Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Pergi


__ADS_3

Suasana meja makan di rumah utama pagi ini terlihat sangat mencekam saat Ruby sudah mengutarakan niatnya untuk keluar dari sana, semua petinggi dirumah itu tidak ada yang bersuara sedikitpun, hanya suara dentuman sendok yang sesekali mengeluarkan bunyi saat bersentuhan.


"Apa tidak ada jalan lain selain meninggalkan rumah ini?" suara ibu Rita akhirnya memecah keheningan.


"Itu yang terbaik bu" uca Ruby pelan sambil menundukkan kepalanya, ia tidak berani melihat kearah mertuanya.


"Kamu baru saja kembali dan kami juga belum lama bersama baby Gyan, Grandma mohon tinggallah sebentar lagi" Grandma akhirnya ikut menimpali.


"Grandma benar Ruby, kamu jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk pergi apalagi sekarang kamu dan kita semua masih dalam keadaan berduka" kata papa Lingga mencoba bijak menanggapi keadaan.


"Maafkan aku Grandma, maafkan aku pa, tapi aku benar-benar tidak bisa tinggal" Ruby tetap bertahan pada pendiriannya.


"Bu, pa, Grandma, kalian tenang saja aku janji akan membawa Ruby kembali kesini secepatnya" Satya menengahi pembicaraan itu.


"Apa itu berarti kamu akan menceraikan Rania?, Satya meskipun kami sangat ingin mendapatkan seorang cucu tapi kami tidak pernah meminta kamu untuk menceraikan Rania" ucap ibu Rita datar.


"Aku akan bicara sama Rania dari hati ke hati, mudah-mudahan ia bisa mengerti dengan melihat kehadiran baby Gyan" ucap Satya.


"Lalu bagaimana kalau Rania tetap bertahan pada posisinya?" tanya ibu Rita, Satya langsung terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan ibunya.


Ruby pun sama ia hanya berkata dalam hati.


"Aku pergi tidak tau kapan akan kembali, yang pasti saat itu mba Rania sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri, kalaupun bahagianya bersama mas Satya maka aku akan menghilang untuk selamanya" lirih Ruby.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu urus secepatnya masalah ini, kamu jangan menggantung salah satu dari istrimu, papa percaya sama kamu" ucap papa Lingga menutup sidang pembicaraan pagi itu.


"Makasih karena papa sudah mau percaya pada Satya" balas Satya, sedangkan yang lainnya tidak adalagi yang berbicara.


Setelah sarapan pagi, Ruby pun bersiap-siap untuk pergi, ia terlihat menggendong baby Gyan sedangkan kopernya dibawa oleh Lila, sampai diruang keluarga langkahnya terhenti melihat semua keluarga inti Biantara sudah berkumpul disana, ibu Rita sudah mulai mengusap matanya yang basah sejak tadi, Grandma sendiri masih menangis sesegukan, hanya papa Lingga dan Satya yang terlihat datar tanpa ekspresi tapi mata Satya juga sudah nampak memerah, Grandma kemudian berdiri dan meraih baby Gyan dari dekapan Ruby.


"Cicit kesayangan Grandma satu-satunya, kenapa tega ninggalin Grandma, lakukan sesuatu Lingga" katanya mengarah pada papa Lingga dengan nada suara meninggi, papa Lingga hanya menarik nafas berat.


"Grandma sudah, kita harus menghargai keputusan Ruby, percaya sama aku, aku akan membawa mereka kembali secepatnya" kali ini Satya yang menjawab, ia sebenarnya bisa saja menahan Ruby untuk tidak pergi, apalagi dengan kekuasaan yang ia miliki ia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan tapi ia tau dengan memaksakan kehendaknya ia hanya akan lebih melukai Ruby.


Grandma akhirnya mengalah dan tidak berbicara lagi, ia terus menciumi baby Gyan sampai ibu Rita berdiri dan menggantikan posisi Grandma menggendong baby Gyan.


"cucu Nenda(nenek muda) satu-satunya, kamu cepat kembali yah sayang, papa kamu akan secepatnya menjemput kalian" ucap Ibu Rita sambil terus menciumi baby Gyan, baby Gyan seolah mengerti dengan keadaan saat ini, ia diam saja memberikan ekspresi datar seperti yang biasa papanya perlihatkan, tidak menangis tapi juga tidak tertawa seperti biasanya.


