
YUNANI
Seperti biasa dokter Adit akan selalu bangun sebelum alarm waktu subuh di ponselnya berbunyi dan sebelum beranjak dari tempat tidur, ia terlebih dulu mencari ponselnya untuk menghubungi dokter Anna. Ia melihat pada layar ponsel ada dua panggilan tak terjawab dari dokter obgyn yang sudah menjadi istrinya itu.
Ia kemudian menekan kembali nomor itu yang tidak lama kemudian diangkat oleh pemiliknya diseberang sana.
"Maaf, semalam aku sudah tidur saat kamu menelfon." Kata dokter Adit membuka percakapan.
"Bagaimana keadaanmu disana, Dit?"
Dokter Anna tidak menjawab ucapan dokter Adit dan malah melontarkan pertanyaan pada dokter muda itu.
"Aku disini baik-baik saja. Apa kamu sudah mulai mencemaskanku?"
"Seorang istri sudah sewajarnya menanyakan kabar suaminya."
"Ooo, jadi hanya sebatas itu."
Nada suara dokter Adit yang tadinya datar kini malah melemah membuat dokter Anna yang berniat menanyakan kabar dokter Nata mengingat pesan tante Arayu, jadi mengurungkan niatnya.
Padahal sebenarnya ia memang mencemaskan keadaan dokter Adit tapi entah kenapa ia masih enggan untuk mengakuinya. Keadaan menjadi hening seketika, hingga dokter Adit mengira dokter Anna sudah memutuskan telfonnya.
"Apa kamu masih disana, An?"
"I... iya Dit. Apa belum ada perkembangan apa-apa dari sana?" Tanyanya dengan hati-hati tanpa menyebut nama dokter Nata karena ia tidak ingin membuat suaminya itu salah faham setelah ia mengetahui ternyata istrinya menyimpan rasa untuk sahabatnya itu.
"Tentang Nata?"
"Itu tujuan utamamu kesana kan Dit?"
"Aku tidak apa-apa kog An, kalaupun kamu bertanya secara langsung."
"Maksudku tidak seperti itu Dit. Sebenarnya tante Arayu yang menyuruhku menanyakan ini sama kamu."
"Tante Arayu, mama Nata?"
"Iya Dit. Ia sekarang ada dirumah Nata dan semalam aku makan malam dengannya disana."
"Makan malam dengan tante Arayu?"
"Maaf Dit, aku tidak sempat memberitahumu. Aku tidak enak menolak ajakan tante Arayu. Semalam aku menelfonmu tapi kamu tidak mengangkatnya."
Suasana kembali hening, hanya desahan nafas dokter Adit yang terdengar berat ditelinga dokter Anna. Ia tidak bisa melarang dokter Anna untuk dekat dengan tante Arayu karena ia sangat tahu bagaimana hubungan mereka dulu. Jauh sebelum ia mengenal dokter muda itu dan memperistrinya, tante Arayu sudah lebih dulu dekat dengannya.
"Iya tidak apa-apa, Na. Belum ada kabar dari Nata sampai saat ini." Jawabnya kemudian.
"Itu berarti kepulanganmu masih lama Dit."
"Aku baru saja tiba kemarin Na, doakan saja semoga Nata secepatnya ditemukan agar aku bisa kembali sama-sama dengannya."
"Iya Dit."
__ADS_1
"Kamu mau kemana hari ini?" Tanya dokter Adit.
"Apa boleh aku menjenguk om Lingga?"
"Iya, kamu hati-hati saja setiap keluar rumah."
"Iya."
"Kamu sama siapa disana?"
Dokter Anna bertanya sangat pelan dan terdengat hati-hati.
"Aku sendiri, apa kamu sedang berfikir aku bersama seseorang?"
"Tidak Dit, maksudku bukan begitu."
"Kamu tenang saja, meskipun aku tahu kamu mencintai oranglain tapi aku tidak sepicik itu untuk memikirkan hal seperti itu saat ini."
"Aku masih berfikir bahwa perasaan itu masih bisa berubah seiring berjalannya waktu. Apa kamu mau membenarkan ucapanku?" Tanyanya lagi pada dokter Anna.
"Iya Dit," jawab dokter Anna singkat tapi sudah bisa membuat suaminya tersenyum tipis.
"Kalau begitu bangunlah, persiapkan dirimu menyambut pagi yang cerah."
"Iya, kamu juga Dit."
"Apa aku tutup sekarang telfonnya?"
"Kalau tidak adalagi yang ingin kamu bicarakan."
"Take care too, Dit."
Sambungan telfon pun terputus. Dokter Adit sebenarnya berharap lebih dari dokter Anna. Kalau belum bisa melakukan kecupan bibir secara live paling tidak bisa lewat ponsel dululah, tapi mendengar tanggapan dokter Anna seperti itu, ya sudahlah, ia pun belum ingin berkata terus terang sekarang ini.
***
JERMAN
Siang hari saat matahari sudah jauh berada diatas kepala, Ruby sudah sampai di Jerman. Ia langsung ke rumah sakit tempat papa Lingga di rawat.
