Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Menemui Profesor Ludwig


__ADS_3

"Aku sudah kosongkan dua lemari untuk pakaianmu. Kamu bisa mengaturnya sekarang," perintah dokter Aditya saat dokter Anna keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap.


Dokter Anna hanya mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum. Setelah berkata begitu ia pun berlalu kedalam kamar mandi hendak membersihkan dirinya juga.


Perasaan dokter Anna yang sebelumnya diliputi cemas saat berdekatan dengan dokter Adit, sekarang malah bertanya-tanya kenapa dokter Adit belum juga menyentuhnya sampai detik ini. Sebagai pria normal, ia tentu tidak akan mengulur-ulur waktu untuk menunaikan kewajibannya. Meskipun sebenarnya dokter Anna pun belum siap untuk itu tapi jika dokter Adit lebih dulu memintanya, sebagai seorang istri yang ingin mengabdi pada suaminya, ia tentu tidak akan menolak.


Sama seperti dokter Anna, dokter Adit pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, bedanya ia tidak mengenakan pakaian santai seperti dokter Anna. Celana panjang berwarna abu-abu dan kemeja biru muda yang lengannya dibalut sebatas siku sudah menempel ditubuh atletisnya memberi pesona tersendiri untuk seorang dokter Aditya.


Dokter Anna melihat sekilas kearah dokter Adit tapi ia belum berani menatap pria itu lebih lama.


"Aku akan langsung menemui Prof Ludwig di kampus. Prof Ludwig sangat disiplin, aku tidak mau membuatnya menunggu lama."


Seolah mengerti, dokter Adit pun langsung menjawab tatapan sepintas dokter Anna.


"Kalau kamu mau, kamu bisa ikut denganku. Kamu bisa menunggu di cafe kampus sambil makan siang. Kamu pasti sudah lapar kan?" Ajaknya pada dokter Anna.


"Di dapur belum ada bahan makanan apa-apa, sepulang nanti dari kampus kita bisa mampir ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan dapur," lanjutnya lagi.


"Iya, aku ganti baju dulu." Jawab dokter Anna.


Tidak menunggu lama, dokter Anna sudah berganti pakaian. Sebuah rok dibawah lutut berwarna senada dengan celana dokter Adit yang dipadukan dengan atasan katun. Saat itu di Jerman sedang musim panas jadi mereka tidak perlu diribetkan dengan pakaian tebal yang membungkus badan.


Mobil yang dijalankan dokter Adit melaju dengan kecepatan sedang diatas aspal jalanan kota Jerman. Saat diluar mobil begitu ramai dengan hiruk pikuk kesibukan kota, didalam mobil malah terasa hening karena kedua pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri tersebut sepertinya sedang irit bicara.


"Bagaimana keadaan om Lingga sekarang?" Dokter Anna membuka pembicaraan lebih dulu.


"Terakhir ditangani tim Nata, ia sudah lebih baik. Tapi sekarang aku belum tahu bagaimana perkembangan selanjutnya," jawab dokter Aditya.


"Kalau ada waktu aku ingin mengunjunginya," tambah dokter Anna.


"Aku akan mengantarmu," balas dokter Adit masih dengan pandangan lurus kedepan.


Dokter Anna tersenyum tipis mendengar jawaban dokter Adit.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu, sampai juga mereka di kampus kedokteran terbaik kota Jerman, tempat Professor Ludwig mengabdi saat ini.


"Aku akan membawamu ke cafe terlebih dulu sebelum aku keruangan Prof Ludwig," ucap dokter Adit saat keduanya sudah turun dari mobil dan mulai berjalan didalam area kampus.


"Aku bisa mencari sendiri cafenya Dit, kamu tidak ingin membuat Prof Ludwig menunggu lama kan?"


Dokter Aditya berhenti sejenak lalu menatap dokter Anna. Ia menghela nafas dalam-dalam kemudian berkata,


"Mengantarmu sampai ke cafe tidak akan memakan waktu lama."


Ia mengambil tangan dokter Anna dan menyilangkannya di sela-sela jari mungil itu. Dokter Anna tersenyum simpul mendapat perlakuan seperti itu dari pria yang kini sudah berstatus suaminya.


