
Dokter Anna tiba di bandar udara Berlin,Jerman pada pukul 04.00 subuh(di kota M sudah pukul 11 siang).Karena disana masih subuh,dokter Anna bisa menyaksikan kerlap kerlip lampu bandara yang temaram sambil menunggu jemputannya,ia melihat kekanan dan kekiri,mencari-cari orang dengan ciri-ciri yang disebutkan dokter Nata ditelfon tapi ia tidak menemukannya,ia kembali menelfon dokter Nata tapi baru pada deringan kedua dokter Nata mengangkatnya,
"Halo Nat,aku udah ada dibandara sejak tadi tapi aku sama sekali gak melihat dokter aditya seperti ciri-ciri yang kamu sebutkan itu",kata dokter Anna terdengar mulai kesal.
"Aduh Na,kamu mengganggu tidurku saja,aku belum lama terpejam",balas dokter Nata yang malam itu bertugas menemani Ruby dirumah sakit.
"Kamu bilang dia sudah ada disini,pake celana jeans mocca sama blazer cream,tapi dari tadi aku tidak melihat ada pria pake blazer warna itu",dokter Anna melihat sekilas pada pria disampingya yang memakai blazer warna grey,ia terlihat tampan tapi sayang ia sepertinya bersikap dingin.
"Tapi ia sejak tadi disana Na,dua jam sebelum kamu landing dia udah nyampe sana,coba deh kamu liat baik-baik,jangan-jangan penglihatanmu udah ada masalah",ucap dokter Nata meyakinkan.
"Dokter Dinata yang terhormat,maaf yah tapi penglihatanku masih sangat baik",jawab dokter Anna sebel.Tiba-tiba pria yang memakai blazer grey tadi menghampirinya,
"Permisi,apa anda yang bernama dokter Anna?",tanyanya tanpa mengulas senyum sedikitpun,dokter Anna merasa heran ternyata pria yang berada didekatnya mengenalinya.
"Iya betul,apa anda kenal dengan saya?",tanya dokter Anna balik.
"Saya tidak mengenal anda tapi sepertinya teman saya kenal anda dengan baik karena dia menyuruh saya menjemput anda disini",katanya masih dengan wajah datar.
"Apa anda dokter Aditya?",tanya dokter Anna memastikan.
"Iya",jawabnya singkat membuat dokter Anna mulai kesal.
"Tapi Nata bilang anda memakai blazer warna cream,dan bagaimana anda bisa mengira saya Anna?",
"Tadinya memang saya memakai blazer warna cream sewaktu Nata menelfon,tapi sebelum kemari blazer saya kena tumpahan air kopi jadi saya ganti,saya belum sempat menghubungi Nata lagi,dan tadi saya mendengar anda menelfon menyebut nama dokter Dinata",
__ADS_1
"Ooooooo,begitu",dokter Anna ingat kalau memang ia duduk berdekatan dengan pria itu saat ini.
"Kita pergi sekarang",ajak dokter Aditya pada dokter Anna.
"Oke",balas dokter Anna sambil menarik travelbag miliknya,dalam hati ia mengumpat dokter Aditya yang sama sekali tidak menawarkan diri membawakan kopernya.
"Kita mau kemana?",tanya dokter Anna setelah berada didalam mobil yang dikemudikan dokter Aditya.
"Ke rumah,memangnya mau kemana lagi,saya tidur aja baru tiga jam,sudah harus menunggu di bandara",dokter Aditya mendongkol dalam hati karena memang dokter Nata menyuruhnya datang lebih awal ke bandara agar dokter Anna tidak menunggu terlalu lama.
"Boleh kita kerumah sakit dulu?,saya ingin melihat keadaan Ruby dan bayinya",dokter Anna hanya menghela nafas berat melihat dokter Aditya hanya diam saja.
Tapi tidak lama berselang mobil dokter Aditya terlihat memasuki sebuah parkiran rumah sakit yang sangat besar,dokter Anna mengulas senyum tipis,ia membatin dalam hati,
"Ternyata sikapnya aja yang dingin,ia baik juga",
"Baiklah,apa Nata ada disana?",tanya dokter Anna.
"Nata gak pernah pulang kerumah selama ada wanita itu disini",jawab dokter Aditya agak sinis,dokter Anna lagi-lagi menghela nafas berat.Ia lalu masuk kedalam lift bersama dokter Aditya,dokter Aditya keluar saat pintu lift terbuka dilantai tiga,ia tidak berucap satu katapun pada dokter Anna,dokter Anna melakukan hal yang sama.