"Baik bu, maafin Ruby" ucap Ruby sambil menundukkan kepalanya, bulir-bulir bening itu jatuh lagi, ibu Rita kemudian meraih dalam pelukannya bersama baby Gyan.


"Sudah, sudah" kata ibu Rita mengusap-usap punggung Ruby.


Setelah bergantian saling memeluk dan bertangis-tangisan akhirnya Ruby dan Lila pun sekarang sudah berada didepan pintu utama, tapi sebelum melangkah keluar Ruby sempat berbalik kearah Ibu Rita dan Grandma yang mengikuti dibelakangnya.


"Grandma, Ibu, kalian boleh datang keapartemen kapanpun kalian mau" ucapnya, ia seolah tidak tega melihat kesedihan kedua wanita itu.


"Makasih sayang" Grandma lagi-lagi memeluk Ruby.

__ADS_1


"Lila sekarang akan jadi asisten sekaligus sopir pribadimu, Lila sudah tau jalanan kota M karena ia lulusan universitas disini tapi karena kemarin kamu masih bolak balik rumah utama jadi pak Agus masih bisa mengantarmu kemana-mana" kata Ibu Rita yang diiyakan oleh Ruby dengan anggukan pelan.


"Lil, ini kunci mobilnya, kamu jaga baik-baik Ruby dan baby Gyan yah, aku yakin Bagas tidak akan salah pilih terbukti selama ini kamu sudah menjaga Ruby dengan baik" ucap Ibu Rita lagi memberikan sebuah kunci mobil pada Lila.


"Pasti nyonya, saya akan menjaga non Ruby dan baby Gyan dengan baik" balas Lila.


Lila pun berlalu menuju garasi dan memasuki sebuah mobil sedan Mercedes Benz C-Clasic berwarna hitam. Ia membawa mobil itu pas ke depan pintu utama, Ruby berpamitan bergantian pada keluarga Biantara, Sampai didepan Satya ia meraih tangan lelaki itu dan menciumnya, air mata yang menetes perlahan dari sudut matanya jatuh diatas punggung tangan Satya, Satya yang sejak tadi diam saja, sekarang sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya, diraihnya Ruby dan dipeluknya sangat erat, Ia merasa sangat bersalah pada wanita itu karena sudah membawanya kedalam masalah yang sulit.


"Tunggu aku sebulan lagi" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Satya tapi Ruby hanya diam saja, perlahan ia pun merenggangkan pelukannya.


"Aku pamit mas" ucap Ruby pelan lalu berbalik meninggalkan kediaman rumah utama keluarga Biantara yang seperti sebuah istana. Ia berjalan gontai memasuki mobil yang sudah diparkir Lila sejak tadi. Semua keluarga Biantara masih berdiri mematung ditempatnya sampai mobil yang dibawa Lila menghilang dibalik pagar tinggi rumah itu.


Satya kembali ke kamar yang semalam masih ditempatinya bersama Ruby, dipandanginya seluruh sudut kamarnya, ia merasakan perasaan aneh yang menembus hingga kedasar hatinya, perasaan rindu yang entah sejak kapan muncul tapi ia seolah ingin dibuat gila karena saat ia ingin memeluk keduanya, mereka sudah tidak ada disini.


"Ruby, Gyan, kalian sudah sangat menyiksaku, kita berada dikota yang sama tapi aku tidak bisa melihat fisik kalian, apa ini hukuman karena aku sudah melakukan kesalahan padamu?" Satya meremas wajahnya kasar.


Aaaaaaaaaaakkkkkkhhhhhhh


Ia berteriak sendiri didalam kamarnya, untungnya kamar itu sudah dilengkapi dengan fitur kedap suara jadi tidak ada yang bisa mendengar kegilaannya saat ini.


Sampai jam menunjukkan pukul 12.00 siang, ia masih berada dikamarnya, memandang keluar tanpa jelas apa fokusnya, ia kembali menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia bangkit juga dari tempatnya duduk menuju keluar rumah, ia berniat akan ke kantor terlebih dulu sebelum kerumah Rania.


❣️🤩Hi readers kesayangan jangan lupa LIKE,VOTE dan KOMENT yah untuk terus nyemangatin author amatir ini berkarya😘🤗

__ADS_1


***Kupetik gitar dikegelapan malam, memecah hening menjadi irama, memberi warna dalam pekatnya, tapi tidak bisa kutemukan bayang dalam kerinduan, beritau aku kemana langkah kaki harus kutuju untuk menggapai hadirmu❣️❣️


__ADS_2