Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Kebun Sayur Bu Rumana


__ADS_3

"Nat, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap dokter Anna ditelfon saat menghubungi dokter Nata lewat interlokal. Wajahnya terlihat sangat sedih.


"Ada apa Na, apa ada masalah?" tanya dokter Nata mendengar nada suara dokter Anna.


"Papa...papa menyuruhku pulang Nat, ia akan menjodohkanku dengan anak sepupunya," jawab dokter Anna terbata-bata.


"Apa? Terus apa jawaban kamu? Apa kamu menerima perjodohan itu?" tanya dokter Nata.


"Aku tidak punya pilihan lain Nat, papa memaksaku karena umurku sudah tidak lagi muda," balas dokter Anna.


"Andai aku bisa melakukan sesuatu untukmu Na," jawab dokter Nata pelan.


"Tidak usah melakukan apapun Nat, jika itu bukan dari hatimu," meskipun dokter Anna sangat mengharapkan bantuan dokter Nata tapi ia tidak ingin dokter Nata melakukannya karena kasihan. Mereka sama-sama menarik nafas kasar.


"Maafkan aku Na," ucap dokter Nata pelan. Ia ingin sekali membuka hatinya untuk dokter Anna tapi kenapa masih terasa berat ia rasakan.


"Tidak apa-apa Nat, aku yakin papaku pasti memilih yang terbaik untukku," sahut dokter Anna.


"Oya Nat, Satya sudah menemukan Ruby, dia sekarang sudah berada di desa Ruby," ucap dokter Anna mengalihkan pembicaraan.


"Oya? Syukurlah kalau begitu Na, aku ikut bahagia mendengarnya." Dokter Nata langsung bersemangat mendengar nama Ruby tapi saat tau Satya sedang bersamanya ia kembali merasa melemah. Mulutnya ternyata belum bisa sejalan dengan hatinya.


"Iya Nat," jawab dokter Anna singkat.


"Udah dulu yah Nat, aku baru mau visite," ucap dokter Anna.


"Baiklah Na, kamu baik-baik yah disana, kalau ada apa-apa telfon saja aku," balas dokter Nata.


"Iya Nat," sahut dokter Anna kemudian memutus sambungan telfon.


"Andai aku bisa jadi Ruby, Nat."


"Aku akan jadi wanita paling bahagia didunia karena mendapat cinta yang begitu besar dari pria yang kucintai," kata dokter Anna pada dirinya sendiri, tanpa terasa bulir-bulir bening dari sudut matanya lolos begitu saja.


"Aku akan pulang pa, aku akan mengikuti semua kemauan papa," dokter Anna masih berbicara sendiri dan semakin terisak.


***


Tidak terasa sudah hari kedua Satya berada dirumah mertuanya. Semalam ia tidur lebih cepat, mungkin karena terlalu lelah selama diperjalanan, ia bahkan tidak tau jam berapa Ruby masuk kamar setelah mereka berkumpul diteras belakang.


Dan pagi ini ia juga kesiangan melaksanakan shalat. Ruby dan baby Gyan sudah tidak ada dikamar saat ia terbangun.

__ADS_1


Setelah mandi dan berpakain, Satya pun keluar dari kamar dengan T-shirt warna hitam dan celana chino warna cream. Tampilan rambutnya yang selalu basah oleh gel membuat Aydan terkagum-kagum memandang kakak iparnya itu.


"Awas nanti kamu ileran Dan, liatin kakak ipar mulu," ucap Amri adik pertama Ruby tanpa ekspresi.


"Selamat pagi semua, maaf mungkin karena terlalu lelah diperjalanan kemarin aku jadi kesiangan," ucap Satya setelah berada dimeja makan. Untungnya mereka baru saja akan sarapan.


"Tidak apa-apa nak, jangan terlalu sungkan disini, kami semua sudah jadi keluarga barumu," jawab bu Rumana tersenyum kearah Satya.


"Aku sengaja tidak membangunkan mas karena aku tau mas lelah diperjalanan," sahut Ruby cepat melihat Satya menoleh kearahnya.


"Kamu sarapan aja dulu sama suami kamu, biar Gyan sama ibu aja," kata bu Rumana lalu mengambil alih makanan baby Gyan dari tangan Ruby yang sedang menyuapinya.


"Apa kamu pernah makan beginian, nak?" tanya bu Rumana saat Satya menyendok hanya sedikit makanan kedalam piringnya.


"Ini apa namanya bu?" Satya balik bertanya.


"Ini namanya sayur daun ubi tumbuk, daunnya baru masih segar, baru ibu petik tadi, ini bagus loh nak untuk meningkatkan stamina dan kekebalan tubuh," sahut bu Rumana menjelaskan.


