nggak membantah kalau dikasi tau!" seru Lila terlihat kesal.


"Eh, kamu sudah gila yah. Ngasi aku obat banyak begini. Bagaimana mungkin aku minum semua, sementara asupan makananku sedikit." jawab Bagas melihat ada enam biji obat ditangan Lila.

__ADS_1


"Salah sendiri, kenapa makannya sedikit."


"Aku akan memakan semua makanan itu kalau saja lidahku tidak terasa pahit. Bahkan kamu pun akan aku makan."


Lila seketika terdiam mendengar ucapan Bagas. Sementara Bagas tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membungkam mulut rivalnya itu.


"Dasar pria menyebalkan." gerutu Lila dalam hati.


Akhirnya Bagas pun hanya meminum tiga biji obat. Lila tidak ingin memaksanya lagi. Ia takut pria itu benar-benar berlaku tidak senonoh padanya karena saat ini mereka hanya berdua diruangan tersebut.


Seperti mengetahui isi fikiran Lila, Bagas langsung berujar,


"Kamu tidak usah takut, aku belum tertarik dengan tubuhmu saat ini. Bokongmu terlalu kecil."


Deg...


Bagai disambar petir disiang bolong. Lila benar-benar mengutuki pria dihadapannya ini. Ia yang memiliki Bodygoals, bisa-bisanya dihina oleh pria tak beradab yang kini sedang ia rawat.


Dengan tatapan penuh permusuhan, Lila langsung berbalik dan keluar dari kamar tersebut sambil membanting pintu, membuat sang pemilik kamar terkaget.


Flasback Of


Karena sudah bosan membolak balikkan tubuhnya diatas tempat tidur, Lila pun bangun dan melangkah keluar kamar. Ia berjalan kearah dapur bermaksud minum air dingin untuk melegakan hatinya yang sedang panas.


Tapi matanya seketika membulat saat melihat seorang pria sedang sibuk memasak disana.


"Kamu lagi ngapain?"


Suara itu mengagetkan Bagas dan ia refleks berbalik menatap kearah sumber suara.


"Aku lapar."


Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Bagas. Karena merasa penasaran dengan apa yang sedang dimasak oleh pria itu, Lila pun berjalan mendekat kearahnya.


"Apa kamu akan memakan mie instan?" tanya Lila setelah berada didekat Bagas.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat." jawab Bagas ketus seraya mengaduk mie diatas teflon.


"Tapi dokter melarang kamu makan mie instan. Kamu tahu kan sakit kamu sekarang menyerang bagian usus, jadi nggak boleh makan makanan instan untuk sementara, apalagi yang memakai penguat rasa."


"Tapi aku lapar dan aku hanya tahu masak ini. Apa aku harus menunggu pagi untuk pesan makanan online?"


Lila memang sudah membuang semua makanan yang ia masak tadi karena ia berfikir Bagas sudah tidak ingin memakannya lagi.


"Duduklah disana, aku akan memasak untukmu." ucap Lila sambil meraih piring mie instan dari tangan Bagas.


Bagaimanapun ia sangat kesal pada pria itu, tapi kalau ia tidak sembuh-sembuh, yang repot dirinya juga.


Bagas kali ini bersikap baik, ia tidak membantah ucapan Lila karena sebenarnya ia juga tahu makan mie instan akan memperlambat kesembuhannya padahal ia sudah sangat ingin ke kantor. Begitu banyak masalah, dan ia malah tinggal saja dirumah.


Bagas duduk di meja makan sambil memperhatikan Lila memasak. Ada perasaan aneh menyusup di sudut hatinya. Entah kenapa ia kini merasa senang ada yang mengurusnya saat sakit. Biasanya ia akan mengurus dirinya sendiri karena keluarganya berada diluar negeri.


Sementara Lila yang sedang serius memasak, tidak tahu bahwa pria yang selama ini dianggapnya sebagai musuh sedang memperhatikan dirinya dan tersenyum dalam diam.


Karena sudah larut malam, Lila hanya memasak bubur dan telur rebus. Tapi buburnya ia kasi sedikit minyak wijen dan bawang goreng supaya Bagas berselera memakannya. Tidak lupa ia membuat jus alpukat, buah yang sangat bagus dikonsumsi untuk orang yang mengalami gangguan pada usus.


"Makanlah." ucap Lila setelah meletakkan piring bubur tersebut dihadapan Bagas.


Ia kemudian berbalik dan hendak kembali ke kamar kalau saja suara Bagas tidak menahannya.


"Apa kamu mau menemaniku makan?"


"Apa aku tidak salah dengar? Itu suara pria menyebalkan itu kan? Bukan suara hantu?"


❤️ Happy reading kesayangan mommy🤗


❤️Ayo dong ramaikan juga cerita disebelah, dijamin nggak kalah seru loh😎



❤️ Cinta Sejati itu kadang datang dari awal yang sulit. Tapi percayalah jika ia memang sudah digariskan bersamamu semua rasa ketidak sukaan akan luluh dan akhirnya mengalah pada TAKDIR😘

__ADS_1


__ADS_2