Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Mencarinya


__ADS_3

"Hi An, maaf yah aku sudah mengganggu waktumu," ucap Satya saat tiba dicafe rumah sakit tempat dokter Anna bekerja. Ia tadi memang menelfon dokter Anna meminta untuk bertemu.


"It's okey, gak apa-apa, aku juga lagi break sekarang," balas dokter Anna yang sudah menunggu Satya di cafe tersebut.


"Kamu mau pesan apa,Sat?"


"Cappucino coffe saja, aku sudah makan tadi."


"Oke," dokter Annapun memanggil waitres dengan menaikkan tangannya dan memberitahu pesanan Satya.


"Ada apa Sat, kamu tiba-tiba mau ketemu sama aku," tanya dokter Anna memulai percakapan.


"Apa benar Ruby gak pernah menghubungi kamu?" tanya Satya langsung pada intinya.


"Ya ampun Sat, tempo hari aku sudah ngasi tau kamu ditelfon, aku gak mungkin bohong, aku juga sekarang lagi bingung nyari dia," jawab dokter Anna.


"Maafin aku An, aku cuma takut kejadian dulu terulang lagi, kamu bilang tidak tau dimana Ruby padahal kamu yang membantu dia melahirkan,"


"Yang dulu aku benar-benar minta maaf Sat, tapi keadaannnya sekarang berbeda, aku bisa pastikan dengan omonganku saat ini," jawab dokter Anna serius. Ia merasa kasian melihat Satya.


"Iya An, maafin aku sudah meragukanmu, aku hanya tidak tau lagi kemana harus mencari Ruby, bagaimana keadaannya sekarang sama Gyan" ucap Satya terdengar putus asa.


"Kamu jangan menyerah Sat, aku yakin Ruby sekarang baik-baik saja, dia wanita yang kuat," balas dokter Anna. Satya menarik nafas berat lalu meminum kopinya seteguk.


"Oya bagaimana kelanjutan sidangmu sama Rania?"


"Sepertinya hasil putusan akan cepat keluar karena ini kemauan kami berdua, Rania sudah menemukan kebahagiaannya sendiri, mudah-mudahan ini yang terbaik untuknya," ucap Satya.


"Aku doakan kalian menemukan kebahagiaan masing-masing," dokter Anna mengulas senyum kearah Satya.


"Apa kamu hanya memikirkan kebahagiaan kami? Lalu kapan kamu akan memikirkan kebahagiaan kamu sendiri," Satya terlihat mencairkan suasana yang sejak tadi beku karena perbincangan berat kehidupannya.


"Kalau saatnya sudah tiba, kebahagiaan itu sendiri yang akan menjemputku Sat," dokter Anna tersenyum penuh Arti kearah Satya yang dibalas dengan senyuman juga oleh Satya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Apa kamu memang sudah tidak tertarik sama lawan jenis saat ini?" tanya Satya.


"Sialan kamu Sat," Satya tersenyum jahil sudah berhasil menggoda dokter Anna.

__ADS_1


"Aku sebenarnya suka sama seseorang, tapi sayang dia menyukai wanita lain," ucap dokter Anna menerawang.


"Kalau aku boleh menebaknya, apa itu Nata?" tanya Satya penuh selidik. Dokter Anna menghela nafas berat.


"Tidak semua hal bisa dipublikasikan Sat, aku ingin menyimpan ini sendiri," balas dokter Anna menyunggingkan senyum tipis.


"Oke, up to you,"


"Oya, apa kamu sudah menghubungi Sultan menanyakan tentang Ruby?, Sultan pasti tau banyak tentang keluarga dan teman-teman Ruby. Lagian kamu juga Sat, udah punya anak tapi kamu bahkan tidak tau tentang keluarga Ruby," ucap dokter Anna.


"Iya, Sultan, kenapa aku bisa lupa menghubungi dia, aku akan menelfonnya sekarang," balas Satya lalu ia merogoh ponsel disaku celananya dan melakukan panggilan telfon pada Sultan, tapi sedetik kemudian ia terlihat menghela nafas kasar dan mengeleng-gelengkan kepala.


"Ponselnya gak aktif," ucapnya.


"Entar telfon lagi siapa tau udah aktif," ucap dokter Anna yang dibalas anggukan Satya.


"Aku mau balik kekantor dulu An, makasih yah atas waktunya," kata Satya.


"Iya sama-sama," jawab doktee Anna.


Satya pun berdiri dan hendak berlalu keluar tapi sebelum melangkah dari meja itu Satya sempat berbalik kearah dokter Anna.


Baru saja dokter Anna ingin beranjak dari kursi tempatnya duduk, ponselnya berdering dan saat ia melihat kelayar handphone ternyata itu dari dokter Nata.


"Halo Na, kamu lagi dimana sekarang?" tanya dokter Nata dari seberang telfon.


"Aku lagi dirumah sakit Nat, ada apa?" tanyanya.