"Iya enak bu," jawab Satya asal karena tidak ingin mengecewakan ibu mertuanya. Padahal lidahnya tidak bersahabat dengan rasanya. Aydan bisa melihat ekspresi mengkerut Satya.


"Kalau tidak suka, tidak usah dimakan kak, nanti kakak malah sakit perut," kata Aydan sambil menahan tawa.


"Kamu makan ini saja mas," sahut Ruby kemudian mengganti piring Satya dan menyendokkan nasi goreng kedalam piringnya.


Mereka pun sarapan sambil sesekali mendengar celotehan Aydan, sedangkan Amri seperti biasa lebih banyak diam.


"Kamu tidak sekolah Dan?" tanya Satya setelah mereka selesai sarapan.


"Aku kan sekolah online kak, Guruku cuma ngasi tugas sekali seminggu tapi tugasnya kerjanya seharian makanya aku tiap minggu datang ke kecamatan karena cuma disana dapat jaringan bagus," jawab Aydan.


"Emang disini belum ada tower yah?" tanya Satya lagi.


"Belum kak, apa kakak mau membangunkan tower buat warga disini?" tanya Aydan sedikit bercanda.


"Baiklah, aku akan menyuruh asistenku mengurus semuanya," jawab Satya santai.


"Beneran kak? Kakak tidak bercanda kan?" tanya Aydan lagi membelalakkan kedua matanya. Ia histeris seolah tidak percaya.


"Kakak itu sekaya apa sih sebenarnya? Banyak banget uangnya," sahut Aydan lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu mau tahu saja apa mau tempe juga?" Satya balas menggoda Aydan.

__ADS_1


"Yah elah mau main-main yah sama Aydan," Aydan terlihat bersungut.


"Yang pasti kalau cuma tower aku bisa membangun bahkan ratusan," ucap Satya terkekeh lalu berdiri dari duduknya menyusul Ruby dan baby Gyan ke teras belakang. Meninggalkan Aydan yang mulutnya masih menganga.


"Tak sumpal juga tuh mulut tau rasa," kata Amri sambil memasukkan timun kemulut Aydan.


"Apaan sih kak," Aydan menggerutu oleh sikap Amri.


"Kamu suka bersantai disini kalau pagi?" tanya Satya mengagetkan Ruby yang sedang mengajak baby Gyan bermain.


"Iya mas, disini adem, bisa lihat langsung juga kebun sayur ibu, terasa beban fikiran semua hilang," jawab Ruby tersenyum tipis.


"Iya kamu benar, aku juga suka disini, aku punya villa di puncak suasananya juga adem kayak gini tapi bedanya disana tidak ada kebun sayur ibu," ucap Satya mengulas senyum mencoba mengajak Ruby mencairkan suasana yang terasa masih kaku.


"Mas bisa aja," sahut Ruby membalas senyum Satya.


"Halo anak papa, suka yah tinggal dirumah oma?" Satya beralih pada baby Gyan, seolah tahu ia sedang diajak bicara oleh papanya, bayi lucu itu tersenyum lebar menampakkan ketampanannya yang turunan dari papanya.


"Boleh aku gendong By?" Satya meminta izin pada Ruby sebelum mengambil baby Gyan.


"Boleh mas," jawab Ruby.


"Anak papa udah tambah gede yah, pasti dikasi banyak makan sama bunda yah," baby Gyan lagi-lagi terkekeh kearah Satya. Bayi itu betul-betul menikmati kebersamaan dengan papanya.


"Kamu udah gak ngasi dia ASI, By?" tanya Satya melihat Ruby dari kemarin hanya memberi susu formula pada baby Gyan.


"Iya mas, tidak tau kenapa ASIku tiba-tiba saja tidak keluar, mungkin karena banyak fikiran," jawab Ruby menghela nafas dalam-dalam. Sementara Satya hanya diam saja.


"Maafin aku By, sudah memberi banyak beban dalam kehidupanmu," akhirnya setelah diam beberapa saat Satya bersuara juga dengan menarik nafas kasar. Ruby hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Tapi kamu kasi susu formula terbaik untuk baby Gyan kan?" tanya Satya lagi.


"Yang diminum sekarang sudah yang terbaik mas, sesuai sama kemampuanku," lagi-lagi Satya merasa trenyuh dengan ucapan Ruby.


😍 Hi readers jangan lupa dukungannya selalu yah, LIKE, VOTE, dan KOMENTnya🤗


Mampir juga dicerita keduaku yah CINTA DIBALIK PENOLAKAN😘


Mari kita berdoa sama-sama semoga masa pandemi ini cepat berlalu dan kembali normal seperti semula🤲😇


*** Jangan mendoakan keburukan untuk orang lain yang mungkin sudah menyakiti perasaanmu, cukup tarik nafas dalam-dalam dan elus dadamu perlahan, Tuhan-Mu punya caranya sendiri untuk membalas setiap kesakitan❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2