Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Kecupan Kening


__ADS_3

"Mas, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita di meja makan. Kita sarapan dulu yah." ajak dokter Anna pada suaminya.


Sang pria pemilik senyum manis itu hanya mengangguk kecil kemudian berdiri mengikuti langkah kaki istrinya ke meja makan.


"Ini kamu semua yang masak, Na?"


"Iya, mas. Aku sengaja masak spesial pagi ini untuk kamu."


"Banarkah? Makasih yah."


Keduanya pun memulai sarapan pagi sambil sesekali mengeluarkan suara.


"Na, apa kamu sudah yakin akan ikut pindah kerja disini?"


"Iya, mas. Aku tidak mungkin kembali ke kota M, sementara suamiku disini sendiri." jawab dokter Anna terlihat sedikit malu.


"Kalau aku yang ikut kamu kembali ke kota M, apa kamu tidak keberatan?"


"Maksud kamu, mas?"


Dokter Anna sedikit bingung mendengar ucapan suaminya. Dokter Adit memang belum membicarakan padanya tentang niatnya pindah dan menetap di kota M.


"Aku ingin kembali ke Negara kita, Na. Bagaimanapun bagusnya posisi disini, aku selalu merindukan Negaraku. Apalagi sekarang aku sudah punya keluarga sendiri. Akan lebih baik jika kita sama-sama berkarir disana saja."


"Tapi, mas. Apa kamu tidak kasihan dengan karirmu disini? Tidak semua dokter bisa berkesempatan bekerja disalah satu rumah sakit terbaik dunia."


"Dulu itu hal pertama yang ingin aku capai setelah lulus kuliah, tapi setelah menikah, aku sepertinya tidak terlalu memikirkan itu lagi. Aku hanya harus bekerja mencukupi kebutuhan rumah tangga kita. Dan aku yakin, kalau disini aku bisa diterima dirumah sakit terbaik dunia, maka tidak ada rumah sakit di kota M yang bisa menolakku."


Dokter Anna membenarkan ucapan suaminya. Ia juga yakin, bahkan pihak rumah sakit itu sendiri yang akan menawari dokter Adit bekerja disana.


"Terserah kamu saja, mas. Apa pun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu."


"Makasih, Na."


Keduanya sama-sama menarik kedua ujung bibirnya.


"Jadi kapan kamu akan menghadapkan surat pengunduran dirimu, mas?"


"Pagi ini juga aku akan ke rumah sakit."


"Tapi apa kamu sudah merasa lebih baik?"


"Iya, aku sudah tidak apa-apa kog."


"Tapi...


"Tapi apa, mas?"


"Apa saat aku kembali dari rumah sakit, kamu sudah siap menjadi istriku seutuhnya?"


Deggg

__ADS_1


Jantung dokter Anna seolah berhenti berdetak. Ia tidak menyangka dokter Adit akan menanyakan hal itu, padahal sebenarnya tanpa ia tanyakan pun dokter Anna sudah siap sejak pria dihadapannya kini telah mengucapkan lafadz ijab qabul.


"An, apa kamu mendengar ucapanku?"


Dokter Anna tidak menjawabnya, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap seraya menyunggingkan senyum dibibir merahnya. Dokter Adit terlihat bahagia dengan jawaban tersebut.


Setelah sarapan, ia pun berpamitan pada istrinya untuk kerumah sakit. Dokter Anna tidak lupa meraih tangan suaminya dan menciumnya.


Cup...


Sebuah sentuhan hangat mendarat di kening wanita berparas manis tersebut. Yah, dokter Adit mengecup lembut kening istrinya.


***


Pagi itu tetes-tetes embun baru saja beranjak dari tempat singgahnya saat Ruby terlihat memasuki pintu rumah utama dengan langkah tidak bersemangat. Ia langsung menuju kamar utama mencari suaminya sambil menggendong baby Gyan.


"Mas Satya!"


Ruby langsung menghambur kearah Satya yang sedang mengancing lengan kemejanya.


"Kamu sudah sampai sayang."


"Pap...pap..."


Baby Gyan yang bicaranya belum jelas seolah tahu pria didepannya ini adalah papanya. Satya meregangkan pelukan Ruby dan meraih baby Gyan kedalam gendongannya.


"Anak kesayangan papa. Sun papa dulu dong."


Cup


"Anak papa semakin pintar sekarang."


Satya kemudian beralih kearah Ruby yang menatapnya dengan penuh tanda tanya dan seolah meminta penjelasan.


Karena lengan kanan Satya menopang tubuh baby Gyan, maka ia menggunakan lengan kirinya merangkul Ruby dan membawanya dalam pelukan.


"Kamu kenapa sayang? Kamu tenang saja, aku baik-baik saja sekarang. Kamu tahu kan siapa suamimu ini?"


