
Satya turun dari mobil dengan gaya perlente, setelan jas rapi dan kacamata impor yang masih bertengger indah dihidung mancungnya. Ruby membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Ia seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini.
"Apa aku sedang bermimpi?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengusap-usap matanya dan mencubit lengannya.
"Au, sakit, berarti ini nyata." Satya terus berjalan mendekati Ruby yang sudah sangat gemetar ditempatnya, kakinya seolah tidak berpijak dibumi karena rasa terkejutnya yang luar biasa.
Ruby hampir saja terjatuh kalau saja Satya tidak cepat sampai didekatnya dan menopang badannya, bersamaan dengan itu keluar pula ibu Rumana dari dalam rumah menggendong baby Gyan.
"Ya ampun By, kamu kenapa nak?" ibu Rumana tergopoh-gopoh kearah Ruby, sampai-sampai tidak memperdulikan sosok laki-laki yang memiliki ketampanan maksimal didekat Ruby.
"A...aku tidak apa-apa bu," jawab Ruby terbata-bata dan kembali berdiri tegak, barulah sekarang bu Rumanah menyadari keberadaan Satya, ia membulatkan kedua matanya memandangi Satya.
"Ini siapa By?" tanya bu Rumana masih terus memandangi Satya tanpa berkedip.
"Kenalkan bu, saya menantu ibu yang ketampanannya tidak bisa dikalahkan," Satya menaikkan kacamatanya lalu meraih tangan bu Rumana dan menciumnya. Entah kenapa ia sekarang menjadi sangat narsis. Ruby yang mendengarnya hanya diam saja, ia sekarang bisa lebih rileks.
"Masyaallah, ini benaran By, suami kamu?" bu Rumana seolah belum percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa ini manusia biasa By?" tanyanya lagi masih dengan membulatkan kedua mata dan mulutnya.
"Iya bu, ini mas Satya, papanya Gyandra," jawab Ruby.
"Bu, boleh aku menggendong Gyan?" Satya yang sudah lama rindu pada baby Gyan langsung minta izin pada bu Rumana yang sedang menggendong baby Gyan.
"Iya nak tentu saja, ayo, ayo kita masuk dulu," ajak bu Rumana pada Satya, ia sekarang sudah bisa menguasai dirinya.
Satya belum sampai kepintu, sudah muncul juga Aydan dari dalam rumah, ia sama terkejutnya dengan bu Rumana melihat kedatangan Satya.
"Ya ampun bu, kog ada artis kerumah kita, apa rumah kita terpilih untuk dikontrak menjadi tempat reality show?" tanya Aydan mengitari tubuh Satya.
"Anak ini paling bisa kalau ngomong, dia kakak ipar kamu," jawab bu Rumana menjitak kepala Aydan.
"Kakak ipar? maksud ibu dia suaminya kak Ruby?" tanya Aydan lagi, ia masih berdiri didepan pintu sehingga orang tidak bisa masuk.
"Emang siapa lagi kakak perempuanmu selain Ruby, udah sana minggir dulu, kakak iparmu mau masuk," sahut bu Rumana.
Sebelum Satya melangkah masuk kedalam, kedua pengawalnya yang tadi membawa mobil bak datang menghampirinya.
__ADS_1
"Barang-barangnya mau disimpan dimana tuan muda?" tanyanya.
"Aku bawa sedikit barang bu, bagusnya disimpan dimana?" Satya balik bertanya kearah bu Rumana.
"Langsung aja bawa masuk nak," jawab bu Rumana masih dengan senyum lebarnya yang sejak tadi mengembang.
Para pengawal itupun kembali kemobil tersebut dan membawa satu persatu kardus kedalam rumah.
"Beneran kakak suami kak Ruby dan papanya baby Gyan?" tanya Aydan setelah Satya duduk dikursi ruang tamu.
"Iya, apa aku punya tampang tukang bohong?" tanya Satya balik.
"Tidak kak, Tidak, aku masih belum percaya saja kak Ruby punya suami model begini," ucap Aydan masih terlihat mengagumi Satya.
"Udah dek, jangan menanyai kakak iparmu terus," ucap bu Rumana sedangkan Ruby masih diam sejak tadi.
"Kamu udah salim sama suamimu By?" tanya bu Rumana.
"Eh, belum bu," Ruby dikagetkan oleh bu Rumana dari lamunannya. Ia kemudian berdiri kedekat Satya dan meraih tangan kanannya lalu diciumnya.
"Makasih By," ucap Satya melebarkan senyumnya.
"Dan, ayo bantu ibu," sebelum berlalu ia mengajak Aydan kebelakang, ia sengaja memberi waktu pada Ruby dan Satya untuk bicara berdua.
Tetangga-tetangga ibu Rumana silih berganti datang saat melihat ada mobil mewah terparkir didepan rumah. Mereka semua yang bertetangga sebenarnya adalah keluarga yang sudah sambung menyambung.
