
Setelah mengantarkan Rendra ke peristirahatan terakhirnya, keluarga Biantara dan yang lainnya pun kembali ke rumah utama, kecuali dokter Nata dan dokter Anna yang pulang lebih dulu dan berjanji akan datang kembali besok.
"Sat, malam ini aku mau nginap dihotel aja" kata Sultan saat mereka sudah berada diruang keluarga setelah menyantap makan malam yang disiapkan oleh para pelayan di rumah utama. Hanya Ruby yang tidak ikut makan malam, jangankan menelan makanan, untuk meneguk air saja rasanya ia tidak sanggup, Satya berfikir akan membawakannya nanti ke kamar.
"Kenapa gak nginap disini aja Sul?, disini ada banyak kamar" balas Satya.
"Gak papa kog Sat, aku cuma ingin menyendiri dulu" sahut Sultan.
"Baiklah kalau itu mau kamu, kamu nginap saja di hotel Biantara Grup, aku akan menelfon Bagas untuk menyiapkan kamarmu, kamu juga boleh pilih mobil digarasi, kamu bebas pake mobil manapun yang kamu suka selama berada disini, pak Agus akan menunjukkanmu" ucap Satya lagi.
"Makasih untuk semuanya Sat tapi aku bisa mencari hotel sendiri, aku tidak ingin selalu merepotkanmu" kata Sultan.
"Apa maksud kamu merepotkan Sul? kita sudah jadi satu keluarga, sudah sepantasnya saling merepotkan, bukan begitu?" kata Satya.
"Baiklah Sat, sekali lagi makasih atas perhatianmu" Sultan lagi-lagi berterima kasih pada Satya.
"Santai saja Sul" Satya menarik kedua ujung bibirnya kearah Sultan.
Keluarga Biantara memiliki hotel berbintang lima terbesar dan terkenal di kota M, dan Satya adalah CEO dari Biantara Grup Company yang memiliki banyak kantor Cabang dimana-mana.
"Aku juga mas, sepertinya malam ini aku lebih baik pulang dulu ke rumah, mas tenangin Ruby aja dulu" kata Rania, ia ingin memberi Satya kesempatan untuk menemani Ruby melewati masa-masa sedihnya.
"Nia..." Satya menggantung kalimatnya.
"Kenapa mesti pulang Nia, ada Ibu dan Grandma disini sayang" kata ibu Rita, beberapa bulan belakangan hubungannya dengan Rania perlahan kembali membaik.
"Nia gak papa kog mas, bu, Nia bisa mengerti" jawab Nia dengan mengulas senyum di kedua ujung bibirnya, mencoba meyakinkan Satya dan Ibu mertuanya bahwa ia baik-baik saja.
Setelah bercakap-cakap sebentar, Sultan pun pamit pada semuanya, ia membawa Nendra ikut serta, ia diantar oleh pak Agus untuk memilih mobil digarasi, disana ada lebih dari sepuluh mobil yang terparkir dari berbagai macam type, dan pilihan Sultan jatuh pada sebuah mobil CRV berwarna silver metalic, ia tidak ingin dianggap berlebihan dengan memilih mobil-mobil sport milik Satya meskipun Satya tidak akan keberatan dengan apa yang dipilihnya.
__ADS_1
Baru saja ia akan membuka pintu mobil, tiba-tiba muncul Rania yang juga akan mengambil mobilnya digarasi, Sultan pun terlebih dahulu memasukkan Nendra kedalam mobil, ia sendiri masih berpegang pada pintu mobil sambil menyapa Rania.
"Rania Paradista, apa benar kamu Rania anak om Wijaya?" tanyanya pada Rania yang sudah berada disamping mobilnya.
"Iya kak Sultan Maulana anaknya om Angga", balas Rania menyunggingkan senyumnya yang dibalas oleh Sultan dengan senyum manisnya.
"Bagaimana kabar om Wijaya?, sepertinya banyak hal yang harus kita bicarakan" ucap Sultan.
"Papa...papa sudah gak ada kak" jawab Rania menundukkan kepala, ia terlihat sedih.
"Maafin aku Nia, aku gak bermaksud membuatmu sedih, aku turut berduka cita yah" kata Sultan melihat perubahan raut wajah Rania.
"Gak papa kog kak, oya kabar om Angga sendiri gimana?" balas Rania yang sudah kembali tersenyum tipis.
"Papa udah tua Nia, dia sekarang udah pulang berkebun di kampung, katanya dia ingin menikmati masa tua di desa, dia sudah lelah dengan hiruk pikuk di kota" jawab Sultan.
