
Sehari sebelum akad nikah dokter Anna dan dokter Aditya. Ruby sudah bersiap-siap di rumah utama. Mereka akan berangkat ke kota B siang ini menggunakan mobil.
"Apa Bagas juga akan ikut sayang?" Tanya Ruby pada Satya yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu dimeja kerjanya.
"Hem," jawab Satya singkat tanpa melihat kearah Ruby.
Pandangannya benar-benar fokus pada layar laptop didepannya, ia bermaksud menyelesaikan semua kerjaannya sebelum berangkat ke kota B. Karena Satya tidak terlalu meresponnya Ruby akhirnya keluar kamar dan turun kelantai bawah untuk memeriksa perlengkapan Nendra dan baby Gyan, siapa tahu saja masih ada yang terlupakan.
Sampai dikamar bawa ia melihat Lila sedang bermain dengan Nendra dan baby Gyan.
"Lil, apa kamu sudah siap?"
"Iya non."
"Kata mas Satya, kita akan berada dimobil yang berbeda karena kalau cuma bawa satu mobil, sepertinya tidak akan cukup untuk barang-barang yang akan kita bawa." Ucap Ruby.
"Tapi apa non bisa mengatasi dua anak sendiri?" Tanya Lila.
"Nendra udah besar Lil, ia sudah bisa ngurus dirinya sendiri."
"Lalu saya sama siapa non?"
"Kita lihat entar aja Lil."
"Assalamua'laikum anak bunda," sapanya pada baby Gyan yang tersenyum lebar kearahnya.
"Seneng yah cayang, mau ketempat onty Anna yah." Ruby mengajak bicara baby Gyan yang terus memperlihatkan mulut ompongnya.
"Nen, kamu udah bicara sama ayah akan berangkat hari ini kerumah onty Anna?" Tanya Ruby pada Nendra.
"Iya sudah bunda," jawabnya.
"Apa kak Anna tidak mengundang ayah Nendra non?" Tanya Lila.
"Sepertinya tidak Lil, mungkin kak Anna lupa. Orang mau nikah itu kadang banyak melupakan orang-orang yang mau diundangnya karena terlalu sibuk mengurus persiapan lainnya," jawab Ruby.
"Kamu juga akan tau sendiri nanti kalau mau menikah." Lanjut Ruby yang membuat wajah Lila bersemu merah.
"Apa kak Nata juga akan datang non?" Tanya Lila mengalihkan agar Ruby tidak tahu kalau ia sedang salah tingkah.
"Aku nggak tahu Lil, tapi kata mas Satya sudah beberapa hari ponsel kak Nata tidak aktif dan semalam aku nelfon mama Rita katanya dokter yang menangani papa Lingga diganti sementara dan tidak ada penyampaian langsung dari kak Nata."
"Bukannya kak Anna sahabat baik kak Nata, non?"
"Iyya benar."
"Lalu kenapa kak Nata jadi menghilang gitu menjelang pernikahan kak Anna?"
"Entahlah Lil, aku udah lumayan lama nggak ada komunikasi sama kak Nata."
"Aku ingat sekali waktu non akan melahirkan sampai dibawa ke Jerman. Andai bukan karena persahabatan kak Anna dan kak Nata, aku tidak tahu harus gimana saat itu non." Ucap Lila menerawang kemasa lalu.
"Iya Lil, aku berhutang budi sama kalian semua."
"Jangan bilang begitu non, aku sudah menganggap non Ruby seperti saudara sendiri."
Lila mendekati Ruby dan memeluknya.
"Aku lihat sepertinya kak Anna ada rasa sama kak Nata non, tapi kak Nata hanya menganggapnya sebatas sahabat."
"Itu masalah hati mereka Lil, aku tidak berani betanya lebih jauh."
Ruby kemudian teringat dengan surat yang diberikan dokter Nata untuknya lewat dokter Anna. Ia seketika menghela nafas berat. Kalau ucapan Lila betul, Ruby tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan dokter Anna saat itu.
Saat Ruby sedang membicarakan dokter Anna bersama Lila. Satya yang sudah menyelesaikan kerjaannya, terlihat sedang menelfon Bagas.
__ADS_1
"Gas, kirim sebuah mobil sedan keluaran terbaru ke alamat rumah Anna dikota B sebagai hadiah pernikahannya."
"Baik tuan muda."