"Eh nak Ruby, ada tamu rupanya?" kata tetangga disamping kanan rumah bu Rumana saat pura-pura datang mencari bu Rumana.
"Baby Gyan dipangku sama siapa By?" tanya tetangga yang sebelah kiri dengan alasan datang yang sama.
"Kirain ada apa By, banyak mobil depan rumah, oya ibu ada dibelakang?" giliran tetangga depan rumah yang datang dengan basa basinya.
Ruby hanya tersenyum menanggapi semua tetangga-tetangganya itu, ia langsung menyuruhnya kebelakang menemui ibunya.
"Mas, kenapa datang tidak bilang-bilang?" akhirnya Ruby bertanya juga pada Satya.
"Apa kamu tidak senang dengan kedatanganku?" tanya Satya balik.
__ADS_1
"Bukan begitu mas, tapi kalau kamu ngasi tau aku lebih dulu, paling tidak aku ada persiapan," jawab Ruby pelan.
"Persiapan apa maksud kamu?" Satya sudah mulai berfikiran negatif.
"Persiapan makan malam contohnya," sahut Ruby.
"Aku udah kenyang By kalau sudah melihat senyum Gyandra, aku kangen sekali sama bayi kecil ini dan...dan bundanya," ucap Satya melirik kearah Ruby. Ruby hanya bisa menunduk mendengar ucapan Satya.
Setelah mengobrol agak lama, bu Rumana datang dari belakang membawa nampan yang berisi beberapa cangkir kopi, menyusul dibelakangnya tetangga-tetangga yang datang tadi membawa piring-piring panganan yang sudah dibuat oleh bu Rumana.
"Jadi ini toh papanya baby Gyan, pantesan aja anaknya gak ketulungan gantengnya, wong bapaknya saja kayak artis gini," ucap tetangga depan bu Rumana.
"Iya yah mba, ada yah manusia kayak gini," sahut tetangga satunya lagi.
"Udah, udah, kalian nyerocos mulu dari tadi, biarin menantuku meminum kopinya dulu," kata bu Rumana menengahi.
"Oya bu, aku bawa sedikit oleh-oleh untuk ibu dan keluarga, mudah-mudahan ibu suka," ucap Satya menoleh kearah kardus-kardus tadi.
"Oalah, ini mah bukan sedikit bu, ini banyak banget," sahut tetangga yang lainnya.
"Makasih yah nak, dengan kedatanganmu saja kesini ibu sudah sangat senang apalagi dibawakan segini banyak oleh-oleh, Alhamdulillah ibu bersyukur sekali," jawab bu Rumana.
"Sama-sama bu, ibu boleh membukanya sekarang," ucap Satya.
Ibu Rumana kemudian berjalan kearah kardus-kardus tadi, tidak ketinggalan tetangga-tetangganya mengikut dibelakang. Ia membuka kardus pertama yang ternyata berisi kue-kue dari aneka rasa. Kemudian kardus kedua, ketiga dan keempat yang berisi peralatan dapur berlabel terkenal dan modern. Selanjutnya kardus kelima dan keenam berisi gamis-gamis cantik lengkap dengan kerudungnya dari brand-brand ternama.
"Cantik-cantik semua gamisnya bu, model begini sepertinya tidak ada dipasar kecamatan," sahut tetangganya bersamaan, mereka terkagum-kagum melihat semua oleh-oleh yang dibawa Satya.
"Masya Allah," bu Rumana tidak berhenti mengucap lafaz kekaguman.
Sampai pada kardus ketujuh yang ternyata berisi bumbu-bumbu dapur. Kardus kedelapan berisi banyak makanan kesehatan. Sementara kardus kesembilan diisi dengan alat kesehatan untuk wanita paruh baya dan berbagai parfum import. Dan kardus yang paling terakhir dibuka ternyata berisi tas-tas Branded import, diatas packingan tas tersebut terdapat lagi sebuah kotak sedang yang agak lebar, bu Rumana membuka kotak itu pelan-pelan dan alangkah terkejutnya ia melihat isinya yang berkilauan, satu stel perhiasan emas murni. Tetangganya semua pun ikut membulatkan kedua mata dan mulutnya seolah mereka baru melihat perhiasan seperti itu.
😍 Hi author amatir datang lagi minta LIKE,VOTE, dan KOMENT. Syukur-syukur kalau ada yang mau berbagi tips juga🤗😃
Terima kasih bagi yang sudah membaca cerita ini, maaf jika banyak kekurangan dan ada yang tidak berkenan, ini semata-mata hanya khayalan author🤗🙏
Jangan lupa mampir dicerita keduaku yah CINTA DIBALIK PENOLAKAN🙏🙏🙏
__ADS_1
*** Tidak ada manusia yang bisa saling menghakimi karena semua punya cerita kelam perjalanan hidup masing-masing, kita hanya bisa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik agar kedepannya tidak menyakiti siapapun❤️❤️