"Nia, kamu dan Satya..." Sultan tidak meneruskan kata-katanya menunggu tanggapan Rania lewat ekspresinya.
"Iya kak, aku istri pertama mas Satya" ucap Rania pelan tapi masih terlihat senyum tipis disudut bibirnya.
"Wah ternyata benar-benar sempit sekali kota ini, aku tidak menyangka akan bertemu kamu lagi dalam keadaan begini, kamu mungkin belum tau Rendra adalah anak keduaku bersama Ruby" ucapan Sultan sukses membuat kedua bola mata dan mulut Rania membulat.
"Jadi maksud kamu, kamu adalah mantan suami Ruby?" Rania terlihat syok dan tidak bisa percaya dengan pendengarannya.
"Mas Satya cuma bilang dia bersama mantan suami Ruby di Jerman karena anaknya sedang koma tapi ia tidak bilang siapa namanya dan aku benar-benar tidak menyangka kalau itu kamu" ucap Rania lagi.
"Sepertinya kita memang harus duduk santai berdua, apa kamu ada waktu besok pagi? aku mengundangmu menikmati kopi dipagi hari" kata Sultan menyunggingkan senyum simpulnya.
"Emmm, baiklah, kamu sharelock aja yah, catet nomor whatshapku" Sultan pun meraih handphone dalam saku celananya dan memasukkan nomor-nomor yang disebut oleh Rania.
__ADS_1
"Kamu bawa mobil sendiri?" tanya Sultan.
"Iya sudah biasa kog kak, aku lebih senang bawa sendiri daripada pake sopir" balas Rania.
"Yah udah kamu hati-hati yah, sampe ketemu besok" kata Sultan dan diiyakan dengan anggukan Rania.
"Kamu juga hati-hati" keduanya tersenyum lalu mereka masuk kedalam mobil masing-masing.
Saat Rania dan Sultan sudah pulang ke tempat masing-masing, didalam kamar Satya sedang membujuk Ruby yang sudah sehari semalam tidak makan apa-apa.
"By kamu makan yah, dikiiit aja, kalau kamu gak makan, bisa-bisa kamu sakit juga" kata Satya yang sudah terlihat memegang sendok makan hendak menyuapi Ruby tapi Ruby lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu tidak mau memikirkan dirimu sendiri, paling tidak fikirkan Gyan, Gyan masih butuh kamu, Lila gak bisa mengurusnya sendiri" kata Satya lagi. Ruby menarik nafas berat, bulir-bulir bening kembali jatuh dari sudut matanya.
"By udah yah, ikhlaskan Rendra, Rendra juga gak akan senang kalau liat kamu kayak gini terus" Satya masih terus berusaha membujuk Ruby. Akhirnya Ruby mau juga makan suapan pertama dari Satya tapi cuma tiga suapan ia sudah berhenti lagi.
"Udah mas" katanya sangat pelan seolah tidak punya kekuatan apa pun.
"Yah udah, tapi entar makan lagi yah" ucap Satya, Ruby mengangguk pelan. Ia lalu merebahkan badannya disisi kanan tempat tidur, Satya menyelimutinya.
Setelah menyuruh pelayan membereskan tempat makan Ruby, Satya pun ikut berbaring disamping Ruby, Ruby bisa merasakan hembusan nafas dalam Satya didekatnya tapi ia tidak berniat mengatakan apapun, ia meringkuk dalam selimut meski matanya tidak juga bisa terpejam, tidak lama berselang suara dengkuran halus sudah terdengar dari Satya, Ruby sedikit berbalik, ia melihat Satya sudah terlelap, wajahnya nampak begitu lelah.
Perasaan Ruby saat ini seolah berkecamuk, rasa sedih yang teramat dalam karena kehilangan seseorang yang selama ini menjadi semangat untuk melanjutkan hidup dan rasa bersalah karena keadaannya sekarang harus membuat seorang wanita mengalah untuk dirinya. Sampai menjelang dinihari ia belum juga bisa terpejam, ia akhirnya bangun dan melangkah gontai ke kamar mandi, ia bermaksud mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat tengah malam.
❣️❤️Author amatir datang lagi minta LIKE,VOTE,dan KOMENT dari readers kesayangancuuu🤗🤗
🤩😍Kadang cinta tidak berpihak pada keadaan, ketika kita butuh menenangkan diri saat jiwa sedang bergemuruh, ia malah semakin menyeruak kepermukaan membawa kepingan-kepingan hati untuk disatukan😊
***jadwal up author tidak tetap yah karena author juga ngantor, tapi dalam sehari pasti up SATU BAB, tungguin yah😘
__ADS_1