"Kita sudah sampai, masuklah kedalam. Aku tidak akan lama kembali."


Dokter Anna hanya mengangguk seraya menyunggingkan senyum untuk kesekian kalinya.


"Selamat siang Prof, saya sudah datang memenuhi panggilan anda."


Dokter Adit membungkukkan badannya setelah bertatap muka dengan Profesor Ludwig diruangannya.


"Banyak terima kasih saya ucapkan atas perhatiannya Prof." Dokter Adit lagi-lagi menundukkan kepalanya.


"Jangan sungkan dokter muda, duduklah. Sahut Prof Ludwig.


Sebelum memulai pembicaraan Profesor Ludwig lebih dulu menarik nafas dalam-dalam, barulah kemudian ia bersuara.


"Mungkin apa yang akan saya katakan ini terdengar sedikit mendzalimi tapi hanya kamu yang bisa saya andalkan dalam hal ini," ucapnya penuh penekanan tapi tetap dengan sikap tenang dan berkharismanya.


"Katakan saja Prof, sama seperti dokter Nata, ucapan anda adalah titah bagi saya." Balas dokter Adit.


"Saya akan mengirimmu ke Yunani, membantu pencarian dokter Nata. Menurut informasi dari sana, dokter Nata disandera oleh sekawanan orang tak dikenal yang sampai sekarang belum diketahui keberadaannya."


Meskipun dokter Adit sangat terkejut mendengar perintah itu tapi ia tetap terlihat tenang. Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekagetan.

__ADS_1


"Jadi kapan saya akan diberangkatkan kesana dok?"


Terdengar nada pasrah pada suara dokter muda itu.


"Sepulang dari sini, persiapkan dirimu. Tengah malam nanti kamu akan berangkat dengan beberapa orang keamanan."


Tidak ada pilihan lain. Meskipun enggan, dokter Adit pun pada akhirnya harus tetap berangkat karena ini perintah langsung dari Profesor yang selama ini banyak membantunya selama menempuh pendidikan di Jerman bahkan bisa masuk kesalah satu rumah sakit terbaik di Eropa adalah karena campur tangan dokter tua itu.


"Baik Prof. Kalau tidak adalagi yang ingin anda sampaikan, saya mohon pamit."


"Jaga dirimu disana dokter muda, saya yakin kamu akan kembali secepatnya bersama dokter Nata."


Prof Ludwig menepuk-nepuk bahu dokter Adit. Dokter Adit tidak lupa kembali membungkukkan badannya sebelum keluar dari ruangan tersebut.


***


"Bagaimana kabar Nata sekarang yah?"


Satya bertanya pada dirinya sendiri tapi suara pelannya bisa terdengar ditelinga Ruby yang saat itu berada didekatnya.


"Apa belum ada kabar dari Jerman, mas?"


"Ibu tadi menelfon, katanya dokter pengganti Nata belum dapat informasi apapun dari rumah sakit karena pihak rumah sakit sendiri tertutup mengenai hilangnya Nata," jawab Satya.


"Om Arghany sudah tahu. Kata ibu, ia akan berangkat ke Jerman malam ini bersama tante Arayu, mama Nata."


"Oh yah?" Mama kak Nata pasti sangat syok mendengar berita itu," balas Ruby.


"Tentu saja. Tante Arayu sejak dulu tidak mengizinkan Nata pergi jauh dari kota M tapi ia tidak bisa melarang saat Nata bersikeras ingin melanjutkan pendidikan disana sampai akhirnya bekerja." Ucap Satya.


"Menurut mama, kepergian Nata ke Yunani tidak diketahui kedua orangtuanya. Ia hanya memberitahu dokter Sophy, tantenya. Om Arghany baru mengetahuinya kemarin saat Nata menghilang. Ia dihubungi langsung oleh dokter kepala rumah sakit tempat Nata bekerja," tambah Satya.


Ruby hanya bisa menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


❤️ Segini dulu yah readers, happy reading, jangan lupa ninggalin jejak. Yang mau ngasi masukan agar cerita ini tidak membosankan monggo sayang, asal jangan nyuruh hilangin Ruby dan Satya🤭🤗🤗


__ADS_2