Memasuki rumah sakit itu, Ruby kembali diingatkan pada putra kesayangannya Rendra yang selalu berada didekatnya saat ia melewati masa-masa sulit.
Menelusuri setiap lorong rumah sakit seperti membuka setiap lembar catatan hidupnya yang menyisakan trauma mendalam. Disini ia pernah berjuang untuk hidupnya sendiri dengan bantuan dokter Nata. Dan disini pula ia harus merelakan Rendra pergi untuk selama-lamanya.
"Dokter Nata? Bagaimana kabarnya sekarang?" Gumam Ruby yang terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan tapi hatinya entah berkelana kemana saat ini.
Dokter muda itu yang sudah banyak membantunya dan berkeyakinan penuh bahkan saat tim dokter yang menangani Ruby sudah menyerah untuk menanganinya. Dan dokter itu pula yang sudah melewatkan banyak waktunya hanya untuk bolak balik ke rumah sakit menjaga Ruby. Ia juga merawat baby Gyan dan Rendra di rumahnya tanpa ada keluhan sedikitpun. Ruby seketika teringat pada dokter Nata hingga tanpa sadar bulir bening jatuh dari sudut matanya.
"Apa nona baik-baik saja?"
Lila yang berada disamping Ruby merasa heran dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti itu.
__ADS_1
"Enggak apa-apa Lil, aku hanya teringat pada kak Nata." Jawabnya sambil menyeka pipinya yang mulai basah.
Lila tidak bertanya lagi karena ia termasuk salah satu saksi mata yang melihat dengan jelas bahkan semua hal kecil yang telah dilakukan dokter tampan idolanya itu untuk Nonanya. Ia hanya berharap semoga dimanapun dokter Nata berada sekarang, Tuhan selalu melindunginya.
Karena sibuk dengan perasaannya, Ruby tidak menyadari kalau sekarang mereka sudah berada didepan kamar papa Lingga dirawat, andai saja Lila tidak menghentikan langkahnya.
Setelah mengetuk pintu, ia langsung memutar gagangnya tanpa menunggu balasan dari dalam.
"Ruby, kamu sudah datang sayang."
Kata Ibu Rita melihat Ruby muncul dari balik pintu. Ruby berjalan mendekati ibu mertuanya, menyalami tangannya dan memeluk wanita yang selalu baik padanya itu.
"Iya bu, aku baru saja sampai dan langsung kemari."
Ibu Rita beralih pada Lila yang sedang menggendong baby Gyan, ia lalu berjalan kearahnya melewati Ruby dan langsung mengambil baby lucu itu. Membuat Lila jadi kesulitan meyalaminya.
"Cucu kesayangan Oma, Oma sangat merindukanmu sayang." Ucapnya seraya menciumi wajah baby Gyan.
Ruby hanya tersenyum tipis melihat kelakuan mertuanya, ia lalu melangkah kedekat tempat tidur papa Lingga. Sepertinya mertua laki-lakinya itu baru saja terbangun mendengar suara ribut-ribut mereka.
Ruby mencium tangan mertuanya itu yang sudah lebih dulu mengulas senyum kearahnya setelah ia berada didekat tempat tidur.
"Bagaimana keadaan papa?"
"Papa sudah merasa semakin baik nak, mudah-mudahan secepatnya bisa kembali ke kota M. Papa sudah lama meninggalkan Satya sendiri mengurus perusahaan."
"Papa tidak usah banyak fikiran dulu. Mas Satya bisa mengatasi semuanya, ia juga dibantu oleh Bagas kog."
Papa Lingga lagi-lagi tersenyum melihat perhatian menantu satu-satunya itu.
"Pa, lihat nih cucu kita sudah semakin gede. Ia sebentar lagi akan punya adik sementara resepsi pernikahannya belum juga sempat dilaksanakan karena papa sudah keburu sakit." Sela ibu Rita yang sudah berada didekat Ruby.
"Maafin papa yah nak," ucap papa Lingga merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa kog pa, papa sehat aja dulu. Masalah resepsi bisa kapanpun dilakukan," balas Ruby.
"Makasih nak."
Ia kemudian beralih pada cucunya yang sudah berada dalam gendongan ibu Rita.
"Bu, coba turun-turunin sedikit. Papa mau melihatnya."
"Ia semakin mirip Satya pa. Semakin gede semakin tampan."
"Siapa dulu papanya, bu."
"Ketampanan Satya menurun dari gen kecantikanku, pa."
"Ibumu ini selalu tidak mau mengakui ketampananku padahal ia dulu tergila-gila karena melihat wajahku."
Ruby sedikit terkekeh mendengar ucapan papa Lingga. Ia sangat bahagia melihat sikap kedua mertuanya itu. Meskipun sudah berusia jauh diatasnya tapi mereka masih selalu terlihat mesrah.
__ADS_1
๐ Happy reading kesayangan mommy, jangan lupa tinggalin jejak yah, mommy minta vote rekomendasinya dong buat novel ini biar tambah semangat up nya๐คญ๐
๐ Logika yang dikalahkan oleh perasaan tidak melulu terjadi pada kaum hawa tapi para kaum adam pun seringkali menyerah saat CINTA sudah mulai mengendalikan hati mereka๐