Melihat Ruby sangat mengkhawatirkan dirinya, Satya berusaha menenangkan istrinya karena ia memang sama sekali tidak takut dengan masalah yang menimpanya saat ini.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Satya kemudian seraya menuntun Ruby kearah sofa.


Ruby menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau begitu aku akan meminta kepala pelayan membawa sarapan ke kamar. Aku tidak mau bayi kecil disini kelaparan karena bundanya lambat ngasi makan." ucap Satya mengusap lembut permukaan perut Ruby.


Sementara Ruby hanya tersenyum kecil mendengarnya.


"Anak papa yang ini juga pasti belum sarapan kan?" tanya Satya Lagi sambil menarik hidung baby Gyan.


"Maaf, mas. Aku belum sempat memberi Gyan makan."

__ADS_1


"Nggak papa, sayang. Aku akan menyuruh Lila mengurusnya. Kamu istirahat saja dulu. Sepertinya kamu sangat lelah."


Lagi-lagi Ruby hanya mengangguk kecil. Satya kemudian menghubungi Lila. Hanya berselang beberapa menit Lila sudah datang dan membawa baby Gyan ke kamarnya. Bersamaan dengan masuknya kepala pelayan membawa sarapan untuk tuan dan nona mudanya.


Setelah mempersilahkan kedua majikannya mencicipi makanan yang sudah dihidangkan, kepala pelayan itu pun meninggalkan kamar tersebut.


"Ayo dimakan sayang, jangan cuma diliati saja. Apa kamu mau aku suapi?"


"Nggak usah, mas. Aku bisa sendiri kog."


Melihat Ruby yang sepertinya enggan menyendok makanan masuk kedalam mulutnya, Satya pun tidak bertanya lagi. Ia langsung menyendok makanan tersebut dan mengarahkannya kedepan mulut Ruby.


"Aku bisa sendiri kog, mas."


"Sudah, jangan membantah lagi. Sekarang buka mulutmu dan aku akan menyuapimu."


Ucapan Satya yang mendominasi membuat Ruby akhirnya menurut.


"Kamu juga makan, mas."


"Aku sudah kenyang hanya dengan melihat wajahmu, sayang."


"Gombal kamu, mas."


"Tapi aku beneran serius sayang."


Satya menaruh sendok yang dipegangnya dan semakin mendekatkan tubuhnya disisi Ruby. Tanpa aba-aba ia langsung meraih tengkuk istrinya dan mencium bibir wanita itu dengan sangat liar. Ia sudah lama merindukan bibir merah itu. Sehari saja tidak merasakan kekenyalannya sepertinya ada yang hilang dalam hidupnya. Ruby dibuatnya susah bernafas.


Saat bibirnya sedang bekerja, tangannya pun tidak ingin tinggal diam. Diremasnya dua gundukan di dada Ruby yang sudah mulai membesar lagi karena kehamilannya.


Ruby yang tadinya diam saja, sekarang sudah terlihat menikmati setiap sentuhan suaminya. Karena sudah tidak tahan lagi, Satya akhirnya membopong tubuh istrinya ke ranjang dan meletakkannya pelan-pelan disana.


"Aku belum mandi, mas."


"Kamu bisa mandi nanti, sayang. Setelah kita berolahraga pagi." balas Satya seraya membuka kancing kemejanya.


"Tapi, mas..."


"Aku tidak menerima penolakan kali ini, sayang. Setelah beberapa hari aku tidak mendapat jatah darimu. Kamu tidak mandi seminggu pun, aroma tubuhmu selalu membuatku candu."


Satya sudah berhasil membuka semua pakaian yang melekat ditubuhnya. Ia kini berdiri didepan Ruby tanpa sehelai benang pun. Mempertontonkan senjata pamungkas miliknya yang sebentar lagi akan menyerang Ruby.


Ruby tersenyum kearah suaminya dan sudah pasrah apa pun yang akan dilakukan Satya padanya saat ini.


Erangan dan desahan akhirnya memenuhi kamar tersebut pagi itu, sampai mereka sama-sama terkulai lemas. Satya mengecup kening istrinya kemudian mengusap lembut perutnya dan membisikkan sesuatu disana.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan didalam? Papa datang menjengukmu karena merindukanmu."


🧡 Happy reading kesayangan mommy... Jangan lupa yah mampir diseblah, udah up 2 bab CINTA DIBALIK PENOLAKAN😘🤗


Seperti yang sudah mommy bilang, mommy tidak akan menceritakan lagi kisah dokter Nata disini karena cerita cintanya akan dikemas tersendiri dalam satu novel🤩

__ADS_1


💜 Ketika Cinta sudah berpihak padamu, lupakan semua kesakitan dimasa lalu karena itu hanya akan jadi perusak untuk masa depanmu😊


__ADS_2