Sampai dilantai tujuh,ia langsung menemukan kamar yang diberitahu dokter Aditya tadi.Ia menarik knop pintu dengan sangat pelan,ternyata tidak dikunci,ia pun masuk kedalam,dilihatnya Ruby yang masih dipasangi alat-alat pada tubuhnya,dokter Nata yang tidur disofa depan tempat tidur Ruby,terlihat gurat-gurat kelelahan diwajahnya,dan bayi Ruby yang berada didalam inkubator diletakkan disamping sofa yang dipakai untuk tempat tidur dokter Nata,bulir-bulir bening tiba-tiba jatuh dipipi mulus dokter Anna,
"Ya ALLAH Nat,begitu berartinya Ruby buat kamu,sampai sejauh ini pengorbananmu,melihatmu seperti ini aku ikut merasa tersentuh Nat,mungkin kamu tidak membalas cintaku karena kamu tidak pernah tau aku mencintaimu,sekarang aku benar-benar tau Nat ketulusanmu untuk Ruby,dan aku iklas melepasmu,demi Ruby dan bayinya",dokter Anna berkata sangat pelan sambil berjalan mendekati bayi Ruby,ia menatap dalam-dalam bayi itu,dan ia menemukan mata Satya disana,ia kembali berucap tanpa terdengar oleh Nata,
"Satya kenapa kamu menyia-nyiakan bayi seimut ini,aku tidak bisa bayangkan bagaimana nasibnya kalau tidak ada Nata,ia membuka lubang pada kotak inkubator itu,disentuhnya bayi Ruby dengan sangat lembut,seolah merasakan sentuhan dokter Anna,bayi itu menggeliat,tidak lama kemudian ia menangis,tangisannya sangat nyaring,bentuk tubuhnya saja yang mungil,tapi suaranya mampu membangunkan dokter Nata yang masih tidur,
__ADS_1
"Anna,kamu udah lama?",tanyanya pada dokter Anna setelah ia membuka matanya dan melihat dokter Anna sudah berada diruangan itu.
"Belum terlalu lama Nat,aku tidak enak membangunkanmu karena aku melihat kamu sangat lelap",jawab dokter Anna lalu berjalan kesofa tempat dokter Nata tidur.
"Iya Na,aku baru bisa tidur sejak semalam mengurus Ruby dan bayinya",jawabnya sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Bagaimana keadaan Ruby Nat?",tanya dokter Anna.
"Yah,seperti yang kamu lihat Na,Ruby belum sadar juga,ia masih bergantung pada alat-alat itu",jawab dokter Nata melihat kearah Ruby dengan pandangan sendu.
"Kasian Ruby Nat,aku tidak menyangka ia akan mengalami ini,karena terakhir datang periksa,kandungannya baik-baik saja,sama sekali tidak ada kelaianan",kata dokter Anna.
"Iya Na,kata Lila Ruby mengalami banyak perubahan saat Satya tidak menghubunginya sama sekali selama seminggu itu,ia tidak memperhatikan asupan makanannya,ia tidak lagi minum susu dan vitamin kehamilannya,lebih parahnya lagi ia cuma duduk melamun terus dibalkon,ia benar-benar mengalami stres berat Na,",ucap dokter Nata dengan nada sedih,dokter Anna hanya menarik nafas berat mendengar cerita dokter Nata.
"Makasih yah Na atas semua yang sudah kamu lakukan untuk Ruby,maafkan aku sudah menyeretmu kedalam masalah ini",dokter Nata berkata sangat pelan.
"Gak pa-pa Nat,Ruby pantas mendapatkan bantuan kita,dia orang baik,pertahankan dia Nat",dokter Nata hanya tersenyum tipis melihat ketulusan dokter Anna.
"Kamu pulang aja dulu kerumah Na,entar habis istirahat kamu bisa kesini lagi",
"Baiklah Nat,kamu bisa telfon dokter Adit kan?",dokter Anna terlihat agak malu pada dokter Nata.
"Namanya Aditya,Na",ucap dokter Nata lagi-lagi mengulas senyum kearah dokter Anna.
"Iya,dokter Aditya maksudnya",balas dokter Anna cepat.
__ADS_1
❤️❣️author lagi sibuk readers kesayangan jadi baru up,tunggu up selanjutnya entar malam yah,jangan lupa kasi like,vote,dan koment dong supaya author tambah semangat😘🤗