
Setelah pulang dari warung mang Dadang, Aydan terlihat sedang bermain game online, sedangkan baby Gyan sudah tidur diatas kasur kecilnya didekat Aydan.
"Gyan tidak rewel, Dan?" tanya Ruby mendekati kasur baby Gyan.
"Tidak kak, udah minum susu, dia langsung tidur sendiri," jawab Aydan.
"Makasih yah Dan, nih mie kocokmu, makan dulu baru lanjut lagi mainnya," perintah Ruby.
"Oke kak," Aydan lalu berdiri menuju kedapur.
Malam itu setelah menyelesaikan kerjaan Satya diruang tamu, ia pun masuk kedalam kamar menyusul Ruby dan baby Gyan yang sudah tidur duluan. Sementara Aydan masih asyik main game didepan TV. Satya sudah memperingatkannya agar jangan terlalu begadang.
Satya menarik nafas berat melihat Ruby sudah tertidur lelap dipinggir kanan ranjang, baby Gyan ditengah dan menyisakan tempat untuk Satya dipinggir kiri.
Satya merebahkan tubuhnya diranjang, dipandanginya bergantian wajah Ruby dan baby Gyan yang benar-benar adalah duplikatnya semasa ia kecil. Ia tidak pernah menyangka akan memiliki bayi lucu seperti baby Gyan.
Baru saja Satya hendak memejamkan mata, tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit. Ia bersuara dengan pelan tapi ternyata telinga Ruby sangat sensitif, ia membuka matanya perlahan mendengar Satya meringis.
"Kamu kenapa mas?" tanya Ruby.
"Perut aku sakit sekali," jawab Satya. Ruby pun bangun dari tidurnya.
"Sudah aku bilang tadi mas, kamu mungkin tidak cocok makan mie kocok," ucap Ruby.
"Mungkin karena masukin cabenya kebanyakan aja," balas Satya.
"Aduh gimana yah, tapi aku lupa bawa kotak obatnya dirumah ibu," Ruby melihat Satya masih memegangi perutnya.
"Sakit sekali yah?" tanya Ruby lagi, Satya menganggukkan kepalanya.
"Kasi minyak telon Gyan aja yah," Ruby lalu berdiri mencari minyak telon baby Gyan.
"Ini mas, diolesi ke perutnya," kata Ruby sambil memberikan minyak telon pada Satya.
"Apa aku bisa minta tolong dioleskan?" permintaan Satya membuat Ruby bengong ditempatnya.
"By, Ruby kamu kenapa?" suara Satya mengagetkan Ruby dari kebengongannya. Ia akhirnya berjalan mendekati Satya.
"Aku olesi yah mas," ucap Ruby setelah duduk didekat Satya yang sudah menaikkan setengah bajunya.
__ADS_1
Jantung Ruby berdetak kencang tidak beraturan saat tangannya bersentuhan dengan permukaan kulit perut Satya. Tangannnya terasa sangat dingin seperti es beku. Tidak jauh berbeda dengan Ruby, Satyapun merasakan ada sesuatu yang menjalar diseluruh tubuhnya saat tangan Ruby membentuk putaran di perutnya.
"Sudah mas," Saat Ruby berdiri dari tempatnya dan sudah berbalik, Satya tiba-tiba menarik tangannya.
"By, apa kamu belum siap melaksanakan tugasmu sebagai seorang istri?" pertanyaan Satya membuat Ruby seolah kehilangan keseimbangan tubuhnya, yang selama ini ia takutkan akhirnya keluar juga dari mulut Satya. Ia menarik nafas berat dengan posisi masih membelakangi Satya.
"Yah sudah tidak apa-apa kalau kamu belum siap, aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap," karena Ruby diam saja akhirnya Satya mengambil kesimpulan sendiri.
"Maaf mas," hanya kata itu yang keluar dari mulut Ruby. Satya kemudian melepaskan tangannya dan membiarkan Ruby berjalan kembali ketempatnya. Tidak ada suara-suara lagi yang terdengar sampai Satya berdiri dan berjalan masuk ke kamar mandi. Hasrat yang kini dirasakannya sudah mengalahkan sakit perutnya.
"Maafkan aku mas karena aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu," ucap Ruby pelan saat melihat Satya berlalu kedalam kamar mandi.
"Biarlah semuanya berjalan begini dulu sampai kita benar-benar tidak memiliki beban untuk menjalani hubungan ini. Ya Tuhan maafkan aku, maafkan karena sudah mengecewakan suamiku," bulir bening kembali menetes dari sudut mata Ruby. Ia kemudian berbalik membelakangi baby Gyan.