"Aku sebentar lagi akan berangkat ke kota B bersama Ruby dan anak-anak. Kamu jemput Lila disini dan menyusul kesana."
"Aku? Jemput Lila?" Tanya Bagas terdengar kaget.
"Iya, apa ada masalah?"
"Apa tuan akan membawa mobil sendiri?"
"Iya, aku sudah minta pak Tanto untuk mengantar kesana."
"Kenapa kita tidak membawa satu mobil saja tuan muda?"
"Kamu terlalu banyak bertanya Gas, apa kamu tidak mau melakukan apa yang aku perintahkan?"
"Jangan bercanda tuan muda, aku mana berani menolak." Jawab Bagas cepat, ia sangat tahu konsekuensi berdebat dengan Satya.
"Baiklah, aku akan menjemputnya sesuai perintah tuan muda." Lanjutnya.
"Bagus."
Satya memang sengaja tidak naik jet pribadi karena ingin menikmati perjalanan darat dengan keluarga kecilnya yang hanya ditempuh selama dua setengah jam perjalanan.
Setelah menelfon Bagas, Satya baru ingat ia belum menyampaikan pesan dokter Anna pada Rania. Ia kemudian kembali menggulir tombol ponselnya mencari nama Rania dan memanggilnya.
"Halo Nia."
"Iya mas, ada apa?"
"Aku lupa memberitahumu kalau Anna mengundangmu ke acara pernikahannya besok di kota B."
"Anna sahabat Nata?"
"Oke makasih mas, aku usahain datang besok sama Rama."
***
Sementara itu di rumah dokter Anna sudah terlihat sibuk melaksanakan prosesi adat serangkaian dengan acara pernikahan besok yakni siraman untuk calon mempelai wanita. Setelah melakukan prosesi siraman, dilanjutkan dengan permohonan izin calon mempelai wanita kepada kedua orangtuanya. Air mata dokter Anna sudah mengalir deras saat ia meminta izin pada papanya. Ia kini benar-benar akan melepas masa lajangnya dari hasil perjodohan sang papa. Ia memeluk papa dan mamanya sangat lama.
"Doain Anna bisa menjalani pernikahan ini ma."
"Iya sayang, doa mama tidak pernah putus untuk kebahagiaanmu."
"Mama...," lirihnya.
Semua orang yang hadir disitu ikut terharu melihat pemandangan didepannya. Ruangan itu seolah diliputi air mata bahagia. Berbeda dengan air mata dokter Anna yang ia sendiri tidak tahu lagi bagaimana bentuk perasaannya saat ini. Untuk pertama kalinya ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya tanpa keyakinan penuh. Ia cuma berharap bisa menjalani kehidupannya kedepan seperti biasa dan seperti pasangan suami istri lainnya.
Sama dengan dokter Anna, dokter Aditya pun melakukan prosesi pengajian dan siraman dirumah kakeknya. Setelah prosesi adat selesai, dokter Aditya kembali kedalam kamarnya dan masih mencoba menghubungi dokter Nata yang sudah beberapa hari ini tidak bisa dihubungi, begitupun dokter Sophy. Ternyata masih sama nomornya masih berada diluar jangkauan.
"Ada apa sebenarnya Nat? Kamu pernah bilang akan jadi pendamping priaku saat aku menikah dan sekarang kamu tahu aku akan segera menikah tapi kenapa kamu hilang seperti ditelan bumi?" Ucap dokter Aditya pada dirinya sendiri.
Ia sekali lagi menghubungi dokter Sophy, ternyata tidak sia-sia karena selang beberapa detik terdengar suara dokter Sophy menjawab telfonnya.
"Halo Dit, bagaimana persiapan pernikahanmu?" Dokter Sophy bertanya seolah sudah tahu banyak tentang rencana pernikahannya.
"Alhamdulillah berjalan lancar dok. Aku menghubungi dokter dari kemarin tapi tidak diangkat-angkat dok," balas dokter Aditya.
"Syukurlah kalau gitu Dit. Iya kemarin aku sangat sibuk karena harus mengurusi pasien-pasien Nata."
"Itu juga yang ingin saya tanyakan dok. Sudah beberapa hari ini saya menghubungi ponsel Nata tapi tidak pernah nyambung dan kenapa sekarang dokter Sophy yang menangani pasien-pasiennya?"
Dokter Aditya semakin heran mendengar ucapan dokter Sophy.
