
Bagas lagi-lagi mengacuhkan Lila, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
"Bi, apa masih ada sarapan untukku?" Tanyanya pada Bi Ijah, istri pak Karyo.
"Ada den, tunggu sebentar yah, bibi ambilin."
Saat Bagas sedang menunggu bi Ijah membawa sarapan untuknya di meja makan, Lila datang mendekatinya.
"Tuan muda menunggu diruang tamu, mas Bagas dikasi waktu 10 menit untuk menghabiskan sarapan," ucap Lila kemudian berbalik tapi panggilan Bagas kembali menghentikan langkahnya.
"Eh tunggu."
"Ada apa?"
"Karena bulan kemaren kamu tidak bisa menjaga nyonya muda dengan baik maka aku berfikir tidak akan memberimu gaji. Tapi melihat penampilanmu yang kacau begini, aku sepertinya berubah fikiran. Sepulang dari bandara, pergilah kesalon agar kamu tidak merusak mataku setiap kali melihatmu. Aku akan segera mentransfer gajimu."
Lila membulatkan mulutnya mendengar ucapan Bagas. Ia benar-benar kesal pada pria didepannya ini. Dikepalanya muncul fikiran ingin menonjok wajah Bagas sampai babak belur. Pandangan matanya penuh dengan aura permusuhan. Bagaimana bisa Bagas menyebut penampilannya kacau sementara ia sudah sangat manis dengan rambut jatuh yang selalu dikuncirnya keatas ditambah riasan yang tidak berlebihan membuat wajahnya tidak membosankan saat dipandang.
Lila tidak menjawab Bagas, ia malah berlalu dari hadapannya tanpa berkata apa-apa. Sebelum kembali keruang tamu menemui Ruby dan Satya, ia terlebih dulu masuk kedalam kamarnya. Ia berjalan kearah cermin, dipandanginya lekat-lekat bayangan wajahnya disana. Ia membuka pelan-pelan ikatan rambutnya.
"Ternyata memang beda tampilannya saat rambut dikuncir dan diurai, apa kalau seperti ini aku bisa terlihat lebih menarik?" Gumamnya.
"Akh kenapa juga aku harus mendengar ucapan pria songong itu, memangnya dia siapa, mau mengatur-atur aku," Sahutnya kemudian kembali mengikat rambutnya dan melangkah keluar kamar.
Sampai diruang tamu ternyata sudah ada Bagas disana. Ia melirik sekilas kearah pria itu yang sama sekali tidak melihatnya. Sikapnya sangat berbeda saat berada didekat tuan muda Satya.
"Sayang, jam berapa kamu kebandara?" Tanya Satya pada Ruby.
"Agak siangan dikit sayang."
"Bagas apa kamu sudah memberitahu Lila list tugas yang harus dikerjakannya?"
"Sudah tuan muda."
"Baiklah, kita berangkat sekarang."
Saat Ruby mencium tangan Satya dan Satya mengecup kening Ruby. Satya mendapati Bagas melirik kearahnya.
"Makanya jangan jadi jomblo akut." Bisik Satya ditelinga Bagas kemudian berlalu keluar dengan kedua tangan yang berada didalam kantong celananya.
"Aku permisi nyonya muda," pamitnya pada Ruby lalu berjalan menyusul Satya. Ia tidak menoleh sedikitpun kearah Lila.
Sebagai wanita normal, Lila tidak bisa menutup mata dan hatinya bahwa ia tertarik pada Bagas. Pria itu memiliki wajah tampan yang kira-kira hanya berada dua tingkatan dibawah tuan mudanya. Tapi sikap menyebalkannya itu membuat Lila tidak mau memperlihatkan perasaan sukanya pada Bagas. Ia lebih suka menatap Bagas dengan tatapan permusuhan.
__ADS_1
"Lil, tolong liat baby Gyan bentar yah, aku mau nelfon kak Anna dulu. Tadi dia nelfon tapi aku belum sempat angkat," ucap Ruby.
"Iya non."
Lila kemudian membawa baby Gyan masuk kedalam kamar bermainnya. Meskipun ia belum bisa bermain tapi Satya sudah meyiapkan sebuah ruangan khusus untuknya. Ia menyewa seorang desainer ternama yang khusus mendesain tempat bermain anak untuk menyulap ruangan tersebut menjadi kamar bermain mewah yang nyaman untuk putra kesayangannya.
Sementara Ruby terlihat sudah menelfon dokter Anna.
"Asslamua'laikum."
"Waalaikumsalam By."