Saat Satya kembali dari kamar mandi, Ruby pura-pura tidur. Satya menyalakan lampu kamar karena baby Gyan terasa gelisah tidurnya. Saat lampu sudah menyala Satya baru melihat ternyata diapers baby Gyan sudah penuh, pantas saja ia tidak tenang.
Satya menoleh kearah Ruby dan melihatnya sudah tertidur, ia pun berniat mengganti sendiri diapers baby Gyan seperti yang sudah dilakukannya waktu di Jerman.
"Anak papa ganti pampers dulu yah, udah penuh pampersnya," ucap Satya sambil membuka diapers baby Gyan. Ia ternyata bisa selucu itu kalau berhadapan dengan anaknya. Sama sekali tidak ada aura kepemimpinan yang tiap hari ia tampakkan pada semua orang.
Setelah mengganti diapers baby Gyan, ia pun kembali merebahkan tubuhnya sambil mengelus-elus punggung baby Gyan yang sudah kembali tertidur. Ruby yang mendengar semua yang dilakukan Satya tersenyum tipis kearah tembok. Kemudian mereka berdua pun larut dalam buaian bunga tidur masing-masing.
Pagi hari saat keduanya terbangun, Satya bersikap seperti biasa pada Ruby seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku mau kepasar dulu mas nyari sarapan pagi," jawab Ruby.
"Kamu mau naik apa?" tanya Satya lagi.
"Didepan banyak ojek kog mas, mobil angkutan umum juga ada."
"Aku anterin saja yah," ucap Satya kemudian berdiri sambil meraih kunci mobil dimeja.
"Tapi tempatnya jorok mas," ucap Ruby, ia takut Satya akan mendapat keluhan lain sepulang dari pasar.
"Tidak apa-apa kog, ayo," Satya sudah lebih dulu berjalan keluar.
"Titip baby Gyan yah Dan," kata Ruby sebelum berlalu menyusul Satya.
"Itu didepan penjual apa By?" tanya Satya memelankan mobilnya melihat ada sebuah gerobak makanan yang banyak dikerumuni pembeli.
__ADS_1
"Itu nasi pecel mas," jawab Ruby singkat.
"Enak gak?" tanya Satya lagi.
"Enak, tapi kamu jangan makan macem-macem lagi mas, nanti sakit perut lagi," ucap Ruby khawatir.
"Nanti juga terbiasa By," balas Satya tersenyum.
Karena kasian melihat Satya akhirnya Ruby mengalah juga untuk membelikannya nasi pecel. Mobil pun kembali bergerak menuju pasar tradisional setelah nasi pecel sudah berada ditangan Ruby.
"Kamu tunggu dimobil saja mas, biar aku yang masuk," ucap Ruby setelah berada diparkiran pasar.
"Apa kamu yakin bisa sendiri?" tanya Satya. Ruby mengangguk sambil mengulas senyum.
"Aku udah biasa kog," jawabnya lalu turun dari mobil.
Ruby berjalan kearah penjual ikan. Ia berniat membeli cumi dan membuat cumi asam manis. Sudah lama ia tidak memasak untuk Satya. Terakhir waktu masih ada Rendra di apartemen. Mengingat itu hati Ruby kembali terbawa suasana tapi mengingat ia sekarang sedang berada ditempat umum, ia buru-buru menepis perasaannya.
Selain membeli cumi, ia juga membeli udang, ayam dan bahan-bahan untuk dibikin sup. Setelah merasa semuanya sudah lengkap, ia kembali ke mobil tempat Satya memarkirnya.
"Udah belanjanya?" tanya Satya saat Ruby sudah kembali.
"Iya sudah."
"Kita pulang sekarang?" tanya Satya lagi.
"Iya," balas Ruby yang lagi-lagi tersenyum tipis.
Baik Satya maupun Ruby terlihat bahagia, meskipun perlahan tapi hubungan mereka semakin membaik setiap harinya. Mobil belum jauh berjalan tiba-tiba Ruby menghentikannya.
"Berhenti sebentar mas."
"Ada apa By?" tanya Satya.
"Aku mau beli kue yang itu dulu mas, kata Ruby menunjuk kearah penjual kue pas disamping Satya menghentikan mobilnya.
"Ini enak loh mas," kata Ruby sambil memasukkan kue kemulutnya setelah kembali berada didalam mobil. Kue itu terbuat dari tepung yang didalamnya dikasi gula aren.
"Kamu mau mas?" tanya Ruby.
__ADS_1
"Kamu makan saja dulu," jawab Satya. Ia tersenyum melihat cara Ruby makan.
🤩 Hi readers jangan lupa dukungannya yah, hari ini mommy akan up dua bab lagi sehari jadi tetap setia nungguin. Quotesnya mommy tulis dibab kedua yah, cium jauh dari mommy😘😘