"Gak ada apa-apa kog, aku...aku hanya ingin nanya apa sudah ada kabar dari Ruby?" lagi-lagi dokter Anna terdengar menghela nafas berat.


"Kamu tuh kenapa sih Nat selalu ngurusin istri orang, aku kemaren ngebela kamu karena aku fikir Satya sudah mengabaikan Ruby tapi ternyata yang aku liat tadi dia sepertinya frustasi mencari keberadaan Ruby sekarang," jawab dokter Anna.


"Apa?, kamu barusan ketemuan sama Satya?" tanya dokter Nata.


"Iya, dia baru saja pulang."


"Kalau Satya mencari Ruby wajar karena dia memang istrinya, tapi kalau kamu? dokter Anna menggantung kata-katanya.

__ADS_1


"Entahlah Na, tapi aku belum bisa menghapus Ruby dari fikiranku," dokter Nata menarik nafas berat.


"Kamu harus berusaha Nat, Ruby istri Satya dan Satya sendiri sudah bilang ia tidak akan melepaskan Ruby sampai kapanpun, kita utamanya kamu adalah sahabat Satya, ingat Nat kamu pernah menjadi dokter keluarga Biantara tapi kenapa sekarang hubungan kalian seperti orang yang tidak pernah dekat sama sekali," nada suara dokter Anna terdengar sedang sedih.


"Maaf Na, tapi aku tidak tau bagaimana menghilangkan Ruby dari fikiranku, apa kamu mau membantu aku?" tanya dokter Nata pelan.


"Membantu kamu? dengan cara apa aku bisa membantumu, Nat?" tanya dokter Anna.


"Aku...kita mungkin bisa belajar untuk saling menyukai layaknya suka antara lawan jenis," ucap dokter Nata pelan. Dokter Anna tidak menjawab kata-kata dokter Nata, ia diam seribu bahasa, ia hanya berbicara pada dirinya sendiri.


"Aku tidak perlu belajar untuk menyukai kamu Nat, tanpa itu aku memang sudah sangat menyukaimu," lirihnya.


"An, Anna, apa kamu masih disana?" tanya dokter Nata karena ia sudah tidak mendengar lagi suara-suara disana.


"Iya Nat, aku masih disini, kamu tadi ngomong apa?" tanya dokter Anna pura-pura tidak mendengar.


"Sudahlah Na, lupakan saja," jawab dokter Nata mengalihkan.


"Sudah dulu yah An, ada pasien yang harus aku visite, kalau ada kabar dari Ruby, tolong hubungi aku, kamu jaga diri baik-baik disana."


"Iya Nat," dokter Anna tidak mampu berkata-kata lagi, ia berfikir kenapa dokter Nata tidak bisa memantapkan hatinya untuk lebih memilihnya.


"Nat, apa kurangku, kenapa kamu tidak bisa memalingkan wajahmu sedikit saja kearahku, dan kenapa juga hatiku harus memilihmu, padahal diluar sana masih banyak mungkin yang lebih baik darimu," mata dokter Anna berkaca-kaca setelah menutup telfon dari dokter Nata.


***


Ditempat lain dirumah orangtua Ruby dikampung, terlihat Ruby sedang bersantai dengan ibunya diteras depan rumah sambil bercakap-cakap.


"Nak, ibu bukanya tidak suka kamu berada disini, tapi kamu tau sendiri agama kita sangat melarang seorang istri keluar dari rumah tanpa sepengetahuan suaminya. Sudah hampir dua minggu kamu disini tapi ibu belum pernah melihat kamu menelfon suamimu," ucap ibu Rumana. Ruby menarik nafas dalam-dalam, ia tidak tau apa yang harus dikatakannya pada ibunya.


"Aku melakukan ini untuk kebaikan mas Satya dan mba Rania, bu." jawab Ruby pelan.


"Tapi itu bukan berarti kamu harus pergi diam-diam nak, kamu masih tanggung jawab suamimu sekarang, ibu hanya tidak mau melihat kamu berdosa nak, walaupun pernikahan kalian hanya pernikahan SIRI tapi itu sah dalam agama kita," ucap ibu Rumana, Ruby lagi-lagi terdiam tapi fikirannya sedang berkecamuk saat ini.


❤️Hi readers kesayangan author baru bisa up sekarang, sepertinya tadi sedang ada masalah disistem sama jaringan, jangan lupa dukungannya yah, ayo kasi Votenya banyak2, maafin semua kekurangan author😘🤭


❤️Mampir juga dicerita keduaku yah CINTA DIBALIK PENOLAKAN❤️

__ADS_1


***jangan mengibaratkan CINTA seperti sebuah pesawat yang bisa mendarat darurat jika cuaca sedang buruk dan seenaknya pergi saat cuaca kembali baik, karena CINTA yang sempurna hanya mendarat di satu HATI🤩❣️


__ADS_2