"Maaf kak tadi aku lagi ngantar mas Satya keluar, mau berangkat k
ke kantor jadi telfonnya aku pending," ucap Ruby setelah ia mendapat jawaban salam dari dokter Anna.
"Enggak apa-apa By. Aku juga cuma nelfon santai kog. Sekalian mau ngundang kamu dan Satya datang kemari menghadiri pernikahanku yang akan diadakan lima hari lagi," balas dokter Anna.
"Pasti kak, aku pasti akan mengajak mas Satya kesana," jawab Ruby.
"Oya apa kak Anna sudah bertemu dengan calon suaminya?"
Pertanyaan Ruby membuat dokter Anna ingat kalau ia memang belum memberitahukan tentang dokter Aditya padanya.
"Iya By, dan kamu kenal juga sama orangnya?"
"Kamu melupakan satu orang By, teman serumah kita dulu di Jerman."
"Kak Adit? Apa itu benar kak Adit?"
Ruby ingat dengan seorang dokter sahabat dokter Nata yang awal kedatangannya kesana sudah memperlihatkan sikap kurang suka padanya tapi akhirnya mereka juga menjadi teman sampai Ruby kembali ke kota M.
"Iya By, dia Aditya."
"Wah ini benar-benar kabar yang sangat mengejutkan kak tapi aku juga bahagia mendengarnya karena ternyata calon suami kak Anna adalah seorang pria baik seperti kak Adit," ucap Ruby.
Dokter Anna terdengar menghela nafas kasar disana. Ruby bisa merasakan kalau dokter Anna tidak terlalu bersemangat dengan pernikahannya.
"Kenapa kak? apa ada masalah?" Tanya Ruby hati-hati.
"Tidak kog By, tidak ada apa-apa," balas dokter Anna cepat.
"Kalau kak Anna mau cerita, aku siap kog mendengarnya." Ruby tau ada sesuatu yang mengganjal hati dokter Anna tapi ia tidak mengatakannya.
__ADS_1
"Kalau aku sudah tidak bisa menampungnya sendiri, aku pasti membaginya By." Balasnya terdengar sayup.
"Baiklah kak, kapan pun kak Anna mau cerita, aku selalu siap untuk mendengarnya," balas Ruby.
"Makasih By. Kalau begitu sudah dulu yah. Salam kecup jauh buat anak tampanku baby Gyan."
"Iya kak, salam kecup balik dari Gyan."
Ruby menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar sesaat setelah sambungan telfon dari dokter Anna terputus. Ia kemudian berjalan masuk kedalam kamar bermain baby Gyan menyusul Lila.
"Lil, kamu siap-siap yah. Kita berangkat sebentar lagi."
"Baik Non."
***
Kantor Pusat Biantara Grup
"Halo Sat, apa aku mengganggu?" Tanya suara lembut seorang wanita yang terdengar diseberang sana.
"Tidak sama sekali Na, aku baru saja habis meeting. Apa ada yang bisa kubantu?" Tanya Satya pada sipenelfon yang ternyata adalah dokter Anna.
"Apa Ruby sudah memberitahumu tentang rencana pernikahanku?"
"Tidak. Maksudnya bukan Ruby yang memberitahuku tapi Nata."
"Apa? Nata? Bagaimana bisa ia yang memberitahumu?"
"Iya. Dia pernah memintaku untuk bicara sama kamu agar memikirkan kembali perjodohanmu."
"Sahabatmu itu pria aneh yang sulit dimengerti," ucap dokter Anna.
"Apa kamu punya perasaan pada Nata selain perasaan terhadap sahabat?" Satya bertanya balik.
"Pernikahanku sudah didepan mata Sat. Papa memang tidak mau pertunangan dan pernikahan dilaksanakan berjauhan."
"Aku tidak mengenal baik bagaimana Adit tapi setidaknya dia lebih berani berkomintmen sama kamu Na. Aku dan Ruby hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu."
"Makasih Sat."
***Bersambung***
❤️ Happy reading sayang, maafin jika cerita ini masih banyak kekurangan, dan maafin juga karena mommy sudah masuk kantor jadi udah jarang up dua bab🙏🤗
__ADS_1
*** Ayo ramaikan juga cerita mommy disebalah. Kisah tentang tuan muda Zafran🌹 CINTA DIBALIK PENOLAKAN
💚 Orang diluar sana kadang hanya bisa bersimpati lewat kata saja, ia tidak bisa benar-benar merasakan apa yang yang membuat hati kita terbebani. Olehnya itu cobalah berdamai dengan dirimu sendiri, jalin pertemanan dengan hatimu agar kalian bisa saling membantu saat berada dalam kebimbangan💚