__ADS_1
"Nata keluar negeri Dit, ia ikut jadi relawan dokter untuk membantu penduduk Yunani." Dokter Sophy terdengar menghela nafas berat.
"Apa dok?"
Dokter Aditya seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya, dia berangkat tiga hari yang lalu. Aku sudah berusaha melarangnya karena disana berbahaya tapi ia tetap bersikeras ingin pergi. Aku tidak bisa apa-apa lagi selain mendoakan keselamatannya disana," ucap dokter Sophy terdengar bersedih.
"Tapi kenapa ia sama sekali tidak menghubungiku dok? Ada apa dengan Nata?" Dokter Aditya meninju tembok didepannya. Ia merasa frustasi dengan sikap Nata padanya selama ia sudah memberitahukan dengan siapa ia akan menikah.
"Mungkin ia punya alasan sendiri Dit, doakan saja ia baik-baik disana."
"Tapi kenapa dokter kepala mengizinkannya? Nata kan dokter pasien VIP?"
"Prof Ludwig langsung yang menghubungi dokter kepala."
Dokter Aditya tidak bisa berkata-kata lagi. Profesor Ludwig adalah orang berpengaruh di Jerman yang selama ini selalu mendukung dokter Nata. Ia hanya bisa menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar.
"Baiklah dok, terima kasih informasinya."
"Oke Dit, Happy wedding yah. Semoga samawa until jannah." Ucap dokter Sophy sebelum menutup telfonnya.
"Iya dok, makasih doanya."
Setelah sambungan telfon terputus, dokter Aditya kembali memikirkan sikap dokter Nata.
"Ada apa sebenarnya Nat? Kamu tidak mungkin mencintai Anna kan? karena hatimu sudah dipenuhi oleh Ruby. Apa kamu pergi karena Ruby sudah kembali pada Satya? Tapi kenapa itu menjelang hari pernikahanku dengan Anna?"
Dokter Aditya meremas kasar wajahnya saat ia tidak menemukan jawaban apapun untuk semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
Ia ingat suatu malam saat dokter Nata bercerita padanya tentang perasaannya pada Ruby yang mulai tumbuh saat pertama kali melihat mata sendunya yang penuh dengan kesedihan. Berawal dari hanya ingin melindungi wanita itu akhirnya semakin tumbuh subur ketika Ruby dirawat di Jerman. Dokter Nata bahkan rela terlambat menyelesaikan ujiannya.
Lalu Anna? Anna dengan sukarela ikut ke Jerman membantu dokter Nata merawat Ruby dan menjaga baby Gyan.
"Persahabatan seperti apa sebenarnya yang mereka jalani selama ini?" Dokter Aditya masih terus membatin.
"Apa tidak terlambat kalau aku mulai merasa tidak yakin dengan langkah yang aku ambil ini?"
Tok...tok...tok
Suara ketukan pintu, membuyarkan semua fikiran yang menari-nari dikepalanya.
"Masuk."
Terlihat mama Lisa muncul dari balik pintu sambil tersenyum kearah putranya.
"Ini ada paket buat kamu sayang," ucapnya menyodorkan sebuah kotak berwarna merah hati pada dokter Aditya.
"Dari siapa ma?" Dokter Aditya menerimanya tanpa melihat kearah paketnya.
"Disitu ada namanya sayang, mama tinggal dulu yah."
Usai berkata begitu mama Lisa kembali melangkah keluar dari kamar dokter Aditya.
Sementara dokter Aditya yang sejak tadi terlihat galau, langsung membulatkan kedua matanya saat melihat nama pengirim yang tertera pada kotak merah hati tadi.
*** Dari Sahabatmu ***
Abyaz Dinata Arghany
"Nata?"
"Kotak apa ini yang kamu kirim Nat?" Kamu pergi tanpa memberitahuku padahal kamu bisa menelfonku. Apa ini hadiah pernikahanku? Pernikahan yang sudah didepan mata tapi hari ini sedang membuatku ragu karena sikapmu."
Dokter Aditya lagi-lagi berbicara pada dirinya sendiri. Ia memandang keluar jendela seolah melihat bayangan dokter Nata melintas disana sambil mengulas senyum kearahnya.
__ADS_1
*** BERSAMBUNG ***
💙 Hi readers masih pada setia nggak dengan cerita ini, kalau iya jangan lupa ninggalin jejak yah. Happy reading dan salam kecup jauh dari mommy😘😘